Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
66 : Masa Lalu yang Datang


__ADS_3

“Kalau perut Mas kembung dan sendawanya juga seperti aroma munta ... han, ... berarti karena Mas juga masuk angin. Masuk angin parah, apalagi sore kemarin Mas hujan-hujanan, kan?” ucap Arimbi sambil membakar jahe di atas kompor gas yang sengaja dinyalakan dengan api sedang.


“Yang namanya masuk angin dibiarkan ya biasanya nye ... rangnya ke pencernaan. Badan ngilu meriang enggak jelas, ... asam lambung naik perut jadi gasnya terus kembung. Terakhir kalau enggak diare ya sekalian muntaber. Penyakit langganan pekerja keras yang sering bersikap kuat. Niat hati enggak ingin gampang lemah dan sengaja enggak dirasa sakitnya, eh malah tumbang.” Kemudian Arimbi menoleh ke belakang selaku sumber keberadaan mas Aidan yang tengah duduk menunggu.


Karena mas Aidan hanya diam, Arimbi sengaja bertanya, “Ini dari tadi, aku ngomong panjang lebar mirip penyiar radio, Mas dengerin, enggak?”


Mas Aidan mengangguk-angguk sambil menelan ludahnya. “Kerokin ...,” pintanya lirih karena biar bagaimanapun, di sana ada beberapa orang yang mondar-mandir karena tengah rewang atau itu bantu-bantu untuk acara empat bulan kehamilan Azzura.


Arimbi yang belum bisa menjawab, berangsur menelan ludahnya lantaran permintaan mas Aidan membuatnya terlalu gugup. “Masa iya, aku, Mas? Aku malu ... banyak orang. Ke mas Azzam apa Kala saja, apa mamah,” tawarnya. Namun di hadapannya, mas Aidan menggeleng.


“Akala sama Azzam enggak ada yang beres kalau urusan kerokan. Nah, mamah. Mamah lagi ke makam buat nyekar bareng papah sama mas Excel. Harusnya kan kemarin sore, tapi kemarin hujan kan. Kita kerokan di kamar mbak Azzura biar kamu enggak malu apalagi gugup.” Tak tahan dengan efek masuk angin parahnya, mas Aidan berbisik sekaligus merintih. “Ayo!”


Dan Arimbi baru sadar, ia sedang membakar jahe. “Ih, Mas ... jahenya gosong.”


“Sudah enggak apa-apa. Itu buat nanti lagi.” Mas Aidan sampai menghampiri Arimbi kemudian menggandengnya, membawanya pergi menuju kamar Azzura yang ada di lantai atas bersebelahan dengan kamar mas Aidan.


Terdengar bisik ibu-ibu yang rewang, membahas Arimbi dan mas Aidan, khususnya siapa Arimbi yang akan mas Aidan nikahi. Alasan yang juga membuat Arimbi menguatkan mentalnya sebab hal yang lebih dari tadi masih banyak yang akan ia hadapi.


“Kenapa, Mas? Eh, kalian kenapa, jangan bikin aku takut,” balas Azzura yang baru keluar dari kamar. Tangan kanannya masih menahan pengait pintu, tapi tatapan serius mas Aidan yang cenderung menahan sakit, membuatnya takut.


“Mas mau kerokan ke Mbak Arimbi, tapi Mbak Arimbi malu. Jadi tolong temenin, di kamar Mbak Azzura juga enggak apa-apa,” ucap mas Aidan menjelaskan dan memang masih menggandeng Arimbi.

__ADS_1


Azzura mengangguk-angguk paham. “Oke, Mas, aku paham. Tapi jangan di kamarku, soalnya kamarku masih berantakan banget!” balasnya yang kemudian tersenyum tak berdosa.


“Di ruang sini saja enggak apa-apa, kan? Daripada di kamar, rawan fitnah,” ucap Arimbi.


“Nah, bener! Tapi aku turun dulu, ya. Pengin sarapan pecel,” tanggap Azzura bersemangat dan mengakhirinya dengan memegangi perutnya menggunakan kedua tangan.


Arimbi mengangguk-angguk. “Minyak kayu putih apa minyak telonnya, ada?”


“Oh sebentar, aku ambilkan.” Azzura yang awalnya nyaris pergi buru-buru masuk ke kamar.


