Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
146 : Arrrrrrrggghhhh!


__ADS_3

Satu, dua, tiga, ....


“Arrrrrgggg!” teriak Ojin dengan suara godamnya.


Ibu Siti langsung sempoyongan saking syoknya. Tak menyangka, wanita lemah lembut bersahaja sekelas Ojin, akan sangat berisik jika berteriak. Suaranya sampai mirip laki-laki.


“Arrrrrrgggh!”


Lagi, Ojin tidak bisa menerima kenyataan di setiap ia melihat rupa Aisyah setelah wanita itu membuka cadar sekaligus sebagian jilbabnya. Kendati demikian, Ojin yang telanjur penasaran tapi juga tidak bisa menerima kenyataan, sengaja melongok leher kemudian telinga Aisyah. Karena walau Aisyah tak melepas tuntas jilbabnya, leher dan sebagian telinga Aisyah masih bisa terlihat. Malahan, tanpa harus ditatap saksama dan itu benar-benar sekilas, apa yang selama ini Aisyah tutupi menggunakan jilbab maupun cadarnya, terlihat sangat jelas.


“Arrrrggggh!”


Begitu terus dan kali ini, Ojin melakukannya sambil berlari. Walau yang ada ia malah mengelilingi kamar Ilham yang tidak luas. Terus begitu hingga suasana menjadi heboh. Tak hanya teriakan dengan suara godamnya. Karena suara cit cit cit dari sepatunya juga sangat mengganggu.


Aisyah yang awalnya duduk, sampai berdiri. Tak beda dengan sang ibu mertua, ia juga menutup telinganya. Sedangkan Sundari yang harusnya melakukan perawatan kecantikan kepadanya, sudah langsung melakukan pendekatan kepada Ojin.


Di waktu bersamaan, Azzam yang panik juga segera menuju TKP.


“Itu suara siapa sih, Zam?” tanya Ilham yang juga langsung berusaha berdiri. Ilham khawatir itu suara Ojin, wanita yang mendadak membuat dadanya berdebar sekaligus hangat layaknya laki-laki normal pada kebanyakan.


Meski tengah buru-buru sekaligus lari, tanpa menatap Ilham, Azzam berkata, “Om jin!”


“Om, Jin? Om Jin siapa?” Ilham yang sudah berdiri kemudian menggunakan kedua tongkat bantu jalannya, langsung bingung.


“Eh, Om Jin. Maksudku Ojin!” sergah Azzam sengaja mengoreksi ucapannya.


“Ya ampun, Ojin!” Ilham langsung tidak tega dan memang peduli ke Ojin, buru-buru menuju TKP juga. Ia menyusul Azzam yang sudah lebih dulu melakukannya. Tertatih sekaligus kewalahan tetap ia jalani, demi si Ojin yang telanjur mencuri perhatiannya.


Kemudian, Azzam membuka pintu, melakukannya dengan buru-buru bertepatan dengan Ojin yang tengah berlari menuju pintu.


Jebreeeddd!


Keputusan Azzam membuka pintu justru membuat Ojin yang berlari menuju pintu, terhantam. Ojin langsung terpental, jatuh ke lantai keramik putih di sana dan berakhir terlentang.


“Innalilahiiii,” lirih Sundari segera menghampiri sekaligus jongkok.

__ADS_1


“Aish, tutup coba wajah kamu karena sepertinya, Ojin fobia ke wajah kamu!” omel ibu Siti.


“Ini kok aku enggak pingsan, ya? Apa aku sedang mimpi? Tadi aku lihat sumi! Eh, sumbi. Eh, zombi, Ri!” Ojin berbisik-bisik kepada Sundari. Namun ketika ia menoleh ke Aisyah dan wanita itu tengah memakai jilbab dengan benar, sekali lagi, ia refleks berteriak kemudian loncat.


Azzam yang nyaris tertabrak Ojin, buru-buru minggir. Karena andai sedikit saja Azzam telat bergerak, nasibnya pasti tak kalah miris dari Ilham yang setelah tertabrak juga sampai Ojin injak.


“Innalilahi, kok mirip kuda!” rintih Ilham tergeletak kesakitan di lantai. Seperti yang ia keluhkan, tenaga Ojin apalagi ia juga sampai dinjak dua kali di bagian perut dan lehernya, tenaga Ojin benar-benar sekuat kuda. Sudah tak diragukan lagi bahwa Ojin wanita perkasa.


Ojin sudah langsung membopong ibu Warisem yang ia ajak pulang.


“Kita ambil kelapa hijau pesanannya mbak Azzura dulu, Mas!” ucap ibu Warisem.


Ojin sengaja mendekatkan bibirnya yang masih tertutup cadar pink, ke telinga ibu Warisem. “Kita harus secepatnya pergi dari sini karena di dalam ada Zumi, Bu!” Yang Ojin maksud zumi itu zombie alias Aisyah.


“Memangnya Zumi itu apa, Mas?” ibu Siti yang bertanya dengan berbisik-bisik, memang sangat penasaran.


“Buto ijo yang suka makan manusia, Bu! Serem, kan?” sergah Ojin masih berbisik-bisik.


