Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
92 : Efek Kurang Kasih Sayang


__ADS_3

Sudah malam, sekitar pukul delapan ketika akhirnya Azzam sampai rumah. Azzam pikir, hari ini dirinya yang paling telat pulang. Namun ternyata, ada mas Aidan yang juga baru datang di belakangnya. Mas Aidan masih memakai pakaian kerja. Pria itu tampak lelah walau ketimbang mas Aidan, ia jauh lebih lelah karena ia saja sudah berulang kali menguap.


“Tumben pulang malam, Dek?” sapa mas Aidan.


“Kerja di perusahaan orang kan berasa kerja ke kompeni, Mas,” balas Azzam segera memasukkan motornya ke dalam garasi setelah sang ART membukakan pintunya. “Kerjaan hari kemarin sekalian dikerjain hari ini walau yang kemarin tetap potong gaji.


Mas Aidan yang menghela napas pelan berangsur melepas helmnya. Berbeda dengan Azzam, ia tak sampai memasukkan motornya. Ia hanya memarkir motornya di depan garasi.


“Sate kambing sama lontong. Ini yang ayam buat mbak Azzura. Tadi minta,” ucap mas Aidan.


Azzam yang baru keluar dari garasi segera menerima dua kantong pemberian mas Aidan. “Si Akala enggak dikasih, Mas?”


“Akala kan beneran sudah niat diet. Dia sudah punya makanan khusus,” balas mas Aidan.


“Ya sudah, nanti aku kasih dia duduh alias kuah sambalnya saja. Sekalian tusuk kosongnya biar dia bisa merasakan aroma satenya!” ucap Azzam bersemangat.


Mas Aidan yang gemas ke mulut sang adik sudah langsung mencubit bibir Azzam. “Kalau ngomong. Nanti kalau Akala jadi langsing beneran, kamu pangling.”


“Kayaknya kalau Akala sampai langsing beneran, dia dulu yang nikah, baru aku, Mas!”


“Loh apa hubungannya langsing sama nikah dulu?” Mas Aidan terheran-heran menatap Azzam.


Sampai di ruang tamu, mereka sudah disuguhi pemandangan kebersamaan Sundari dan Akala. Kenyataan yang sudah langsung menjadi jawaban Azzam untuk mas Aidan.


“Tuh kan, belum apa-apa sudah terbukti! Rungkad pokoke!” bisik Azzam yang kemudian menegur kebersamaan di sana dengan berseru, “Pacaran terus kapan nikahnya?!” Walau bertanya, tak sedikit pun ia yang langsung bablas pergi, melirik kebersamaan di sana. Hatinya terlalu ngilu.


“Mas Azzam marah ke aku?” sergah Sundari sambil buru-buru melangkah menyusul Azzam.

__ADS_1


Mas Aidan hanya menjadi penonton. Baik Azzam yang disusul anaknya ibu Septi, maupun Akala yang ditinggalkan. Ia menatap Akala, tapi adiknya itu langsung menggeleng takut.


“Mas kan enggak ngapa-ngapain kamu, Dek. Ngapain kamu ketakutan begitu,” ucap mas Aidan.


“Mbak Arimbi juga ada di dalam.” Akala keceplosan.


“Loh, kok motornya enggak ada?” Mas Aidan langsung semangat buru-buru masuk rumah.


“Tadi aku yang jemput diminta mamah!” Akala sengaja berseru lantaran mas Aidan sudah terlanjur jauh. Saking semangatnya, kakaknya itu sampai lupa segalanya termasuk kepadanya yang sempat ditanya.


“Hari ini sudah ada tiga wanita yang tanya kayak kamu, aku marah enggak. Gitu saja terus. Marah gimana? Memangnya sejak kapan orang sepertiku bisa benar-benar marah? Kecuali kalau Ojan berani peluk-peluk aku lagi, aku jadiin dia banten tumb4l buat kelancaran pembangunan jembatan sebelah!” ucap Azzam lirih tapi ceriwis. Ia langsung diam gara-gara melihat mas Aidan yang lewat dan terlihat sangat bersemangat. Namun ternyata tak hanya dirinya yang merasa apa yang menimpa mas Aidan aneh. Karena sekelas Sundari juga sampai bengong melepas kepergian mas Aidan.


“Orang jatuh cinta, taii kucing saja jadi kelihatan kurma Ajwa!” ucap Azzam yang kemudian kembali fokus kepada wanita muda di hadapannya. “Terus, sekarang kamu ada perlu apa? Si Ojan enggak ilang lagi, kan? Kalaupun iya, sudah bukan tanggung jawabku ih. Aku kan bukan suaminya meski dia minta aku buat jadi suaminya.”


“Aku mau ....” Sundari mendadak berat menyampaikannya. Ia menunduk dalam, tapi Azzam yang tidak bisa diam sudah langsung ikut-ikutan bahkan sampai melongok hingga wajah pria itu berada tepat di bawahnya.


