Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
71 : Gagal Beli Cincin


__ADS_3

Toko perhiasan menjadi tujuan mas Aidan membawa Arimbi. Keduanya pergi menggunakan motor. Mendadak, Arimbi deg-degan seiring rasa gugup yang merasuki jiwa sekaligus menguasai kehidupannya.


“Kemarin sudah diukur, ... bisa jadi, sekarang mau diajak pilih. Karena enggak mungkin juga, Mas Aidan malah mau jual perhiasan,” batin Arimbi. Ia turun dengan hati-hati terlebih mas Aidan yang masih duduk sampai memegangi kedua lengannya lantaran pria itu takut ia jatuh. Tadi, demi menghindari pak Haji Ojan, mas Aidan sampai ngebut selain Arimbi yang sampai mendekap erat pinggang mas Aidan.


Tentunya, tidak adanya pak Haji Ojan di antara mereka menjadi kelegaan tersendiri karena dengan kata lain, tidak akan ada pengganggu yang mengusik kebersamaan mereka.


“Panas banget, ya?” lirih mas Aidan sambil menatap wajah Arimbi yang juga sudah sampai merah padam menahan suasana panas.


Terik mentari sudah cukup menyengat karena kini, tepat pukul sebelas siang ketika mas Aidan memastikan waktu di arloji hitam yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Segera mas Aidan menggandeng tangan kiri Arimbi, kemudian membawanya ke area yang memajang cincin. Padahal tanpa sepengetahuan mas Aidan, alasan wajah Arimbi merah tak semata karena suasana panas yang sedang berlangsung. Melainkan karena wanita itu terlalu gugup dengan apa yang akan diterima dari calon suaminya.


“Selamat siang? Mas sama Mbak-nya mau cari apa? Cincin nikah, cincin tunangan, apa perhiasan lainnya?” sapa seorang wanita yang memang pekerja di toko perhiasan tersebut.


Toko perhiasan kunjungan Arimbi dan mas Aidan, terbilang sedang penuh pengunjung lantaran keberadaannya yang ada di sebelah pasar, juga bersamaan dengan hari pasar buka. Biasanya jika di kampung-kampung layaknya lokasi mereka, hari pasar juga sekalian dipakai orang-orang untuk mengunjungi toko perhiasan dengan tujuan yang bervariasi. Hanya saja, baru juga akan meminta Arimbi untuk memilih, mas Aidan sudah mendapat telepon masuk. Alasan yang juga membuat mas Aidan menuntun Arimbi menjauhi area pajangan karena takut mengganggu antrean pembeli lain.


“Hallo, selamat siang? Iya ....” Sepanjang mas Aidan menjawab telepon, pria itu tetap menggandeng tangan Arimbi.


“Innalilahi ... ya sudah, saya ke sana sekarang juga,” sergah mas Aidan sangat serius.


Arimbi yang awalnya hendak mendekati meja penjual bubur sumsum dan juga bubur ketan hitam, langsung tertegun. Arimbi berangsur menatap mas Aidan.


“Mbak, maaf banget yah, ini sangat darurat. Gini ....” Mas Aidan bingung menjelaskannya padahal ulahnya mengantongi ponsel sudah beres.


“Enggak apa-apa, Mas. Enggak apa-apa. Santai saja.” Arimbi mencoba tenang, walau kenyataan mas Aidan yang sudah langsung panik, juga nyaris membuatnya ikut panik.

__ADS_1


“Mau antar Mbak pulang dulu, enggak mungkin,” lanjut mas Aidan.


“Memangnya kalau ikut enggak boleh, yah, Mas?” tanya Arimbi refleks. Ia dapati, mas Aidan yang langsung menatapnya dengan sangat serius. “Eh ....” Arimbi yang takut menambah beban mas Aidan langsung berdalih untuk pulang sendiri.


“Mbak beneran mau ikut? Tapi sepertinya di sana ngeri!” sergah mas Aidan. “Ya sudah, yuk, ikut saja!” sergahnya lagi walau Arimbi belum memberikan keputusan. Namun dengan segera, wanita itu mengikutinya.


“Padahal awalnya mau ajak pilih cincin, tapi klienku habis bac0k-bacokkan,” ucap mas Aidan.


Arimbi langsung bergidik. “Ngeri banget, Mas! Tapi itu sudah beres, kan, urusannya? Maksudnya enggak ada bac0k-bac0kkan lagi? Kalau masih, Mas jangan ke sana lah!”


“Sudah beres, sudah ditenangkan oleh warga, makanya aku mau ke sana karena mau di bawa ke rumah sakit juga korbannya. Heran juga sih, rebutan warisan sampai segitunya. Kayak yang enggak mampu hidup tanpa warisan saja. Sudah begini adanya malah masuk rumah sakit. Iya kalau bisa sembuh, kalau sampai bablas atau malah cac4t,” keluh mas Aidan buru-buru duduk di motornya. Ia pergoki, Arimbi yang buru-buru membuka tas selempang untuk membayar tarikan parkir.


Jarak rumah klien mas Aidan tidak begitu jauh dari pasar. Tak kurang dari lima belas menit, mereka sudah sampai di sana. Suasana yang panas makin membuat kepala pusing akibat perpaduan tangis yang berlangsung. Beberapa warga masih berkerumun menyaksikan darah segar yang menghiasi pelataran rumah joglo tua di hadapan mereka. Tampak dua kaca jendela di sisi pintu yang pecah bagian bawahnya. Dua buah parang tergelepot darah segar juga tengah diamankan oleh seorang pria, ditaruh di meja sebelah pintu.


