
“Jan, jangan kurang aja*r kamu sama orang tua!” ucap pak Haji Ojan masih dibiarkan di mobil pick up bagian belakang yang juga dibiarkan tanpa tutup walau itu semacam terpal yang diikat. Padahal, siang ini benar-benar terik. Sepri saja sudah habis dua mangkuk es gepluk spesial milik sang mamah.
Selain itu, pak Haji Ojan juga masih diikat di dalam keranda sempit yang Sepri sebut keranda pesek. Pria tua itu sungguh tak melarikan diri lagi kecuali memang ada yang sengaja melepaskannya.
Sambil menikmati semangkuk es gepluk yang sampai disertai durian super legit, Sepri menatap pak Haji Ojan yang masih ia awasi. Ia mengawasi dari teras rumahnya sambil duduk di kursi plastik yang ada di sana agar tidak kepanasan.
“Ojan-Ojan ... Ojan itu nama Pak Gede!” kesal Sepri yang kemudian menikmati es gepluk legendarisnya lagi. “Ke apa pun lupa, tapi ke janda cantik, enggak!”
“Janda cantik kan ibarat surganya dunia, Jan! Mana bisa saya lupa! Malahan kalau lupa, itu jatuhnya dosa!” yakin pak Haji Ojan.
Sepri refleks menelan ludahnya lantaran merasa tak habis pikir kepada pak Haji Ojan yang lagi-lagi salah panggil kepadanya. “Coba sekarang aku tanya, janda yang Pak Gede kejar itu namanya siapa?”
“Namanya Arimbi Pujaan Hati Calon Bini Ojan Yang Paling Ojan Sayang!” jelas pak Haj Ojan sangat lancar sekaligus ceria.
“Kalau urusan janda sama wanita cantik, saya beneran susah lupa, Jan! Eh, Pri!” yakin pak Haji Ojan lagi.
Sepri geleng-geleng. “Terserah Pak Gede lah. Yang penting, panas-panas gini paling seger menikmati es Gepluk Cap Gajah Duduk Legendarisnya mamahku!” Sepri sengaja menyikapi pak Haji Ojan dengan lebih santai, ketimbang otaknya benar-benar lepas dari posisinya, saking lelahnya ia menghadapi pak Haji Ojan.
“Pri ... itu merek esnya diganti jadi ‘es keranda pesek’. Biar mereka yang beli merasakan, betapa tersiksanya saya dipenjara dalam keranda pesek ini!” kesam pak Haji Ojan.
Lantaran terus diabaikan, pak Haji Ojan yang sadar dirinya tengah dihukum sengaja berkata, “Pri, bentar lagi dhuhur. Ini tolong lepas biar saya azan. Mau sekalian mandi juga soalnya dari kemarin kemarinnya lagi, saya belum sempat mandi gara-gara sibuk jadi musafir cinta.”
“Urusan azan biar aku saja, Pak Gede enggak usah repot-repot cari alasan buat minggat lagi. Habis ini aku langsung otw ke masjid!” balas Sepri yang memang sudah memakai koko lengan panjang warna putih lengkap dengan sarung hijau gelap aksen hijau muda. Kepalanya bahkan masih setengah basah karena ia juga baru mandi.
“Ya maksudnya, ... kan saya juga mau shalat, Pri!” yakin pak Haji Ojan masih meyakinkan Sepri. Meski tentu saja, itu bagian dari siasatnya dalam melarikan diri agar bisa menjadi musafir cinta pengejar janda khususnya mengejar Arimbi.
__ADS_1
“Mulai sekarang Pak Gede enggak usah repot-repot shalat karena pak Gede mau dishalati!” balas Sepri dengan santainya dan terus melahap es gepluk di mangkuknya.
“Eh, eh ... kurang a*j*jar kamu Pri, dikiranya saya sudah mati!” kesal pak haji Ojan.
“Kalaupun belum ya sekalian belajar, Pak Gede. Biar nanti pas sudah beneran, semuanya lancar dan otomatis, Pak Gede enggak terus ngerepotin. Ngerepotin orang, dosanya gede loh, Pak Gede!” balas Sepri masih santai.
“Bocah gen*deng! Cepat keluarkan saya dari keranda!” kesal pak Haji makin tak habis pikir.
“Kapan-kapan saja Pak Gede. Ini aku mau otw. Dah ... hati-hati takutnya ada malaikat maut lewat terus Pak Gede dibawa tanpa dipermisiin!” ledek Sepri sambil melangkah pergi, membawa mangkuk bekas esnya masuk rumah. Tak peduli, walau pak Haji Ojan berisiknya bukan main.
“Mas, itu kerandanya dibawa masuk dulu. Takutnya malah kehujanan karena akhir-akhir ini cuacanya enggak menentu. Takut juga kalau ada yang bantu lepas si Ojan, yang ada dia minggat lagi. Apa langsung kurung di kamar saja juga lebih baik,” tegur ibu Septi.
