Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
93 : Ada yang Baper!


__ADS_3

“Sebentar!” Azzam sudah langsung sibuk memasukkan mi yamin spesial buatan Sundari ke dalam tas kerjanya. Namun, itu sungguh tidak memungkinkan karena memang sempit.


Terlintas di benak Azzam untuk menaruhnya di kolong meja sebelah. Ia sudah langsung praktik menaruhnya di sana, tapi mendadak khawatir ada yang menemukannya terlebih ruang keluarga di lantai bawah menjadi ruang favorit keluarga besarnya.


“Astagfirullah, Mas ... sudah, disimpan di kamar saja, terus kamarnya dikunci,” tegur Sundari gemas sendiri kepada ulah Azzam.


“Sama kamu sekalian dikuncinya?” refleks Azzam yang memang menyimak ucapan Sundari walau masih jongkok di depan meja kayu berlapis kaca di hadapannya.


“Aku kan mau pulang, sudah ditungguin mamah sama papah,” balas Sundari benar-benar sabar walau jawaban refleks dari seorang Azzam.


Diberi pendapat oleh Sundari, Azzam sudah langsung bersemangat dan buru-buru menunaikan. “Padahal tadi capek, ngantuk, mirip kunang-kunang kurang kasih sayang yang sibuk mencari perhatian. Eh diperhatikan gini berasa punya nyawa cadangan.


Ketika Azzam kembali, Sundari masih kalem menunggu kedatangan Azzam. Menjadi nilai tambahan tersendiri bagi Azzam yang memang menyukai wanita penyabar, layaknya wanita-wanita hebat dalam hidupnya.


“Ayo,” ucap Azzam menjadi lembut dan langsung mendapat anggukan sekaligus senyum ceria dari Sundari.


Azzam membawa Sundari menuju ruang makan selaku sumber keramaian di kediamannya. Bisa Azzam pastikan, keluarga besarnya pasti sedang di sana.


Di ruang makan, keluarga besar Azzam nyaris dalam formasi lengkap. Ada kakek, nenek, orang tua, dan juga Azzura - Excel, selain mas Aidan yang sudah duduk di sebelah Arimbi. Semuanya duduk bersebelahan dengan pasangan masing-masing. Di tengah meja ada beberapa contoh undangan pernikahan, selain beberapa contoh sovenir. Namun, kebersamaan di sana sudah langsung hening gara-gara kedatangan Azzam yang mengusiknya melalui berdeham, juga adanya Sundari yang mengekor.


“Ri, asli yaminnya enak! Mau jualan apa bagaimana? Kalau di sini kan masih jarang bahkan memang belum ada yang jual karena kebanyakan ya mi ayam, bakso, soto. Ada pun ya namanya tetap mi ayam hijau, apa oren.” Azzura bersemangat menatap Sundari yang tengah ia puji. Seperti biasa, wanita muda itu hanya tersipu dan perlahan tersenyum ceria.


“Makasih banyak, Mbak. Namun yang tadi asli bukan buat jualan. Lagi iseng saja,” ucap Sundari.


“Oh, apa memang buat tugas kuliah, ya? Bikin makanan ala-ala sehat gitu?” sergah ibu Arum yang juga tak kalah antusias dari sang putri.


“Mah, sudah jangan dilanjutin pertanyaannya. Nanti yang ditanya nangis,” tegur Azzam lembut, tapi Sundari hanya tersenyum canggung.


“Tapi kok Mas Azzam jadi rada kalem, ya?” sela Excel yang memang sengaja mengg0da kembaran dari istrinya.

__ADS_1


Azzam yang walau diam sudah langsung mendelik menatap Excel, hingga semua yang di sana kecuali Sundari, jadi heboh menertawakannya.


“Satu minggu lagi, mau sekalian saja, yah, Mas? Biar tinggal Akala!” Azzura juga tak mau kalah dari sang suami. Ia membiarkan tangan kanannya disalami dengan takzim oleh Sundari.


“Ini sih Andri banget, ... halus, sopan. Bayangkan kalau ikut mamah, bar-bar enggak ketulungan,” ucap pak Kalandra sengaja memuji Sundari yang menyalami semuanya dengan takzim.


“Kek, Nek, Bude, Pakde, Mas, Mbak ... aku pamit dulu, sudah ditunggu sama papah mamah di rumah. Assalamu'alaikum,” pamit Sundari dan langsung mendapat balasan serempak dari semuanya.


“Eh, itu mereka berdua pacaran?” tanya Azzura lirih setah kedua sejoli yang dimaksud, sudah benar-benar pergi. Namun tampaknya bukan hanya dirinya yang menjadi bertanya-tanya sekaligus penasaran. Karena yang lain juga ia pergoki tak kalah penasaran pada hubungan Sundari dan Azzam.


Di ruang tamu, Akala masih anteng dengan ponselnya. Pria itu tampak sedang mengetik. Namun dipamiti oleh Sundari, Akala langsung buru-buru beranjak dan ikut mengantar hingga depan rumah. Sementara itu di depan gerbang, Sepri baru saja datang menepikan motornya. Pria itu tetap menunggu di motor.


“Pri, jadi juragan padi juga sekarang? Kamu yah, apa-apa dijual jadi duit!” tegur Azzam.


“Kalau kamu rese, kamu juga bakalan aku jual biar jadi duit, Zam!” tegas Sepri.


