Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
54 : Benar-Benar Jatuh Cinta


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang dan terdengar sangat syahdu. Mas Aidan yang langsung terbangun sampai merinding seiring pria itu yang melakukan renungan dalam heningnya. Walau aroma minyak panas perpaduan antara aroma kacang tanah dan aneka bumbu sudah menguasai seantero kontrakan, mas Aidan sengaja baru akan bangun setelah adzan subuh selesai. Mas Aidan yakin, Arimbi sudah bangun dari tadi untuk menyiapkan keperluan dagangan. Terlebih di antara aroma minyak panas tadi, aroma gorengan yang menyeruak juga langsung membuat perut mas Aidan keroncongan. Tangan kanan mas Aidan yang turut diselimuti jarit dan mas Aidan yakini itu ulah Arimbi, refleks mengelus-elus perutnya yang berisik.


Tak lama berselang, suara langkah mengendap karena sosok itu berjalan dengan berjinjit untuk meminimkan suara langkah, terdengar makin mendekat. Mas Aidan yang masih meringkuk, diam-diam mesem melihat ulah Arimbi. Wanita itu membawa kotak besar berisi sayuran untuk pecel.


“Aku sudah bangun,” ucap mas Aidan sambil menahan senyum bertepatan dengan Arimbi yang baru balik badan. Wanita itu menjadi agak sempoyongan karena terkejut dan tak berjinjit lagi.


Arimbi yang awalnya terkejut, malah menjadi gemas pada mas Aidan yang jelas menertawakannya. Pria itu susah payah menahan tawanya dan tengah berusaha duduk.


“Tidur di situ, memangnya badannya enggak pada pegal?” tanya Arimbi masih berdiri di depan pintu tempat ia menaruh barang-barang dagangannya dan sebentar lagi akan ia keluarkan. Karena sebentar lagi pun, ia akan berangkat dagang.


“Lebih pegal lagi kalau aku enggak ketiduran di sini karena aku pasti enggak bisa tidur gara-gara khawatir ke kamu.” Mas Aidan menatap sendu wajah khususnya kedua mata Arimbi.


Arimbi berangsur menunduk. “Hatiku langsung lumer, mas Aidan bilang begitu,” ucapnya jujur seiring ia yang menatap mas Aidan melalui lirikan. Setelah tampak melotot karena terkejut, Mas Aidan juga menjadi tersipu.


“Aku sudah rebus air kalau Mas mau mandi di sini. Eh, enggak ada pakaian ganti, ya?” lanjut Arimbi.


“Ada di ransel kayaknya masih di mobil. Setiap bepergian aku selalu bawa pakaian ganti lengkap karena kadang, pekerjaanku memang bikin aku harus setertib itu.” Mas Aidan berangsur berdiri.


Arimbi mengernyit penasaran. “Kok bisa semalam itu? Memangnya, pengadilannya tutup jam berapa, Mas?”

__ADS_1


“Sidang di pengadilan memang ada batasnya, dan memang enggak sampai larut malam. Yang lama itu ya yang di luar pengadilan.” Mas Aidan melangkah mendekati Arimbi. Karena selain wanita itu masih berdiri di sebelah pintu, ia juga harus keluar untuk mengambil ranselnya.


“Ini aku lagi urus kasus perceraian karena KDRT, perselingkuhan, urus hak asuh anak, sama pembagian gana-gini. Kalau setiap hal termasuk masalah cukup diselesaikan dengan maaf-memaafkan, di dunia ini enggak ada penegak hukum termasuk pengacara!” mas Aidan mengusap-usap ubun-ubun Arimbi yang kali ini memakai jilbab warna cokelat muda.


Arimbi menunduk malu tanpa berani menatap terang-terangan mas Aidan yang masih berdiri di hadapannya. “Jadi pengacara, risikonya berat, yah, Mas? Apalagi kalau lawannya bukan orang sembarangan.”


