
“Kenapa, Mas Azzam?” Pak Kalandra menatap serius sang putra. Di hadapannya, Azzam sampai menaruh sendoknya, memasang tanggapan yang menegaskan bahwa putranya itu merasa sangat tidak nyaman.
Untuk ke sekian kalinya, Azzam menghela napas kasar. “Bagaimana bisa mas Aidan malah lamaran sama mbak Arimbi, sementara mas Aidan saja belum bisa berdamai dengan masa lalunya? Mas Aidan masih sangat mencintai Didi!”
“Kamu jangan hanya melihat dari satu sisi karena sebuah uang logam saja memiliki dua sisi, Dek. Apa yang kamu katakan memang enggak sepenuhnya salah, tapi pada kenyataannya kita memang harus memulai hal baru untuk menciptakan dunia baru. Layaknya mas Aidan, aku yakin mas Aidan sudah memikirkan ini matang-matang.” Azzura sengaja menengahi. “Apalagi kita sama-sama tahu, kasus mbak Arimbi bagaimana. Mbak Arimbi orang yang sangat baik. Dia juga pemberani, gigi, teladan banget karena dia berjuang demi mamaknya yang sampai sudah menjalani amputasi. Mamah pun mengakui itu.”
“Bisa jadi memang ada hal lain yang membuat mas Aidan menikahi mbak Arimbi. Kemarin malam aku sempat WA-an sama mas Aidan. Beliau bilang, alasan ayah Angga sakit karena ayah Angga terlalu stres memikirkan mas Aidan yang ayah Angga takutkan jauh dari jodoh. Yang mana keadaan itu juga ayah Angga khawatirkan karena mas Aidan harus menanggung karma ayah Angga di masa lalu. Kalian pasti terkejut mendengar ini, kan?” lanjut Azzura. “Ini baru salah satu alasannya, termasuk kita juga bagian dari alasannya. Termasuk masalah mbak Arimbi pun, juga bagian dari mas Aidan mantap maju buat menikahinya. Karena memang hanya dengan begitu, mas Aidan bisa melindungi mbak Arimbi dengan leluasa.”
“Kalau aku amati, hubungan mereka sudah sangat dekat dan mereka sangat saling pengertian. Karena kalau aku lihat juga, si mbak Arimbi tipikal yang sangat dewasa dan sabarnya juga luar biasa. Bahkan alasan mbak Didi memutuskan mas Aidan karena saat itu, mas Aidan memperjuangkan hak mbak Arimbi.”
Sadar semuanya masih menyimaknya, Azzura yang bertutur sarat pengertian berangsur menghela napas dalam kemudian berkata, “Enggak semua mereka yang belum berdamai dengan masa lalu, hanya akan menyakiti pasangan yang baru. Malahan, ini akan menjadi awal mula mereka memperkukuh hubungan mereka. Toh, yang mengakhiri hubungan bukan mas Aidan, melainkan mbak Didi.”
Setelah sang putri diam, pak Kalandra berangsur menghela napas dalam. “Baiklah. Jadi mulai sekarang kita sepakat. Apa pun keputusan mas Aidan, kita cukup dukung. Kalaupun memang ada yang perlu diarahkan, ya cukup diarahkan saja.”
“Lagian khawatirnya, mas Aidan malah makin tertekan karena setelah sana sini minta dia buat nikah, eh giliran mau, malah ditentang,” ucap ibu Arum dengan suara yang jauh lirih dari biasanya demi memberi Azzam pengertian. “Enggak apa-apa yah, Mas. Nanti Mas Azzam cari yang lain.”
Mas Azzam menghela napas pelan. “Hatiku peot, Mak. Kalau sudah peot kan sudah dibenerin.” Ia menunduk tak bersemangat.
“Kata siapa? Cari saja wanita lain. Cinta yang baru, pasti bisa. Jangan bilang enggak mungkin karena jodoh enggak ada yang tahu. Buktinya, mas Aidan,” tegur Azzura.
__ADS_1
“Yang menikah saja enggak selamanya jodoh, Mbak,” tepis Azzam.
“Bukan berarti, mereka yang punya masa lalu, nggak berhak punya jodoh baru bahkan lebih baik. Lihat Mamah Papah. Lihat aku yang sebelum menikah, pernah punya mantan. Kamu enggak boleh memvonis sesuatu hanya karena kamu menaruh hal yang sama, Dek! Pantas kamu enggak lulus jadi sarjana hukum!” kesal Azzura.
“Ih, Mbak. Aku kan memang enggak tertarik jadi pengacara. Aku lebih tertarik jadi pengusaha sama lanjutin pekerjaan Papah di kantor!” tepis Azzam. Karena memang ia juga yang menggantikan posisi Kalandra di kantor setelah sang papah terjun ke dunia politik mengikuti jejak sang kakek. Tentunya, sebelum ia menggantikan Kalandra, ia sudah digembleng dari dirinya masih duduk di pertengahan bangku SMA.
