Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
122 : Masih Bulan Madu


__ADS_3

“Jangan pesan kamar dulu, takutnya enggak jadi menginap di hotel,” ucap Arimbi sangat lembut.


Meski masih menatap Arimbi penuh cinta, mas Aidan sudah langsung mengernyit kemudian melongok keluar. Ia memarkir mobil di depan hotel tujuan mereka dan keberadaannya tidak begitu jauh dari bibir pantai.


Mas Aidan sengaja memilih hotel dekat pantai, dan sebisa mungkin memilih balkon atau setidaknya jendela kamar wajib menghadap pantai, agar ia bisa mengajak Arimbi menikmati momen romantis dari sana. Karena seperti niatnya, ia ingin fokus menghabiskan masa-masa bulan madu mereka penuh keindahan melebihi indahnya bunga bermekaran di musim semi.


“Kamu yakin enggak mau menginap? Biar besok pagi juga bisa lihat matahari terbit, Yang. Indah banget, loh. Sekali-kali menikmati hidup karena kalau aku sudah kerja, paling banter kita ketemunya hanya malam sampai pagi sebelum kerja,” yakin mas Aidan.


Jadilah, mereka sepakat menginap satu malam di sana agar selain bisa melihat matahari terbenam dan itu sekitar satu jam lagi, besok paginya mereka juga bisa melihat matahari terbit.


Sebenarnya, Arimbi tidak terlalu menyukai pantai. Terlebih jika mengunjunginya, bertepatan dengan matahari sedang panas-panasnya. Kulit Arimbi yang sulit cerah tapi gampang gelap, menjadi alasan utamanya.


Termasuk keadaan air pantai, Arimbi juga tidak suka. Karena selain air pantai asin dan biasanya membuat kulitnya yang sensiti*f menjadi sangat kering, Arimbi juga akan gatal-gatal. Belum lagi kasus orang hilang karena tenggelam terbawa ombak. Paling parah, kejadian saat Pangandaran terkena tsunami, tetangga Arimbi yang kebetulan berkunjung ke sana, menjadi korbannya. Sampai sekarang jasad tetangga Arimbi belum ditemukan. Kenyataan tersebut menjadi ketakutan tersendiri bagi Arimbi ketika berkunjung ke sana.


Namun demi mengimbangi mas Aidan yang sangat ingin memberinya momen romantis di pantai, Arimbi mencoba menyatu dengan keinginan suaminya. Malahan kini, ia menjelma menjadi manusia penggila senja. Baru Arimbi sadari, pantai dengan segala keindahannya ibarat sebuah kehidupan. Kehidupan yang memang terlihat indah, tapi untuk merasakan sekaligus menjadi bagiannya, Arimbi harus merasakan banyak hal dan salah satunya adalah hal yang akan membuat Arimbi tidak nyaman.


Kini, Arimbi yang awalnya diminta menunggu di bangku tak begitu jauh dari bibir pantai, berangsur berdiri. Arimbi melangkah pelan menuju bibir pantai yang sedang sangat ramai oleh pengunjung. Layaknya dirinya dan mas Aidan, di sore yang mulai petang kali ini, orang-orang tengah menunggu tenggelamnya matahari yang akan mengakhiri penantian senja bersama-sama sajak romantisnya.


“Kata orang, senja itu simbol keromantisan sekaligus kesetiaan. Dulu, mas Ilham sering ngegombalin aku pakai kata senja, matahari tenggelam dan semacamnya. Namun hasilnya taaii. Lebih suka yang kayak mas Aidan sih, diam tapi tanggung jawab. Berani ngomong macam-macam pun setelah menikah.”


“Termasuk macam-macamnya mas Aidan juga bukan yang ka-sar. Macam-macamnya mas Aidan yang kadang bikin geli memang bagian dari usaha beliau buat membahagiakan aku. Wajar beliau begitu karena mas Aidan suamiku dan sudah seharusnya mencari kepua-san duniawi lewat aku,” batin Arimbi.


Melihat kehebohan para pengunjung yang sebagiannya masih heboh renang, Arimbi melepas sandalnya, menentengnya menggunakan tangan kanan, kemudian melangkah menelusuri bibir pantai. Ia membiarkan kakinya tersentuh air pantai.

__ADS_1


“Coba sesuatu yang berbeda enggak ada salahnya. Apalagi mas Aidan sendiri yang minta aku buat perawatan rutin. Harusnya kalau perawatan rutin, kulit sensiti*f dan bur*ikku sembuh atau setidaknya, teratasi, kan?”


Terbawa suasana yang sudah langsung membuatnya nyaman, Arimbi refleks mengawasi sekitar. Suasana makin gelap tanpa adanya sinar matahari yang menyengat. Mendadak Arimbi merasa bebas, ingin mencari kesenangan di sana dengan bermain pasir sekaligus air, dengan leluasa. Arimbi menertawakan dirinya sendiri yang begitu takut hitam. Padahal ada bahaya lebih mengancam dari sekadar hitam. Sebab radiasi UV yang fatal juga bisa menjadi penyebab kanker kulit.


Jerit histeris penuh kebahagiaan dari mereka yang sedang membiarkan kaki sekaligus tubuhnya terendam air pantai, tak kalah berisik dari deburan ombak yang masih kencang. Air laut masih tinggi, dan biasanya jika begitu malamnya akan terang bulan. Bulan purnama. Arimbi yang sudah larut dengan suasana senja di sana sampai lupa, tadi ia ke sana bersama mas Aidan dan kini, mereka tengah menunggu kedatangan orang tua mas Aidan.


