
“Mereka sudah tunangan, Mas. Barusan Mas juga dengar, kan, orang tua mbak Cinta bilang apa?” ucap ibu Arum lembut, berusaha merangkul hati bungsunya dan ia yakini sangat terluka. Akala sampai menangis, dan itu teramat menyakitinya.
Ibu Arum berangsur menghampiri Akala, mendekapnya, kemudian menuntunnya. Namun kali ini, tampaknya Akala membutuhkan waktu khusus untuk membuat hati dan kehidupannya mendapatkan ketenangan.
“Biarkan dia sendiri dulu seperti yang dia mau. Kalau lusa dia masih menyendiri, baru kita turun tangan lagi,” ucap pak Kalandra tenang. Walau alasan ia tenang layaknya sekarang, juga karena ia merasakan luka mendalam. Tak menyangka, membiarkan hubungannya dan Tuan Maheza renggang, justru menjadi alasan Akala merasakan luka paling dalam.
Kepergian Akala yang sebelumnya pamit akan ke kamar, bertepatan dengan kedatangan mas Aidan dan Arimbi. Keduanya yang sempat bertukar senyuman, langsung terdiam dingin menatap khawatir Akala yang tengah sibuk menyeka sekitar mata menggunakan kedua tangan.
Kemudian tatapan mas Aidan dan Arimbi terarah kepada pak Kalandra dan ibu Arimbi yang baru saja ditinggalkan Akala.
“Dia wanita pertama, bahkan mungkin satu-satunya wanita yang tidak pernah memandang fisikku, Mbak. Memang salahku, kenapa aku enggak jujur ke orang tua kami dari awal.” Akala menunduk dalam. Ia kembali berlinang air mata sambil mengurai cerita kepada Arimbi.
Arimbi memang sengaja datang, sengaja mengajak Akala bicara. Ia terlalu khawatir, tak mau Akala yang pendiam justru menyakiti dirinya sendiri gara-gara kandasnya hubungan calon adik iparnya itu dengan sang kekasih. Kejadian fatal yang kerap terjadi tanpa memandang latar belakang seseorang, jika mereka sedang berada di titik nadir.
“Gini loh, Mas. ... dijalani saja. Yang namanya jodoh kan enggak akan ke mana. Yang penting Mas sudah melakukan yang terbaik. Sambil dilihat saja nanti ke depannya,” yakin Arimbi penuh perhatian. “Mas siap menunggu?” lanjutnya lantaran Akala hanya diam. Namun kali ini, tampaknya pertanyaan yang ia lontarkan langsung mengusik Akala.
Akala berangsur membalas sekaligus menatap Arimbi, menatapnya penuh keseriusan karena tampaknya, wanita muda yang usianya sebaya dengannya, akan memberikan wejangan penting sekaligus sangat bermanfaat untuknya.
“Kalau Mas mau nunggu, ditunggu saja. Namun selama itu juga, Mas harus lihat. Karena jika pria itu bisa lebih membuat mbak Cinta bahagia, Mas Akala harus ikhlas. Dan andai pun pria itu belum bisa membahagiakan mbak Cinta lebih dari Mas, ... balik lagi ke Mbak Cinta yang menjalani. Mau enggak, mbak Cinta terus begitu? Atau, mau enggak, mbak Cinta berkomitmen lagi dengan Mas?” ucap Arimbi hati-hati memberikan perhatian sekaligus dukungannya. Ia meraih tangan kanan Akala, kemudian menggenggamnya menggunakan kedua tangan.
“Makasih banyak, Mbak!” lirih Akala merasa sangat terharu. Air matanya kembali berlinang karena perhatian yang Arimbi berikan.
__ADS_1
Mas Aidan yang diam-diam menunggu di depan pintu juga berangsur masuk. Pria itu memberikan dukungannya, meyakinkan Akala, mendukung setiap saran yang Arimbi berikan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, keduanya memilih meninggalkan Akala sendiri, di kamar. Mas Aidan lah yang menutup pintu kamar sang adik dengan hati-hati. Walau sudah melangkah pergi meninggalkan kamar Akala, mereka masih kerap memperhatikannya.
Malam ini, Azzura dan Excel bermalam di rumah Excel yang ditempati oleh ibu Mira dan Elena. Membuat suasana rumah Sepi terlebih Azzam juga belum pulang.
“Ayo,” ajak mas Aidan.
“Eh, enggak. Di sini saja lah, Mas!” yakin Arimbi yang juga menjadi panik lantaran mas Aidan mengajaknya masuk ke kamar pria itu.
“Kenapa?” lirih mas Aidan heran.
“Enggak lah, Mas.” Arimbi menuntun mas Aidan yang memang sudah menggandengnya untuk istirahat di sofa ruang keluarga yang ada di seberang mereka.
