
“Kamu warasnya diformalin kenapa, Jan? Biar beban keluargamu berkurang!” ucap Azzam setelah keluar dari mobil nyaris berbarengan dengan pak Haji Ojan yang duduk di tempat duduk penumpang belakangnya.
“Kasih beban kan sama dengan kasih pahala, Zam! Coba direnungkan, bukankah dengan mereka mengurusku, aku sudah bikin mereka beribadah dan dengan kata lain, mereka juga dapat pahala?” balas pak Haji Ojan dengan santainya.
Bukan hanya Azzam yang bengong. Karena Sundari yang selalu waras sekaligus berpikir tenang, juga langsung terbengong-bengong.
Tanpa direncanakan, tatapan Azzam dan Sundari bertemu seiring Sundari yang menghampiri sang kekasih.
“Waras, Ri! Sumpah, si Ojan jadi waras meski hidupnya hanya tentang sekaligus untuk janda! Tuh lihat tuh, masa kosidahan liriknya juga masih serba janda!” bisik Azzam makin lama makin heboh.
“Dengan kata lain, penyebabnya gara-gara rencana perjodohan sekaligus fitnah yang Mas Azzam ciptakan, ya?” lirih Sundari sambil menatap Azzam penuh keyakinan.
“Hah? Kok rencana perjodohan sekaligus fitnah yang aku citakan, maksudnya bagaimana?” tanya Azzam memastikan dan memang belum paham.
Sundari berangsur menghela napas pelan sekaligus dalam. “Gini loh, Mas. Tadi kan Mas bohongin mas Ojan, bilang ke dia kalau mbak Didi sayang cinta ke dia. Bisa jadi, mas Ojan yang sebenarnya haus kasih sayang sekaligus cinta dari pasangan, jadi merasa lebih dicintai. Hidupnya jadi lebih berarti gitu. Makanya, rasa itu juga yang bikin dia berpikir positif layaknya manusia normal pada kebanyakan. Bahasa sederhananya begitu, tapi kalau Mas mau aku jelasin bahasa ilmiahnya, bukan masalah.”
“Kamu enggak usah susah-susah jelasin pakai banyak bahasa karena sekadar bahasa kalbu kamu saja aku sudah paham, Yang. Kamu diem pun aku sudah langsung tahu maksud sama maunya!” balas Azzam yang sengaja merayu Sundari.
“Ah, Mas ... bisa bae!” balas Sundari malu-malu.
Azzam langsung tertawa. “Tapi omong-omong, aku juga haus kasih sayang sekaligus cinta, loh!” Kali ini Azzam serius, tapi Sundari yang menjadi sibuk menahan tawa, memuku*lnya gemas menggunakan tangan kanan.
Sayup-sayup terdengar suara motor mendekat. Suara motor matic dan Azzam maupun Sundari kenali sebagai motor Sepri. Motor tersebut tidak mengarah masuk ke halaman depan rumah orang tua Sundari, melainkan ke seberang selaku sederet kontrakan berjejer.
__ADS_1
“Si Sepri ngapain ke sana? Dia udah hidup mandiri dan hidup di kontrakan apa gimana?” lirih Azzam penasaran.
“Enggak tahu, loh, Mas. Soalnya dari kemarin pun ya enggak ada masalah. Mas Sepri pun tidur makan dan istirahatnya masih di rumah,” ucap Sundari tak kalah penasaran.
“Oalah ... ya sudah ayo kita lihat. Itu kayaknya dia habis belanja. Bawa dua kantong belanjaan putih. Apa dia diminta buat bantu belanja ya, sama yang tinggal di kontrakan?” ucap Azzam sudah langsung menggandeng Sundari.
Sambil melangkah mengikuti tuntunan Azzam, Sundari menggeleng. “Setahu aku, kontrakan yang Mas Sepri tuju kosong. Apa sudah ditempati dan aku enggak tahu, ya?”
Ternyata dugaan Sundari benar. Kontrakan paling ujung dan awalnya kosong, kini sudah dihuni oleh Suci dan sang putri. Tadi Sepri sengaja membelikan jajanan sekaligus perlengkapan mandi untuk Suci maupun sang putri.
“Kok, ... kamu baik, banget?” lirih Azzam sengaja mengajak Sepri mengobrol di sebelah motor matic hitamnya.
Sepri berangsur menghela napas pelan. “Gimana yah, Zam.”
