
“Ini dari tadi, kita malah sibuk makan, Mah!” ucap pak Kalandra yang kemudian mengaku kekenyangan.
Ibu Arum menggeleng cepat. “Udah nggak apa-apa, Pah. Takut Mbak Arimbi makin tegang!” balas ibu Arum yang kemudian berkata, “Kapan-kapan mampir ke rumah makan yah Mbak. Apa bawa ke rumah, yah, Mas.” Ia menatap kedua sejoli di sebelahnya, silih berganti.
Arimbi mengangguk-angguk kaku, masih canggung kepada ibu Arum maupun pak Kalandra. Termasuk juga kepada mas Aidan, sebenarnya Arimbi juga masih sangat canggung.
“Sudaj, itu ada yang beli diurus dulu,” tegur pak Kalandra dan langsung membuat Armbi buru-buru pamit.
Dalam hatinya Arimbi terus berdoa, semoga dirinya tak melakukan kesalahan sekecil apa pun, di depan orang tua mas Aidan. Meski pada kenyataannya, sekadar meladeni pembeli saja, kedua tangannya tak kunjung berhenti gemetaran.
“Besok kalau sudah nikah, dibikin ruko khusus saja. Mau di sekitar sini, apa mau langsung di rumah makan?” ucap ibu Arum yang masih sesekali mengawasi sembari menikmati es teh manisnya.
“Apa bikin lapaknya di depan rumah ayah saja, yah, Mah? Rumah ayah kan dekat dari sini,” ucap mas Aidan meminta pendapat sang mamah. Namun karena sang mamah malah terdiam murung, ia pun mengalihkan tatapannya kepada pak Kalandra yang kebetulan juga menatapnya.
“Buka di rumah ayah, enggak ada salahnya. Di rumah makan dikasih juga lebih baik, ibarat menu baru!” ucap pak Kalandra. “Jadi, cabangnya pun jadi banyak. Yang di sini enggak ditinggal, yang di tempat kita juga bisa ikut menikmati. Pasti laris kok karena rasanya juga enak. Paling nanti untuk bungkusnya bisa diakalin lagi biar lebih menarik. Nanti minta bantuan mbak Azzura deh. Urusan desain kan dia ahlinya. Sekalian bikin label sama merek juga.”
Mendengar tanggapan pak Kalandra, mas Aidan langsung tersenyum senang.
“Memangnya kalau sudah nikah, Mas beneran mau tinggal di rumah ayah? Kan Mamah sama Papah sudah siapin rumah,” lirih ibu Arum berkeluh kesah. Ia sedang protes karena tidak mau jauh-jauh, apalagi ditinggal mas Aidan. Apalagi jika ingat masa lalu mereka di novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga. Dulu, ibu Arum yang mati-matian berjuang membesarkan mas Aidan sejak putranya itu masih dalam kandungan.
Tanpa bermaksud egois, ibu Arum sungguh tidak bisa jauh-jauh dari mas Aidan. Walau pada kenyataannya, selain pak Angga yang akan tetap menjadi ayah mas Aidan apa pun yang terjadi, ibu Warisem juga akan menjadi orang tua mas Aidan karena wanita tua itu merupakan orang tua Arimbi.
__ADS_1
Mas Aidan yang bingung, mendadak tidak bisa menjawab. Ia terlalu takut melukai sang mamah.
“Sana sini sama saja rumah. Termasuk di rumah mbak Arimbi pun gitu. Mas bilang, mbak Arimbi juga sedang bangun rumah, kan? Walau niatnya rumah itu buat ibunya, tetap saja itu rumah kalian karena ibunya mbak Arimbi pasti juga ingin ditunggui. Ya ... keadaannya memang gini, ya bareng-bareng. Sana sini rumah, pokoknya,” ucap pak Kalandra masih mencoba menjadi penengah.
Ketika pak Kalandra menjadi penengah, ibu Arum dan mas Aidan yang ada di sana juga menjelma menjadi penyimak yang baik.
Arimbi yang sadar tengah terjadi obrolan serius antara mas Aidan dengan kedua orang tua calon suaminya itu, sengaja melelang sisa dagangannya.
“Semuanya tiga puluh ribu, ibu mau, enggak?” tawar Arimbi yang langsung dibalas tawar dua puluh lima ribu oleh salah satu ibu-ibu di hadapannya.
“Baik, Bu. Saya bungkus!” balas Arimbi yang memindah sisa gorengannya ke kantong dan sebelumnya ia taruh selembar daun pisang di dalam kantongnya.
“Mbak Arimbi enggak usah tegang, ya. Kita ngobrolnya santai, kok,” ucap pak Kalandra ketika Arimbi akhirnya bergabung menjadi bagian dari mereka.
