Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
103 : Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Tertimpa Kembaran Kerbau Juga!


__ADS_3

Kedua kaki ibu Siti sudah langsung lari, berusaha kabur ketika yang di tempat duduk penumpang, justru si wanita suci, sang menantu yang harusnya mendekap di penjara. Ia berlari sambil menoleh ke belakang, menatap Aisyah layaknya menatap sosok yang sangat menakutkan melebihi hantu.


“Ham ... itu si Aisyah, Ham!” panik ibu Siti sambil berlari dan memang ketakutan.


Di atas, Ilham sudah mulai turun menggunakan tangga. Ia tidak begitu jelas dalam mendengar suara sang mamah. “Gimana, Mah?” Ia bermaksud memastikan sambil menoleh ke bawah, bermaksud menatap sang mamah.


Namun, ... ini benar-benar namun dan sangat disayangkan. Ibu Siti yang ada di bawah sana dan masih lati tanpa melihat ke depan atau setidaknya melihat selain ke keberadaan Asiyah, justru menabrak tangga Ilham berada.


“Eh, Mah ... Mah ... gimana ini, Mah?” Di atas sana dan belum ada setengah bagian dari tangga, Ilham masih berdiri, langsung gemetaran hebat dan berpegangan sekuat mungkin, terus berusaha bertahan, tapi yang ada, ia berikut tangganya tetap melayang berakhir di pelataran, ditambah ibu Siti yang sampai menimpa di atasnya.


Tetangga yang menyaksikan, bukannya kasihan malah tertawa sampai menangis terduduk lemas di depan rumah masing-masing. Padahal awalnya, mereka tengah kepo pada mobil yang membawa Aisyah. Penasaran, itu mobil apa dan biasanya akan langsung jadi bahan gosip empuk.


“Loh, kok kalian malah mainan tangga? Punya nyawa cadangan apa gimana? Bisa-bisanya jatuh dari tangga dan sampai tertimpa dua kali, kesannya punya banyak nyawa!” tegur Aisyah yang sampai dibantu turun oleh sang sopir.


“Banyak nyawa kepalamu! Ini semua gara-gara kamu!” kesal ibu Siti masih bertahan di atas tangga yang menimpa Ilham.


“Loh kok aku yang disalahin? Jelas-jelas aku baru datang, dan memang Ibu yang menabrak tangga, terus sekarang malah nongkrong di atas tubuh mas Ilham yang sudah kejatuhan tangga tapi ditambah kejatuhan kembarannya kerbau juga!” Aisyah yang menggunakan sebuah tongkat bantu jalan untuk berjalannya, berangsur mendekat. Ia menatap aneh sang ibu mertua.


“Eh, kembarannya kerbau bagaimana? Kamu menyamakan saya dengan kerbau?!” kesal ibu Siti emosi, tapi ia juga buru-buru berdiri, meninggalkan tangga dan juga tubuh Ilham.


“Jangan mati dulu, Mas. Dosamu masih banyak, dan kamu pun belum pernah bekerja. Laki-laki pengangguran cenderung berpotensi masuk neraka lebih besar, jadi saranku, matinya ditunda dulu!” ujar Aisyah.

__ADS_1


“Kamu ngomong apaan sih Aisyah!” omel ibu Siti.


“Bahasa kalbu ini namanya Bu. Ungkapan isi kalbu seorang istri yang tak diinginkan karena fisiknya tak memukau seperti yang dipikirkan Mas Ilham.” Aisyah masih menjawab dengan santuy. Walau dalam hatinya ia juga bersumpah untuk membuat hidup orang-orang di hadapannya susah. Kini saja, setelah dibantu warga dalam menyingkirkan tangganya, Aisyah pura-pura tak sengaja menginjak wajah Ilham.


“Eh, itu wajah anak saya!” heboh ibu Siti.


“Oalah suamiku, maafkan aku. Aku beneran enggak begitu tahu, selain kakiku yang memnag ingin menginjakmmu karena rindu,” ucap Aisyah.


“Stres kamu yah!” kesal ibu Siti berusaha menjauhkan Aisyah dari Ilham. Ia menarik paksa Aisyah yang kini pincaaang, menjauhkannya dari Ilham.


Aisyah yang sudah langsung sempoyongan gara-gara ulah ibu Siti, berkata, “Ya mau bagaimana lagi, Bu? Kakiku kangen Mas Ilham, kangen ke suami sendiri kan, ya biarin kakiku menempel di wajah suamiku!”


Kembali, bukannya merasa kasihan, warga yang tak lain tetangga dan memang tahu kasus Aisyah, malah tertawa. Padahal harusnya mereka mengomel kepada Aisyah, atau setidaknya iba kepada Ilham. Namun, itu sama sekali tidak mereka rasakan. Mereka malah merasa terhibur, merasa sangat bahagia di atas penderitaan Ilham.


