Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
143 : Mirip Terkena Sawan


__ADS_3

“Jadi ini nanti aku jadi tukang kecantikan keliling, yah, Mas?” tanya Sundari memastikan.


“Enggak usah keliling, Sayang. Cukup mampir ke rumah Ilham saja.” Azzam masih merapikan tas berisi paket perawatan yang akan Sundari bawa.


Dari luar ruang keluarga kebersamaan Azzan dan Sundari, suara cit cit yang menyertai langkah cepat sekaligus berat, terdengar mendekat. Jangan berpikir itu langkah dari bocah yang memakai sepatu khusus berornamen menggemaskan dilengkapi bunyi bahkan lampu warna-warni. Karena itu merupakan langkah pak Haji Ojan yang memakai sepatu bulu karakter kelinci warna pink.


“Innalilahi Ojan. Aku kira bayi mana main ke sini. Ternyata bayi akhir zaman!” kaget Azzam pada pria berpenampilan serba pink itu.


Jailnya Azzam, ia sengaja mengecek celana d*alam pak Haji Ojan dan terbukti masih berwarna pink seperti pengakuan yang memakainya.


“Mas ih, jangan dibiasakan begitu!” tegur Sundari lirih pada Azzam yang masih menertawakan seragam pak Haji Ojan.


“Ini kita beberan mau ke Aish?” tanya pak Haji Ojan bersemangat.


“Iya. biar kamu percaya, bagaimana keadaan asli Aish si wanita suci!” tegas Azzam yang kemudian berkata, “Nanti kamu jadi saksi pas Riri jalanin perawatan ke dia!”


“Tapi Sayang, Aish enggak mungkin lepas cadar apalagi hijab kalau di depan non ...,” ucap Sundari khawatir.


“Oh iya ... kalian kan non spesies, ya?” Azzam jadi bingung dan memang refleks merenung.


“Aku mau ikut ih. Aku mau jadi saksi!” pak Haji Ojan menjadi sibuk merengek. Iya refleks loncat-loncat di tempat, hingga keadaan menjadi berisik bunyi cit cit cit dari sepatu pink-nya yang juga disertai lampu warna warni di bagian belakang.


“Tenang, dong, Jan. Tenang! Kamu mau ikut, enggak? Kalau mau ikut ya diem! Biar aku mikir dulu!” ujar Azzam.


“Ya makanya, Zam. Jadi orang yang mikir!” tegur pak Haji Ojan.


Azzam langsung mendelik menatap yang menegur. “Yang enggak mikir kamu ih pinky! Sembarangan kamu!”

__ADS_1


Akan tetapi, apa yang Azzam lakukan beberapa saat kemudian membuat pemuda itu merasa ucapan pak Haji Ojan benar. Bahwa dirinya memang enggak mikir. Buktinya, Azzam sengaja mendandani pak Haji Ojan dengan aksesori syari serba pink. Bukan hanya gamis lengkap dengan kerudung, tapi juga cadar yang sukses menyamarkan penampilan seorang pak Haji Ojan.


“Jangan ngomong, ya. Wajib diem biar enggak ketahuan!” ucap Azzam.


“Tapi kalau aku mau ngomong, gimana?” protes pak Haji Ojan.


“Ya di dalam hati saja!” balas Azzam yakin seyakin-yakinnya.


“Oke, aku praktek, ya! Aku mau ngomong dalam hati. Kamu wajib ngerti, loh!” ucap pak Haji Ojan bersemangat kemudian menghela napas dalam.


“Eh, apaan! Makin enggak jelas saja kamu jadi spesies! Mana bisa aku dengar suara hati kamu!” kesal Azzam.


“Lah tadi kamu yang minta aku ngomongnya dalam hati, Zamzam!” batin pak Haji Ojan sambil melotot-melotot di balik cadarnya.


Ulah pak Haji Ojan yang langsung praktik berbicara dalam hati, mirip orang terkena sawan. Sundari yang masih di sana sudah sampai menangis akibat tawanya. Tak menyangka, sang kekasih akan menemukan ide ajaib untuk misi mereka. Juga, pak Haji Ojan yang selalu menelan mentah-mentah setiap arahan Azzam.


Beberapa saat kemudian, ketiganya berbondong-bondong pergi. Azzam yang menenteng dua tas jinjing berukuran sedang milik Sundari. Sesekali, kaki kanannya akan maju menendang sebelah kaki pak Haji Ojan, yang jalannya masih ngangkang sekaligus lebar.