Arimbi yang mengangguk sembari tersenyum canggung, merasakan kebersamaan di sana menjadi diselimuti kesedihan. Ibu Arum yang baru saja merengkuh kedua tangan Arimbi, Arimbi dapati sampai berkaca-kaca.
Pak Kalandra menjelaskan, “Mbak Arimbi tahu kan, kalau mas Aidan punya dua orang tua, yaitu kami dan ayah Angga?”
Semuanya masih seperti yang pak Kalandra jelaskan kepada ibu Arum maupun mas Aidan. Tentang semuanya yang tetap akan dibagi-bagi karena baik pihaknya dan ibu Arum, maupun juga pak Angga termasuk ibu Warisem, sama-sama orang tua.
“Jadi nantinya pun di rumah ya tetap bisa jualan, di rumah ayah Angga bisa jadi pusatnya, di rumah makan pun bisa jadi menu baru. Yang ngerjain pun bukan semuanya mbak Arimbi. Nanti kami pasti bantu. Jualannya pun bisa pakai sistim jual beli online.”
__ADS_1
Sepanjang menyimak rencana masa depan setelah dirinya menikah dengan mas Aidan, Arimbi mengangguk-angguk karena arahan dari pak Kalandra maupun ibu Arum, tidak ada yang salah. Pak Kalandra dengan segala keadilannya sebagai orang tua sambung, juga ibu Arum yang sampai rela menekan egonya demi kebahagiaan sang anak hingga wanita itu lebih memilih menyakiti batinnya. Iya, Arimbi tahu, tak mudah membagi seorang anak pada orang yang pernah melukai sangat dalam walau orang itu merupakan ayah kandung dari anak itu sendiri. Arimbi jadi merasa kasihan kepada ibu Arum.
“Kalau ibu saya sih, gampang, Bu, Pak.” Arimbi angkat suara, dan memang belum bisa memanggil orang tua mas Aidan dengan panggilan yang sudah keduanya tuntunkan. Sungkan, Arimbi berkata, “Karena alasan saya sampai di titik sekarang juga ibu saya, saya juga enggak bisa jauh-jauh dari ibu saja. Walau ibu bersikeras bisa tinggal sendiri di rumah asal saya juga bahagia ikut pihak suami saya di mana pun itu—”
Tahu Arimbi terlalu berat mengatakannya, mas Aidan sengaja mengambil alih. “Urusan ibu gampang. Tinggal kita bawa di mana pun kita tinggal. Kalaupun ibu enggak mau, ya dibawa saja. Biar kita sama-sama tenang.”
“Nah, gitu saja!” sergah pak Kalandra sangat setuju. “Mamah juga sudah, enggak usah galau. Yang penting anak-anak sehat, kita sehat, semuanya pasti lebih enak. Kita tetap bisa sama-sama sambil tetap urus semua.”
Ibu Arum tidak menjawab, membuat pak Kalandra mengelus-elus kepala istrinya itu dan kali ini terbungkus jilbab biru.
“Lebih berat nahan rindu atau malah lihat orang yang kita sayangi sakit, loh Mah!” yakin pak Kalandra sengaja merayu istrinya. Arimbi yang mungkin belum terbiasa sampai ia pergoki menahan senyum. “Tuh, diketawain sama Mbak Arimbi!”
Mendengar tudingan pak Kalandra, Arimbi langsung kebingungan. Apalagi di sebelahnya, mas Aidan malah berkata, “Tanggung jawab kamu, Mbak!”
Arimbi ingin protes, dan sudah menatap sebal mas Aidan, tapi ibu Arum sudah langsung merangkulnya sambil berkata, “Jangan digituin! Nanti yang ada, mbak Arimbi jadi makin takut!”
Mas Aidan dan pak Kalandra yang walau langsung diam patuh, diam-diam juga bertukar senyum melalui lirikan. Aman, selalu ada cara untuk menenangkan wanita mereka, batin keduanya.
Di tengah semburat jingga yang perlahan digantikan kegelapan, kebersamaan mereka berakhir dengan perpisahan. Mas Aidan yang mengantar Arimbi, sementara pak Kalandra dan ibu Arum juga harus segera pulang karena di rumah Azzura pasti sudah menunggu pecel pesannya.
Namun ketika adegan Arimbi menyalami tangan orang tua mas Aidan dengan takzim, rasanya masa depan yang baru saja mereka rancang, sudah langsung ada di pelupuk mata. Masa depan yang tentu saja akan dipenuhi bahagia andai Arimbi sanggup menjalaninya. Apalagi seperti yang sudah orang tua mas Aidan wanti-wanti, mas Aidan berbeda dari pasangan lain. Mas Aidan tidak bisa meninggalkan rakyat kecil yang menunggu uluran tangannya.
__ADS_1