
“Kalau dipikir-pikir, aku juga berperan penting dalam keretakan rumah tangga Aish dan Ilham. Soalnya kan, gini-gini, aku juga yang menciptakan Ojin,” ucap Azzam.
“Terlepas dari itu, memang mas Ilhamnya yang enggak bener, Mas. Mas Ilham sekeluarga. Karena kalau orang tua mas Ilham waras, harusnya mereka kasih arahan yang benar, bukan malah sampai ikut-ikutan dan fatalnya sampai mengeroy*ok mbak Aish,” ucap Arimbi. “Dilihat dari keadaannya saja, mas Ilham dan orang tuanya yang salah. Orang tua mas Ilham bilang mbak Aisyah terlalu cerewet. Mbak Aish kan tipikal yang memang bar-bar, dihadapkan dengan suami dakjal, enggak kasih nafkah dan malah menuntut nafkah, tapi semena-mena tanpa timbal balik. Terus mertuanya juga ikut-ikutan. Padahal mbak Aish sudah sampai kerja ke sawah, beneran kerja ke tetangga aku sudah cari info ke tetangga di sana.”
“Dan itu bukan kejadian sekali dua kali!” ucap mas Aidan yang walau lembut, tapi penuh penekanan.
Ilham yang menyimak langsung bengong, dan memang bingung mau komentar apa.
“Pas sama aku saja, sampai bikin warga satu desa heboh. Eh ini kok malah lebih parah,” ucap Arimbi yang kemudian menerima suapan dari sang suami.
Bersama Azzam dan Akala, mereka memang tengah makan malam di rumah makan inti. Mereka menjadikan pecel lontong sebagai menu makan malam mereka.
“Akala, ngomong dong!” ucap Azzam dan langsung mengagetkan Akala.
“Ngomong apa, Mas?” tanya Akala yang kemudian meminum jeruk hangatnya.
“Ya komentari kasus yang sedang kita bahas,” ujar Azzam gemas.
“Apa yang harus dikomentari? Mereka beneran enggak manusiawi, menilai orang hanya dari fisik dan masa lalu. Apa kabar kalau aku yang jadi mbak Aish. Aku pernah segede itu kan,” ucap Akala.
“Ya sudah, ya sudah, kamu orang terlalu baik enggak cocok bahas kejahatan karena yang ada, pasti kamu langsung memaafkan.” Azzam sudah langsung bawel. “Kalau apa-apa cukup diselesaikan dengan kata maaf, sekelas mas kita bisa jadi pengangguran. Pengacara beneran enggak berguna. Sekolah mahal-mahal puyeng ngerjain tugas nyaris enggak waras, berasa ladang amal!”
Mendengar itu, mas Aidan dan Arimbi kompak menertawakan Azzam.
“Wedang jahenya, Mas,” ucap seorang wanita paruh baya yang mengantarkannya kepada Azzam.
“Oh iya, makasih banyak bude,” ucap Azzam sangat santun. Ia berangsur menghirup aroma wedang jahe yang langsung menghangatkan penciumannya.
“Memangnya Mas Azzam lagi enggak enak badan? Kok pesan wedang jahe sebanyak itu?” tanya Arimbi.
__ADS_1
“Wedang jahe satu toren,” ucap mas Aidan sengaja meledek sang adik.
Azzam langsung cekikikan. “Ya ampun satu toren, satu gelas gede saja dibilang satu toren.”
“Kemarin pulang dari Yogyakarta, setelah antar mbak Sundari, Mas Azzam langsung infus dua hari dua malam. Beneran lemes, badannya sampai dingin dan tensinya hanya tujuh puluh,” ucap Akala.
Mas Aidan langsung terbahak. Benar-benar tertawa lepas.
“Hati-hati, nanti anaknya mirip aku!” ujar Azzam wanti-wanti.
Sejak lahir, imun Azzam memang tak sekuat Azzura. Azzam kerap meriang maupun flu. Hingga besar pun, Azzam masih rutin masuk angin dan pasti akan mabuk kendaraan jika perjalanan jauh. Hanya saja, semua kerapuhan itu tertutupi oleh sifat ramenya yang bawel sekaligus tukang usil.
“Kemarin Sundari mau antar aku pulang. Sumpah walau posisinya lemes karena mabu*k kendaraan, aku beneran langsung ngakak. Masa iya, malah jadi antar mengantar, kapan aktivitasnya?” ucap Azzam.
“Namanya saja sayang, Riri khawatir banget ke Mas Azzam. Terus, andai kemarin Mas jadi diantar pulang, pasti sakit Mas enggak berkepanjangan!” komentar mas Aidan.
“Terus Mas Akala gimana?” tanya Arimbi lembut. Dalam hatinya, ia juga menjadi berujar, ini alasannya dan mas Aidan mengajak Akala dan Azzam makan malam di sana.
Akala langsung terdiam merenung.
“Dek, mikirnya jangan lama-lama, takutnya kamu kesu*rupan. Apalagi di sini ada arwah kelaparan yang kalau ada orang mikir keras, langsung tergoda!” ujar Azzam tak mau Akala bersedih karena pernikahan Cinta.
“Mas Azzam, kalau ngomong dijaga. Nanti yang enggak tahu dikiranya warung kita pakai pelar*is jin kelaparan!” tegur mas Aidan serius.
Arimbi dan Akala menjadi tertawa. Arimbi sampai menggunakan kedua tangannya untuk menekap mulut. Sementara Akala memilih menunduk untuk menjaga tawanya agar terkesan lebih santun.
