
Mobil yang Azzam kemudikan sudah langsung memasuki pelataran depan rumah orang tua Ilham.
Seperti biasa, ibu Siti yang ada di dalam rumah sudah langsung kepo. Ibu Siti buru-buru mengintip dari balik jendela sebelah pintu. Dari balik jendela kembang-kembang warna biru itu juga, ia sudah langsung bisa melihat mobil Azzam yang juga langsung ia kenali.
Seperti saat akan memastikan siapa yang datang setelah mendengar suara mobil di depan plataran rumahnya, kali ini ibu Siti juga sudah langsung keluar dengan buru-buru. Terlebih, yang ia yakini sebagai pemilik mobil dan itu Azzam, sudah langsung keluar. “Heh, Azzam! Kemarin kamu yang naruh bungkusan muntahan, ya di berkat punya saya?!” todongnya benar-benar galak.
Azzam yang langsung tertawa dan memang merasa sangat bahagia berangsur mengangguk-angguk sambil menatap ibu Siti.
“Kurang aaajar kamu ke orang tua!” semprot ibu Siti.
“Tapi itu benar punya Ibu, kan?” tanya Azzam memastikan tanpa bisa benar-benar berhenti tertawa. Terlebih pertanyaannya barusan sudah langsung membuat ibu Siti tidak bisa menjawab. Wanita itu kebingungan, dan sekadar meliriknya jadi terkesan tidak berani. “Nah karena itu punya Ibu, berarti memang hak Ibu makanya aku taruh di atas berkat Ibu takut Ibu kehilangan!” yakinnya sangat sopan.
“Tapi ya jangan ditaruh di berkat juga wong itu muntahan masa dicampur sama makanan!” kesal ibu Siti.
“Asli, Bu Siti! Enol koma enol satu persen, saya beneran enggak sengaja. Sisanya memang sengaja!” balas Azzam yang pada akhirnya tertawa.
“Nah kan, dasar kurang aaajar!” kesal ibu Siti lagi.
“Tapi kan kemarin saya kantongi berlapis-lapis, Bu. Harusnya enggak pecah. Saya bungkus juga harta karun itu pakai kertas kado dikasih potongan kertas warna warni biar lebih spesial di dalamnya!” balas Azzam masih dengan suara lantang karena biar bagaimanapun, mereka masih berdiri agak jauh.
“Nah maka dari itu ... gara-gara sampai dibungkus spesial begitu dikiranya apa lah pas dibuka meleleh ke mana-mana. Sampai kena ke berkat dan berkatnya jadi enggak dimakan!” balas ibu Siti.
“Yang suruh berkatnya enggak dimakan siapa? Bukan saya loh. Jadi jangan salahkan saya!” balas Azzam sungguh tidak mau disalahkan.
__ADS_1
“Lah masa iya, sudah kena muntahan tetap dimakan?” ibu Siti geleng-geleng, menatap tak habis pikir Azzam.
“Ya mana tahu doyan,” balas Azzam dengan sangat tidak berdosa. Mata ibu Siti seolah nyaris loncat mengejarnya.
“Oke Ibu Siti yang kemarin terkejut karena kado spesialnya ternyata muntahan sendiri. Gini loh, sebagai gantinya, ini saya bawa dokter kecantikan yang secantik ini, mau menularkan kecantikannya kepada ibu Siti dan sang menantu si wanita suceee!” ucap Azzam yang sudah langsung merangkul Sundari menuntunnya mendekati ibu Siti.
Ibu Siti yang masih berdiri di pinggir teras, menatap curiga semua yang Azzam bawa. Termasuk juga sosok si Ojin yang dengan sigap nan perkasa membuka bagasi mobil kemudian menenteng kedua tas Sundari. Gaya Ojin yang mirip wariyem atau itu wanita perkasa jadi-jadian, membuat ibu Siti yakin, dirinya akan menjadi korban jebakan Azzam lagi. Seperti yang sudah-sudah.
Azzam yang baru ingat tadi mereka datang bersama ibu Warisem juga buru-buru membuka bagasi mobil, mengeluarkan kursi roda dari sana. Ia membawa serta ibu Warisem menjadi bagian dari kebersamaan menggunakan kursi roda.
“Eh Ibu Siti, sebelum menjalani perawatan, ini Ibu Warisem lagi cari pebete alias PBT! Ibu ada masukan atau berminat, enggak?” tanya Azzam setelah ia berdiri tepat di hadapan ibu Siti.
“Pebete, itu apa?” tanya ibu Siti serius.
“Pembantu, ... pembantu! Buat bantu-bantu nanti digaji pakai uang bukan batu!” jelas Azzam.
