Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
162 : Sangat Mirip!


__ADS_3

Sebelum mereka pulang, Arimbi yang baru saja meninggalkan tempat duduknya, sengaja langsung menghampiri Akala. Arimbi memeluk Akala penuh sayang, meyakinkan adik dari suaminya itu bahwa Arimbi dan semuanya sayang Akala.


“Mbak dan semuanya sayang banget ke Mas. Jadi, kalau memang Mas merasa perlu cerita, cerita saja jangan dipendam sendiri. Biar kami bisa kasih solusi,” lirih Arimbi masih mendekap penuh sayang Akala.


Azzam yang lagi-lagi merasa melow, sengaja memeluk mas Aidan, terlebih sang kakak nganggur. Mas Aidan hanya menenteng tas Arimbi dan pria itu tidak memiliki alasan untuk menolak.


“Ini kenapa, Mas?” tanya mas Aidan lirih. Di seberang mereka, Arimbi baru menyudahi pelukannya, tapi istrinya itu tak lantas melepaskan Akala. Arimbi merangkul punggung Akala kemudian menuntunnya.


“Mas Azzam kenapa?” Arimbi langsung mengkhawatirkan Azzam sesaat setelah ia melihat adik dari sang suami, ia pergoki tengah memeluk sedih sekaligus manja mas Aidan.


Mas Aidan menghela napas dalam. “Sudah malam, ayo kita pulang. Besok kan mau ke Jakarta,” ucapnya sambil mengelus-elus punggung Azzam.


“Sepertinya demi keamanan bersama khususnya demi kesehatan aku, lebih baik aku enggak ikut ke Jakarta. Takut diinfus lagi. Yang dari Yogyakarta saja mab*uknya masih terngiang-ngiang, mirip mantan yang enggak mau dilupakan,” ucap Azzam yang kemudian memiliki ide untuk menemani Akala karena mereka akan sama-sama di rumah. “Besok kamu enggak sendiri. Mas temenin pokoknya!”


Mendengar itu, Arimbi dan mas Aidan kompak bertukar senyuman. Tidak ada salahnya Azzam tidak ikut karena selain kesehatan Azzam kurang mendukung untuk bepergian jauh, Azzam juga bisa menemani Akala.


“Kayaknya besok kita ditugasi ke Cilacap deh Mas. Beli stok ikan di pelelangan karena stok di rumah makan sudah menipis,” ucap Akala.


“Loh, kan ada yang biasa urus. Pak Saimun,” balas Azzam.


“Pak Saimun yang biasa urus ikan, bakalan diajak ke Jakarta soalnya kalau aku enggak ikut otomatis enggak ada yang nyetir. Kalau papah yang nyetir ya kasihan. Mas Excel kan nyetir sendiri bawa mbak Azzura sama mamah dan adiknya,” ucap Akala masih menjelaskan dengan sangat lembut.

__ADS_1


“Oalah, alamatnya ya mab*ok juga. Apalagi di tempat pelelangan aromanya pasti sedap sekali,” keluh Azzam yang kembali mendekap mas Aidan.


“Ya mas Azzam enggak usah ikut. Biar mas Akala saja yang pergi,” balas mas Aidan. Namun Azzam bertekad ikut lantaran takut Akala minggat efek patah hati ditinggal menikah oleh Cinta.


Enggak, yah, Mas. Jangan gitu, orang tua dan keluarga Mas saja sayang banget ke Mas. Hidup Mas terlalu berharga untuk orang yang hanya bisa menyakiti Mas,” ucap Arimbi kembali menyemangati Akala.


“Mas, bedanya mbak Mbi sama Didi, kerasa banget, ya?” bisik Azzam diam-diam memperhatikan Arimbi yang masih berusaha keras merangkul hati Akala.


“Banget! Beda jauh! Bahkan Mbak Mbi bisa jadi mamah, orang tua juga buat kalian, kan? Mbak Mbi tipikal yang paham situasi, paham posisi. Aslinya Mbak Mbi juga kayak wanita kebanyakan. Mbak Mbi juga manja, tapi Mbak Mbi beneran tahu, kapan harusnya dia manja dan kapan harusnya dia jadi panutan, juga kapan Mbak Mbi menjalani perannya sebagai istri Mas,” balas mas Aidan.


“Iya, ... rezekinya Mas. Efek ke keluarga kita pun rasanya adem!” balas Azzam.


Mas Aidan yang masih membalas tatapan Azzam berkata, “Percayalah, alasan seseorang dijauhkan dari kita, alasan kita harus kehilangan, semua itu semata kita akan jadi lebih baik tanpa semua itu. Dan gantinya pasti beneran lebih baik buat kita sadar enggaknya kita yang menjalani,” yakinnya dan Azzam langsung mengangguk-angguk setuju.


