Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
68 : Tersedu-Sedu


__ADS_3

Mas Aidan yang ditinggal Arimbi, tapi Azzam yang ketar-ketir. “Mas ... itu mbak Arimbi!” Walau ia berucap lirih, sebenarnya ia sangat ingin menjerit karena geregetan.


Mas Aidan menghela napas pelan kemudian berkecak pinggang. “Enggak apa-apa. Mbak Arimbi ngerti, kok.”


“Kejar ke bawah lah, Mas. Bilang, gimana duduk perkaranya. Mas Azzam kan paham. Ini aslinya mas Aidan masih enggak enak badan. Habis dikerokin itu sama Mbak Arimbi,” tegur Azzura.


Azzam mengangguk-angguk. Karena secemburu apa pun ia kepada sang kakak, ia bukan tipikal yang akan tega meru-sa-k hubungan orang apalagi kakaknya sendiri.


Setelah sampai lari hanya untuk menyusul, Azzam tidak menemukan jejak Arimbi. Ternyata Arimbi tidak datang ke prasmanan. Lalu, ke mana wanita itu pergi? Karena Akala yang masih menertibkan suasana prasmanan yakin, belum ada orang yang keluar dari rumah termasuk itu Arimbi maupun rombongan Divani.


“Lah, terus mbak Arimbi nyangkut di mana?” tanya Azzam.


Akala pikir, sang kakak masih dalam keadaan bercanda. Hingga ia dengan enteng berkata, “Di hati mas Aidan dan juga mas Azzam, kan?”


Azzam kebingungan. Nyaris berkata kasar, yang ada di hadapannya memang adiknya sendiri. “S-serius, Dek!”


“O-oh ... ini sudah serius?” Akala kebingungan, tapi ketika ia melongok ke dalam, ia menemukan Arimbi tengah melangkah buru-buru sambil membawa gelas lengkap dengan lambar, berisi minuman. “Itu ... tuh. Bawa minuman.”


Azzam yang sempat berkecak pinggang segera memastikan. Benar, Arimbi ada di dalam dan tampaknya malah dari dapur. Arimbi membawa segelas minuman ditutup penutup gelas dialasi lambar.


“Wedang jahe untuk mas Aidan, Mas. Titip tolong antarkan, ya. Saya ke depan dulu karena tamunya sudah mulai berdatangan.” Arimbi memberikan satu gelas besar berisi wedang jahenya kepada Azzam.


“Mbak Arimbi konslet apa bagaimana?” balas Azzam yang belum menerima wedang jahenya.

__ADS_1


Kali ini giliran Arimbi yang dibuat bingung oleh Azzam, bukan lagi Akala yang baru saja menghampiri.


Azzam berangsur mengambil alih wedang jahenya. “Dek, ini buat kamu.”


Bukan hanya Arimbi yang terkejut karena yang menerima pun tak kalah terkejut.


“Wah, ... apa ini? Wedang jahe? Wangi banget,” ucap Akala.


Arimbi ingin menegur, meluruskan kebenaran wedang jahenya, tapi lidahnya tak kuasa berkata-kata. Hanya aa-uu. Padahal Akala sudah membuka tutup wedangnya. Malahan baru saja, pemuda itu juga mengendus wedang jahenya.


“Eh, jangan diminum. Itu memang buat kamu, tapi cuma titip. Soalnya mbak Arimbi bikin wedang itu buat mas Aidan. Tolong antar, ya. Mas Aidan ada di lantai atas!” ujar Azzam.


Akala yang masih kebingungan berangsur menutupkan tutupnya ke gelas. Pandangannya bergetar dan berakhir menatap kedua mata Arimbi penuh kepastian.


“Emang jailnya kebangetan banget sih, Mas Azzam ini. Sudah, Mas Akala, tolong antarkan wedang jahenya ke Mas Aidan, ya. Biar masuk angin mas Aidan mendingan. Mbak mau ke prasmanan dulu.” Arimbi yang gemas kepada Aidan sampai mencubit gemas lengan kiri Azzam.


Arimbi yang awalnya pergi dengan buru-buru, berangsur berhenti melangkah. Ia balik badan, dan mendapati Akala yang masih kebingungan. Lain dengan Azzam yang malah melangkah santai menuju keberadaannya. “Innalilahi nih orang jail banget!” batin Arimbi yang kemudian menggeleng tak habis pikir.


Beberapa saat kemudian, Arimbi yang ditemani Akala, mengantarkan wedang jahenya. Suasana di sana masih senyap karena ketiga orang di sana malah bungkam. Belum ada perundingan berarti atau malah sudah selesai?


“Jangan pergi dulu, di sini sebentar.” Mas Aidan berucap lirih sambil menahan sebelah pergelangan Arimbi yang baru saja menaruh wedang jahenya di hadapannya.