“Nanti dia be*r*ak sama pipis sembarangan lagi, biar kita enggak tahan-tahan dia, kayak biasa, Mah. Kalau di keranda kan mau be*r*ak, mau pipis, tetap di satu tempat! Begitu jauh lebih aman dan enggak bikin kita repot!” yakin Sepri yang kemudian mengangkut kerandanya, membawanya masuk ke dalam rumah dan memasukkannya ke salah satu kamar yang sampai dikunci.
“Kena azab kamu, Pri!” kesal pak Haji Ojan.
Di tempat berbeda, mas Rio baru saja datang ke rumah Arimbi. Pria itu terus mengamati dengan serius, suasana rumah Arimbi yang mirip rumah mati. Suasana di sana benar-benar sepi, tapi bilik bagian samping sampai roboh. Bersamaan dengan itu, Ilham juga datang dan turut mengawasi rumah Arimbi. Membuat mereka bertemu, dan keduanya juga sampai harus menghadapi mas Agung yang awalnya tengah membangun rumah baru Arimbi.
“Arimbi sudah bahagia bersama kehidupan barunya,” ucap mas Agung yang menatap malas kedua pria di hadapannya. Keduanya yang masih diam kebingungan, berangsur saling lirik. Mas Agung merasa tak habis pikir, kenapa keduanya masih saja mengejar Arimbi, padahal jelas-jelas, keduanya hanya menorehkan luka kepada Arimbi?
Kepada mas Rio, mas Agung masih bisa memberi toleransi karena masalah pria itu hanya karena sang mamah yang tidak bisa memberi restu. Namun pada Ilham, pria itu sudah jelas-jelas menipu Arimbi, selain Ilham yang juga begitu semena-mena kepada Arimbi.
“Kamu beneran enggak tahu malu, yah, Ham! Sudah menipu mentah-mentah, memfitnah dengan keji bahkan ibaratnya kamu juga sudah melepeh Arimbi, ... eh kamu malah tanpa dosa terus mengejar Arimbi. Istrimu sampai dendam ke Arimbi dan terakhir, ulahnya sampai bikin dia masuk bui!” kesal mas Agung.
“Sudah, kalian enggak usah ganggu Arimbi lagi, apalagi sebentar lagi, Arimbi juga mau nikah sama mas Aidan!” lanjut mas Agung.
__ADS_1
Mendengar nama mas Aidan sampai disebut sebagai calon suami Arimbi, mas Rio benar-benar terkejut. “Kok mas Aidan? Apa gara-gara ini, mas Aidan minta aku buat mundur? Liciik banget kalau memang iya!” kesalnya dalam hati seiring kedua tangannya yang mengepal kencang di sisi tubuh.
Padahal di pasar, kedua sejoli yang dimaksud tengah sibuk memilih sayur dan juga bahan keperluan pecel maupun gorengan lainnya. Mas Aidan membantu Arimbi mengangkut setiap belanjaan dan menaruhnya ke mobil pick up. Berbeda dengan mobil pick up Sepri, mobil yang mas Aidan bawa sampai ditutup terpal.
“Sudah semua, kan, Mbak?” tanya mas Aidan memastikan.
Alasan mas Aidan masih mempertahankan panggilan “Mbak” kepada Arimbi karena untuk memanggilkan kepada adik-adiknya. Agar terdengar jauh lebih sopan.
“Bentar, Mas. Kita pilih beberapa buah buat rujak. Mbak Azzura pasti suka!” yakin Arimbi meski ketika ia tak sengaja melirik kedua tangan mas Aidan, ia langsung tidak bisa berkomentar lantaran kedua tangan pria itu sudah penuh sayuran.
“Ini kita beli banyak banget, ya?” ucap Arimbi terheran-heran.
“Bukan kita, tapi Mbak!” balas mas Aidan menegaskan dengan gayanya yang benar-benar santai.
Sambil menatap mas Aidan, Arimbi menahan tawanya. “Kan ini dua kali dari porsi biasa aku jualan Mas karena mamah dapat orderan dari teman arisannya.” Lebih tepatnya, Arimbi dapat orderan dadakan untuk acara arisan untuk sore ini, berkat promosi dari ibu Arum.
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Ya sudah, ayo kita cari buah buat rujak. Eh, tapi ... di depan rumah makan yang dekat kontrakan, itu ada pohon belimbing sama jambu air lagi buah. Pakai itu juga bisa, kan?”
“Oh, bisa-bisa, Mas. Bisa banget!” balas Arimbi antusias.
“Iya, buat mengurangi pengeluaran Mbak!” balas mas Aidan.
“Niatnya, aku juga mau kasih bonus rujak buat pesanan dari teman mamah, Mas.”
“Sekalian promosi buat menu baru, kah?” tebak mas Aidan yang langsung dibalas senyuman oleh Arimbi yang juga langsung mengangguk-angguk.
__ADS_1
Dalam hatinya mas Aidan berujar. Pola pikir sekaligus dunianya dan Arimbi bahkan keluarga mas Aidan, nyaris mirip.