Walau sekilas, mas Aidan dan Arimbi mendapati kamar Azzura yang memang masih sangat berantakan. Begitu banyak bungkus kado yang memenuhi lantai depan kamar. Azzura memang mendapatkan banyak kiriman kado dari temannya yang ada di luar kota untuk acara empat bulan kehamilannya.


“Aku tengkurap, ya,” ucap mas Aidan yang sudah langsung membuka kausnya kemudian tengkurap di sofa panjang yang ada di sana.


“Bukan hanya Mbak yang tegang karena aku juga tegang. Tapi, mau bagaimana lagi?” ucap mas Aidan.


Arimbi langsung tersenyum tak berdosa. “Bismillah, Mas ....” Mulai menyentuh pundak mas Aidan saja, tangan Arimbi malah gemetaran. Malahan, mengeroki mas Aidan di tengah status mereka yang belum menikah, menjadi salah satu cobaan terbesar dalam hidup seorang Arimbi.


“Ya ampun, merah banget itu. Berasa dipoles pakai gincu para wariyem!” Azzura yang datang sudah langsung terbahak-bahak.


Azzura datang membawa dua paket pecel lengkap.

__ADS_1


“Itu enggak salah, dua baskom, Mbak?” tegur mas Aidan sengaja menggoda sang adik, tapi Azzura hanya tertawa kemudian duduk di sofa tunggal yang ada di sebelahnya.


“Suka banget sama pecelnya Mbak Arimbi. Dari segi sayur apalagi bumbu, beneran beda. Apalagi ini ada lantaro, klandingan, ... apa sih ini namanya, petai cina, ya, bahasa Indonesianya?” ucap Azzura yang juga memuji adanya bunga kecombrang atau itu onje, di pecel buatan Arimbi.


Obrolan berubah menjadi seputar pecel dan rujak, maupun dagangan Arimbi yang lain.


“Mbak Arimbi pinter masak sejak kecil apa gimana? Belajar dari siapa?” tanya Azzura.


“Sejak masih dalam kandungan, sejak masih dalam wujud embrio, Mbak Arimbi kan sudah ikut master chef, Mbak!” ucap mas Aidan yang walau sibuk meringis kesakitan, masih bisa membuat suasana menjadi jenaka.


Azzura langsung terbahak-bahak begitu juga dengan Arimbi meski Arimbi melakukannya dengan malu-malu.


“Masya Alloh, Mas! Aku beneran baru tahu kalau Mas bisa ngelawak juga!” ujar Azzura yang kemudian mengomentari punggung mas Aidan. “Semerah hitam gitu pasti rasanya enggak enak banget. Ya sudah, memang bener. Mending kalian cepat-cepat nikah saja. Biar nanti kalau Mas Aidan sibuk kerja, pulangnya ada yang lempar Mas pakai panci sama wajan!” yakin Azzura.


Mas Aidan langsung tertawa. Ia berangsur menoleh hanya untuk menatap Arimbi. “Serius, Mbak, ... kamu tega lempar wajan sama panci ke aku gara-gara aku sibuk kerja dan sampai lupa enggak kabari kamu?”


Mendengar pertanyaan sang kakak kepada sang calon istri, Azzura terbahak dan buru-buru meraih air minum kemasan gelas yang tersedia di tengah meja.


Arimbi menggeleng. “Harusnya enggak, ... Namun kalau Mas sampai kebangetan, kayaknya mung ... kin.”


Balasan Arimbi barusan membuat Azzura makin terbahak. Namun, Azzura juga menjadi terenyuk ketika mendapati Arimbi yang tak segan memakaikan kaus mas Aidan. Arimbi memperlakukan mas Aidan layaknya seorang ibu yang begitu peduli kepada anaknya.

__ADS_1


“Assalamualaikum ...?” sapa seorang wanita dari keberadaan anak tangga di bawah sana. Suara ceria nan lembut yang langsung membuat senyum di wajah mas Aidan apalagi Azzura, surut.


Divani, atau itu Didi, ... mantan mas Aidan yang juga menjadi satu-satunya mantan karena wanita itu merupakan cinta pertama mas Aidan. Iya, itu sungguh suara Divani yang turut datang walau Azzura tidak mengundangnya secara khusus. Mas Aidan belum menatapnya dan memang masih diam.


__ADS_2