“Aku ya biasa saja,” ucap Akala setelah ia berhasil menyudahi tawanya.
“Dia kan pemaaf. Bahaya kalau orang kayak kamu, Dek. Kamu kan laki-laki, kamu wajib tegas. Soalnya nantinya kamu akan jadi kepala rumah tangga. Iya kalau kamu dapat istri yang mikir, kalau yang kasusnya seperti yang sedang viral? Istrimu selingkuh sampai tidur sama laki-laki lain, tetap kamu biarin? Kamu maafin? Lama-lama aku kubur kamu hidup-hidup kalau kamu tetap begini!” tegas Azzam.
__ADS_1
“Yang aku takutkan, kamu tetap menunggu Cinta, atau malah ... kalian sampai terlibat perseling*kuhan! Karena yang namanya orang jatuh cinta, orang bu*cin, itu ibarat sudah kesurupan. Sedangkan sejauh ini, aku lihat yang namanya selingk*uh itu ibarat penyakit, cand*u, susah berhentinya. Pernah kejadian, enggak menutup kemungkinan akan terulang,” lanjut Azzam. “Jujur, ini juga jadi beban hidup terbaruku sih. Aku khawatir banget ke Akala. Apalagi dampaknya pasti kena ke keluarga besar. Amit-amit ih jangan sampai beneran kejadian.”
“Enggak, Mas—” Akala berusaha meyakinkan, tapi Azzam tetap bawel, tak memberinya kesempatan.
“Nyatanya kamu diputusin dan beneran baru dikabari, pas dia mau lamaran. Logikanya saja, enggak mungkin seinstan itu karena mereka saja sudah kenal lama! Pas nikahan Mbak Azzura, Cinta enggak datang padahal kamu bilang, pas itu kalian sudah pacaran, terus keluarganya juga datang!” marah Azzam.
“Cari yang lain, Mas!” tegas Arimbi dan Mas Aidan. Keduanya kompak padahal sama sekali tidak janjian.
Setelah sempat menatap bingung satu sama lain kenapa mereka sampai melayangkan permintaan yang sama kepada Akala, Arimbi dan mas Aidan kembali kompak membujuk Akala. Agar Akala mencari wanita lain. Karena bagi keduanya, apa yang Azzam keluhkan ada benarnya. Bahwa laki-laki sebaik Akala hanya akan dimanfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab termasuk itu dalam urusan cinta.
“Aku enggak mau buru-buru,” yakin Akala bingung lantaran mendadak dituntut segera menikah.
“Tapi kamu yang dapat kembang pengantin loh,” protes Azzam.
“Aku kasih itu ke Cinta, terus diambil mbak Chole,” balas Akala karena itu juga yang terjadi.
Karena keadaan sudah kurang kondusif, mas Aidan sengaja berdeham dan bermaksud meredamnya. Namun, sang istri menggenggam tangan kanannya dengan mesra. Melalui tatapannya pun, Arimbi tampak meminta mas Aidan untuk diam. Karena ternyata, Arimbi yang bicara.
“Secinta apa pun Mas ke Mbak Cinta, harusnya apa yang terjadi ke Mbak Aish, cukup jadi gambaran, Mas. Cinta itu saling mengisi, saling melengkapi, bukan saling memanfaatkan karena yang hobi memanfaatkan sekaligus menumpang namanya parasit, bukan cinta lagi. Siapa pun mbak Cinta dalam hidup kita, mau dia anaknya sahabat orang tua kita, kalau kenyataannya dia enggak baik dan enggak ada usaha buat jadi lebih baik, ya jangan. Sayang Mas Akala, sayang mamah papah. Sayang keluarga ini karena apa pun yang Mas Akala dan kita semua lakukan, dampaknya juga akan ke keluarga.”
“Orang tua dan keluarga baik memang belum bisa menjamin semuanya termasuk anak-anak akan baik. Didi, mas Cikho, itu contoh nyata walau enggak menutup kemungkinan mereka akan berubah.”
“Kami enggak bermaksud melarang Mas. Kami hanya ingin Mas tegas. Kalaupun nantinya kalian berjodoh, seperti yang kami minta, secinta apa pun Mas ke mbak Cinta, kalau dia masih jadi pasangan orang, JANGAN. Andai nanti kalian punya kesempatan buat bersama setelah dia bukan jadi istri orang, ya silakan dijalani, tapi Mas wajib tegas.”
“Jujur, awalnya Mbak pribadi, iba ke kalian. Namun setelah Mbak tahu ternyata sebelumnya mereka sering bareng. Setiap Cinta pulang kampung si mas Helios yang antar jemput nemenin, tapi posisinya Cinta masih pacar kamu, sumpah Mas, ... setelah tahu itu, Mbak langsung sakit hati ke Cinta. Mbak saja sakit apalagi mamah kamu,” ucap Arimbi buru-buru menarik tisu kering dari kotak yang tersedia di hadapannya. Apa yang menimpa Akala dan sampai membuatnya angkat suara, benar-benar telah melukainya. Ia sampai menangis tanpa bisa mengakhirinya.
Gamang, untuk pertama kalinya Akala merasa serba salah. “Aku janji aku akan melakukan yang terbaik. Dan demi membuat kalian percaya, besok aku enggak ikut ke Jakarta.”
Tidak ada yang menanggapi Akala. Baik Azzam yang hanya diam, maupun mas Aidan yang menenangkan Arimbi dengan kata-kata lijadi is
__ADS_1