“Mas, yang namanya Cinta itu adiknya mas Cikho, ya?” tanya Arimbi lirih, sengaja menjaga suaranya takut Akala mendengar.
“Iya. Usianya nyaris sebaya aku karena kami hanya berbeda usia beberapa bulan. Aku enam bulan lebih tua dari dia kayaknya,” ucap mas Aidan yang perlahan terpejam.
“Wah, berarti Cinta lebih dewasa dari mas Akala ya? Ini yang namanya cinta enggak memandang perbedaan usia!” lirih Arimbi antusias. “Terus, dia mau nikah sama siapa? Beneran, Cinta menikah karena bisnis? Karena calonnya itu sudah bantu keuangan perusahaan orang tuanya Cinta yang sempat bangkrut gara-gara mas Cikho?” tanya Arimbi berbisik-bisik tepat di atas wajah mas Aidan. Baru saja, pria itu membuka kedu matanya.
“Memangnya aku mau dikasih apa, kalau aku cerita semuanya ke Mbak?” tanya Mas Aidan sungguh-sungguh dan kemudian berkata, “Ini aku serius ngomong begini. Memangnya aku mau dikasih hadiah apa kalau aku jujur cerita semuanya?”
__ADS_1
Selain bingung, Arimbi juga sudah langsung tersipu. “Mas maunya apa?” tanyanya dan ia mendapati mas Aidan yang langsung tersenyum ceria, seolah pria itu memang sudah memiliki keinginan khusus.
“Malam ini, nginep, ya?” sergah mas Aidan lirih dan sangat bersemangat. Ia berangsur duduk, tapi kenyataan tersebut malah membuat Arimbi takut.
“Mas, kita belum nikah, loh! Tahan, tiga hari lagi baru sah!” ucap Arimbi sengaja mengingatkan. Di hadapannya, mas Aidan langsung tersenyum pasrah. “Nanti aku tanya ke mas Azzam saja. Dia kan gudangnya gosip. Aku belum mau tanya-tanya ke Mas, takutnya bertarif yang harus dibayar dengan label halal!” ucapnya yang kemudian menahan tawanya.
Mas Aidan juga menjadi menahan tawanya, tapi ia memilih memeluk Arimbi sangat erat, walau calon istrinya itu terus berusaha menghindarinya.
“Ada yang kita lupakan sebelum kita menikah? Atau, ... ada yang ingin kamu lakukan sebelum kamu menikah?” tanya mas Aidan tetap memeluk Arimbi yang perlahan menjadi bisa lebih tenang.
“Apa, ya?” pikir Arimbi. “Mulai besok saja aku sudah harus menjalani sederet perawatan. Dan mulai hari besok juga kita dipingit loh, Mas. Paling ketemu pas acara mbesan, sebentar, terus paling baru ketemu lagi pas ijab kabul.”
“Kedengarannya singkat, tapi kalau dijalani pasti ngaret, lama banget!”ucap mas Aidan berkeluh kesah sambil tetap memeluk Arimbi.
“Benar, tapi setelah itu, kita kan bebas. Mau ngapain, mau berduaan sampai kapan pun ... sebebas itu!” yakin Arimbi.
“Sepi banget, padahal hanya ditinggal penghuninya sebentar, ya. Enggak kebayang gimana rasanya jadi orang tua, yang awalnya rumah rame, terus satu persatu dari anak menikah, otomatis meninggalkan orang tua.” Arimbi memberanikan diri untuk mengelus kepala mas Aidan, kemudian menuntun pria itu untuk kembali tidur di pangkuannya. Karena posisi seperti itu akan jauh lebih nyaman dilihat daripada melihat mereka sedang berpelukan layaknya sekarang, padahal mereka belum menikah.
“Itu yang sedang aku pikirkan, Yang. Aku ingin, setelah menikah kita tetap sesekali tinggal di rumah orang tua. Penginnya, kita punya rumah sendiri, tapi Ayah Angga minta kita tinggal di rumahnya saja,” ucap mas Aidan.
“Ayah bilang, rumah itu memang sengaja dibangun sedemikian rupa buat aku. Nah, nanti di depannya jadi warung ... bukan warung sih, rumah makan kayaknya yah. Soalnya kan ukurannya gede. Besok pagi kita masih ada waktu buat cek, kan, sebelum kamu dipingit? Enggak usah pingit-pingitan lah, ya. Kalaupun aku lihat proses perawatan yang kamu jalani, apa salahnya?” ucap mas Aidan yang langsung tertawa pasrah. “Belum juga dijalani, sudah seberat ini.”
__ADS_1
“Padahal alasanku dipingit pun, aku bakalan sibuk menjalani perawatan, dan itu hasilnya masih buat Mas. Aku beneran enggak pergi-pergi apalagi ngelayab enggak jelas!” balas Arimbi merasa tak habis pikir dengan mas Aidan yang benar-benar tidak mau jauh lama-lama darinya.