“Ambilin minum, ambilin minum!” ucap Bapak-bapak di sana dan kebanyakan memang masih memakai pakaian bekas dari sawah.


“Rasain kamu Mas. Aku patah tulang kamu cuekin, eh sekarang akhirnya kamu merasakan sendiri!” batin Aisyah sengaja mundur, menjaga jarak agar warga bisa lebih mudah dalam mengevakusi Ilham.


“Ya Alloh sesakit iniiii ....” Ilham tak hentinya berkeluh kesah, menangis dan terdengar sangat tersiksa bahkan di telinganya sendiri.


Mendengar sekaligus menyaksikan semua itu, Aisyah benar-benar tak hentinya bersyukur di dalam hati.

__ADS_1


“Heh, Aisyah! Kamu ngapain di sini, bukannya kamu harusnya di penjara?” hardik ibu Siti terdengar sangat kejam bahkan di telinganya sendiri. Ia melakukannya dari teras rumah, dan langsung ditegur warga di sana. Mereka menganggap caranya kepada Aisyah terlalu kasaar.


“Saya ke sini karena saya kangen Ibu. Saya kangen Ibu. Saya kangen mas Ilham. Masa iya, saya enggak boleh kangen suami dan mertua sendiri, padahal kalian saja sudah banyak memakan uang keluargaku?” balas Aisyah sewot.


“Sekarang saya hanya menjadi tahanan kota, hanya wajib lapor. Jadi, saya sengaja pulang ke sini karena ini rumah suami saya. Jadi, jika Ibu tidak berkenan saya tinggal di sini, ... KEMBALIKAN SEMUA UANG YANG SUDAH KELUARGA SAYA KASIH KE KALIAN. Arimbi saja yang tanpa ada surat perjanjian bisa menuntut ganti rugi, kenapa saya yang ada surat perjanjian tidak?” balas Aisyah kali ini telanjur sinis.


Digertak seperti tadi, ibu Siti sudah langsung tidak bisa menjawab. Setelah melirik sinis Aisyah, ia memilih masuk rumah, menyusul Ilham yang sudah diboyong ramai-ramai oleh warga. Terdengar Ilham yang tak hentinya merintih, mengeluhkan rasa sakit khususnya di punggung sekaligus kaki dan tangannya. Malahan baru saja, warga yang membantu mengabarkan bahwa kepala Ilham sampai berdarah.


“Kepala saya pecah, Waa?” rintih Ilham benar-benar syok. Ia berusaha menggerakkan kedua tangannya untuk memastikan punggung kepalanya dan dikabarkan berdarah, tapi kedua tangannya benar-benar tidak bisa digerakkan, layaknya anggota tubuh yang lain. Yang masih bisa ia lakukan leluasa hanyalah mengerjap. Sebab bernapas saja, ia mulai kesakitan.


Setelah berusaha menoleh ke samping, akhirnya Ilham mendapati apa yang ia cari. Di seprai warna kuning yang menghiasi tempat tidurnya, ia sungguh melihat darah segar merembes, terus mengalir dari sana.


“Innalilahi ....” Ilham benar-benar lemas. Pandangannya juga jadi tidak jelas. Wajah-wajah di sana mendadak menjauh bersama suara riuh yang berakhir senyap. Gelap, Ilham pingsan, dan itu membuat ibu Siti menangis meronta-ronta mirip orang kesuruppan.


“Ah, cemen!” lirih Aisyah dengan sinisnya.


Menggunakan mobil pick up, Ilham diboyong ke klinik. Klinik milik keluarga Sepri. Sepri yang kebetulan ada di sana tengah duduk santai menemani dokter Andri dan juga Sundari, langsung turun tangan membantu.


“Mantannya Mbak Mbi!” bisik Sepri kepada Sundari sambil bersiap mengangkat tubuh Ilham yang tengah diangkat oleh warga yang mengantar, di mobil sana.


“Mantannya Mbak Arimbi? Wah ....” Dalam hatinya, Sundari sudah langsung heboh. Ia sengaja minggir, membiarkan Sepri memboyong tubuh Ilham seorang diri.

__ADS_1


“Hati-hati itu tulangnya pada patah, terus kepalanya juga pecah, takutnya ames-sia!” heboh ibu Siti terus mengikuti di belakang Sepri yang sudah langsung cekikikan.


Sundari yang mengawal di sebelah Sepri juga ikut cekikikan. Sementara di UGD, dokter Andri sudah siap untuk melakukan tindakan.


__ADS_2