Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
154 : Pesona Ojin


__ADS_3

Ada wanita bercadar serba hitam di kebersamaan mas Aidan dan Arimbi, sementara ketika Azzam tak sengaja melongok ke dalam dapur warung pecel, pemuda itu memergoki Ilham. Sumber suara sandal cit cit milik pak Haji Ojan, seolah tengah menjadi alasan Ilham berada di sana. Azzam yang menyaksikan itu, dan baru kembali dari rumah pak Angga yang ada persis di sebelah warung, seolah menemukan rezeki nomplok.


“Asyiiiik! Bahan gibah baru! Akankah cinta Ilham memang sudah dimiliki oleh Jeng Ojin? Kita tunggu kabar kebenarannya. Namun aku yakin seyakin-yakinnya. Ilham sama saja dengan Ojan. Sama-sama suka yang bercadar! Hahaha!” batin Azzam yang sudah langsung cekikikan.


Bergegas Azzam memasuki dapur warung pecel sambil mengendap-endap. “Heran aku, ... sudah pernah tertipu sama yang bercadar sebelumnya dan Ojan bilang si wanita suci itu sumber corona, kok ini masih jadi pejuang batangan? Apa kabar kalau Ilham tahu, Ojin hanyalah ukhti-ukhti berkumis yang sengaja aku ciptakan buat mengelabuhi Aisyah?” lirih Azzam lagi-lagi cekikan. Ia merasa sangat bahagia lantaran Ilham sampai tertarik kepada Ojin yang sebenarnya Ojan.


“Kamu ngapain pakai sandalnya Ojin?” tanya Ilham langsung menghampiri pak Haji Ojan.


Pak Haji Ojan yang awalnya baru jongkok hendak bersembunyi di balik meja, langsung terbengong-bengong menatap Ilham. Ilham yang memakai koko panjang warna moca, masih menunggu balasannya. Pria itu berdiri agak jongkok di hadapannya sambil menatapnya dengan tatapan khas orang marah.


“Astaga ... astaga. Innalilahi, ini yang namanya pertemuan bayi akhir zaman dengan lelaki kurang kasih sayang! Hahaahahaha!” lirih Azzam. Ia mengintip dari sebelah pintu dapur yang dibiarkan terbuka sempurna.


“Kamu ngapain pakai sandalnya Ojin? Itu sandal Ojin, kan, yang kamu pakai itu?” tanya Ilham sejelas-jelasnya lantaran pak Haji Ojan yang ia tanya malah kebingungan.


Ojan yang masih jongkok dan sampai menengadah hanya untuk menatap Ilham, berkata, “Karena kami suka berbagi. Berbagi itu indah, kan? Indah kata lo, bukan Indah Kalalo karena kalau Indah Kalalo, itu nama artis!”


Ketika Ilham langsung pusing gara-gara balasan pak Haji Ojan, tidak dengan Azzam yang makin sibuk cekikikan.


“Ini maksudnya gimana, sih? Alasan sandal Ojin busa di kamu, itu karena kamu gangguin dia? Kamu musafir cinta pejuang janda, kan?” balas Ilham.


Pak Haji Ojan yang menyimak, tapi tidak begitu paham dengan maksud Ilham, berangsur mengangguk-angguk mirip bocah tak berdosa. “I love janda, tapi aku takut Aisyah. Serem mirip corona. Corona kan ada dan wajib ditinggal saja mirip Aisyah!”


Mendengar itu, Ilham refleks menelan ludahnya. “Sekelas dia saja takut, apalagi aku, yang masih normal. Ya walau Aisyah memang istri sahku!” batinnya.


“Terus, hubungan kamu sama Ojin apa?” lanjut Ilham penasaran. Ia sengaja bertanya dengan santai karena ia sadar, Ojan bukan pria normal. Pria itu mengalami keterbatasan mental.

__ADS_1


“Itu aku!” balas pak Haji Ojan langsung jujur.


“Hah? Maksudnya gimana?” balas Ilham makin penasaran.


“Kami sama, ... mirip!” jelas pak Haji Ojan sambil duduk sila. Karena demi menghindari Aisyah yang telanjur membuatnya trauma, ia memilih bertahan sekaligus bersembunyi di sana.


“Kembar, maksudnya?” kaget Ilham, tapi memang tidak ada kemungkinan lain selain itu.


“Ini apa sih, maksudnya si Ilham? Asli aku bingung!” batin pak Haji Ojan yang malah mengangguk-angguk membenarkan anggapan Ilham.


“Kalian kembar?” lirih Ilham makin sulit percaya, tapi yang ditanya masih mengangguk-angguk.


“Kembar yang direstui Illahi!” asal pak Haji Ojan meyakinkan Ilham.


