Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
137 : Cinta yang Makin Besar


__ADS_3

Divani merasa sangat malu, terlebih sejak sidang dadakan untuknya, tak ada sedikit pun yang menatapnya iba atau setidaknya manusiawi. Divani berpikir sekaligus yakin bahwa semua orang langsung membencinya.


Namun dengan segera, Devano berkata, “Orang yah, kalau sudah telanjur jahat, apa-apa pasti selalu salah di mata dia. Dia akan selalu merasa paling benar, merasa menjadi korban, dan juga merasa paling suci mirip seperti yang sedang dirasakan Divani. Benar, lan, Di?”


Devano menatap sengit Divani yang sudah langsung menatapnya dengan mata bergetar sekaligus basah. “Andai kamu tetap bertahan dengan keputusan kamu, menganggap diri kamu seperti yang tadi aku sebutkan, ... SELAMAT, kamu akan kehilangan semuanya termasuk kehilangan kepercayaan hingga masa depan!” Ia yang masih bersedekap segera mengalihkan perhatiannya kepada Sekretaris Lim.


Devano meminta pria kaya raya yang ia ketahu memegang perusahaan cabang dari perusahaan Tuan Maheza itu, untuk menjalankan rencana awal mereka, yaitu membuang Divani.


“Beneran ke hutan Papua, biar nyangkut di pohon sagu?” Sekretaris Lim yang tertawa geli, malah meminta ibu Septi untuk mengeluarkan jurus andalan. Awal mula kebersamaan mereka kembali diwarnai tawa lantaran anak-anak yang tampaknya belum tahu sudah langsung penasaran mengenai jurus andalan yang dimaksud.


Dari semuanya, para orang tua menjadi sosok-sosok paling bahagia bersama Azzam, Sepri, dan juga pak Haj Ojan. Sementara Akala dan Cinta, keduanya juga menjadi bagian dari orang-orang yang berduka walau mereka bukan Divani maupun Chole.


“Walau waktu bisa menyembuhkan luka, melupakan suatu hal apalagi hal yang benar-benar berharga maupun menyakitkan, bukanlah perkara mudah. Meski tentu saja, dalam kasusku tidak ada pilihan lain selain ikhlas, menyerahkan segala sesuatunya kepada sang pemilik kehidupan. Karena jika Cinta memang jodohku, bagaimanapun caranya, Alloh pasti akan memberikan jalan agar kami bisa bersama-sama lagi,” batin Akala yang tak lagi melirik apalagi menatap Cinta secara berlebihan. Ia sungguh memulai keikhlasannya, berusaha menganggap Cinta sebagai bagian dari keluarga, tidak lebih.


“Caranya menerima setiap keputusanku justru makin melukaiku. Termasuk caranya mengabaikan aku, ... ini benar-benar menyakitkan!” batin Cinta yang diam-diam terpaksa menggi*git kuat bibir bawahnya, guna meredam kesedihan sekaligus luka-lukanya. Terlebih ketika akhirnya Akala dengan sigap menuntun sang nenek kemudian pamit lebih dulu dari yang lain.


Seiring langkah yang menuntun mereka untuk pulang, dalam diamnya Arimbi tengah mengingat ketegasan mas Aidan. Ketika pria itu menjelaskan kedudukan seorang istri untuk seorang suami dan itu teramat utama sekaligus mulia. Yang mana detik itu juga, Arimbi tak sengaja menoleh ke ibu Arum, hingga memergoki ekskresi mamah mertuanya itu yang benar-benar menjadi sangat emosional.


“Aku yakin mamah Arum merasa sangat bangga. Ditambah lagi, yang mengucapkan langsung mas Aidan tanpa diminta apalagi dipaksa. Ya Alloh ya Rab, semoga kelak, anak-anak kami juga mengikuti jejak papahnya yang sangat tegas sekaligus pengertian. Andai pun harus ada nyinyir sama tukang gosip seperti Azzam, ya enggak apa-apa biar makin rame. Seenggaknya, mereka walau perempuan, wajib tegas sekaligus memiliki pemikiran luas seperti mas Aidan,” batin Arimbi sambil terus menggandeng sebelah lengan mas Aidan menggunakan kedua tangannya.


Bersama keluarga mas Aidan, Arimbi tengah berjalan kaki menuju pulang. Layaknya awal ketika berangkat, kali ini mereka juga pulang sambil bergandengan dengan pasangan masing-masing. Bedanya, kali ini pak Kalandra dan ibu Arum juga bergabung. Keduanya melangkah di tengah, Arimbi dan mas Aidan di belakang, semenara di depan ada Azzura dan Excel.

__ADS_1


Tak begitu jauh dari rombongan mas Aidan, ada Sundari yang digandeng Azzam, sedangkan di belakangnya ada Sepri dan pak Haji Ojan. Hanya Akala yang tidak terlihat menjadi bagian dari kebersamaan lantaran pemuda itu sudah pulang menggunakan mobil. Selain membawa kakek dan neneknya, Akala juga membawa ibu Warisem yang tak segan Akala bopong lantaran keadaannya.


