Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
69 : Ambil Hikmahnya


__ADS_3

Sampai detik ini, Divani masih berlinang air mata sekaligus belum bisa berkata-kata.


“Papah mamah juga sudah bilang, ... mas Aidan terlalu memanjakan aku. Mereka bilang, aku ... sudah sangat keterlaluan. Padahal aku pikir, ... yang kemarin ya seperti biasa.” Walau sudah bisa bicara pun, Divani hanya mampu bersuara lirih. Suara lirih yang mewakili penyesalan sekaligus ketakutannya.


Iya, Divani menyesal telah kekanak-kanakan, menjadikan hubungannya dengan mas Aidan sebagai bagian dari keegoisannya.


Azzura kembali meletakan pecelnya, tak jadi makan. Ia menghela napas pelan sekaligus dalam. “Mas Aidan memang sebaik itu. Sangat memanjakan orang yang disayang, tapi bukan berarti kita membalasnya dengan air tuba.”


Balasan Azzura sudah langsung membuat Divani menunduk. Divani merasa bersalah. “Aku merasa memilikinya. Aku yakin, hanya aku yang akan menjadi satu-satunya. Aku berpikir, mas Aidan enggak mungkin berpaling. Apalagi terakhir mas Aidan bilang, ... mas Aidan baru akan menikah setelah aku ... menikah.”


“Jadi, sekarang kamu sadar, kamu salah?” ucap Azzura memastikan lirih, santai, tapi dalam karena biar bagaimanapun, sikap Divani tetap membuatnya kesal. Divani kecewa, wanita berpendidikan, dari keluarga berada sekelas Divani malah berpikiran p1cik, sama sekali tidak memperlakukan mas Aidan dengan baik.


“Kalau aku jadi kamu, aku enggak bakalan bikin mas Aidan berpaling dariku satu detik pun. Sudah bukan waktunya tes-mengetes dalam hubungan apalagi kamu tahu, keadaan mas Aidan seperti apa. Mas Aidan sayang, sabar banget ke kamu, ya karena Mas Aidan juga berharap kamu melakukannya juga kepadanya. Sebuah hubungan selalu harus ada timbal balik kan? Apalagi laki-laki, mereka mau kasih pun karena mereka mau dapat imbalan dari kita. Karena jangankan baru semacam pacaran, sudah menikah pun begitu. Suami tanggung jawab kepada istri, dan dia berharap istri bakalan balas dengan memberikan semacam ‘pelayanann’ dalam tanda kutip yang lebih lagi.”


Mengangguk-angguk sambil sesekali menelan ludah, Divani membenarkan. “Iya, Ra!”


“Aku juga kayak kamu. Termasuk wanita di luar sana. Aku selalu ingin dimanja oleh pasanganku apalagi oleh suamiku. Namun ya tadi, kembali lihat kondisi sekaligus situasi. Karena kalau aku lihat suamiku diem, capek, dia sibuk, ... berarti giliran kita yang memanjakan suami. Lah kamu ... kamu tahu keadaan mas Aidan. Kamu enggak bisa menerima keadaannya. Tapi ya enggak apa-apa karena memang belum jodoh. Andai dipaksakan pun, ya enggak baik juga.” Azzura bertutur penuh pengertian.


“Sekarang semua jelas dan jelas kamu yang salah. Urusan dengan orang tua kamu, ... tentu saja sebenarnya ini kewajiban sekaligus tanggung jawab kamu. Kamu yang harus jelasin. Asal kamu tahu, gara-gara tahu mas Aidan diputusin sama kamu lagi, ayah Angga masuk klinik. Down parah kesehatannya. Alhamdullilah ada mbak Arimbi. Bukan bermaksud membanding-bandingkan kalian, ... tapi ... seperti yang kamu lihat, memang wanita seperti mbak Arimbi yang dibutuhkan mas Aidan bahkan, ... kami. Bayangkan kalau tadi yang didatengin mantan, kamu. Bayangkan yang di posisi mbak Arimbi kamu. Alamatnya kamu sudah ngamuk, kan?”


Lagi, Divani tidak bisa menjawab.

__ADS_1


“Namun jika memang mau lebih jelas, apalagi orang tua kita bersahabat, nanti tetap wajib duduk bersama.”


“Enggak usah, Ra ... beneran enggak usah. Iya, aku salah ... aku nyesel. Aku ... beneran enggak nyangka akan jadi begini.”


“Enggak apa-apa. Ambil hikmahnya saja. Jadikan pembelajaran.” Azzura penasaran kenapa yang di kamar mas Aidan tak kunjung keluar, tapi baru saja, Akala yang gampang bingung keluar. Akala mengambil minyak kayu putih kemudian meminta koyok kepada Azzura.


“Mbak Arimbi mana?” tanya Azzura sembari melangkah menuju kamarnya. Ia meninggalkan Divani.


“Diiket dia di kamar sama mas Aidan. Mas Aidan enggak mau ditinggal.” Akala jujur.


Malahan Azzura dan semuanya tahu, Akala merupakan makhluk paling jujur yang masih tersisa di muka bumi ini. Divani yang masih bisa mendengarnya pun mengakui. Akan sangat berbahaya jika merencanakan kebohongan bersama Akala. Tentunya, kabar yang baru saja pemuda itu bagikan tidak mengada-ngada.


