Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
128 : Perjuangkan Atau Sudahi


__ADS_3

Ketika yang lain sudah memiliki tujuan bahkan pasangan nyata, tidak dengan Akala. Akala masih bertahan di atas puing-puing hubungannya dan Cinta.


Malam yang sunyi ini, Akala yang menggunakan motor matic masih bertahan di atas motor sambil mengawasi kediaman Tuan Maheza dari kejauhan. Sekitar dua jam lalu, mobil orang tua Didi sudah pergi dari sana. Akala tahu itu, meski mengenai apa yang sebenarnya terjadi tak sampai ia ketahui.


Kesunyian malam yang dihiasi kidung jangkrik dan juga kodok bangkong khas daerah perkampungan, juga disempurnakan oleh nyamuk yang tak hentinya berdatangan. Wajah Akala sampai bentol-bentol karena pemuda itu membiarkan pipinya digigit nyamuk. Akala tak kuasa melukai makhluk lain bahkan itu nyamuk yang sudah menggigitnya.


Deru suara motor yang terdengar lembut khas motor matic, mendekat. Akala sudah langsung terusik lantaran di bulak jauh dari pemukiman dan kanan kiri merupakan hamparan sawah baru beres tanam, sampai ada orang lain. Akala pikir itu orang yang akan mengobor atau itu mencari ikan malam-malam berbekal penerang dan sudah menjadi kebiasaan warga setempat. Namun ternyata, itu Excel yang memilih lewat tanggul.


Padahal yang Akala tahu, tanggul kalau malam-malam tak hanya gelap, tapi juga seram sekaligus angker. Malahan menurut warga setempat dan itu masih bagian dari wilayah kabupaten Cilacap Jawa Tengah pelosok, konon juga ada penunggu berwujud buaya besar.


“M-mas ...?” Akala tidak bisa berkata-kata.


“Jangan begini, ayo pulang. Yang ada kamu bisa dikira maling.” Excel bertutur sangat lembut terlebih ia paham, sosok yang tengah ia hadapi juga berhati sangat lembut.


Pria berhati lembut yang sedang patah hati. “Andai kalian jujur dari awal, tapi itu pun enggak akan banyak merubah keadaan karena yang dia mau memang Cinta. Dia mencintai Cinta, hingga rela melakukan apa pun untuk mendapatkannya,” ucap Excel masih bertahan di atas motor matic warna pink-nya dan itu memang motor Azzura.


“M-mas bicara begitu, ... berarti Mas kenal sama calonnya Cinta?” ucap Akala penasaran.


Walau berat, Excel berangsur mengangguk. “Dia yang dulu dicelakaii Cikho. Kamu pasti kenal, ... mas Heri, mantannya mbak Azzura sebelum mbak Azzura dengan Cikho.”

__ADS_1


“Hah ...? Maksud Mas Excel mas Heri? Bukankah dia sudah meninggal dan yang calon Cinta ini, ... dia orang kaya karena alasan Cinta harus menikah dengannya saja karena pria itu sudah memberikan banyak dana untuk perusahaan orang tua Cinta. Ibaratnya, dia yang bikin perusahaan Tuan Maheza enggak jadi bangkrut, Mas,” jelas Akala.


Masih sangat tenang, Excel mengangguk dalam. “Ceritanya panjang, tapi mas jamin, mereka masih satu orang.”


“Houh ...?” Akala sampai tidak bisa berkata-kata. Sulit baginya untuk percaya, orang yang sudah diketahui meninggal, kini malah jadi orang yang banyak uang. Masalahnya, yang mengabarkan itu Excel. Dan Akala tidak mungkin meragukan Excel yang dari awal mereka mengenal, sudah sangat baik kepadanya bahkan keluarganya. Buktinya, Excel sampai menikah dengan Azzura.


“Yang perlu kamu tahu, bagaimanapun keadaan pria itu, dia tulus mencintai Cinta. Caranya memaksa Cinta, membuat Cinta menikah dengannya bukanlah hal yang dilarang. Setiap orang berhak memperjuangkan apa yang ia inginkan. Termasuk kamu dan Cinta. Hanya saja, kalian memilih untuk menyerah.”


“Jadi, setelah kalian memutuskan untuk menyerah, ... seharusnya kamu juga berhenti melakukan ini, Akala. Jangan melakukan ini secara terang-terangan karena sekarang Cinta merupakan calon istri orang. Namun andai kalian ingin maju memperjuangkan hubungan kalian, lakukan dengan cara baik-baik. Jangan bersembunyi-sembunyi apalagi sampai melakukan hubungan terlarang.”