Azzam buru-buru menggeleng. “Saya sudah sarjana S2, Bu. S1 di Yogyakarta, S2 di Jakarta, dan dua-duanya beasiswa, menandakan saya ini memang berprestasi! Memang Ilham anak Ibu, kuliah dimodali Mbak Mbi ngakunya beasiswa, ngakunya berprestasi? Berprestasi apaan, berprestasi ngarang cerita!” oceh Azzam yang sudah langsung membuat hidup ibu Siti tidak baik-baik saja.
“Eh Bu Siti, si Ilham gimana? Sudah kerja belum? Kalau belum juga, sudah suruh ikut saya saja. Sebulan gajinya sepuluh juta lebih! Mau, enggak?” lanjut Azzam. Tak peduli meski di sebelahnya, Sundari sampai membenamkan kepalanya di punggung Azzam. Sundari sibuk menahan tawa dan sudah tertawa sampai menangis sekaligus lemas.
“Kerja apa, itu? Di pabrik rambut palsu sama bulu mata juga kayak kamu?” tanya ibu Siti serius karena biar bagaimanapun, ia memang sudah sangat ingin melihat Ilham bekerja. Ditambah lagi, gaji yang Azzam tawarkan juga bukan kaleng-kaleng nominalnya.
“Bukan,” ucap Azzam sambil menggeleng. “Kerjanya gampang, kok. Kalau ikut aku di pabrik sih puyeng! Jadi yah, nanti Ilham kerjanya cukup diam dipatok-patok, disembur ular kobra! GAMPANG, KAN?”
__ADS_1
Sundari tidak tahu, terbuat dari apa otak Azzam hingga kekasihnya itu begitu memiliki pola pikir berbeda dari manusia pada kebanyakan.
“Dipatok-patok sama disembur ular kobra ya koid! Kamu yah, Zam. Dikira serius, malah cuma uprus!” kesal ibu Siti, sementara uprus sendiri berarti tukang bohong dalam bahasa mereka.
“Ya logikanya saja, Bu. Masa gaji gede kerjanya enggak capek? Ada gaji tentu ada pekerjaan. Buktinya, gajinya sepuluh juta lebih tiap bulan, tapi kerjanya setiap saat dipatok sama disembur ular kobra!” balas Azzam.
Tak mau membuang-buang waktu terlebih kini sudah mulai sore, ia sengaja membuka tas jinjing Sundari. Berbagai produk kecantikan ada di sana. Dari yang untuk perawatan spa tubuh maupun wajah.
“Ibu Siti, ini Sundari, calon dokter. Calon istri saya, ... cantikkan?” ucap Azzam dengan bangganya.
Ibu Siti yang langsung mengawasi wajah Sundari melalui lirikan sinis berkata, “Iya, cantik. Mirip saya waktu masih muda!”
Bukan hanya Azzam dan Sundari yang langsung tertawa, tetapi juga ibu Warisem juga. Ibu Warisem sampai menangis terpingkal-pingkal.
“Oke, oke. Ini sudah sore. Biar bisa perawatan maksimal, langsung saja. Coba ibu Siti cek produk-produknya. Wanginya lembut banget gini sih, seger mirip hati aku. Teksturnya juga lembut,” ucap Azzam yang juga sudah langsung mencoba, mengoleskan setiap produk di punggung tangan kirinnya.
“Ini bukan abal-abal, kan?” tanya ibu Siti yang memegang satu cepuk berisi lulur mandi.
“Di mana-mana yang abal-abal hanya Aisyah menantu Ibu Siti! Produk ini sih asli. Buktinya, aku yang belum pakai sudah setampan gini. Apalagi kalua sampai rutin pemakaian?” sergah Azzam sambil menyugar ke belakang rambut pendek rapinya.
“Nah kamu saja belum pakai!” protes ibu Siti.
“Ya sudah, kalau Ibu Siti masih ragu, biar Aish dulu yang coba. Ini aman buat semua kulit kok. Telah teruji secara klinis. Riri sayang, jelasin itu uji-ujinya. Suratnya ditunjukkin ke ibu Siti takutnya beliau enggak percaya karena selama ini, kalau ke ibu Siti, jujurku memang sangat mahal!” ucap Azzam yang kemudian juga sampai meminta ibu Siti untuk membeli produknya. “Pokoknya kalau Aish pakai ini rutin, pasti dia jadi mendingan, enggak bureik-bureik amat. Makanya si Ilham suruh kerja biar bisa modalin istrinya, biar jadi glowing!”
__ADS_1
Jadi, apa yang akan terjadi setelah ini? Setelah Azzam maupun Sundari memanggil Aisyah dan yang dipanggil juga langsung keluar? Si Ojin yang terus diam, juga sudah sangat tidak sabar, sangat penasaran pada wujud asli Aisyah.
“Aku yakin foto itu hanya fitnah!” yakin pak Haji Ojan dalam hatinya.