Mas Aidan menuntun Arimbi untuk duduk di sebelahnya. Arimbi dapati, Divani yang langsung terlihat gelisah. Divani beberapa kali menyelipkan anak rambut sepunggungnya yang tergerai ke belakang telinga. Wanita cantik itu terlihat sangat tidak nyaman. Divani sengaja geser menjaga jarak dari Arimbi yang baru saja menjadi jarak antara mas Aidan dan Divani.

__ADS_1


“Dijelaskan sejelas-jelasnya. Apalagi kalau sudah menyangkut orang tua dan keluarga besar.” Arimbi tidak berani menatap Divani maupun mas Aidan, walau mas Aidan baru saja menggenggam sebelah tangan Arimbi yang ada di pangkuan. Arimbi mendapati mas Aidan yang terkantuk-kantuk. Dan Arimbi yakin, itu efek dari masuk Angin yang kerap membuat orang gampang letih sekaligus mengantuk.


Azzura yang kehilangan selera makannya, terbengong-bengong melihat tingkah sang kakak. Makin bengong lagi karena Arimbi sampai meminta izin kepada Divani untuk membiarkan mas Aidan tidur lebih dulu.


“Paling tidak satu jam, mas Aidan wajib tidur biar sehat kembali soalnya kan memang masuk angin parah. Sampai diare. Jadi nanti pertemuan orang tuanya diatur saja. Mau ada acara empat bulan kehamilan mbak Azzura juga, kan? Walau acaranya sampai pukul dua belas siang, tapi yang namanya tamu kan enggak selamanya tepat waktu dan enggak mungkin juga ditolak,” ucap Arimbi.


“Mas Aidan sudah jelasin belum?” fokus Arimbi tertuju pada Aidan.


Akala lagi-lagi bingung dan segera mencari tahu kepada Azzura. “Mbak ada apa, sih? Pantas mas Azzam enggak mau ke lantai atas soalnya katanya banyak masalah. Ternyata memang benar!” bisiknya.


“Semuanya sudah jelas, Mbak. Masa Mbak enggak percaya aku?” balas mas Aidan menatap sendu Arimbi akibat rasa pusing yang begitu kuat dampak dari masuk anginnya.


“Aku percaya, Mas. Aku beneran percaya. Ya sudah, Mas tidur di kamat dulu. Takutnya banyak tamu dari jauh yang datang ke acara Mbak Azzura sekalian ingin bertemu Mas juga,” yakin Arimbi yang kemudian meminta bantuan Akala untuk mengantar mas Aidan ke kamar.


“Ada, wanita sebaik mbak Arimbi? Calon suami didatengin mantan tercinta, dia sama sekali enggak marah dan masih sibuk urus calon suami yang sedang sakit,” batin Azzura diam-diam mengawasi kepergian Arimbi yang menyusul sekaligus meyakinkan mas Aidan.


“Mbak jangan pergi apalagi pas aku tidur!” ucap mas Aidan terdengar mengancam.


“Kalaupun aku pergi, ya paling jaga prasmanan. Kan banyak tamu yang harus diurus. Udah, Mas tidur saja biar cepat sembuh.” Arimbi meyakinkan.


“Sedekat itu hubungan mereka?” lirih Divani sudah nyaris menangis kepada Azzura yang masih diam di sofa.


Azzura yang masih menyimak sekaligus menjadi pengamat yang baik, berangsur mengangguk. “Mbak Arimbi mirip mamah. Orangnya keibuan banget. Aku enggak bisa berkomentar, tapi ya ... seperti yang kamu lihat lah.” Azzura takut salah bicara, selain ia yang yakin, tanpa harus mendengar cerita darinya, Divani pasti sudah berang kali menangis jauh di lubuk hati wanita itu. Lihat saja, kini saja, Divani hang memakai dress lengan pendek warna putih dipadukan dengan kardigan biru laut, sudah berlinang air mata.

__ADS_1


“Si Divani pasti nyesel banget!” batin Azzura jadi deg-degan. “Mereka yang punya hubungan, tapi aku yang deg-degan, ya? Tapi ini jauh lebih mending, daripada pas aku dan mas Cikho,” batinnya lagi memilih melanjutkan makan pecelnya. “Gara-gara mereka, pecel seenak ini aku lupakan!” batinnya lagi yang kemudian menawari Divani makan. Namun, gadis itu menggeleng di tengah mulutnya yang bungkam, walau air matanya terus berlinang.


“Nah, kan ... malah nangis kejer. Ini si Azzam juga ke mana sih, kok malah asal pergi padahal Divani sahabatnya dan otomatis dia yang paham gimana nanganinnya!” Azzura yang masih berbicara dalam hati, jadi merasa serba salah. Ingin makan pecel, tapi di hadapannya ada gadis yang menangis tersedu-sedu.


__ADS_2