“Kita enggak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti bahkan apa gang akan terjadi setelah ini. Sementara yang namanya manusia sudah terbiasa dengan obsesi dan mengesampingkan konsekuensi. Bayangkan jika kamu yang jadi tunangan Cinta, tunanganmu diam-diam punya hubungan dengan mantannya. Kalau begini caranya, yang ada kalian akan menyakiti banyak pihak, bukan hanya kalian.”


Alasan Excel ingin memastikan Akala mengambil keputusan tepat, tentu karena ia tahu seorang Helios tulus kepada Cinta. “Jadi, kalau kamu mau maju, ya sekarang juga. Dan kalau kamu enggak maju pun, lakukan dari sekarang juga. Sabar sekaligus terima, itu kunci utama jika kamu tetap tidak mau maju sambil percaya, jodoh enggak akan kemana. Namun jika nantinya mereka sudah bahagia atau setidaknya sampai menikah, kamu wajib berhenti dan carilah cinta lain karena kamu berhak bahagia tanpa terus-menerus menjadi bagian dari hubungan pasangan lain.”


“Mas tahu ini sangat menyakitkan buat kamu. Mas tahu ini sangat tidak mudah. Namun inilah yang namanya kehidupan. Kita harus menjadi yang terbaik dari semua yang terbaik karena yang terbaik saja belum tentu akan berakhir dengan kebahagiaan apalagi keberuntungan.”


“Perlu kamu ingat, tidak ada luka yang abadi. Luka ini hanya bentuk pelukan Alloh dalam bingkisan spesial agar kita jauh lebih bisa menghargai. Bisa jadi, luka ini juga bagian dari teguran Alloh karena sebelumnya kalian sudah diberi kesempatan lebar untuk menikah, kalian justru tetap ragu dan terlalu sibuk berpikir.”


“Akala, ... kamu paham maksud Mas, kan?” lanjut Excel menutupnya dengan sangat lembut. Terlebih di hadapannya, walau menjadi bungkam, Akala sampai tersedu-sedu.

__ADS_1


Akala berangsur mengawasi kediaman megah Tuan Maheza yang ada di antara sawah. Air matanya sibuk berjatuhan, dan hatinya terasa begitu pedih mengiringi rasa sesak yang juga membuatnya makin tak karuan.


Tanpa menyampaikan keputusannya apakah dirinya akan maju atau malah berhenti menunggu Cinta, Akala mengajak Excel pulang.


“Ayo Mas, pulang.”


“Lewat tanggul saja biar enggak dikira mal*ing. Ini mau dini hari, pasti warga langsung curiga kalau ada suara motor lewat apalagi yang aku tahu, di desa sekitar sini sedang rawan maling. Makanya Mas sengaja nyusul kamu karena kamu enggak pulang-pulang. Dan yang Mas khawatirkan beneran terbukti. Kamu beneran ada di sini,” balas Excel.


Dalam diamnya yang terbengong-bengong menatap Excel, Akala merasa sangat kagum. Tak menyangka Excel bisa sangat paham situasi termasuk kepadanya. Paling membuat Akala makin kagum kepada Excel, sejauh ini, suami dari Azzura itu begitu pandai menyimpan rahasia. Termasuk rahasia hubungannya dan Cinta, Excel benar-benar menjaganya.


“Akala, kamu dari mana saja, sih? Jam segini baru pulang. Satu jam lagi cocok buat sahur andai ini bulan ramadhan. Kamu enggak ketularan virus janda Ojan, kan? Yang selalu rusuh kalau ada janda?” Azzam yang sudah memakai piyama lengan panjang warna biru tua, menatap khawatir sang adik sambil bersedekap. Ia menunggu di ruang tamu bersama Azzura. “Mas Excel, itu tadi Akala ketemu di mana? Jadi was-was kalau gini caranya.”


Azzam benar-benar bawel dan memang bagian dari cara pria itu mengekspresikan kepeduliannya kepada sang adik. Lain dengan Azzura yang memilih berkode mata dengan sang suami, tanpa banyak berkomentar.


“Sudah, sudah. Ini sudah malam, kita tidur,” ujar Azzura.


“Ya sudah kita tidur. Tapi Akala, malam ini kamu tidur sama Mas. Mas mau kelo*nin kamu biar kamu enggak minggat apalagi ngilang enggak jelas kayak tadi!” bawel Azzam lagi buru-buru menggandeng masuk Akala yang tetap saja diam cenderung bengong.


Excel yang mengunci pintu, maupun Azzura yang menemani, jadi mesem-mesem setelah mendengar si Azzam akan mengel*oni Akala hanya karena Azzam terlalu takut Akala pergi malam bahkan sampai dini hari.

__ADS_1


__ADS_2