
“Paman Lim terseret kasus pencu*cian uang hanya karena hubungan baik paman Lim dengan beberapa pejabat.” Mas Aidan bercerita sambil mengemudikan mobilnya.
Belum apa-apa, Arimbi sudah merasa ngeri. Namun jika melihat gaya hidup paman Lim sekeluarga yang memang serba mewah, Arimbi jadi tidak berani berkomentar. Paman Lim bahkan punya jet mirip helikopter dan Arimbi yakini berharga sangat mahal.
“Paman Lim mengakui beliau menerima aliran dana. Namun itu karena mereka menanam saham di usaha beliau,” ucap mas Aidan.
“Oh ... jadi, meski uangnya sudah jadi saham, jatuhnya tetap uang panas, yah, Mas?” balas Arimbi.
Mas Aidan langsung mengangguk-angguk. “Yang paling baru kan, setiap koru*ptor terancam mengalami perampa*san aset. Sementara perampa*san aset ini tidak hanya hasil dari kor*upsinya, tapi juga hartanya yang lain.”
Arimbi yang masih menyimak, berangsur mengangguk-angguk. “Oh, mungkin buat semacam ganti rugi, Mas.”
“Nah iya. Jadi, andai pejabat yang dekat dengan paman terbukti bersalah, saham di perusahaan paman juga otomatis raib. Secara, selama ini kan sepertinya alasan paman punya semuanya karena paman tipikal yang pinter memutar keuangan, selain paman yang pinter cari peluang,” balas mas Aidan.
“Andaipun nantinya Mas kalah, aku yakin dampaknya enggak akan selamanya karena tipikal paman Lim pasti akan langsung berusaha bangkit. Apalagi anak-anak paman kan, lurus-lurus semua kayak mas dan adik-adik,” ucap Arimbi dengan polosnya.
“Ya tetap doakan biar suami kamu menang dong Sayang!” lembut mas Aidan yang sebenarnya juga ingin tertawa lantaran sang istri sudah langsung pasrah.
“Kalau itu sih pasti Mas. Doa terbaikku selalu bersama Mas!” balas Arimbi.
Mas Aidan yang menjadi tersipu berangsur mengelus-elus punggung kepala istrinya yang terbungkus jilbab warna salmon.
“Kalau sudah begini jadi parno yah, Mas,” ujar Arimbi sambil menatap sang suami.
__ADS_1
“Kenapa?” Tanya mas Aidan yang tetap fokus mengemudi meski tangan kirinya masih menopang punggung kepala Arimbi.
“Ya parno saja kalau bangun usaha, tapi modalnya dari orang lain. Kita sudah bekerja keras tapi ternyata orang lain enggak bisa dipercaya,” ucap Arimbi yang kemudian mengawasi asal suasana sekitar.
Suasana di luar sudah mulai gelap, dan sebentar lagi, mereka akan mengambil waktu untuk salat maghrib berjamaah di masjid yang sudah ditentukan dan keberadaannya ada di sekitar Majenang Jawa Tengah.
“Yang namanya rezeki sudah ada takarannya dan enggak mungkin juga rezeki tertukar, Sayang,” ucap mas Aidan. “Andai pun kita harus kehilangan, pasti bakalan diganti dengan yang terbaik buat kita asal kita juga melakukan yang terbaik. Rezeki kan ibarat cerminan dari kerja keras kita, kan?”
“Namun menurutku, rezeki itu takdir Mas. Karena kalau mau gede-gedean hasil kerja keras yang enggak pernah mengkhianati usaha, dari semuanya harusnya rezeki tukang bangunan, kuli, dan sebagainya yang paling gede!” sergah Arimbi yakin seyakin-yakinnya.
“Jangan lupa dengan barokahnya. Andai kita lihat cop*et, bega*l dan sekelasnya yang bisa dengan mudah mendapatkan rezeki bahkan dalam jumlah banyak, tetap ada konsekwensinya. Enggak kena di pelaku sekarang, pasti akan tetap ada balasannya. Kalaupun enggak langsung kena ke pelaku, akan lebih menyakitkan lagi kalau yang merasakan dampaknya justru orang-orang yang disayangi!” balas mas Aidan.
Arimbi sudah langsung tidak bisa berkomentar. Namun ia langsung tersenyum tak berdosa ketika tatapan bingungnya bertemu dengan tatapan sang suami.