***
Di antara hangatnya sinar matahari pagi, mas Aidan menepikan motornya tak jauh dari meja Arimbi berjualan. Kenyataan yang sudah langsung membuat Arimbi deg-degan. Kesibukan Arimbi membungkus setiap porsi pecel, menjadi terganggu karena rasa gugup yang tiba-tiba hadir bersama kehadiran mas Aidan, membuat kedua tangannya gemetaran.
“Mbak, gugupnya jangan dilanjut,” tegur mas Aidan yang berdiri di sebelah Arimbi. Ia membungkus pesanan pembeli yang baru saja melakukan pesanan. Sementara untuk harganya, ia tanyakan kepada Arimbi karena ia juga sengaja membantu mengurus pembayarannya.
Pagi ini, mas Aidan sampai ikut andil datang lantaran kedatangannya bertepatan dengan pembeli yang sedang ramai-ramainya.
“Mas mau sarapan? Saya siapkan, ya? Sebentar lagi kan Mas harus berangkat kerja. Pagi ini, ayah Mas sudah boleh pulang, kan?” tawar Arimbi.
“Oke,” balas mas Aidan.
“Ya sudah, mumpung enggak banyak yang beli, Mas duduk, istirahat. Eh, Mas. Es cendol sebelah asli enak. Aku pesenin, ya!” sergah Arimbi yang menjadi bersemangat.
__ADS_1
Kebersamaan kali ini, mereka isi dengan membahas mengenai acara lamaran, sambil sarapan bersama. Tentunya, Arimbi tetap sibuk mengurus pembeli yang silih berganti datang.
“Waktunya disesuaikan dengan kesiapan dari pihak Mbak. Mau di rumah, apa sewa tempat? Namun sebelum lamaran, pihakku bakalan datang ke rumah Mbak,” ucap mas Aidan.
Makin lama mas Aidan berbicara, Arimbi menyadari, jantungnya makin berisik. Ia sampai bisa mendengarnya dengan jelas. “Setelah beres acara empat bulan kehamilan mbak Azzura, kan, Mas? Kita ngikut saja, kan kita juga baru. Ya menyesuaikan dengan yang sudah ada.” Ia menatap saksama mas Aidan sambil kembali duduk di sebelah pria itu karena kebetulan, pembeli baru saja pergi.
Mas Aidan tengah menyedot es cendolnya melalui sedotan. Ia balas menatap Arimbi kemudian mengangguk-angguk. “Iya, kita tunggu acara mbak Azzura beres, baru kita urus urusan kita.”
Arimbi mengangguk-angguk setuju. “Iya, gitu saja, Mas. Takutnya kita malah ganggu acara yang sudah lebih dulu direncanakan.”
Menyimak ucapan Arimbi barusan, Mas Aidan mengangguk-angguk setuju. “Mbak Aisyah aman, kan, enggak macam-macam lagi?”
“Dari kemarin, alhamdullilah masih sepi. Semoga sih, selamanya begini,” balas Arimbi masih menghadap mas Aidan. Kedua lututnya sampai condong ke kedua lutut mas Aidan.
“Bentar, ... kok rasanya ada yang mengawasi, ya?” batin mas Aidan sampai menyudahi tatapannya kepada Arimbi.
Mas Aidan mengawasi ke depan, ke jalan seberang khususnya kios-kios yang ada di sana. Toko perhiasan dan kios bakso di sana masih tutup, membuatnya jauh lebih mudah mengawasi jika ada orang dengan gerak-gerik mencurigakan. Hanya ada dua pria penuh tato dan juga tindik yang berangsur mendekat. Dua pria dengan penampilan khas anak punk itu tampak layaknya pengamen pada kebanyakan. Yang satu memainkan gitar kecil dengan suara tak kalah han*cur dari suara sekaligus penampilan keduanya. Keduanya menghampiri setiap pengunjung termasuk yang berjualan dan pada akhirnya lapak Arimbi.
Arimbi akan berdiri dan mas Aidan yakini akan memberi keduanya uang. Namun, mas Aidan sengaja menahan sebelah pergelangan Arimbi sembari berdiri.
__ADS_1
“Biar aku saja yang kasih,” ucap mas Aidan sampai tersenyum hangat ke Arimbi yang balas tersenyum tak kalah hangat darinya. Padahal jauh di lubuk hatinya, hadirnya dua pria berpenampilan sangat berbeda dari orang-orang di sana, sudah langsung membuatnya mengkhawatirkan Arimbi.
“Kok aku setakut ini, ya? Gaya mereka mirip Aisyah. Warna tato, tindik, beneran enggak ada yang beda,” batin mas Aidan menatap serius kedua pria punk tersebut. Ia sengaja berdeham keras, memberi keduanya peringatan lantaran keduanya diam-diam mengamati Arimbi dari ujung kaki hingga ujung ubun-ubun yang tertutup jilbab. Padahal selain Arimbi masih menunduk menghadap ke bekas mas Aidan duduk, pakaian Arimbi benar-benar sopan tanpa memamerkan lekuk tubuh.