
Kebahagiaan juga sudah langsung terlihat menggebu-gebu dari pak Angga, ketika paginya, mas Aidan memboyong Arimbi dan ibu Warisem datang ke rumah.
“Mbak Mbi jadi putih banget loh. Tiga minggu di Jakarta apa ya? Dari kemarin Ayah pikir efek kamera, eh asli!” Tawa pak Angga pecah dan ia sadar, ucapannya barusan sudah langsung membuat Arimbi tersipu malu.
Mas Aidan memberikan satu dus besar kepada pak Angga dan langsung diterima oleh yang bersangkutan.
“Buka sekarang juga karena itu hadiah khusus dari kami buat Ayah!” ucap mas Aidan semringah. Tentu, ia menjadi sangat bahagia. Makin semangat dalam segala sesuatunya, tak sabar untuk jadi seorang ayah.
Pak Angga yang awalnya terkejut juga menjadi tersenyum semringah. “Ya sudah, ayo kita masuk!” Karena mereka memang masih di teras rumah sebelah warung pecel dan pak Angga buatkan khusus untuk Arimbi.
Pak Angga sama sekali tidak curiga akan mendapat kejutan luar biasa dan keberadaannya di dalam dus yang ia terima. Hingga ketika ia berhasil membuka dus tersebut, ia langsung tak bisa berkata-kata. Jantungnya berdetak kacau, dan ia pun gemetaran hebat. Seperti ia sendiri yang menerima kabar dari sang istri bahwa sebentar lagi akan ada anggota baru dalam kebersamaan mereka.
“Ini beneran? Mbak Arimbi, ... Mbak Mbi beneran langsung isi?” Pak Angga menangis, tangis bahagia.
Arimbi yang duduk di sebelah sang suami, langsung tersenyum hangat.
“Selamat karena Ayah bakalan jadi mbah!” ucap mas Aidan yang jujur saja terharu.
“Asli, Ayah enggak sabar! Ayah ... beneran sudah pengin gendong cucu!” Terlalu bahagia sampai membuat pak Angga bingung harus berkata apa. Ia berangsur melangkah, langkah yang juga masih ia lakukan dengan ragu karena terlalu bingung. Namun layaknya ibu Arum, pak Angga sengaja memeluk Arimbi dan mas Aidan secara bersamaan.
Pak Angga agak jongkok hanya untuk memeluk anak dan menantunya. Berderai air mata ia mengucapkan selamat sekaligus terima kasih.
“Berarti Ayah harus mulai siapin kamar buat anak-anak, ya?” ucap pak Angga semringah. Ia mengakhiri pelukannya, menatap wajah mas Aidan dan Arimbi, silih berganti. Namun, ia mendadak kesulitan berdiri tegap efek encok yang dua minggu terakhir ia idap.
“Ah Ayah gimana sih, enggak jaga kesehatan. Ini targetnya kami mau kasih empat cucu buat Ayah. Eh, satu saja juga belum sudah begini!” ucap mas Aidan yang walau sudah langsung membantu pak Angga, tapi juga tidak bisa untuk tidak tertawa.
Arimbi yang sudah menjadi berkaca-kaca, juga kerap melirik sang ibu. Melalui senyum yang nyaris tak pernah putus, ia membagi kebahagiaannya kepada ibu Warisem. Kebahagiaan yang lagi-lagi terasa sangat sempurna untuk mereka, meski jelas di sana tidak ada pesta terlebih barang mewah lainnya.
Di dus yang mas Aidan dan Arimbi berikan kepada pak Angga memang tak hanya berisi test pack yang dibungkus plastik transparan. Karena di sana juga ada seperangkat lengkap alat salat untuk pak Angga, juga satu setel pakaian lengan panjang batik. Pak Angga sangat bahagia menerima semua itu. Lebih bahagianya lagi, setelah akan diberi cucu, sang menantu juga sudah bersiap ke dapur. Arimbi akan masak dan sudah dipastikan pak Angga akan makan enak.
__ADS_1
“Jangan capek-capek, Mbak!” seru pak Angga memberikan perhatiannya. Ia sengaja berseru karena Arimbi sudah masuk ke rumah bagian dalam.
“Ya sudah, Ayah. Aku bantu Mbak Mbi dulu yah, Yah. Sebelum sibuk di warung.” Mas Aidan sengaja pamit, termasuk juga kepada ibu Warisem. Saat belum berbadan dua saja ia tidak mau istrinya kelelahan, apalagi sekarang.
“Ya sudah, iya sana bantu istri Mas. Ayah juga mau simpan ini, habis itu mau jemur sambil jalan kaki biar enggak rematik, encok juga. Oh, nanti kita bareng ya, Bu Warisem. Kita jemur di depan biar sehat. Targetnya kita dijatah empat cucu. Kita beneran wajib sehat, Bu!” ucap pak Angga amat sangat bersemangat. Mas Aidan yang ada di sana sampai menahan tawanya.
