Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
118 : Tidak Ingin Berhenti


__ADS_3

Jantung Arimbi seolah sudah langsung loncat ketika akhirnya tatapannya dan mas Aidan bertemu di tengah wajah mereka yang begitu dekat. Terlebih dengan sangat lembut, mas Aidan sudah langsung izin.


“Boleh mulai? Sekarang ...?” lembut mas Aidan mengulang pertanyaannya. Ia menatap Arimbi dengan sangat memohon. Kedua matanya yang selalu menatap kedua mata Arimbi penuh keteduhan, kini dipenuhi rasa ingin memiliki.


Gugup, Arimbi mengangguk-angguk. Namun, ia menjadi tidak berani menatap kedua mata mas Aidan lagi, terlebih ketika bibir mas Aidan dan terasa benar-benar hangat, menyapa bibirnya kemudian mengu*lumnya dengan sangat mesra, dan Arimbi sudah langsung membalasnya.


Dalam diamnya Arimbi berpikir, dirinya akan mengarungi perjalanan yang digadang-gadang menjadi bagian dari kenikm*atan terbesar seorang selagi di dunia. Dan yang Arimbi tahu dari beberapa informasi, ketika pertama kali melakukan akan terasa sangat menyakitkan, tapi setelah itu apalagi jika melakukannya dengan laki-laki yang sangat Arimbi cintai, Arimbi akan dengan sangat mudah menikma*tinya. Merasakan kenikma*ttan dan digadang-gadang bisa membuat yang merasakannya serasa melayang, seolah dirinya menjadi manusia paling bahagia di dunia.


Lagi, tubuh Arimbi seolah dilempar ke alam bebas ketika mas Aidan sampai membopongnya. Alasan yang juga membuat Arimbi refleks berpegangan ke mas Aidan. Ia berpegangan asal dan perlahan membingkai wajah mas Aidan menggunakan kedua tangannya. Sebab Arimbi sadar, bukan hanya dirinya yang harus menikma*ti hubungan mereka. Karena adanya sebuah kenik*matan juga selalu dibarengi dengan timbal balik. Jadi, Arimbi yang sempat melamun, berangsur membalas setiap ci*uman mas Aidan yang perlahan juga turun ke dagunya.


“Mas sudah lihat aku pas enggak pakai jilbab?” tanya Arimbi lirih setelah mas Aidan membantunya duduk di ranjang pengantin mereka yang tengahnya dihiasi kelopak bunga mawar merah disusun menjadi bentuk hati berukuran besar.


Mas Aidan berangsur menggeleng.


“Tadi pagi pas aku ngeringin rambut,” yakin Arimbi mengingatkan. Takutnya, saking sudah terlalu inggin, mas Aidan sampai lupa segalanya selain bagaimana caranya untuk segera menyalurkan keinginannya.


“Aku beneran tidur, meski rambutmu kadang menyapu wajahku, ya sudah tidur saja,” yakin mas Aidan yang kemudian membantu Arimbi melepas atribut di jilbabnya.


“Kemarin aku sengaja potong juga sih, jadi selengan.”

__ADS_1


“Memangnya tadinya seberapa panjang?”


“Hampir sepinggang!”


“Yah ... aku belum lihat!”


“Nanti juga panjang lagi, soalnya rasanya udah berat, berasa tambah beban. Ya sudah sekalian potong saja.”


Namun setelah mas Aidan membuka jilbab Arimbi, pria itu makin mengagumi kecantikan istrinya. Arimbi memiliki rambut lurus yang juga sangat tebal. Pantas istrinya itu merasa beban hidupnya bertambah ketika panjang rambutnya nyaris sepinggang.


“Tetap penasaran pas rambut kamu panjangnya nyaris sepinggang,” ucap mas Aidan tepat di hadapan wajah Arimbi, selain ia yang juga sudah langsung mengungkung tubuhnya menggunakan kedua tangan.


Arimbi sudah langsung tersipu dan lagi-lagi menjadi tidak berani menatap mas Aidan secara terang-terangan. Demi menjaga keamanan jantung bahkan kewarasannya, Arimbi sungguh belum bisa melakukannya sambil menatap mas Aidan.


“Sayang, aku enggak pakai pengaman yah, biar langsung jadi. Apalagi kan kamu baru beres haid,” ucap mas Aidan masih sangat lembut.