“Zam, ... Zam?” panggil pak Haji Ojan mendadak heboh.


“Oy, oy ... ada apa?” balas Azzam tanpa sedikit pun melirik pak Haji Ojan. Ia masih fokus menatap ke rombongan keluarganya yang beberapa kali ia pergoki tertawa renyah.


“Kok aku merasa, cintaku ke Didi makin besar, ya?” ucap pak Haji Ojan menjadi menerka-nerka.


“Pastikan pertumbuhan rasa cintamu terjaga yah, Jan. Biar enggak stunting apalagi obesitas mirip pikiranmu!” ucap Azzam.


Mendengar itu, yang dibalas tetap serius dan menganggap sekaligus yakin, bahwa Azzam juga sungguh-sungguh mengarahkannya. “Stunting dan obesitas ... ini maksudnya, aku harus minum vitamin, apa langsung pakai KB andalan saja, biar dua cukup? Gimana, Zam? Gimana?” heboh pak Haji Ojan sambil memijat-mijat kedua pundak Azzam dari belakang.


Susah payah Azzam menahan tawa, tapi karena pak Haji Ojan terus tertawa dan tak segan mencek*iknya, Azzam tak memiliki pilihan lain selain membalas. “Nikah dulu, sah, baru pakai KB!”


“Aisyah lagi, ... Aisyah lagi,” lirih Azzam sambil geleng-geleng. Ia melepas kepergian Sepri yang dibawa pak Haji Ojan untuk mengantar ke rumah Ilham.


“Mau ngapel kok ngajak-ngajak aku!” semprot Sepri.


“Sudah, Pri. Antar saja aku ke rumahnya si Ilham. Akh jamin, selain kamu bakalan dapat pahala, nantinya aku juga bakalan kasih warisan ke kamu!” yakin pak Haji Ojan masih membawa Sepri lari.


“Ya ampun, Jan. Tanpa kecipratan warisan dari kamu pun, aku enggak mungkin kekurangan. Punya anak satu RT sekalipun, aku masih bisa kasih makan sekaligus hidup layak!” yakin Sepri.

__ADS_1


“Oalah aku lupa, Pri. Kamu kan emang crazy tanpa rich!” balas pak Haji Ojan dengan santainya sambil menepuk-nepuk punggung Sepri.


“Sembarangan kamu bilang begitu. Tahu artinya enggak, bisa-bisanya bilang aku crazy tanpa km rich!” kesal Sepri.


Pak Haji Ojan sudah langsung terpingkal-pingkal. “Omong-omong, yah, Pri. Kamu cari yang masih perawan apa janda?”


“Yang penting bukan Aisyah! Soalnya ngeri banget kalau ingat dia kayak apa!” ucap Sepri mantap semantap-mantapnya. Berharap, pak Haji Ojan jadi takut juga.


“Ngeri-ngeri sedap karena enggak bisa memiliki yah, Pri! Hahahaha, ya gitulah. Gitu-gitu kan, Aisyah wanita suci!” pak Haji Ojan menjadi kesulitan menyudahi senyumnya layaknya manusia kasmaran pada kebanyakan.


“Wanita suci dari debu, atau memang wanita bertayamum?!” cibir Sepri menjadi sewot sendiri lantaran pak Haji Ojan tetap tidak mau percaya perihal wujud asli seorang Aisyah


Motor Sepri memang ada di depan klinik Azzura, alasan yang juga membuat mereka berjalan kaki layaknya kali ini. Namun yang membuat Azzam penasaran, tentu mengenai obsesi pak Haji Ojan kepada Aisyah. Karena sekelas Divani yang cantik orang kota sekaligus kaya saja, kalah.


“Andai Ojan tahu terang-terangan gimana wujudnya Aisyah, ... pasti dia enggak terobsesi gitu lagi,” ucap Azzam.


“Siapa tahu bakalan jadi jalan mas Ojan sadar dari obsesi bahkan kurang warasnya selama ini!” yakin Sundari.


Alasan yang juga membuat Azzam merenung serius kemudian menatap sang kekasih. “Sayang, coba kamu besok jadi tukang perawatan kecantikan gratis. Mampir ke rumah ibu Siti, terus rawat Aisyah. Nah, sekalian bawa si Ojan.”


Azzam yakin seyakin-yakinnya dengan keputusannya. Apalagi sang kekasih juga memang memiliki produk kecantikan. “Nanti aku yang bayar semuanya, tapi kamu nanti bilang ke si Ais, gratiiisss!” Azzam mengulurkan tangan kanannya kemudian langsung menjabat tangan kanan sang kekasih.

__ADS_1


“Berasa mau jadi tukang kecantikan abal-abaal!” ucap Sundari yang kemudian tertawa pasrah.


__ADS_2