Sorenya, Sepri datang bersama pak Haji Ojan. Keduanya datang berboncengan menggunakan motor layaknya Azzam dan Sundari. Berbeda dari biasanya, pak Haji Ojan tak lagi memakai seragam pink. Pria itu memakai lengan panjang warna hitam. Namun baru juga turun dari boncengan, mas Aidan dan Arimbi yang sudah langsung menyambut keluar dari warung, juga langsung terkejut.
Cit, cit, cit, dari kaki pak Haji Ojan penyebabnya. Sebab sampai sekarang, pak Haji Ojan masih memakai sandal kelinci warna pink yang juga sampai bunyi.
Mas Aidan dan Arimbi kompak menahan tawa mereka, menertawakan pak Haji Ojan.
“Kenapa, Mas? Mbak? Atasnya sudah maco, tapi bawahnya masih lemes, ya?” ucap Azzam paling bisa kalau menghina.
Mas Aidan mengangguk-angguk.
Suasana warung pecel sudah sepi karena pecel saja sudah habis dari sekitar pukul setengah lima.
“Duh jam segini sudah habis? Ibu Septi pesan pecel ini gimana mamah mertua? Berarti aku wajib gaspol ke rumah makan kita?” ucap Azzam ketar-ketir terlebih mengangkut camer alias calon mertua.
“Lagi masak lagi di belakang. Ini saja kita baru beres racik bumbunya. Sudah ada beberapa pesanan juga kan,” jelas mas Aidan yang menuntun sang istri duduk di kursi kayu yang ada di sana.
Warung pecel mereka memang terbilang luas. Ada dua macam meja di sana. Meja bundar yang bisa menampung enam pembeli. Juga meja panjang yang bisa menampung lebih banyak lagi. Semua meja dan kursi berbahan kayu. Meja bundar ada tiga, meja panjang ada dua. Warung pecel di sana terbilang luas dan menerima pesan antar.
“Mbak Mbi, selamat yah. Katanya sudah hamil! Ini, aku kasih cokelat!” ucap Sundari bersemangat. Ia memberikan satu karton sedang dan isinya memang aneka cokelat yang bisa memberi efek tenang sekaligus bahagia untuk penikmatnya. Bagus juga untuk wanita hamil.
“Ya ampun Ri, ini makasih banget. Manis banget sebanyak ini,” bahagia Arimbi. Ia sengaja bangun kemudian memeluk Sundari.
Pak Haji Ojan yang baru saja duduk di sebelah Sepri, berangsur berdiri. Ia menatap bingung sekaligus tak percaya Arimbi yang masih memeluk Sundari.
__ADS_1
“Mbak Arimbi hamil ...? Ih, aku juga mau dong!” ucap pak Haji Ojan merintih sedih.
Sepri dan Azzam sudah langsung kebingungan.
“Zam, Zam, ... hamili aku dong!” rengek pak Haji Ojan.
“Suee emang si Ojan! Cita-cita baru ini. Pengin hamil dan dihamili. SUEEEEEE!” kesal Azzam.
“Aku siap, Zam. Lahir batin. Ri, nanti aku dikasih cokelat juga ya, kalau aku sudah hamil!” pak Haji Ojan bersemangat bersama kelembutan sikap yang membuatnya agak feminin.
“Suueee! Pri, itu dirukiah apa gimana, aku pikir sudah waras, eh malah bablas ‘belok’!” kesal Azzam.
“Aku kakaknya Ndari, Zam!” ujar Sepri mengingatkan.
“Oh iya ... calon kakak ipar, yah? Kita salaman dulu, salaman dulu.” Azzam buru-buru berdiri, langsung sungkem kepada Sepri, tapi malah ia yang membuat calon kakaknya itu yang menci*um punggung tangan kanannya.
“Kebalik, ih!” semprot Sepri tapi Azzam hanya tertawa.
Mas Aidan hanya bisa geleng-geleng. Sebagai sosok yang dituakan walau pak Haji Ojan jauh lebih tua darinya, jujur ia pusing menghadapi orang-orang di sana. Pak Haji Ojan yang punya cita-cita baru yaitu pengin hamil san dihamili. Sepri dan Azzam yang benar-benar berisik.
“Tapi ini yang aku suka, sih. Ini yang aku kangenin. Apalagi tanpa mereka, hidup aku memang kurang berwarna,” batin mas Aidan. Arimbi akan mencoba cokelat pemberian Sundari dan ia segera membantu membuka bungkusnya.
“Tuh, Zam. Kamu harus perhatian gitu. Kayak Mas Aidan ke Mbak Mbi!” ucap pak Haji Ojan.
“Eh, kita bukan suami istri!” tegas Azzam langsung sebal kepada pak Haji Ojan.
“Makanya, hamili aku!” mohon pak Haji Ojan.
Arimbi sampai ragu memakan cokelatnya. Takut keselek karena dari tadi saja, mereka sibuk tertawa.
__ADS_1