
“Mas Ojan,” panggil mas Aidan.
Pak Haji Ojan yang refleks menoleh ke sumber suara langsung berkata, “Di sini enggak ada janda!” Ia bermaksud meyakinkan karena kebetulan, yang tengah ia pikirkan memang janda. Karena di sana tidak ada janda seperti yang baru saja ia sampaikan.
“Yang suka cari janda kan Mas Ojan!” balas mas Aidan refleks menahan senyumnya.
Arimbi yang refleks tersenyum geli sengaja tidak menatap pak Haji Ojan. Takut ia malah sibuk tertawa.
“Kok mas Aidan?” ucap pak Haji Ojan yang akhirnya sadar. Ia yang tak lagi memakai pakaian serba pink, segera mengajak mas Aidan dan Arimbi untuk memberi monye*tnya makan.
“Kambing dan sapinya sudah dikasih makan juga, Mas?” tanya mas Aidan lagi.
“Sudah, jadwal makan mereka dari subuh. Kalau subuh belum dikasih makan, mereka pada karaokean sambil jogedan mirip trio macan!” balas pak Haji Ojan terdengar mengomel.
“Ya Alloh, tolong. Takut ngompol di celana!” batin Arimbi. Meski ia berhasil menahan tawanya, air matanya tetap berlinang karena jawaban pak Haji Ojan yang selalu konyol tapi jenaka.
“Trio macan dibawa-bawa,” lirih mas Aidan yang refleks tertawa sampai lemas.
“Soalnya berisik benget Mas. Pokoknya kalau mereka lapar, ya berisik ya nyerudug kandang sampai kayak kena gempa!” yakin pak Haji Ojan.
“Mas, Mas Ojan lagi nyambung. Ini tiap hari dia yang kasih makan ternak?” bisik Arimbi.
“Iya. Kalau lagi tenang, nyaman, dia ya gini,” ucap mas Aidan. “Tiap pagi kasih pakan ternak. Terus agak sore ikut Sepri cari rumput buat kambing dan sapi.”
__ADS_1
“Mas Ojan, kok monye*tnya pakai baju pink?” tanya Arimbi lagi.
“Dia kan Sepri belekpink!” balas Pak Haji Ojan yang kemudian memberikan pisang kepada Arimbi agar istri dari mas Aidan membantunya memberi si monye*t makan.
“Kok Sepri ...? Belek pink?” lirih Arimbi terheran-heran tapi berakhir tertawa.
Kali ini mas Aidan tak kuasa berkomentar karena yang ada, pria itu sibuk tertawa.
“Kalau Sepri yang anaknya mbak Septi, itu maksudnya Septi dan Supri. Bapaknya Sepri kan namanya Supri Supret! Nah, kalau nye-nyet ini Sepri karena kesayangannya mbak Septi dan mas Andri.” Pak Haji Ojan menjelaskan dan kali ini benar-benar bawel.
“Tapi masa iya Sepri juga? Masa iya, namanya sama-sama Sepri?” ujar Arimbi yang sudah menangis gara-gara tawanya.
“Yuk kita ke Aish,” ucap mas Aidan tak mau berlarut-larut tertawa di sana. Karena tujuan utamanya datang ke sana memang untuk mengurus kasus Aisyah dan Ilham.
Namun, seperti sebelumnya, semenjak pak Haji Ojan mengetahui wajah Aisyah, pria itu berdalih takut.
Dalam diamnya, mas Aidan dan Arimbi yang refleks bertatapan menjadi curiga, alasan pak Haji Ojan menjadi terasa jauh lebih waras sekaligus tenang, masih ada sangkut pautnya dengan rasa takut pak Haji Ojan kepada Aisyah.
“Mbak Aish sudah mulai hijrah loh, Mas. Mas Enggak mau kenal baik-baik dengan yang bersangkutan?” ucap Arimbi mencoba memberi pak Haji Ojan pengertian.
Pak Haji Ojan berangsur menunduk murung. “Asli aku takut. Serem banget! Mending di sini saja kasih makan ternak. Ini bentar lagi juga mau kasih makan ikan lagi. Ikannya kurus tapi makannya banyak, mirip Seprinya Supret!”
Lagi, mas Aidan dan Arimbi refleks bertatapan. Keduanya memutuskan untuk segera ke depan, mengurus kasus Aisyah dan Ilham.