“Eh, eh, apa-apaan! Yang selama ini rese kan Ojan, ngapain kamu malah mau jual aku?” protes Azzam.


“Asli, Pri, kamu pernah lempar Ojan ke kolam dumbo belakang kontrakan?” tanya Azzam yang masih tertawa.


“Asli, ngapain aku bohong. Dia malah seneng mendadak lomba renang sama dumbo kegirangan gitu. Tanya saja sama pspahnya Ndari, papahnya Ndari yang nungguin terus mandiin pas Ojan mau keluar dari kolam. Jadi, niat hati hukum dia, acara lempar ke kolam lele dumbo malah jadi acara liburan sekaligus wisata gratis buat Ojan!”


“Lagian Mas Sepri, itu mas Ojan ngapain di lempar ke kolam kan kasihan?” keluh Sundari langsung sebal ke sang kakak gara-gara ulah ysng sedang diceritakan dan ia pun memang baru mengetahuinya.


Sundari berkomentar, Akala apalagi Azzam sudah langsung mingkem.


“Ya Alloh, Riiii. Tiap saat urus Ojan itu setengah mati. Selalu saja semuanya serba innalilahi. Pokoknys, maha sabar Sepri sama ibu Septi bisa urus Ojan sampai titik ini,” balas Sepri sengaja berkeluh kesah secara lirih.


Azzam yang tahu itu tidak baik untuk hubungan Sepri dan Sundari sengaja berkata, “Pri, aku lihat aura kamu mendadak jadi hitam. Tiga hari ke depan, kamu harus lebih hati-hati, ya!”

__ADS_1


Sepri menatap sebal Azzam. “Dari dulu memang begini. Kamu sendiri yang bilang kalau sejak dari adonan, aku sudah gosong!”


Walau sempat bingung, pada akhirnya Azzam tetap terbahak-bahak.


Kebersamaan malam kali ini benar-benar diakhiri dengan kebahagiaan. Baik kebersamaan Azzam dengan Sundari, maupun keluarga besarnya yang masih fokus dengan persiapan pernikahan mas Aidan dan Arimbi. Pertemuan tadi membuat Azzam ditugasi untuk turut membagikan undangan ke beberapa orang pabrik maupun kerabat terdekat.


“Ya Alloh, dunia beneran indah hanya karena cinta. Balas WA dari Didi pun sampai enggak emosi lagi karena cintaku ke Sundari. Siapa sih, yang enggak nyaman sama wanita santun, lemah lembut, penyabar, pinter, yang jga sangat merakyat seperti Ndari. Andai ada pemilihan wanita terbaik, tentu aku akan memilihnya sebagai istri. Ya iya istri, masa dinobatkan beneran buat umum, ya rugi di aku senang di mereka. Istri kok dibagi-bagi. Yamin saja aku umpetin gini,” lirih Azzam masih lembur malam-malam di depan laptop sambil menyantap sisa mi yamin buatan Sundari. Sesekali, ia juga masih membalas pesan dari Didi.


“Dek ...?” sergah mas Aidan yang sudah langsung menerobos masuk kamar Azzam.


Azzam yang harusnya mengunyah mi yamin di dalam mulutnya, malah menelannya secara spontan efek kaget gara-gara mas Aidan.


“Dari tadi Mas cari-cari aromanya dari mana ternyata dari kamar kamu!” tegur mas Aidan makin mendekat.


“Eh ... eh, enggak. Jangan, ini buatan wanita idamanku. Mas lupa tragedi mi rebus sepanci buatan mbak Arimbi? Setetes kuah pun, Mas enggak kasih ke aku!” panik Azzam sampai mendekap mangkuk berisi yamin oren sisa dari yamin yang ia dapatkan dari Sundari. Yamin berikit kuah di mangkuk terpisah masih mengepulkan uap tipis karena ia baru menghangatinya.


Mas Aidan langsung terdiam tak berdosa. “Ya ilaah. Yang itu masih diingat-ingat.”


“Ya ingat lah, Mas. Aku kan bukan Ojan yang ingatnya cuma ke janda!” sergah Azzam mirip bocah tak mau berbagi makanannya. Ia tetap mendekap mangkuk-mangkuknya, dan langsung merengek sekaligus berteriak histeris ketika dengan jailnya, mas Aidan terus mendekat.


“Dikit, ih. Tadi Mas lihat mbak Azzura makan, kelihatan enak banget!” rengek mas Aidan.


“Sanaaaa minta mbak Mbi bikin!” usul Azzam masih tetap tidak mau berbagi.


“Iya, besok Mas minta mbak Mbi bikin juga. Besok Mas bagi kalau mbak Mbi bikin, janji! Coba dikit.”


Mas Aidan memang meminta sedikit, hingga Azzam yang tetap tidak rela berbagi, memberinya potongan mi yamin yang panjangnya kurang dari satu senti dan itu pun satu batang.


“Heh? Apa ini? Segini semut saja enggak bisa rasain enak enggaknya!” protes mas Aidan.

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari apalagi Azzam, di kamarnya yang tidak begitu mewah karena kini Didi tengah di rumah yang ada di kampung, mantan mas Aidan itu tengah baper gara-gara obrolan WA-nya dengan Azzam.


“Azzam, meski dini hari pukul dua pagi masih mau balas WA aku. Dia bahkan minta aku buat istirahat dan tidur.”


__ADS_2