Arimbi yang awalnya memijat-mijat kepala maupun pundak mas Aidan, sudah langsung menggunakan minyak kayu putih yang Akala bawa. Tengkuk dan punggung mas Aidan juga tak luput dari olesan minyak kayu putih. Termasuk perut mas Aidan yang bagian pusarnya kemudian ditutup menggunakan koyok.


“Kalau dipikir-pikir, alasan sikap orang ada, memang sering kali karena mereka ingin mendapatkan balasan yang sama bahkan lebih. Banyak kan kasus bunnuu-h d1r1 yang malah dilakukan oleh mereka yang selama ini kelihatan ceria dan dinilai sebagai orang sangat baik. Bisa jadi, sebenarnya itu yang mas Aidan lakukan. Namun jujur, aku kaget mas Aidan bisa semanja ini. Namun bisa jadi karena mas Aidan enggak mau ambil risiko. Kesehatan orang tuanya dan itu ada tiga orang tua sekaligus, menjadi taruhannya,” batin Arimbi kembali memijat kepala mas Aidan menggunakan kedua tangannya, walau tangan kirinya diikat menggunakan dasi yang sama dengan yang mengikat tangan kanan mas Aidan.


“Semoga masalahnya enggak sampai berlarut-larut, soalnya rawan kalau sudah berkaitan dengan orang tua dan keluarga besar. Dan semoga, mantan mas Aidan itu bisa ambil hikmahnya,” batin Arimbi yang juga mendoakan kesehatan mas Aidan. Ia memandangi wajah mas Aidan yang sungguh meringkuk di pangkuannya, menghadap ke perutnya hingga pria itu mirip kucing mager yang tidak mau bangun dari tidurnya.


“Sedekat itu memang mereka, dan kami juga memang cocok dengan mbak Arimbi.” Azzura yang mengajak Divani mengintip kebersamaan Arimbi dan mas Aidan, berangsur menutup rapat pintu kamar mas Aidan dan awalnya agak ia buka.


“Iya, Ra. Kalau gitu, aku pamit dulu. Aku mau menemui orang tuaku sebelum mereka ke sini,” balas Divani.

__ADS_1


“Ya enggak apa-apa. Kalau mereka memang ke sini, ya ke sini saja. Kan nanti ada sesi pertemuan, kan? Biar semuanya jelas!” yakin Azzura.


Divani tidak langsung bisa menjawab. “Gimana yah, Ra. Kamu kan tahu, orang tuaku sudah berharap banget ke mas Aidan. Empat tahun kami bersama.”


“Andai aku yang jadi orang tua kamu pun begitu. Namun jika ini keputusan kamu, aku hargai. Hanya saja, tolong jangan mengulangi kesalahan yang sama. Kamu berhak bahagia dengan pasangan baru kamu karena sekarang saja, mas Aidan sudah sangat bahagia dengan pasangan barunya!” yakin Azzura.


Divani mengangguk pasrah. “Bakalan sulit buat move on sih.”


“Ya enggak apa-apa. Yang penting kamu jangan sampai ngrecokin hubungan mas Aidan dan mbak Arimbi. Lihat ke sekeliling, pembaca sudah emosi!” yakin Azzura.


Sekitar dua.jam kemudian, kebersamaan sekaligus pertemuan yang dimaksud terjadi, dengan sebelumnya, orang tua yang sudah diberitahu. Bahwa saat memutuskan dulu, Divani tidak bermaksud, walau setelahnya Divani sengaja tak mengabari lagi. Namun alasan Divani tak mengabari karen Divani berharap mas Aidan terus mengejar.


Ibu Arnita dan pak Restu selaku orang tua Divani sampai sengaja meminta maaf karena keduanya baru mengetahui kelakuan parah putrinya. Termasuk kepada Arimbi pun, pak Restu dan ibu Arnita turut meminta maaf.


“Kok mirip banget yah, sama kamu Rum?” ujar ibu Arnita sembari menahan senyumnya. Merasa heran, aneh, tapi nyata.


“Mungkin awalnya mereka mau jadi kembaran, tapi pas dikasih tahu kalau lahir terpisah di generasi berbeda kehidupan mereka akan lebih enak, selain mereka yang akan tetap dipersatukan walau dengan status berbeda, Mamah sama mbak Arimbi setuju jadi kembar beda generasi!” jelas Azzam yang memang turut ada di sana. Azzam duduk di sebelah Akala hingga dari keluarganya, semuanya berpasangan.


Di sofa panjang yang ada di sana, ibu Arum duduk bersebelahan dengan Arimbi. Di sebelah Arimbi ada mas Aidan dan di sebelahnya mas Aidan ada pak Kalandra. Sedangkan Azzura dan sang suami juga turut serta duduk bersebelahan di sofa ruang keluarga lantai atas. Lantai atas sengaja dipilih karena tak terjamah tamu maupun orang rewang. Mungkin. Karena baru saja, Ojan sampai di sana.


“Janda!” Yang langsung pak Haji Ojan tuju tentu Arum. Walau ketika kedua matanya tak sengaja melihat Azzura, ia juga jadi bimbang.

__ADS_1


__ADS_2