Sekitar pukul setengah satu pagi, mereka kembali mengambil waktu untuk beristirahat. Di kawasan rest area yang ada di Nagreg Jawa Barat, mereka juga sampai bertemu dengan rombongan keluarga pak Restu. Kenyataan yang juga membuat mereka bertemu Divani.
Sampai di titik tersebut, baik mas Aidan apalagi Arimbi yang menjadi pusat perhatian walau bukan perhatian mencolok, masih bersikap biasa. Terlebih meski mas Aidan sampai memakaikan jaketnya kepada Arimbi, mas Aidan yang juga selalu menggandeng, merangkul, sekaligus memperlakukan Arimbi dengan sangat lembut, semua itu merupakan hal wajar. Hal yang sudah selumrahnya seorang suami lakukan kepada istrinya.
“Kamu merasa enggak enak?” tanya mas Aidan ketika akhirnya mereka masuk mobil.
“Iya,” balas Arimbi yang sudah duduk di sebelah mas Aidan. Ia mengangguk-angguk kemudian menatap mas Aidan. “Lebih enggak enak dari ketika aku lepas dari mas Ilham. Pas itu ibaratnya kan satu desa tahu. Aku masih bisa cuek. Nah ini, gimana, ya? Mungkin efek sudah seperti keluarga, dan semuanya dari orang berada.”
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Aku tahu apa yang kamu rasakan. Namun satu hal yang enggak boleh lupa kita lakukan. Bersyukur. Kita beneran wajib bersyukur karena alasan mereka begitu ke kita, memang karena mereka merasa kurang beruntung. Karena mereka enggak bisa jadi kita!”
__ADS_1
Arimbi mengangguk-angguk. “Iya, Mas. Alhamdullilah. Rasanya sebahagia, damai begini.”
“Ya sudah, sekarang kamu tidur lagi,” balas mas Aidan tersenyum menatap Arimbi.
“Enggak apa-apa, Mas. Aku mau temenin Mas sampai tujuan. Bahaya kalau Mas sampai ngantuk,” balas Arimbi yakin dan sudah langsung membuat mas Aidan tersipu.
Seperti sebelumnya, mas Aidan mengemudi tepat di belakang mobil paman Lim. Sementara di belakang mereka ada mobil keluarga Tuan Maheza.
Perjalanan mereka benar-benar lancar. Mereka tak lagi beramai-ramai karena tujuan mas Aidan memang langsung ke rumah paman Lim. Hanya menyisakan mas Aidan dengan keluarga paman Lim lantaran Tuan Maheza sekeluarga juga sudah langsung pulang ke rumah pribadi.
“Rumahnya Masya Alloh banget yah, Mas. Sana sini marmer dan nuansanya jadi dingin rada horor gini. Lebih horor lagi selain sana sini serba mewah, sampai ada lift. Mal di dekat rumah Mas saja, lift-nya baru jadi! Pantas sampai punya jet rasa heli” ucap Arimbi berbisik-bisik kepada sang suami.
Mas Aidan yang sampai detik ini masih menggandeng Arimbi sambil menarik koper berukuran sedang milik mereka, menjadi sibuk menahan senyumnya. “Kamu mau yang begini?”
“Mau, tapi takut, Mas!” balas Arimbi masih berbisik-bisik. Terlebih, sang suami juga langsung mengimbangi, berbicara dengan berbisik-bisik juga.
“Takut kenapa?” balas mas Aidan terheran-heran.
Arimbi menatap sang suami dengan tawa yang ditahan tanpa bisa mengungkapkan balasannya.
Mas Aidan sudah langsung geleng-geleng menatap penuh arti Arimbi. Mereka membiarkan seorang ART mengantarkan mereka ke kamar yang akan menjadi tempat mereka beristirahat. Mereka menempati sebuah kamar tamu yang jika dibandingkan dengan kamar mas Aidan dan bagi Arimbi mewah, kamar tersebut berkali lipat lebih mewah.
Semuanya masih bernuansa Eropa menonjolkan warna emas, termasuk juga dengan furniturnya.
__ADS_1
“Ini sih mirip bulan madu di luar negeri ...,” lirih Arimbi dan sudah langsung membuat mas Aidan tertawa.