“Itu kamu alangkah baiknya jangan pakai sepatu itu deh. Berisik, asli!” kesal Azzam.


“Aku mau ini, ih. Aku jadi merasa imut kalau pakai sepatu ini!” rengek pak Haji Ojan sambil merangkul Sundari, tapi detik itu juga, Azzam langsung menyeruduknya, hingga Azzam ada di tengah pak Haji Ojan maupun Sundari. Azzam menjadi jarak Sundari dan pak Haji Ojan terlebih biar bagaimanapun, keduanya tetap tidak memiliki ikatan sepesial. Bukan mahram.


“Berarti nanti aku jadi antaten Riri, ya?” tanya pak Haji Ojan memastikan sambil terus melangkah ke mobil Azzam di depan sana.


“Bukan antaten, tapi asisten!” balas Azzam.


“Nah iya, antaten!” balas pak Haji Ojan sudah kembali ke asalnya, ngeyel!

__ADS_1


Azzam menggeleng tak habis pikir. “Terserah kamu deh. Tapi nanti ngomongnya bisik-bisik. Jangan teriak, nanti ketahuan dan kamu gagal lihat wajah wanita suci!”


“Ya sudah, kalau gitu, aku ngomong ya dalam hati saja biar enggak berisik apalagi ketahuan!” ucap pak Haji Ojan bersemangat.


“Bisik-bisik saja! Kamu mau ikut enggak? Kalau mau ikut ya nurut!” omel Azzam.


Segera pak Haji Ojan mendekati Azzam, menggunakan kedua tangannya sebagai corong mulut, kemudian berbisik-bisik tepat di sebelah telinga Azzam. “Iyaaaa Zamzammmmmm!”


“Ih, apaan sih ini? Geli ih, geliiiii!” keluh Azzam benar-benar kegelian sendiri akibat ulah pak Haji Ojan. Baru ia sadari, lebih dekat dengan pak Haji Ojan membuat hidupnya lebih sabar


Setelah menaruh kedua tas Sundari di bagasi, Azzam sudah langsung membuka pintu penumpang belakang. Ia sengaja menyiapkan tempat duduk di sana untuk Sundari. Karena nantinya, di sebelah Sundari akan ditempati ibu Warisem. Jadi demi keamanan bersama, Azzam sengaja membuat pak Haji Ojan duduk di sebelahnya.


Sampai di rumah, ibu Warisem sudah menunggu bersama Akala, di teras depan. Azzam buru-buru keluar membukakan pintu penumpang sebelah Sundari. Sementara Akala dengan sigap membopong ibu Warisem, memindahkannya dari kursi roda.


Ketika Akala yang dibantu Azzam mengurus ibu Warisem dengan hati-hati duduk di sebelah Sundari, mereka termasuk ibu Warisem dan Sundari dikejutkan oleh kelakuan pak Haji Ojan. Dengan perkasa pria itu melipat kursi roda milik ibu Warisem kemudian menyimpannya di bagasi.


Akala terbengong-bengong karena belum mengetahui penyamaran si pinky. “Itu, siapa Mas? Perkasa sekali?” lirihnya.


Bukannya menjawab, Azzam malah sibuk menahan tawa mirip orang stroke.


“Gimana, sudah ...?” seru ibu Arum sembari melangkah cepat keluar dari rumah dan mendekat. Ibu Arum juga sudah langsung terusik oleh penyamaran pak Haji Ojan. Tinggi bahkan semampai, bercadar dan semuanya serba pink. Termasuk sepatu berbunyi cit cit cit, dihiasi lampu warna warni.


“Kok mirip Ojan? Masa iya, Ojan punya kembaran? Serba pink gini,” batin ibu Arum membiarkan tangan kanannya disalami pak Haji Ojan. “Namanya siapa?” sapanya lembut.


“O ...?” Walau sudah bersuara menirukan logat bicara wanita dan memang sangat kemayu, pak Haji Ojan tetap bingung memperkenalkan dirinya. Tadi memang belum ada kesepakatan. Namun, ia tak mungkin mengabarkan dirinya sebagai Ojan. Bisa tidak jadi diajak ke rumah Aisyah andai ia melakukan kesalahan.


“Ojin!” ucap pak Haji Ojan, dan itu benar-benasemampai

__ADS_1


__ADS_2