“Cocok banget sih mereka. Ya Alloh, kenapa Ojan bukan perempuan saja, biarkan Ojan jadi Ojin agar mereka beneran jodoh!” batin Azzan makin tidak bisa menyudahi tawanya.


Di lain sisi, Aisyah yang masih tak enak hati walau ia sudah sampai diajak untuk bergabung menjadi bagian dari kebersamaan mas Aidan. Aisyah duduk persis di sebelah Arimbi.


“Berasa lihat angsa yang bersebelahan dengan bebek. Aku bebek, si Arimbi angsanya,” batin Aisyah merasa sangat buruk rupa hanya karena bersebelahan dengan Arimbi. “Kok bisa drastis banget yah, perubahan warna kulit Arimbi. Jadi putih banget gitu. Kelihatan lembut banget. Dia pakai produknya Sundari juga apa malah suntik laser gitu ya? Tanam berlian atau malah tanam susu*k?” pikirnya yang memang sangar iri kepada Arimbi.


“Dapat mas Aidan bikin Arimbi jadi ratu. Berasa lihat ratu Elisabet nyata sih ini. Lihat, tangannya saja dielus-elus terus sama mas Aidan. Lah aku boro-boro, lewat saja diusir. Napas saja yang sudah jadi kebutuhan makhluk hidup, aku disalahin sama Ilham. Kayaknya si Ilham memang lebih suka kalau aku enggak bernapas!” kesal Aisah dalam hatinya.


“Berarti Mbak Aisyah memang menetap di sini, enggak ada rencana balik ke pesantren?” tanya Arimbi sambil menggenggam sebelah tangan mas Aidan menggunakan kedua tangannya. Ia menyimpan tangan tersebut di pangkuannya.


“Dibilang menetap sih belum, soalnya satu minggu lagi, kami baru akan pergi ke pesantren. Masih ke sana sini sih. Mas Azzam bilang, saya harus jadi beban mas Ilham dan ibu Siti!” jujur Aisyah.

__ADS_1


Bukan hanya Arimbi yang langsung mesem menertawakan balasan jujur seorang Aisyah. Karena semua yang ada di sana justru lebih parah.


“Ada mas Sepri, tumben mas Ojan enggak di sini? Biasanya kalian kayak upin ipin?” ucap Aisyah sengaja berusaha akrab.


“Tadi mas Ojan juga ada, tapi lagi ke kamar mandi kayaknya,” ucap Sundari lembut sekaligus santun.


“Oh iya ... terus itu, si Ojin. Si Ojin apa kabar, Mbak Sundari?” membahas Ojin, Aisyah mendadak emosi.


Membahas Ojin, tentu yang tahu hanya Sundari, Azzam, pak Haji Ojan, dan keluarga ibu Arum kecuali mas Aidan dan Arimbi.


“Ojan itu siapa, Dek?” tanya Arimbi berbisik-bisik kepada Sundari.


Sundari bingung. Haruskah ia jujur, atau hadirnya Ojin memang sebuah rahasia? “Memangnya kenapa, Mbak Aish? Si Ojin bikin masalah apa gimana? Harusnya sih enggak karena dia sudah enggak gentayangan lagi.”


“Dia memang sudah enggak pernah datang lagi, tapi dia sudah jadi duri dalam rumah tangga saya, Mbak! Setiap saat, mertua saya selalu membanding-bandingkan saya dengan Ojin yang katanya perkasa sekaligus sangat santun. Si Mas Ilham juga kesemsem itu ke si Ojin. Enggak tahu gimana ceritanya, kok bisa begitu. Karena si Ojin yang punya semacam ajian semar mesem, atau memang suami dan mertua saya yang sudah waras!” ucap Aisyah meledak-ledak.


“Hubungan kalian sudah sangat enggak sehat. Padahal orang tua Mbak Aish juga sudah enggak kurang-kurang. Terakhir itu saat aku dan mas Aidan menikah, kan?” tanggap Arimbi lembut. Di hadapannya, Aisyah langsung tak bisa berkata-kata.


“Makanya, aku ingin ke pesantren saja. Walau di sini aku bisa jadi beban mas Ilham dan beban ibu Siti, setidaknya kalau di pesantren aku enggak akan sehina di sini. Di sana pun aku bakalan punya pekerjaan sekaligus penghasilan tetap. Bismillah, lah,” ucap Aisyah.


“Kalau Ilham enggak berubah juga?” tanya mas Aidan yang kali ini sampai fokus menatap Aisyah.


“Aku enggak akan mau pisah, biar dia tahu rasa seumur hidupnya harus sama aku yang selalu dia hina!” sergah Aisyah, yakin seyakin-yakinnya.


Dari sebelah, Azzam datang. Azzam melangkah membungkuk sambil memegangi perut menggunakan kedua tangan. Azzam tampak sulit mengakhiri tawa. Entah apa yang terjadi, tapi Azzam terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


__ADS_2