
Pak Angga melangkah semringah memasuki ruang bersalin yang sudah ramai tangis bayi. Diantara tangis bayi tersebut juga terdengar lantunan adzan lirih dan itu suara mas Aidan. Pak Angga langsung merinding dan terus begitu meski ia sudah menyaksikan kebahagiaan sang putra secara langsung.
“Alhamdullilah, walau di masa lalu aku gagal, tidak dengan putraku. Alhamdullilah banget ya Alloh, mas Aidan dan keluarga kecilnya nyaris enggak ada kekurangan. Putra putri mereka juga nyaman banget dipandang. Kulitnya bersih-bersih, semerah itu. Rambutnya tebal, dan bobotnya pun seperti bayi normal, bukan bayi kembar. Pipi sama bibirnya, mirip banget sama mas Aidan,” batin pak Angga yang menjadi berlinang air mata. Karena lagi-lagi, kebahagiaan sekaligus keberhasilan sang putra berikut rumah tangganya, membuat ia teringat masa lalunya yang sempat gagal. Ia tersenyum kepada Arimbi yang tengah disisir oleh ibu Arum. Rambut Arimbi tampak basah dan ia yakin karena keringat persalinan.
“Tuh, Mbah Angga sudah datang!” ucap mas Aidan bersemangat.
“Cepat banget, ya? Apa memang sudah feeling jadi sudah ke sini sebelum dijemput, Mas?” tanya pak Kalandra kepada pak Angga.
“Ah tadi habis dibawa ngebut sama Mas Azzam. Bibir sampai gemetaran. Valentino Rossi saja kalah sama Mas Azzam!” ucap pak Angga.
“Pasti, lah! Aku sih apa yang enggak bisa? Nyinyir saja pinter apalagi yang urusan lain macam kebut-kebutan!” ucap Azzam yang kemudian menertawakan dirinya sendiri.
“Makanya jadi pimpinan keponakan yah, Mas,” ucap ibu Arum lembut sambil menyanggul rambut sang menantu.
“Nah, itu Mah. Pokoknya masa kecil para kurcil bakalan bahagia banget karena punya uncel kayak aku. Nanti aku ajarin mereka nyolong mangga apa jambu tetangga!” balas Azzam bersemangat.
Arimbi yang langsung ngakak berkata, “Kan sudah disediain itu di depan rumah. Masa iya mau diajarin nyolong punya tetangga ih si Uncle!”
“Hasil nyolong biasanya lebih enak, Mbak. Punya kita ya biarin, lagian keluarga kita kan banyak, segitu masih kurang lah!” yakin Azzam.
“Kalau masih kurang tinggal ambil di depan rumah Mbah Angga. Di sana sudah ada pohon-pohon buah juga,” ujar pak Angga.
“Kejauhan lah Yah, mending nyolong saja, lebih berkah!” balas Azzam ngeyel.
“Di mana-mana hasil nyuri enggak ada yang berkah, Uncle!” tegur mas Aidan.
__ADS_1
“Pokoknya nanti kalian siap-siap saja karena laporan demi laporan pasti bakalan bikin kalian maju menemui tetangga sambil minta maaf atau malah bayar denda!” balas Azzam yang kemudian tertawa puas.
“Terus, ini mana yang Mbak Khalisa, mana yang Mas Narendra?” sergah pak Angga tersedu-sedu. Namun, ia berusaha untuk menyudahi kesedihan apalagi tangisnya.
“Yang pink yang Mbak Lisa, dan yang biru yang mas Rendra,” ucap mas Aidan sambil memberikan sang putri kepada pak Kalandra, sementara sang putra ia berikan kepada pak Angga.
Pak Angga tertawa di tengah air matanya sembari memandangi wajah cucu-cucunya.
“Alhamdullilah, dapat cucu perempuan lagi. Berarti sudah punya dua cucu perempuan!” ucap pak Kalandra. “Soalnya pas anak sendiri hanya mbak Azzura, kirain mas Akala bakalan jadi cewek, eh cowok lagi!” Ia mengakhiri ucapannya dengan tertawa.
“Ini mirip siapa, ya? Ini sih perpaduan-perpaduan,” ucap pak Angga masih mengawasi wajah cucu-cucunya.
“Alhamdullilah enggak mirip mas Ojan. Doa mas Azzam enggak mempan!” ucap mas Aidan dan langsung menjadi sumber tawa dalam kebersamaan mereka.
“Loh, loh, kok gitu, Pah?” Azzam ketar-ketir.