“Nanti malam lihat bulan purnama pas lagi bulat-bulatnya sekaligus terang-terangnya, pasti romantis banget!” pikir Arimbi yang kemudian berhenti melangkah.


Baru Arimbi sadari, dirinya sudah terlalu jauh melangkah. Dan baru ia sadari juga, tak jauh darinya, sang suami sedang sibuk tersenyum sambil mengarahkan kamera ponsel ke arahnya.


Malu-malu Arimbi menghindari sang suami. Ia yang awalnya sempat menutupi wajah, sengaja memunggungi.


“Mbiiiii!” mohon mas Aidan yang perlahan menghampiri. Namun, yang dihampiri mirip anak kepiting, terus saja kabur sambil melangkah menyamping.


Mbiiii ❤️


“Mbiii, kamu merupakan wanita yang bikin aku merasa sempurna. Aku beneran ingin kamu tahu itu, tapi kamu malah kabur terus!” ucap mas Aidan tak segan menc*ium gemas pipi kiri Arimbi, setelah ia juga sengaja memeluk erat Arimbi dari samping.


Arimbi tersenyum pasrah dan perlahan berusaha tenang karena mas Aidan juga sudah tenang. Mas Aidan tak lagi sibuk mengejar apalagi menciu*mnya.


Tadi, alasan mas Aidan pergi karena pria itu pamit ke kamar mandi. Namun entah apa yang sebenarnya mas Aidan lakukan. Arimbi tidak begitu percaya. Karena terhitung sejak beres ijab kabul, mas Aidan jadi sering memberi Arimbi kejutan. Kejutan yang selalu membuat dada Arimbi berdebar-debar. Sangat bahagia rasanya.


“Balik ke tempat duduk, yuk! Aku sudah pesan kelapa muda!” ucap mas Aidan.

__ADS_1


Mas Aidan memang mengajak, tapi pada kenyataannya pria itu sampai memak-sa. Arimbi terus dituntun meski wanita itu sibuk bertanya, alasan sekaligus tujuan mas Aidan mengajak Arimbi duduk, padahal sunset-nya saja sudah mulai. Bagi Arimbi, akan jauh lebih indah jika mereka menyaksikan sunset dari pinggir pantai.


Di tempat duduk yang awalnya menjadi tempat Arimbi menunggu, tak hanya dihiasi dua kelapa muda yang atasnya telah sedikit dibuka, lengkap dengan sedotan untuk mempermudah dalam minumnya. Karena di sana juga ada buket mawar putih berukuran besar, dan di tengahnya ada setangkai mawar putih.


“Itu buat siapa, Pak?” tanya Arimbi pura-pura. Ia terlalu gugup untuk menerima kenyataan, bahwa suaminya sungguh membuat bulan madu mereka dipenuhi keromantisan.


Setelah sempat bingung kenapa Arimbi bertanya seperti tadi, mas Aidan berkata, “Buat istriku.”


“Oh, Bapak sudah menikah dan punya istri?” sergah Arimbi pura-pura terkejut dan berangsur duduk.


“Sudah ....” Mas Aidan yang menjadi tersipu, sengaja duduk di sebelah Arimbi. Wanita berhijab biru salem itu masih menatapnya dengan senyum malu-malu. “Kamu istriku, kan?” Mas Aidan menahan tawanya, merasa jenaka dengan kebersamaan mereka.


Arimbi langsung mengangguk-angguk, meski jujur saja, ucapan mas Aidan barusan baginya sangat lucu. “Aku terima bunganya!” ucapnya sambil tersenyum ceria kemudian mengambil sekaligus mendekap bunganya. “Aku juga terima cinta Mas, dan juga semuanya karena aku istri Mas!”


“Aku terima, walau nanti Mas enggak punya banyak waktu karena mas harus fokus kerja sekaligus bantu klien mengurus masalah mereka.”


“Aku juga terima kalau mas sampai harus menunda janji sekaligus kebersamaan kita karena ada yang lebih harus lebih dulu Mas selesaikan.”


“Sebisa mungkin aku usahakan hanya geser dikit. Maksudnya, harusnya enggak sampai lupa,” balas mas Aidan. “Kalau enggak, setiap aku ada urusan, kamu ikut saja.”


Arimbi tersipu. “Ya enggak apa-apa andai Mas lupa. Kan, tetap ada hitungannya. Karena setiap yang Mas lupakan, wajib dapat hukuman!”


Mendengar itu, mas Aidan sudah langsung syok, tapi ia memilih mengangguk-angguk sanggup karena memang tak mau meru*sak momen romantis mereka. “Kamu suka bunganya, kan?” tanya mas Aidan lirih dan memang langsung merangkul mesra pinggul Arimbi. Ia sampai merapatkan jarak mereka, dan memang nyaris kebablasan memangku Arimbi. Ia lupa, mereka tengah berada di tempat umum.

__ADS_1


“Hanya karena sedang bulan madu, aku jadi lupa, kalau di pantai ini, kita enggak hanya berdua!” ucap mas Aidan berbisik-bisik dan kali ini tersenyum pasrah.


Arimbi makin cekikikan kemudian menghirup dalam-dalam, aroma mawar putih dan juga setangkai mawar merah dalam dekapannya. “Makasih banget!” ucapnya sambil menengadah hanya untuk menatap wajah sang suami yang memang berada tepat di atas wajahnya. Dan Arimbi nyaman-nyaman saja walau mas Aidan sudah langsung menyosor bibirnya. Arimbi sengaja menggunakan buket mawarnya untuk menutupi wajah mereka, menyembunyikan ciu*man romantis yang tengah mereka wajahn


__ADS_2