Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
126 : Kebohongan Dan Kejahatan yang Hanya merugikan


__ADS_3

“Jujur, aku enggak bisa maafin kamu, Di!” ucap Chole lirih sekaligus berat. “Sampai kapan pun!” Chole menatap berat Divani yang sampai detik ini masih menunduk dalam, selain Divani yang memang tak kunjung meminta maaf.


“Namun aku mau, kamu jujur sekaligus mengaku kepada mas Aidan. Dan kamu enggak berhak memaksa aku buat maafin kamu!” tegas Chole lagi.


“Meski mas Aidan sudah menikah, mas Aidan dan keluarganya wajib tahu siapa kamu!” Kedua tangan Chole mengepal sangat kencang di sisi tubuh, di tengah tubuhnya yang menjadi gemetaran akibat emosi yang susah payah ditahan.


Chole menjadi sangat emosional. Gadis periang itu kesulitan menguasai dirinya sendiri. “Aku rasa semuanya sudah cukup jelas. Terserah kalian mau menganggapku naif atau malah kurang aj*ar. Aku berhak, terlebih empat tahun bukan waktu yang sebentar. Sementara sampai sekarang, Divani tetap enggak punya hati. Beneran enggak ada tanda-tanda dia mau minta maaf!”


“Padahal aku berharap, kamu menyesal. Ngeri! Jahat kamu, Di!” Chole membiarkan air matanya berlinang. Ia menatap Divani dengan penuh rasa kecewa, sebelum akhirnya ia memilih pergi dari sana.


Chole tahu, keputusannya pergi tidak akan menyelesaikan masalah. Namun Chole juga tidak mau menangis sekaligus bersedih di hadapan semuanya, terlebih kedua orang tuanya.


Semuanya terlebih ibu Arnita menatap khawatir kepergian Chole. Ibu Arnita sudah sempat maju dan bermaksud menyusul, tapi Cinta dan ibu Aleya sudah terlebih dulu melakukannya.


Ulah Divani tak hanya membuat pak Restu tak enak hati. Karena pak Restu juga merasa sangat malu kepada keluarga Tuan Maheza.


“Hez, sudah aku pasrah saja. Biar Didi di sini. Mau kamu suruh-suruh, apa bagaimana, terserah!” pak Restu yakin dengan keputusannya. Daripada meninggalkan apalagi membuang Divani di jalanan, ia jauh lebih memilih menyerahkan Divani ke Tuan Maheza.


“P-pah!” rengek Divani menolak usul sang papah.


“Kamu itu keterlaluan, kamu enggak pernah mau belajar!” tegas pak Restu lirih sekaligus marah.


“Kamu jangan gitu dong Di. Jahat banget kamu!” lirih ibu Arnita yang jujur saja merasa sangat terpukul. Tak menyangka, putri yang selalu ia perlakukan penuh cinta, malah sangat mirip dengan mendiang Azelia. “Minta maaf!”


Divani merasa makin tersudut. Ia menggeleng, membuat butiran bening berjatuhan nyaris bersamaan dari kedua sudut matanya.


“Kalau kamu tetap begini, berarti kamu tega ke Mamah Papah!” lanjut ibu Arnita yang segera berkata, “MINTA MAAF SEKARANG, KALAU KAMU MASIH MAU DIANGGAP ANAK!”

__ADS_1


Devano yang memilih diam, melirik sinis Divani sambil bersedekap.


“Mamah enggak merasa rugi buang orang bahkan anak kalau anaknya seperti kamu!” lanjut ibu Arnita yang memang masih berdiri.


“Kalau kamu masih mau tinggal sama Mamah, berarti kamu wajib mengikuti peraturan Mamah!”


“Dalam hitungan ke tiga kamu tetap belum minta maaf, Mamah beneran akan buang kamu!”


“Mamah beneran enggak mau lihat kamu lagi!”


“Iya, Mah, iya ... maaf!” Divani menangis meraung-raung sambil berlutut kemudian mendekap kedua kaki ibu Arnita.


Pemandangan yang sangat tidak mengenakan, tapi Divani juga yang memulai. Membuat para orang tua merasa serba salah, merasa tak enak hati karena biar bagaimanapun mereka sudah seperti keluarga. Mereka sudah menganggap anak-anak satu sama lain, sebagai anak mereka juga. Mereka sungguh tidak menyangka, kejadian semacam kini sampai terjadi. Membuat hubungan mereka diuji, mereka tak kuasa untuk kembali saling melindungi. Mereka seolah dipaksa menelan buah simalakama tanpa bisa memihak siapa pun.


“Didi, kamu harus minta maaf. Lihat Mamah Papah kamu, kamu enggak kasihan ke mereka? Mamah Papah kamu orang yang sangat baik. Kami semua pun sayang banget kamu!” ucap Tuan Maheza benar-benar sabar. “Kamu harus belajar dari kesalahanmu. Memangnya kasus Cikho enggak bisa bikin kamu buat belajar?”