“Lah, dari awal Mas yang heboh yakin anak mas Aidan apa anak mbak Azzura bakalan mirip Ojan. Kita tunggu saja, jangan-jangan malah anak kamu yang mirip. Nanti namanya dikasih Ojan sama Ojin saja, ya!” balas pak Kalandra. Di hadapannya, Azzam langsung tertawa sampai menangis. Azzam sampai berakhir dengan terduduk di lantai.
“Mas, jagain istrinya. Jangan boleh tidur dulu. Ini, buah sama susunya diminum biar Mbak Mbi enggak lemes dan ASI-nya capat isi. Mamah mau masak buat makan Mbak Mbi. Nah, Uyut udah datang bawa minuman herbal.” ibu Arum tersenyum semringah melihat kekompakan keluarga mereka.
Nenek Kalsum membawa minuman herbal, sementara kakek Sana membawakan tim-timan daging sapi yang diblender dan segelas teh manis hangat untuk Arimbi.
“Habisin yah, Mbak. Mamah masak dulu,” pamit ibu Arum sambil mengelus sayang kepala Arimbi, kemudian menitipkannya kepada mas Aidan.
Di sebelah Arimbi, mas Aidan sudah kembali menyuapi Arimbi potongan buah. “Makan yang banyak, Mah,” lirih mas Aidan.
__ADS_1
Panggilan baru yang Arimbi terima dari sang suami sudah langsung membuat Arimbi kikuk.
Sambil mengunyah potongan buah di dalam mulutnya, Arimbi berkata, “Berarti sekarang panggilan kita berubah total yah, P-pah?”
Mas Aidan menahan tawanya kemudian mengangguk-angguk. “Bener, sudah Papah-Mamah!” balasnya yang menjadi gugup. Saking bahagianya ia menjadi gugup. Hatinya berbunga-bunga, seolah jauh di dalam dadanya ada taman berisi bunga warna warni dan kompak mekar.
Memiliki anak dan itu menjadi pengalaman pertama, membuat mas Aidan dan Arimbi belajar banyak hal. Beruntung mereka dikelilingi oleh banyak orang yang menyayangi mereka. Bahkan mereka hanya mengurus anak-anak ketika malam hingga subuh. Karena jika subuh hingga malam, ada kakek nenek, buyut, juga para paman dan bibi yang dengan sigap membantu menjaga sekaligus mengurus. Malahan sejak Khalisa dan Narendra lahir, pak Angga jadi sering tidur di sana hanya untuk menjaga cucu-cucunya.
“Alhamdullilah, Mah. Cita-cita kita punya banyak cucu tercapai. Nantinya, kita bakalan menghabiskan waktu kita bersama mereka. Jadi sekarang kita cukup momong cucu sambil sesekali kontrol usaha dan pekerjaan,” ucap pak Kalandra sambil memangku Khalisa yang sedang ia jemur. Bersama ibu Arum, ia duduk di depan gerbang memangku anak mas Aidan dan Arimbi. Sementara tak jauh dari mereka, juga ada Arimbi dan mas Aidan yang duduk untuk berjemur di bawah matahari pagi.
“Kami pamit dulu,” ucap Azzam buru-buru menunggangi motornya. Azzam dan Akala yang kompak memakai motor, akan berangkat kerja. Sementara di jalan depan tampak Azzura dan Excel yang masing-masing mendorong troli berisi bayi.
Inilah kesibukan di setiap pagi mereka. Momong atau menjaga anak sambil olahraga. Benar-benar kebersamaan sederhana tapi sangat hangat.
“Mas Akala, istrimu masih masak? Sudah dibilangin wajib jemur pagi, kan? Lagi hamil tetap wajib rutin jemur sama jalan ya,” tegur ibu Arum dan langsung disanggupi oleh Akala.
Akala bergegas menepikan motornya tak jauh dari orang tuanya kemudian meninggalkannya. Ia kembali masuk rumah dan bermaksud mengajak sany istri jemur sekaligus jalan pagi.
“Lah Akala ke mana?” tanya Azzam kebingungan.
“Sudah, ditinggal saja. Nanti mas Akala berangkat sendiri saja. Biar adikmu menemani istrinya jemur sekalian jalan pagi!” ujar ibu Arum.
“Oke, oke. Mas Perjaka siap kerja, buat modal nikah juga!” ucap Azzam pasrah dan sebisa mungkin menyemangati dirinya sendiri.
Gaya Azzam yang mirip orang terzalimi malah membuatnya ditertawakan oleh semuanya. Selalu begitu dan ada saja ulah yang membuat mereka panen tawa.
__ADS_1