
“S-sayang, tetangga kamu ada yang mau kerja buat bantu sekaligus temenin Ibu selagi kita enggak bisa?” ucap mas Aidan sembari mengeluarkan sepatu pantofel dari rak sepatu yang ada di sebelah pintu kamar.
“Kita kan enggak bisa dua puluh empat jam bantu Ibu secara langsung. Selain kita yang enggak mungkin membiarkan Ibu apa-apa sendiri walau Ibu bilangnya sanggup. Kita bukan Sepri yang tanpa kenal waktu bisa urus Ojan karena memang pekerjaan kita yang enggak memungkinkan.” Mas Aidan berangsur menatap sang istri yang tengah mempercantik diri di depan cermin rias. Tatapan mereka bertemu di pantulan cermin rias.
“Namun bukan berarti kita akan lepas Ibu begitu saja. Ibu beneran butuh pengurus khusus. Seenggaknya buat teman ngobrol juga. Kayak sekarang kita mau bepergian jauh. Takutnya Ibu pengin apa, enggak enak ke papah mamah atau adik-adik aku.”
“Kalau papah mamah, termasuk adik-adik aku, kamu tahu keadaan mereka yang juga tulus ke Ibu.”
“Tentunya kita juga enggak mungkin bentar-bentar titip ibu ke mas Agung karena kita tahu, mereka jauh lebih sibuk dari kita.”
Sepanjang menyimak, Arimbi tak hanya merinding. Karena ia juga panas dingin. Arimbi teramat terharu, tak menyangka dibuangnya ia oleh Ilham kemudian malah bersanding dengan mas Aidan, menjadi awal mula cita-cita terbesarnya, terwujud. Mengangkat derajat keluarga khususnya orang tua, kemudian memberikan kehidupan layak sekaligus bahagia untuk ibunya, itulah cita-cita terbesar Arimbi yang juga sudah langsung terwujud tanpa harus ia bagikan kepada sang suami.
“Sambil tanya-tanya saja, ya. Namun tentu saja jangan ibu Siti. Nanti yang ada tiap saat ada perang badar antara dia sama Azzam,” ucap mas Aidan masih lembut, tapi kali ini ia melakukannya sambil melirik geli sang istri. Karena jujur saja, baru membayangkan apa yang ia ucapkan antara Azzam dan ibu Siti, ia sudah merasa sangat terhibur.
Arimbi yang sudah langsung tersipu berangsur mengangguk-angguk. Tak beda dengan mas Aidan, baru membayangkan ucapan suaminya saja, ia sudah yakin keadaan benar-benar akan heboh.
Sore mulai menggantikan siang dengan sinar matahari yang tak lagi terik. Sisa-sisa kesibukan masih terlihat dari raut wajah setiap insan, termasuk itu wajah-wajah keluarga mas Aidan. Semuanya kompak pulang lebih awal hanya untuk menyaksikan kepergian mas Aidan dan Arimbi ke Jakarta.
“Jadi ingat, dulu kita juga gini Pah. Pas urus almarhum Resty, saat itu kita juga beneran baru beres bulan madu. Terus mas Aidan diurus papah mamah Papah yang enggak izinin mas Aidan kecil dibawa bepergian jauh,” bisik ibu Arum yang berjanji akan mengurus ibu Warisem sepenuh hati, selama Arimbi dan mas Aidan pergi.
Tentu pak Kalandra juga masih sangat ingat, dulu dan memang masih nuansa bulan madu, niat mereka mencari Resty ke Jakarta justru menjadi awal mula terkuaknya kematian sahabat baik Arum tersebut. Hingga yang ada, mereka harus menahan duka yang luar biasa. Karena walau mereka berhasil menemukan Resty dan bahkan mereka sampai pulang bersama, Resty sudah tak bernyawa akibat dibunuh Tomi dan Elia. (Baca novel : Pembalasan Istri yang Terbunuh (Suamiku Simpanan Istri Bos)
“Mas Aidan dan Mbak Mbi enggak usah khawatir ke Ibu Warisem. Khawatir memang pasti, yah, enggak mungkin enggak apalagi ke orang tua. Pokoknya kalian tenang saja, nanti aku ajak Ibu jalan-jalan bila perlu nongkrong bareng anak-anak!” ucap Azzam sangat sopan sekaligus bersemangat.
__ADS_1
“Nongkrong bareng anak-anak siapa?” balas mas Aidan langsung menatap curiga Azzam.
“Ya anak-anak biasa. Sepri and Ojan! Memangnya ke mana lagi selain ngelayab sama mereka? Pulang kerja saja masih terseok-seok akibat sisa kesibukan pekerjaan. Paling banter ya mampir ke rumah makan atau apel ke Ndari!” jelas Azzam menertawakan kesibukannya sendiri.
