
“Urusan Ilham dan Aisyah jadi ribet banget,” ucap Mas Aidan. Ia tertarik memakan asinan yang ada di tengah meja. Ia berbicara dengan santai sembari melepas rasa lelah efek kesibukannya dari kemarin. Beruntung, adanya Arimbi yang begitu setia menunggu kepulangannya, sudah langsung menjadi pelipur lara, membuat lelah yang ia rasa perlahan berkurang.
Arimbi sengaja beranjak, mengambilkan asinan untuk sang suami. Setelah kembali duduk di sebelah mas Aidan, ia juga sengaja menyuapi mas Aidan.
“Selain Ilham tetap enggak mau cerai, dia juga wajib bayar ganti rugi, yah, Mas?” ucap pak Angga sambil menatap serius sang putra.
Mas Aidan berangsur mengangguk. “Iya, Pah. Kebetulan, aku diminta buat bantu urus. Karena memang ada perjanjian tertulis di atas materai antara Ilham dan pihak Aisyah.”
“Dalam perjanjian tersebut dijelaskan, Aisyah berhak meminta cerai andai Ilham terbukti menyalahi aturan baik itu KDRT atau malah poligami. Ilham wajib mengembalikan uang Aisyah yang selama ini dipakai oleh Ilham. Dan Ilham enggak bisa menahan-nahan Aisyah karena dia terbukti KDRT.” Mas Aidan menjelaskan panjang lebar.
“Buktinya apa, Mas?” tanya Arimbi penasaran. Karena jika hanya berupa luka, pihak Ilham bisa menepisnya dengan dalih, luka itu ada karena Aisyah melukai dirinya sendiri. Juga, mereka yang memang tidak bisa menerima keterangan Aisyah mentah-mentah tanpa bukti akurat termasuk itu keterangan saksi. Kecuali, Aisyah memang sudah berniat mengungkap kejahatan Ilham sekeluarga melalui rekaman digital.
“Setiap orang memang berhak mendapat bantuan hukum, bahkan penjahat sekalipun. Masalahnya, memangnya Mas punya bukti kalau keterangan Aisyah bisa dipercaya? Karena kalau memang Aisyah salah, ya enggak usah dibela,” ucap pak Angga.
Sambil mengunyah asinan di dalam mulutnya, Mas Aidan mengangguk-angguk. “Ada,” ucapnya sambil menatap wajah Arimbi dan pak Angga, silih berganti.
“Aish merekam saat kejadian. Ada tiga rekaman berbeda. Rekaman tanpa gambar karena Aisyah melakukannya secara diam-diam. Jadi, pas kejadian, itu suara Ilham dan orang tuanya sedang mengo*lok-ol*ok Aisyah. Terdengar sambil mukul-mukul juga.”
Mendengar cerita dari sang suami, Arimbi sudah langsung merinding. Ia refleks mengawasi kedua tangannya menggunakan kedua matanya yang perlahan basah. Bulu halus yang menghiasi kedua tangannya kompak berdiri. Dan Arimbi tidak bisa untuk tidak menangis.
Meski bukan dirinya yang mengalami KDRT, Arimbi seolah merasakan dampaknya karena biar bagaimanapun, Arimbi sempat menjadi bagian dari Ilham sekeluarga. “Pasti kejadiannya, si Aish juga sampai teriak-teriak, yah, Mas?”
__ADS_1
“Bukan berarti mereka memperlakukan Aish begitu, Yang. Itu di rekaman beneran terdengar dikeroy*ok. Bapaknya Ilham sampai ikutan. Padahal kita sama-sama tahu, keluarga Aish sering kasih kiriman uang. Biaya pengobatan Ilham saja masih dari Romo. Makanya Aish juga sampai bilang, dia baru akan disayang kalau dia dapat kiriman uang,” ucap mas Aidan masih sangat sabar.
“Mereka memang makin enggak manusiawi sih. Gimana, ya?” Arimbi sampai bingung harus berkomentar apa. Ia menyeka sekitar matanya menggunakan ujung jilbabnya.
Obrolan tersebut kembali berlanjut walau kebersamaan mas Aidan dan Arimbi sudah pindah ke dalam kamar mereka.
“Kalau dipikir-pikir, yang namanya rezeki memang sudah ada takarannya yah, Mas,” ucap Arimbi. Ia sudah duduk selonjor di tempat tidur biasa ia tidur, menunggu sang suami yang memang baru beres mandi.