Arimbi sudah langsung mengangguk-angguk. “Iya, Mas, enggak apa-apa.” Satu hal yang Arimbi syukuri, ia merasa sangat berterima kasih kepada dirinya sendiri yang sudah berhasil menyiapkan penampilan terbaik khususnya untuk mas Aidan.


“Kamu juga beneran enggak pakai penunda, kan?” tanya mas Aidan yang lagi-lagi bertanya tepat di depan wajah Arimbi, selain ia yang lagi-lagi mengungkung tubuh Arimbi menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


Arimbi menggeleng pelan dan menatap teduh kedua mata mas Aidan. “Enggak, Mas. Kan dari awal, Mas sudah wanti-wanti.”


Di tempat berbeda, di mini bus dan masih duduk bersebelahan dengan Aisyah, Ilham merasa sangat merana. Matanya menatap frustrasi suasana luar yang mulai petang. Nyaris pukul lima sore dan suasana hari ini yang sempat sangat terik, sudah langsung teduh karena hujan pun tampaknya akan turun. Hampir di semua sudut langit sudah dikuasi mendung, mirip dengan hati bahkan kehidupannya.


“Mas Aidan pasti seneng banget pas buka jilbabnya Arimbi. Apalagi sekarang Arimbi sudah langsing, dan sepertinya Arimbi juga sampai rutin perawatan. Wajahnya saja jadi glowing,” batin Ilham sudah langsung menelan cairan yang memenuhi mulutnya hanya karena tatapannya dipenuhi kepala Aisyah yang jatuh menyandar di bahunya. Ia ingat awal mula ia membuka cadar Aisyah dan itu ibarat awal mula petaka di kehidupannya.


Gambaran jika wajah Aisyah sangat cantik terlebih kedua mata Aisyah memang sangat indah, langsung musnah dan malah membuat Ilham tak hanya kecewa. Karena Ilham yang sempat takut sekadar melihat wajah Aisyah juga perlahan jijiik. Namun, tampaknya Sang Pemilik Kehidupan memang sengaja menjodohkannya dengan Aisyah. Terbukti, apa pun yang terjadi, mereka kembali bersama, hingga Ilham yang dulu pernah memfitnah Arimbi dengan sangat keji, merasakan fitnahnya sendiri. Sebab, semua keburukkkan yang Ilham fitnahkan kepada Arimbi malah ada di diri Aisyah, bahkan lebih parah.


Terpikir oleh Ilham, apakah Aisyah memang jodoh yang sengaja Alloh berikan sebagai balasan dari setiap perbuatan yang Ilham lakukan?


“Innalilahi ... baru lihat matanya yang menutup saja, rasanya sudah enggak karuan banget. Kecewa, jijiikk, dan ... beneran pengin udahan!” jerit Ilham dalam hatinya.


Hanya saja, Ilham sudah langsung menunduk dalam lantaran ternyata, dari sebelah, Romo Kyai yang tidak tidur, diam-diam mengawasi. Romo Kyai menatapnya tajam, bahkan hingga sekarang. Ilham memergokinya lewat ekor lirikannya. Padahal di tempat duduk penumpang, pak Haji Ojan tengah menunduk sedih sambil memandangi serpihan daun buket pengantin pemberian Azzam.


Berbeda dengan Ilham yang ingin segera berhenti, tidak dengan mas Aidan yang tetap ingin melanjutkan, walau di bawahnya, Arimbi sudah merintih kesakitan. Mas Aidan terus berusaha meyakinkan, meredam rasa sakit yang Arimbi rasa karena walau mungkin tidak sesakit yang Arimbi rasa, mas Aidan pun merasa sakit.


“Sebentar lagi!” yakin mas Aidan yang sebelumnya sempat difitnah sudah tidak pera*wan, sedang hamil, bahkan sampai difitnah sudah abor*si. Namun nyatanya, kini ia membuktikan sendiri, sudah lima belas menit lebih ia mencoba menerobosnya, usahanya belum ada hilal.


Mas Aidan membelaii wajah Arimbi yang sudah basah oleh peluuh dan sebagiannya memang miliknya.

__ADS_1


Arimbi mengangguk-angguk paham, walau paha hingga kakinya sudah gemetaran dan mungkin karena belum terbiasa.


“Bentar lagi!” yakin mas Aidan yang kembali melanjutkan dan memang tidak mau berhenti, lain dengan nasib Ilham kepada Aisyah.


__ADS_2