“Aku kasihan ke mereka. Alasan Suci dipandang sebelah mata oleh keluarga suaminya pun gara-gara Suci melahirkan Binar. Ibaratnya, suami Suci dan orang tuanya menganggap anak perempuan enggak berguna padahal ... Binar sempurna. Dia enggak cacaat. Binar cantik, kulit bersih, beneran terawat kan. Lihat ....” Meski berucap lirih, Sepri tetap tidak bisa menahan air mata sekaligus emosinya.
Azzam menggeleng. “Maka dari itu, Alloh murka dan enggak rela orang sebaik Suci dan anaknya tetap ada di keluarga enggak jelas seperti mereka. Manusia purba saja enggak senyungseb itu pikirannya. Lagian setelah aku cek pun, aduh ... mereka bukan orang kaya. Pendidikan dan agama ya bi saja. Malahan selama ini, Suci ibarat tulang punggung utama mereka karena suaminya hanya kerja serabutan, kan? Kadang jadi sopir travel, kadang jadi kuli bangunan dan itu pun kenek, bukan tukang.”
“Pokoknya, mereka cerminan yang sudah susah, tapi gayanya tingkat enggak sepantasnya. Cukup lihat saja apa hang terjadi nanti. Apalagi setelah mereka tanpa Suci.”
“Aku curiga kalau sebenarnya, pas pembagian otak, mereka sengaja golput makanya enggak dikasih jatah!” tutup Azzam sambil berkecak pinggang.
“Apa hubungannya pembagian otak sama golput? Golput itu yang enggak menggunakan hak pilihnya, kan?” Sepri jadi bingung. Karena berbeda dari Sundari yang cerdas, untuk urusan pelajaran ataupun semua yang menguras otak, ia memang nol besar.
__ADS_1
“Nah, kurang lebih begitu. Karena mereka memilih enggak menerima otak, jadi mereka enggak kebagian. Yang ada mereka jadi manusia yang langganan mempermalukan diri sendiri! Apalagi ke mantan suami Suci sama si Nurma. Innalilahi, nadjes banget aku. Sampai-sampai, pegawaiku yang namanya Nurma juga kena imbasnya saking keselnya aku ke orang yang namanya kurma! Eh, Nurma!” Azzam mendadak emosi. “Setiap lihat si Nurma, hawa-hawanya emosi, geregetan!”
“Bayangin saja, sudah numpang hidup, dikasih hati kok malah minta jantung, usus, sampai taaai-taaainya diminta!” lanjut Azzam.
Gara-gara tanggapan emosional Azzam yang begitu menjiwai, beban hidup Sepri sudah langsung berkurang. Padahal awalnya, Sepri tengah sangat mengkhawatirkan Suci dan Binar.
“Itu mulai malam ini, Suci dan Binar tinggal di kontrakan. Daripada ngontrak ke tempat lain, kan,” ucap Sepri.
“Sengaja kamu kandangin buat persiapan sambil nunggu masa iddah? HAHAHAHA!” Azzam mengakhirinya dengan tertawa puas.
Sepri langsung tidak bisa berkomentar, geleng-geleng disusul tangan kanannya yang mendorong jidat Azzam. “Urusan ngeres, kamu memang paling jago!”
“Jujur saja, enggak usah malu-malu! Kayak sama siapa saja!” balas Azzam masih belum bisa berhenti tertawa.
“Asli aku tulus menolong. Soalnya tinggal di rumah orang tuanya, dia dikejar-kejar banyak laki-laki. Sudah langsung banyak yang apel, ngajak nikah, melamar gitu, semenjak kabar perceraian dia dan mantannya tersebar!” yakin Sepri gelagapan. Namun, tadi saat menjemput Suci dan Binar ke rumah orang tua Suci, ia membuktikannya sendiri.
Suci diam-diam minggat lewat pintu di belakang rumah lantaran di teras hingga halaman depan rumah, antre orang apel dan kebanyakan sudah ingin langsung melamar Suci.
Niat hati lepas dari mantan suami agar bisa bebas hidup bahagia bersama sang putri, nyatanya menjadi janda kembang malah membuat hidup Suci kembali penuh cobaan.
“Jangankan mereka, kalau si Ojan tahu Suci sudah janda, pasti juga langsung disikat! Bisa-bisa, hidup Suci makin beban gara-gara dipepet terus sama si Ojan!” ujar Azzam amat sangat yakin lantara ia bahkan semua pembaca sudah hafal bagaimana Ojan, si pemuja janda yang akan waras sekaligus oleng karena janda.
“Duh ...!” Beban hidup Sepri mendadak bertambah. Tak tega rasanya membiarkan Suci sampai dipepet pak Haji Ojan.
__ADS_1