Bukannya duduk di sebelah Arimbi, di bagian biasa dirinya tidur, mas Aidan justru sengaja menghampiri Arimbi. Membuat sang istri agak geser meski ia justru berakhir memangkunya. Mas Aidan mendekap gemas sang istri kemudian membenamkan wajahnya di kepala Arimbi yang tak lagi tertutup jilbab. Rutinitas yang menghiasi kebersamaan mereka, semenjak mas Aidan tahu Arimbi hamil.
“Iya, kan, Mas? Kita sama-sama tahu, orang tua mas Ilham sebenarnya mampu. Sawah dan tanah mereka luas, tapi mereka justru mempermalukan diri mereka sendiri dengan mengambil hak wanita yang dekat dengan mas Ilham. Padahal, harusnya kejadian sengketa denda-mendenda dariku bisa dijadikan pelajaran. Lah ini malah lebih parah. Dulu aku hanya difitnah dan anggaplah fitnah akan sulit diperkarakan menggunakan hukum. Nah sekarang, mereka sampai KDRT beramai-ramai, padahal sebelum ini mereka tahu Aisyah pernah dipenjara gara-gara sengaja kasus kekera*san juga ke aku,” ucap Arimbi menyesalkan apa yang Ilham sekeluarga lakukan.
“Mau ngecek apa?” tanya Arimbi sambil tersenyum menatap sang suami.
Mas Aidan yang awalnya langsung bengong, langsung salah tingkah. “Seumur-umur aku belum pernah ngecek-ngecek hp kamu khususnya riwayat telepon dan juga chat-nya!” ucapnya gemas sendiri kepada Arimbi yang malah tak hentinya tersipu menatapnya.
“Cek loh, siapa tahu nemu yang dicari!” balas Arimbi.
“Nemu apa? Sudah ketemu kamu ya enggak ada yang dicari lagi,” balas Mas Aidan sudah langsung fokus pada layar hapenya. Ia juga sudah sibuk mengetik karena ia memang tahu sandi ponsel Arimbi, begitupun dengan Arimbi yang mengetahui sandi ponsel mas Aidan.
Arimbi yang penasaran dengan apa yang membuat mas Aidan sibuk, dan itu menggunakan ponselnya, berangsur melongok layar ponselnya. Tak mau membuat Arimbi membuang-buang tenaga, mas Aidan juga sengaja menurunkan ponselnya.
__ADS_1
Tak disangka, mas Aidan sedang mencari informasi yang sukses membuat Arimbi kikuk.
Se*ks Aman Untuk Wanita Hamil ....
Itulah artikel yang sedang mas Aidan baca.
Arimbi jadi sibuk menahan senyum dan tak lagi menatap layar ponselnya. Tangan kiri mas Aidan yang tidak memegang ponsel, berangsur mendekap kening Arimbi. Sesekali, bibirnya akan mengunci kepala Arimbi yang selalu wangi.
“Yang, kalau memang ada referensi yang menarik, kamu kasih tahu aku saja. Akhir-akhir ini kan aku bakalan sibuk banget, dan kayaknya enggak sempat cari referensi. Jadi kamu yang cari, ya, nanti kita bahas sekaligus diskusi!” ucap mas Aidan.
“Referensi yang bagaimana, Mas? Yang begitu?” balas Arimbi tak berani menatap bahkan sekadar melirik mas Aidan. Namun, pada akhirnya ia malah tertawa.
“Asli, Yang, ini perlu! Ini di luar urusan lain dan memang penting buat hubungan kita!” yakin mas Aidan yang juga sudah ikut tertawa.
“Tapi kalau yang urusan begitu, jujur aku masih malu, Mas,” rengek Arimbi masih sulit menyudahi tawanya.
“Dibiasakan ih!” ucap mas Aidan yang kemudian mencubit gemas pipi kiri Arimbi. Namun karena Arimbi sudah langsung merengek pura-pura kesakitan, ia segera mengobatinya dengan ci*uman di tempat yang masih sama.
“Maaf, ya. Baru bisa hahe hahe jam segini,” ucap mas Aidan yang sebenarnya merasa sangat bersalah karena ketimbang untuk orang lain, waktunya untuk Arimbi benar-benar sedikit.
“Enggak apa-apa, Mas. Alasan Mas baru bisa kan memang karena Mas sibuk. Karena Mas harus bekerja dan juga bantu orang. Yang penting berkah dan dampaknya juga akan balik ke kita!” balas Arimbi yang juga membalas pelukan gemas dari mas Aidan. Tak lupa, ia mengecup gemas bibir suaminya itu sebelum ia juga sengaja menempelkan sebelah pipi mereka.
__ADS_1