Azzam yang sudah mengenali semua rasa itu, masih menatap kantong biru yang Sundari suguhkan.


“Tadi aku bikin mi yamin. Ada bakso, pangsit, lengkap dengan kuah dan sambal juga,” ucap Sundari.


Tak mau baper, Azzam yang refleks mundur menjaga jarak demi keamanan jantungnya sengaja berkata, “Memang ada yang pengin makanya aku sekalian dikasih, apa memang aku jadi bahan eksperimen buat nyicipin?” ucapnya memastikan.


Sundari merengut sambil menatap sebal Azzam. “Niat buat Mas Azzam ih!”


“Ah, masa?” balas Azzam. Padahal jauh di lubuk hatinya, ia sudah jejeritan sambil lompat bahkan jumpalitan.


“Ini mau diterima, enggak?” tanya Sundari sesabar mungkin.

__ADS_1


“Asal enggak diludahin Ojan, aku otomatis mau. Apalagi yang bikin kamu.” Azzam segera mengambil kantong pemberian Sundari. “Walau dari kecil cita-citaku selalu ingin setiap hari itu hari Minggu biar aku bisa libur sambil nonton poweranges apa boboboi, sekarang asal setiap saat tahu kabar kamu, aku enggak apa-apa kalau tiap hari isinya cuma Senin dan bikin aku wajib kerja rodi pergi pagi pulang jangan sampai pagi lagi.”


Sundari yang awalnya hanya menahan tawa, menjadi cekikikan gara-gara balasan Azzam. “Oh iya, Mas. Mi yang hijau aku bikin pakai bayam campur sedikit daun bawang. Terus yang oren aku bikinnya pakai wortel. Jadi kalau Mas Azzam mau kasih Mas Akala yang lagi diet, aman. Soalnya aku pakai yang jauh lebih sehat.”


“Apaan, kamu bikin semua ini buat aku, eh suruh bagi-bagi ke yang lain. Enggak ... enggak. Ini mutlak punyaku semua. Bungkusnya pun andai bisa dimakan, pasti aku makan!” balas Azzam sudah langsung sewot. Lupa dirinya ketika ditugasi Arimbi mengambil sepanci mi rebus dan ia sama sekali tidak dibagi oleh mas Aidan, yang mana di malam itu juga, mas Aidan yang kualat sudah langsung diare parah.


Sundari mengangguk-angguk. “Ya sudah buat Mas Azzam semua. Aku malah seneng kalau Mas Azzam gitu. Semoga Mas Azzam suka.”


“Ya sukalah, yang bikin kan kamu!” sergah Azzam meyakinkan seyakin-yakinnya.


Sundari langsung tersipu dan makin sulit menyudahi senyumnya. “Ya sudah aku mau pamit ke orang tua mas Azzam soalnya tadi pas datang juga sudah langsung nyapa.”


Azzam langsung mengangguk-angguk bersemangat. “I-ya, kamu wajib pamit biar sopan. Aku umpetin ini dulu di kamar biar enggak ada yang minta apalagi mbak Azzura. Sejak hamil kan Mbak Azzura jadi clamit apa-apa diminta, apa-apa mau!” Ia buru-buru menaiki anak tangga menuju lantai atas keberadaan kamarnya.


“Tadi aku juga kasih dua porsi buat mbak Azzura.” Sundari sengaja berseru karena Azzam sudah telanjur jauh.


“Oh ....” Azzam refleks berhenti melangkah kemudian balik badan. Baru kali ini ia mendadak tegang deg-degan setelah sekian purnama melajang, dan itu gara-gara berhadapan dengan anaknya ibu Septi dan dokter Andri, Sundari, si calon dokter muda. “Kamu pulang sama siapa?” Ia melangkah mendekati Sundari dengan jauh lebih tenang.


“Ya mas Sepri. Tadi saja datangnya diantar mas Sepri. Namum ini mas Sepri masih di jalan ke sini, habis dari rumah juragan padi,” jelas Sundari.


Otak Azzam langsung ngelag, nyaris ngeblank. “Ini berarti beneran, kamu ke sini beneran buat aku? Berarti si Ojan memang bikin hoki, dong, ya?”


Kali ini Sundari tidak menjawab. Ia hanya tersenyum hangat dan itu saja sudah langsung membuat Azzam tak karuan. Dunia Azzam seolah berputar lebih lambat hanya karena keadaan sekarang. Malahan Azzam benar-benar jatuh karena melihat Sundari terus senyum, dunianya mendadak berputar tak jelas.


“Mas, ... duh, Mas pasti kecapaian. Ya sudah, langsung istirahat saja. Itu nanti langsung makan ya. Banyak-banyak minum air hangat.” Sundari sudah langsung membangunkan Azzam, membantu pria itu untuk berdiri dengan benar.


“Kayaknya efek kurang kasih sayang, makanya ngeblank begini,” keluh Azzam lirih dan sudah langsung membuat Sundari kembali sibuk menahan senyum.

__ADS_1


__ADS_2