“Ihhh, serem banget, Mas! Terus itu mas Azzam sama mbak Riri, gimana? Kalau mereka masih di sana, yang ada mereka dimakan!” ibu Siti langsung percaya sekaligus makin ketakutan. Wanita tua itu bahkan panik sepanik-paniknya.


Ibu Warisem yang sebenarnya merasa aneh dengan nama jurus yang Ojin sebutkan, iya-iya saja sambil mengangguk. Karena baginya, asal Azzam dan Sundari selamat, itu sudah lebih dari cukup. Daripada keduanya dimakan Zumi yang kata Ojin, merupakan buta ijo pemakan manusia.


Sebagai wujud dari rasa tanggung jawabnya, Sundari tetap melakukan perawatan kecantikan kepada Aisyah. Sundari melakukannya dengan setulus hati. Hanya saja, Ojin yang sudah kembali dan memergoki zumi yang ia takuti benar-benar sang wanita suci, ....


“Kok mirip yang di foto, ya? Kok enggak mirip mbak Azzura?” pikir Ojin yang detik itu juga menjadi kebas.


Ojin menunduk sempoyongan, membuat Azzam yang menyaksikannya jadi tidak tega.


Azzam yang awalnya ada di kamar Aisyah, sengaja menyusul Ojin. Azzam yakin, Ojin patah hati. Wajah sekaligus tatapan Ojin barusan khas orang yang sangat kecewa.


Tepat di pinggir pintu masuk rumah Ilham dan pintunya terbuka sempurna, Ilham yang berdiri di sana sengaja meraih pergelangan tangan kiri Ojin. Maksud Ilham baik, ingin menirukan gaya-gaya romantis kemudian menenangkan Ojin yang sempat ketakutan gara-gara wujud asli Aisyah. Namun, yang Ilham dapay malah bogeman refleks dari tangan kanan Ojin.


“Wah ... Ojan jadi perkasa!” batin Azzam syok.


“Ih ... mas Ilham ...,” batin Ojin refleks menangkap punggung Ilham yang nyaris menyentuh teras di sana.

__ADS_1


“Wadi daw ... wadi daw Gaes ... romansa batangan sedang mulai dirajut! Eh!” batin Azzam refleks menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulut.


“Ya ampun Ojin ... kamu beneran wanita idaman. Cekatan banget! Idola!” batin Ilham makin terojin-ojin setelah perhatian yang ia dapatkan dari wanita berpakaian serba pink tersebut.


Waktu berjalan dengan cepat selepas kenyataan wajah asli Aisyah terungkap. Ojin yang masih sulit percaya juga masih merasa lemas. Di sebelah Azzam, Ojin berangsur melepas cadar hingga tampangnya menjadi ukhti-ukhti berkumis.


“Mas Ojan,” panggil Sundari khawatir kepada pak Haji Ojan.


Azzam yang masih mengemudi dan mereka tengah mengarungi perjalanan pulang, juga tak kalah khawatir. Azzam takut, Ojan benar-benar jadi tidak waras.


“Tadi kata mas Ojan, di rumah si Ilham ada zumi, buto ijo yang suka makan orang!” cerita ibu Warisem menggebu-gebu.


Detik itu juga, Sundari dan Azzam refleks saling tatap. Tatapan mereka bertemu di kaca spion yang ada di atas Azzam.


Dalam diamnya, pak haji Ojan terus terbayang-bayang wujud asli seorang Aisyah. “Kok bisa seserem itu, ya? Dia itu manusia, perempuan mulia, atau apa?” batin pak Haji Ojan benar-benar lemas. Nyawanya seolah dicabut paksa tak lama setelah ia mengetahui wajah asli Asiyah.


“Kalau gini caranya, mending aku sama Didi ...,” rengek pak Haji ojan.


Detik itu juga Sundari dan Azzam, kembali berkode mata.


“Sepertinya rencana kita membuat mas Ojan berhenti mengejar mbak Aisyah, berhasil Mas!” bisik Sundari sambil agak berdiri, selain ia yang sampai jongkok di sebelah telinga kanan sang kekasih.


Azzam langsung mesem. Meski ketika ia melihat Ojan yang kembali bengong, rasa kasihan itu kembali hadir.


“Terkadang kumenyesal, kenapa ku langsung jatuh cinta, kepadamu ... padahal aku, tak tahu apa yang ada di balik cadarmu ....” Ojin mendadak bersenandung.


“Bila cinta ...,” saut Azzam dan langsung dibalas Ojin.


“Memang tidak ada di rupamu ...,” sambut Ojin.


“Bila hati ...,” lanjut Azzam.


“Hanya milik bojomu. Kenapa harus, ...” Ojin bingung melanjutkannya.


“Yang salah itu Mas. Mas yang cintanya memandang fisik. Mbak Aish enggak salah kok. Karena yang mulai kan Mas. Mas juga yang langsung ngejar-ngejar,” ucap Sundari.

__ADS_1


Ditegur begitu, Ojin sudah langsung tidak bisa berkata-kata. Benar kata Sundari, selama ini cintanya hanya memandang fisik. Padahal fisiknya saja bukan hanya jauh dari kata sempurna. Karena sekadar layak pandang saja, belum. “Kok aku jahat, ya?” pikir pak Haji Ojan.


__ADS_2