Arimbi yang menyimak langsung mesem. Lain dengan mas Aidan yang ada di sebelahnya dan sampai geleng-geleng.
Rasa berat itu hadir dari sesak dan gemuruh yang menguasai dada Arimbi. Sudah sangat lama ia tak mengalami kejadian kini, walau sebelumnya ia sempat meninggalkan sang ibu dalam waktu sangat lama, juga jarak yang sangat jauh.
Menguatkan diri itulah yang Arimbi lakukan, meski pada akhirnya, air matanya tetap saja berjatuhan tak terbendung. Padahal pamitan yang Arimbi lakukan kepada sang ibu merupakan pamitan paling sederhana. Hanya bersalaman tangan, selain Arimbi yang sampai mengec*up pipi kiri ibu Warisem sangat lama.
Di luar, mas Aidan sudah mempersiapkan mobil dibantu Excel. Keduanya mengobrol serius sambil sesekali melongok mesin bagian depan mobil mas Aidan.
“Kamu kapan balik ke Jakarta?” tanya mas Aidan kepada Excel.
“Lusa, Mas. Satu minggu di sana. Kalau memang Mas ada waktu, bisa mampir ke rumah apa pabrik. Kabar-kabar saja,” sergah Excel yang selalu cekatan bahkan ketika berbicara.
“Enggak sih Mas. Kandungan mbak Azzura kan memang lemah. Jangankan bepergian jauh, di klinik saja harus tetap jaga-jaga,” balas Excel. Karena demi fokus pada kehamilan sekarang agar tidak keguguran lagi, Azzura sampai berhenti bekerja dari puskesmas.
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Makasih banyak karena kamu selalu jadi yang terbaik buat mbak Azzura.”
Excel tersenyum haru. “Sudah jadi kewajibanku, Mas. Jangan terus-menerus bilang makasih begitu.”
Kedatangan dua buah mobil alphard sudah langsung mengusik kebersamaan kedua pria tersebut. Kedua mobil tersebut merupakan mobil Sekretaris Lim dan mobil yang mengangkut keluarga Tuan Maheza.
__ADS_1
Mas Aidan dengan segala pesonanya dan memang selalu berpenampilan rapi sekaligus wangi, sudah langsung membuat Chole terpesona. Padahal, Chole duduk di tempat duduk penumpang bagian belakang bersama Cinta.
“Masya Alloh suami orang. Bukannya jadi biasa saja, eh kok semenjak nikah, mas Aidan malah jadi makin keren begini?” batin Chole yang sampai membuat Cinta berdeham akibat kesibukannya dalam mengawasi.
Cinta sengaja menegur Chole melalui dehaman yang ia lakukan. “Lupakan. Cari yang mencintaimu, yang lebih baik!” bisiknya kepada Chole.
Tanpa memberikan jawaban, Chole berangsur menunduk dalam. Di depan sana, terlihat paman Lim yang sampai turun dari mobil bersama keluarga besarnya. Paman Lim menghampiri kebersamaan mas Aidan dan Excel.
“Mas pergi sendiri?” tanya Sekretaris Lim.
Mas Aidan langsung menggeleng. “Ya enggak mungkin lah Paman. Kan sudah punya istri. Ya sudah beda cerita.” Mas Aidan mengakhiri ucapannya dengan tersipu.
Paman Lim yang paham sudah langsung tertawa. “Jadi mbak Mbi dibawa?”
“Ya tentu!” balas mas Aidan kian tersipu.
Excel yang masih di sana juga bisa merasakan atmosfer kebahagiaan pengantin baru dari mas Aidan.
Paman Lim yang makin lepas tertawanya bertanya, “Sebenarnya yang enggak bisa jauh-jauh, Mas apa mbak Mbi?”
“Sebenarnya aku sih, tapi sepertinya mbak Arimbi juga iya. Namun buat ajak mbak Mbi ke Jakarta kali ink, aku beneran memutar otak agar aku bisa bawa dia. Secara, dia kan maniak kerja. Ya ....” Mas Aidan makin tersipu malu.
“Dengan kata lain, musibah Paman jadi ladang pahala buat kalian, ya?!” tanggap paman Lim yang makin tertawa lepas. “Ya sudah, nanti sekalian bulan madu lagi!”
__ADS_1
“Siiiaaap!” sergah mas Aidan sangat semangat.
Sekelas Excel yang sebenarnya tak kalah pendiam dari mas Aidan juga ikut tertawa lantaran tanggapan paman Lim benar-benar heboh.