
“Kok sepi?” tanya Ilham sembari tersenyum semringah kepada Arimbi. Wanita itu tetap duduk di risban bagian dalam.
“Sengaja biar sepi,” balas Arimbi kalem, tapi langsung membuat Ilham makin semringah.
“Duduk, Mas. Ini aku mau kasih surat keputusan pembatalan pernikahan kita.” Arimbi mendorong pelan amplop cokelatnya ke meja hadapan Ilham. Kebetulan, pria itu langsung duduk dan malah terlihat tidak sabar.
“Berarti, kita bisa nikah lagi, kan, Mbi? Kan pernikahan kita dibatalkan dianggap enggak pernah ada?” tanya Ilham lirih, terkesan sangat rahasia. Selain ia yang menang belum sempat menyentuh amplopnya. Namun karena ia telanjur berharap bisa memulai lagi dengan Arimbi, ia sengaja langsung terus terang.
“Enggak salah Mas bilang begitu? Mending daripada Mas mikir buat nikah lagi apalagi kalau nikahnya sama aku yang jelas-jelas sudah Mas lepeh, mending Mas fokus dengan pernikahan Mas. Mas sendiri kan, yang bilang bahwa istri Mas wanita suci, sementara aku hanya pembantu yang biasa dipakai majikannya? Makanya lambemu—lidah kamu—kalau ngomong dipikir dulu. Kalaupun kamu memang sudah enggak punya urat malu, setidaknya kamu wajib takut ke sumpah!”
“Balik sana ke pesantren! Bisa-bisanya kamu keluyuran, istrimu suruh panas-panasan di sawah. Jangan-jangan sebenarnya kamu juga berniat memanfaatkan istri kamu, seperti saat kamu sama aku? Ih dasar!” kecam Arimbi.
“Mbi, sumpah aku nyesel nikahin Aisyah. Pokoknya, ... ih ... ngeri, jijik ....”
“Cukup, Mas!” Arimbi sengaja menghentikan keluh kesah Ilham. Ia beranjak berdiri. “Kamu orang berpendidikan dan kamu paham agama. Enggak sepantasnya kamu bilang begitu, enggak sepantasnya kamu mengumbar kekurangan istri kamu bahkan walaupun itu benar. Kamu yang memilihnya, tanpa diminta apalagi paksaan.”
“Tapi aku jujur, Mbi. Aku pilih kamu!” sergah Ilham masih meyakinkan dan sampai ikut berdiri, menatap kedua mata Arimbi penuh keseriusan.
Ulah Ilham tak hanya membuat Arimbi marah. Karena Arimbi juga ingin mengamuk. Namun, Arimbi memilih menahan diri, membiarkan Aisyah yang melakukannya.
Aisyah keluar dengan langkah yang dipenuhi emosi, dan langsung mema*ki Ilham. Ilham kebingungan, tentu saja. Apalagi ketika semua yang bersembunyi juga menyusul keluar.
__ADS_1
“Kamu lagi, Arimbi! Jadi wanita kegate*lan! Nikah apa bagaimana sana, biar suamiku enggak ngarep terus ke kamu!” kesal Aisyah. Padahal ide pertemuan kali ini juga ide darinya yang sengaja mengetes Ilham. “Pokoknya, ... selama kamu belum menikah, aku pastikan hidup kamu enggak akan pernah tenang. Malahan makin lama kamu melajang, makin mantap juga aku membuat semua orang jij*ik ke kamu!”
“Kalian sama saja! Terlalu waras dan selalu menganggap diri kalian jauh lebih baik, kalian selalu menganggap diri kalian paling tahu bahkan suci!” kesal Arimbi. “Satu hal yang harus kamu tahu yah, Mbak Aisyah si Wanita Suci, Mbak enggak usah atur-atur hidup saya! Urus saja urusan Mbak, enggak usah senggol-senggol lagi! Tentunya Mbak juga harus ingat! Sekali lagi Mbak berulah ke saya, ... saya beneran enggak segan melaporkan Mbak ke polisi!”
Kemudian Arimbi mengalihkan fokus perhatiannya kepada Ilham yang memakai koko lengan panjang warna milo. “Jadi laki-laki belajar tanggung jawab atau seenggaknya tahu malu, kenapa?!”