Keesokan harinya setelah salat subuh berjamaah, rombongan mereka pergi. Akala pergi ke Cilacap bersama Azzam dan ibu Warisem, sisanya pergi ke Jakarta menggunakan mobil masing-masing. Pak Kalandra dan ibu Arum satu mobil dengan nenek Kalsum dan kakek Sana. Excel memboyong keluarga kecilnya, begitu pula dengan mas Aidan dan Arimbi yang pergi bersama pak Angga.


“Di sana ada ikan yang bisa makan orang loh, Bu. Jadi, nanti kalau sudah di sana, ibu kalau ngomong giginya jangan sampai lari, ya. Terus hati-hati, jangan sampai kentut juga karena ikannya bakalan langsung makan orang yang kentut!” ucap Azzam yang duduk di sebelah Akala.


Ibu Warisem yang duduk di tengah Akala dan Azzam langsung percaya. “Tapi kalau Ibu pengin kentut apalagi kebablasan kentut gimana, Mas?”


“Huh, ... hati-hati pokoknya!” sergah Azzam menakut-nakuti.

__ADS_1


“Apa Ibu diantar pulang saja, yah, Mas. Ibu takut kebablasan kentut soalnya yang namanya kentut kalau ditahan malah makin keras, bau juga. Nanti malah lebih bahaya. Ikannya bisa langsung nyamperin Ibu!” balas ibu Warisem.


“Ini serius apa bercanda sih, Mas?” tanya Akala dengan polosnya, dan Azzam langsung menertawakannya.


Berbeda dari rombongan ke Jakarta yang memakai mobil bagus, Azzam dan Akala justru memakai mobil pick up. Mobil pick up yang biasanya menjadi salah satu alat transportasi untuk belanja keperluan rumah makan. Alasan yang membuat ibu Warisem, mereka dudukkan di tengah mereka. Sementara kursi roda ibu Warisem sengaja mereka taruh di mobil bagian belakang bersama tempat mereka akan menampung ikan yang mereka beli.


Kasih sayang Arimbi kepada mereka, juga ibu Warisem yang tak kalah baik dari Arimbi, membuat Azzam dan Akala memperlakukan ibu Warisem layaknya memperlakukan ibu kandung sendiri. Terkadang, mereka juga akan seperti teman yang tak segan bercanda. Dan sepanjang kebersamaan, ketiganya juga kerap tertawa bebas. Seolah dunia hanya milik mereka.


Suasana masih agak petang ketika akhirnya mereka sampai tempat pelelangan ikan. Namun, keadaan di sana sudah ramai aktivitas jual beli ikan. Suara bising tak terelakan menyertai aroma anyir khas ikan yang tercium sangat kuat walau mereka masih ada di dalam mobil.


Minyak angin sekaligus aroma balsem tercium kuat dari Azzam. Lagi-lagi pemuda jail itu mabu*k kendaraan. Ibu Warisem yang akhirnya mengurusnya di dalam mobil. Membuat Akala terpaksa turun sekaligus mengurus pembelian ikannya sendiri.


Seseorang menabrak Akala tak lama Akala turun dari mobil. Dua wadah ikan dan itu berupa ember besar langsung jatuh bahkan terlempar dari tangan Akala. Seseorang tak memakai alas kaki penyebabnya. Akala yakin sepasang kaki berdarah itu penyebabnya. Hati seorang Akala sudah langsung pedih hanya karena kenyataan tersebut. Lebih menyakitkan lagi, ketika Akala memastikan tubuh bagian atas sosok tersebut yang memang seorang wanita, darah segar juga masih ada di bagian tubuh lainnya.


Kedua tangan, dada dan punggung yang darahnya tembus ke pakaian warna kuning si wanita, menandakan darah dari luka terbilang banyak. Yang membuat Akala terkejut, wajah si wanita yang penuh lebam dan tak luput dari darah, justru mirip Cinta!


“Ta–” refleks Akala langsung mengejar, tapi si wanita justru makin ketakutan dan buru-buru meninggalkannya.


Wanita itu memakai daster kuning lengan pendek yang menutupi hingga bawah lutut. Rambut lurus sepinggangnya awut-awutan dan tampak basah. Wanita itu benar-benar tak berjilbab, tapi bagi Akala sangat mirip dengan Cinta.


Sembari terus mengejar, Akala mengerjab beberapa kali. Bermaksud memastikan pandangannya lantaran di matanya, wanita itu terus mirip Cinta. Namun sampai titik ini, hingga akhirnya Akala berhasil menahan sebelah tangan si wanita, kemiripan itu sangat nyata.

__ADS_1


“Bunuh saja aku ... bunuh ... bukan mauku jadi seperti ini ...,” lirih wanita itu tergolek lemas dan berakhir bersujud di hadapan Akala.


“Suara mereka berbeda, tapi kenapa rupa mereka sangat mirip? Benarkah ini ... Cinta? Bukankah harusnya dia ada di Jakarta dan menjalani pernikahannya?


__ADS_2