__ADS_1
“Aku tahu aku jahat ke Aish, tapi kemarin pas lihat lagi, aku sampai ngompol karena memang takutnya setengah mati!” yakin pak Haji.
Mas Aidan dan Arimbi tak kuasa memaksa. Keduanya langsung pamit dan dibalas kata-kata semangat oleh pak Haji Ojan seiring bunyi cit-cit-cit dari sepatu bulu warna pinknya.
Sampai di depan, mas Aidan dan Arimbi langsung berpapasan dengan Ilham yang baru datang. Ilham membonceng kedua orang tuanya. Ibu Siti dan pak Hakim tampak pangling kepada Arimbi.
“Si Arimbi, Pak! Mirip nyonya-nyonya, pangling aku!” bisik ibu Siti kepada sang suami. Sementara di depan sana dan jaraknya tak kurang dari lima meter, Arimbi yang digandeng mas Aidan sambil menenteng tas selempang biru toska senada dengan gamisnya, sudah mengumbar senyum.
“Mau sampai kapan kalian begini? Apa yang sebenarnya kalian cari? Apa yang sebenarnya kalian banggakan dari cara kalian, jika sekadar buat makan saja ibaratnya kalian menumpang? Harusnya kalian malu. Dan harusnya kalian sadar, cara kalian semena-mena kepada orang lain bahkan kepada orang yang kalian tumpangi, akan membuat kalian kehilangan yang kalian miliki sebagai ganti rugi,” batin Arimbi yang tidak sabar untuk secepatnya melihat perubahan Ilham dan orang tuanya. Arimbi berharap ketiganya jera sebelum terlambat.
“Aku sudah tahu semuanya. Aku benar-benar prihatin. Semoga ada jalan terbaik. Namun andai pihak mbak Aish sampai memperkarakan KDRT yang kalian lakukan beramai-ramai, semoga dikasih jalan yang terbaik.” Sebenarnya Arimbi ingin berkata kasar, tapi Arimbi sadar, itu tidak akan membuatnya lebih baik. Hanya membuang-buang tenaga dan juga bisa meru*sak citranya.
Arimbi tidak mau berkomentar lagi. Ia memilih diam, mendampingi mas Aidan menyelesaikan pekerjaannya sebagai pengacara dari pihak Aisyah. Kendati demikian, sesekali mas Aidan juga akan memberi Ilham arahan. Yang membuat pertemuan mereka tak kunjung menemukan titik terang, tentu karena orang tua Ilham awalnya tetap menyangkal pengeroyo*kan. Kebohongan tersebut membuat Aisyah sekeluarga sakit hati. Sekelas Romo Kyai sampai sibuk beristighfar.
“Baiklah Aish, aku bersedia bercerai. Aku akan mengikuti sesuai arahan dari pihak kamu.” Ilham menunduk pasrah.
“Aku mau, KDRT yang aku alami juga diselesaikan secara pidana. Biar orang-orang seperti kalian jera, merasakan dinginnya penjara.” Aisyah yang merasa sangat sakit hati ingin Ilham dan orang tuanya mendapatkan efek jera dari hukuman penjara dan otomatis akan kalian terima.
Kaget, Ilham dan orang tuanya refleks menatap tak percaya Aisyah yang duduk di hadapan mereka. Mereka duduk di lantai beralas tikar karakter. Ruang tamu kontrakan Aisyah tinggal menjadi tempat pertemuan mereka.
Hanya saja permintaan Aisyah barusan membuat Ilham khususnya orang tuanya merasa terzalimi.
“Kami sudah minta maaf. Kami juga akan membayar ganti rugi uang yang selama ini kami pakai walau ganti rugi yang mampu kami beri berupa sawah!” ucap ibu Siti berkeluh kesah.
__ADS_1
“Aku juga enggak minta di KDRT loh, Bu. Dari awal kan aku sudah bilang, di rekaman pun terdengar jelas!” Aisyah tersedu-sedu.
Arimbi yang teringat dulu dirinya pernah menuntut keadilan seperti yang tengah Aisyah sekeluarga lakukan, jadi tak karuan. “Sudah begini pun, ibu Siti masih kebanyakan protes seolah dirinya korban bahkan dijadikan kambing hitam,” batin Arimbi. Baru saja, sang suami yang duduk di sebelahnya menyanggupi permohonan Aisyah dan pihaknya untuk memperkarakan KDRT yang Aisyah alami.