“Kami semua berduka gara-gara Cikho. Memangnya kamu rela membuat orang tua kamu merasakan apa yang Om dan Tante rasakan?” lanjut Tuan Maheza.


“Kalaupun ada bahagianya, paling hanya di awal. Sisanya pasti kamu justru sibuk menciptakan kebohongan sekaligus kejahatan lain guna menutupi kebohongan sekaligus kejahatan yang sudah ada.” Chalvin masih meluapkan kemarahannya. Tak terima rasanya karena selama empat tahun terakhir, hidup adik kesayangannya diwarnai mimpi buru*k gara-gara ulah Divani.


Divani yang masih bersimpuh sambil mendekap kedua kaki ibu Arnita berangsur mengangguk-angguk. “Iya ... maaf.”


Kendati demikian, kata maaf Divani tetap tidak mampu membuat kebencian Chalvin kepada gadis modis itu berkurang. Mungkin hanya waktu yang mampu menjawab sekaligus mengobati kekecewaan Chalvin kepada gadis di hadapannya.


Sementara itu di tempat berbeda, yang sedang berbulan madu masih diselimuti banyak hal bahagia. Mas Aidan dan Arimbi bersama ibu Arum dan pak Kalandra, tengah makan seafood di salah satu restoran dekat hotel mereka menginap.


“Bismilah, semoga rasanya enggak asal jadi dan kadang malah enggak matang,” ucap mas Aidan dan sudah langsung mencuri perhatian.

__ADS_1


Selain ketiga orang di sana langsung menatap mas Aidan, ketiganya juga kompak tertawa.


“Hafal banget karena pengalaman yah, Mas?” ucap ibu Arum.


Mas Aidan menatap sang mamah yang duduk di hadapannya sambil mengangguk-angguk. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh meja kayu berbentuk persegi tidak begitu luas.


“Kadang aku mikir, mereka beneran ingin dapat pelanggan setia enggak sih? Kok masaknya asal-asalan? Yang namanya jualan makanan apalagi sekelas restoran yang cakupannya lebih luas, harusnya mengutamakan rasa sama penampilan masakan.”


“Lihat rumah makan kita, ... pecelnya Mbak Mbi. Atau malah makanan di pinggiran termasuk yang di sekitar sini, ... kita bikinnya dengan rasa sekaligus penampilan terbaik!” Mas Aidan masih bicara.


“Mungkin mereka berpikir, efek mereka jadi satu-satunya yang jualan di sini dan otomatis juga jadi satu-satu tujuan pembeli?” tebak Arimbi.


“Bisa jadi sih. Soalnya kalau restoran memang hanya ini. Dari zaman mas Aidan masih bayi sampai sekarang, ... Mas Aidan mau punya bayi!” Ibu Arum mengakhiri ucapannya dengan tawa disusul juga oleh pak Kalandra


Lain dengan mas Aidan dan Arimbi yang sudah langsung salah tingkah, tapi perlahan tersipu. Mas Aidan yang walau menunduk layaknya Arimbi, sudah langsung merangkul punggung Arimbi kemudian mengelusnya cukup lama.


“Serius sih. Dari Mas Aidan kecil, restoran ini jadi satu-satunya restoran seafood. Sisanya memang hanya di pinggiran jalan. Ada pun mirip rumah makan paling banter jual mi ayam sama bakso,” tanggap ibu Arum.


“Mau buka cabang di sini? Nanti Mbak Mbi sama Mamah yang jaga!” ucap pak Kalandra bersemangat, tapi justru membuat ketiga orang di sana diam.


“Oke!” ucap mas Aidan yang kemudian tersenyum sambil mengabsen wajah-wajah di sana.


Senyum bahagia merekah di bibir Arimbi maupun ibu Arum. Tanpa direncanakan, keduanya refleks saling lirik kemudian berbagi senyum kepada suami masing-masing, dan memang ada di sebelah mereka.


“Oke!” ucap ibu Arum tak kalah bersemangat. “Oke, kan, Mbak?” tagih ibu Arum lantaran menantunya masih diam.


Arimbi mengangguk-angguk tanpa bisa menyudahi senyumnya. “Oke dong, Mah!”

__ADS_1


“Oke! Nanti jualan seafood sama pecel dan segala rupa pokoknya!” ibu Arum makin bersemangat.


Pak Kalandra dan mas Aidan sudah langsung tersenyum lepas. Keduanya merasa sangat bahagia lantaran mereka selalu bisa kompak dalam segala hal, termasuk itu dalam urusan usaha sekaligus bisnis. Dengan Excel suami Azzura, mereka kompak. Dan sekarang dengan Arimbi istri mas Aidan, mereka lebih kompak lagi. Mereka dan Arimbi sama-sama tumbuh di dunia kuliner.


__ADS_2