“Mbak Aisyah ... Mbak Aisyah akan menjadi orang pertama yang kami undang jika saya dan Arimbi sudah selesai menyiapkan persiapan pernikahan kami!” tegas mas Aidan. “Maaf bukan bermaksud pamer. Namun saya harus mengatakannya agar Mbak Aisyah tidak terus-menerus mengancam Mbak Arimbi.”
Apa yang Mas Aidan sampaikan sukses membuat semua yang ada di sana tercengang, walau Arimbi memutuskan untuk diam kemudian menunduk dalam.
“Jangan lupa, jika sesuatu sampai menimpa Mbak Arimbi, Mbak Aisyah juga masih akan menjadi orang pertama yang saya cari!” tegas mas Aidan lagi yang kemudian menyuruh Aisyah dan Ilham pergi dari sana.
“Jangan bikin keributan lagi. Biarkan Mbak Arimbi sekeluarga hidup tenang tanpa kerusuhan yang kalian buat lagi!” lanjut mas Aidan sampai melangkah, membuka lebar-lebar pintu kayu yang bagian bawahnya sudah disera*ng rayap.
Sambil terus menangis meraung-raung karena sulit menerima ada orang berada yang mau menikahi putrinya, ibu Warisem menggunakan ujung kebaya lusuh model kunonya, untuk menyeka setiap air mata yang berlinang.
***
Malamnya, kedatangan pak Kalandra dan ibu Arum yang menjenguk pak Angga, memang sengaja mas Aidan undang.
Pak Kalandra dan ibu Arum menatap heran pak Angga yang malah terlihat sangat semringah layaknya orang sehat pada kebanyakan. Malahan, mas Aidan yang mirip orang sakit. Selain pucat, wajah mas Aidan juga berkeringat.
__ADS_1
“Sakit, Mas?” tanya pak Kalandra walau yang memeluk mas Aidan ibu Arum. Ibu Arum mendekap kepala dan juga punggung sang putra penuh sayang. Terhitung sudah dua hari tiga malam mereka tak bertemu lantaran mas Aidan fokus menjaga sang ayah.
“Siap-siap mantu lagi, Papahnya Mas Aidan!” ucap pak Angga bersemangat.
Pak Kalandra sudah langsung kebingungan, walau ia juga sudah langsung berpikir ke sana. Pernikahan salah satu anaknya akan segera tiba dan bisa jadi, itu memang mas Aidan mengingat yang di sana memang mas Aidan.
“Bagaimana? Sama orang mana?” lirih Kalandra tak kalah semringah. Ia sampai tersipu duduk di kursi seberang sang istri duduk.
Semuanya kompak tersipu memandangi mas Aidan yang memilih berdiri karena kursi bekasnya duduk, mas Aidan berikan kepada ibu Arum.
Pak Angga langsung berdeham, masih sibuk membagikan senyum bahagianya. “Kenal mbak Arimbi, kan?”
Mendengar nama Arimbi disebut, pak Kalandra dan ibu Arum kompak tersenyum garing sambil sesekali saling lirik. Tentu mereka kenal karena itu nama wanita yang ditaksir Azzam.
“Kemarin aku melamarnya untuk Mas ... Aidan!” Tersipu malu pak Angga melirik Aidan yang ia pergoki langsung berdeham, selain pipi putranya itu yang menjadi merah.
Ibu Arum dan pak Kalandra bingung. Mereka memang bahagia bahkan sangat bahagia karena pada akhirnya, mas Aidan mau menikah. Namun di lain sisi, ada Azzam yang sejak awal sudah terang-terangan menyukai Arimbi.
“Duh, ini bagaimana, ya?” batin ibu Arum mendadak pusing. Sembari menunduk, refleks menggaruk asal kepalanya yang tertutup jilbab dan memang mendadak terasa gatal.
“Jadi, kapan mau lamaran resminya?” tanya Kalandra yang menyikapi keadaan dengan jauh lebih santai. Ia melangkah santai mendekati Aidan kemudian mendekapnya erat.
__ADS_1
“Kenapa Arum kelihatan enggak bahagia? Dia enggak suka kalau mas Aidan sama mbak Arimbi, apa bagaimana?” batin pak Angga seiring senyum bahagia di wajahnya yang perlahan menjadi berkurang.
“Cepat nikah, ya! Makasih banyak buat kabar bahagianya!” ucap Kalandra sembari menepuk-nepuk punggung mas Aidan yang masih ia peluk erat.