Mas Aidan yang juga sudah langsung mengawasi suasana sekitar dengan cepat, buru-buru mengeluarkan dua buah masker dari dalam tas bahunya. Satu ia pakai sendiri, satu lagi ia pakaikan ke Arimbi. Namun karena Arimbi memakai jilbab, ia kesulitan memakaikannya. Meski dalam sekejap, Arimbi yang mengambil alih, memakainya sambil menunduk kemudian merapikan jilbabnya yang tak sampai dilepas, dengan cekatan. Barulah untuk penangkal aroma anyir, mas Aidan sengaja menempel dua stiker aroma terapi di masker mereka.


Arimbi yang tidak berani melihat keadaan korban dan tengah diboyong ke mobil pick up, sengaja menyembunyikan wajahnya di belakang punggung mas Aidan. Kedua pria paruh baya selaku korban dan kepalanya terbelah terus mengeluarkan darah, tak hentinya merintih kesakitan.


“Ya ampun, gara-gara warisan jadi gini,” batin Arimbi yang juga menjadi mengkhawatirkan mas Aidan akibat pekerjaan suaminya itu.


Sepanjang kebersamaan di sana yang dihiasi pembahasan penting antara mas Aidan dengan para kliennya, Arimbi memilih diam. Termasuk itu ketika pada akhirnya, ia malah nyaris ditinggal oleh mas Aidan. Arimbi yang sempat memisahkan diri dari mas Aidan, buru-buru menyusul karena calon suaminya itu tidak sampai pamit tapi tampak jelas akan pergi menggunakan motor.


Mas Aidan yang sudah duduk di motornya dan siap pergi, merasa ada yang kurang meski pikirannya yakin memang tidak ada barang yang tertinggal. Terbiasa mengurus segala sesuatunya sendiri, ditambah karena juga sedang buru-buru, membuat mas Aidan melupakan Arimbi.

__ADS_1


“Eh, Mbak ...?” ucap mas Aidan yang bingung, kenapa calon istrinya ada di rumah yang baru saja ia tinggalkan. Dan seketika ia juga langsung ingat, adanya Arimbi di sana juga karena ia yang mengajak.


Mas Aidan tak bisa untuk tidak tertawa, selain ia yang juga langsung meminta maaf.


“Ini berarti tadi kalau aku enggak nyusul Mas, aku ditinggal, yah, Mas?” tanya Arimbi sambil duduk di boncengan motor mas Aidan.


Mas Aidan yang masih tertawa langsung membenarkan. “Ini sudah sore, kan, Mbak. Dan aku sengaja ngejar waktu buat ke toko perhiasan. Sampai lupa kalau tadi datang bareng!”


Arimbi juga menjadi sibuk menahan tawa. Kebanyakan, mereka yang ada di posisi Arimbi harusnya kecewa. Terlebih sampai di toko perhiasan pun, di sana sudah tutup. Suasana pasar benar-benar sepi menyisakan tukang bersih-bersih yang sedang membereskan pekerjaan di sana.


“Aku beneran enggak apa-apa, Mas. Masih ada waktu. Kalaupun enggak keburu, ya enggak apa-apa kalau sampai enggak ada pun,” yakin Arum.


“Ya enggak boleh gitu, Mbak.”


“Aku bukannya enggak menganggap cincin enggak penting. Masalahnya kalau posisinya kayak Mas karena memang enggak ada waktu, ya didahulukan yang genting dulu. Semacam cincin kan bisa nyusul, cari pas kita sama-sama punya banyak waktu,” yakin Arimbi.


“Bayangkan kalau aku sama yang lain, pasti aku sudah jadi target buat diputusin,” batin mas Aidan.


“Ya sudah, sekarang pulang saja biar Mas bisa istirahat. Biar bagaimanapun Mas kan masih enggak enak badan,” ucap Arimbi memberi solusi.


Mas Aidan menghela napas dalam sambil menatap pasrah Arimbi. “Aku belum bisa pulang soalnya masih harus urus kasus ini ke kabupaten. Ke kantor polisi. Mbak mau ikut? Sekalian jenguk wanita suci!”


Mas Aidan sengaja bercanda ketika menyebut ‘wanita suci’ yang tentu saja Aisyah. Lihat lah, ulahnya sudah langsung membuat Arimbi menahan tawa.

__ADS_1


“Harus ikut, loh! Soalnya dari beres acara empat bulanan mbak Azzura, sisa waktu Mbak sampai teng pukul dua belas malam nanti, beneran milik aku! Jarang-jarang kita bisa ada waktu karena kita sama-sama sibuk, meski sekarang pun kita masih harus sambil urus kewajiban!” ucap mas Aidan di sela tawanya. Tawa yang langsung menular kepada Arimbi. Lihatkah, wajah Arimbi sudah sepenuhnya merah karena wanita itu tak hentinya tersipu.


“Ya sudah, ya. Kita berangkat sekarang. Toh, kita sudah izin ke orang tua kita!” sergah mas Aidan sangat bersemangat. Sebelumnya, ia belum pernah bekerja sangat bersemangat layaknya sekarang, padahal ia masih merasa sangat kurang enak badan.


__ADS_2