“Semua pekerjaan berisiko, sih. Sekelas tukang bangunan saja, taruhannya nyawa. Kamu pun, risikonya berat sampai disusul si Ojan,” balas mas Aidan dan langsung membuat lawan bicaranya menatapnya sambil menahan tawa.


“Asli aku kesel banget sama tuh orang. Aku lempar wajan ke dia dan kena wajahnya makanya dia pingsan. Namun sebelum itu, kayaknya kepalanya kejatuhan kusen!” ucap Arimbi di sela tawanya. Ia berani tertawa karena mas Aidan saja tertawa.


“Heran aku, Mas. Hidupku dikelilingi orang stress!” lanjut Arimbi kali ini berkeluh kesah.


Arimbi langsung menahan senyumnya, menatap tak percaya mas Aidan yang untuk pertama kalinya tertawa lepas dan benar-benar sangat santai layaknya sekarang, dan itu bersamanya.


“Eh, kamu kan sudah amal banyak ke Ilham dan keluarganya, ya? Malahan enggak kurang-kurang, ... bertahun-tahun,” ucap mas Aidan sengaja meledek Arimbi. Ia terus berbicara walau Arimbi sudah sibuk merengek, memintanya berhenti sambil tertawa geli.


“Tapi sekarang sudah sadar, ya?” ucap mas Aidan sambil menahan kedua lengan Arimbi.


Arimbi mengangguk-angguk menahan senyumnya sembari menatap wajah mas Aidan yang persis ada di hadapannya.

__ADS_1


“Ya sudah, Mas. Sekarang Mas siap-siap mandi, terus salat subuh.”


“Mau salat subuh di rumah, apa di masjid?” tanya mas Aidan dengan kedua tangan yang masih menahan kedua lengan Arimbi, juga kedua matanya yang tidak bisa berhenti menatap wajah khususnya kedua mata Arimbi.


Masih sangat pagi, tapi wajah Arimbi sudah sangat cerah. Membuat mas Aidan begitu betah menatapnya.


Arimbi menggeleng. “Terserah Mas. Senyaman Mas, tapi aku lagi enggak salat.” Ia mengangguk-angguk sambil menahan senyum. Namun tanpa harus menjelaskan, tampaknya mas Aidan langsung paham bahwa dirinya sedang kedatangan tamu bulanan.


“Pantas jadi beda banget auranya. Ternyata Arimbi lagi datang bulan. Tapi kok tumben, aku enggak kena semprot. Biasanya kan kalau wanita sedang datang bulan, jadi berbakat semprot-menyemprot,” batin mas Aidan sembari terus melangkah keluar mengambil ranselnya di mobil pick up semalam.


“Ada, laki-lak semanis mas Aidan, ... aku bahkan masih sulit percaya karena aku akan menikah dengannya,” batin Arimbi yang kemudian terkejut oleh sentuhan tangan dingin sang ibu di sebelah pipinya. Ternyata Arimbi membuat lantai banjir karena keran galonnya Arimbi biarkan terus mengalir, dan lagi-lagi karena Arimbi melamun. Melamun karena memikirkan, terpesona kepada mas Aidan.


“Ya ampun ...,” lirih Arimbi benar-benar syok karena ulahnya dan buru-buru menutup bekal minumnya yang bisa menampung air minum sebanyak satu setengah liter.


“Akhir-akhir ini, kamu jadi sering melamun, kasmaran terus. Hati-hati, ya!” ucap ibu Warisem sembari berangsur jongkok untuk mengelap air di lantai.


Arimbi meringis memasang wajah tak berdosa. Tentu penyebabnya begitu karena mas Aidan. Sebelum ia melamun, tadi ia terlalu terpesona kepada mas Aidan yang baru mandi. Beberapa saat lalu, dengan kepala masih setengah basah dan membuat pria itu tak hanya terlihat jauh lebih segar tapi juga sangat tampan, mas Aidan pamit salat subuh di depan. Niat awal akan melangsungkan salat di masjid jadi gagal gara-gara mereka asyiik bercanda.


“Ada apa, Bu?” tanya mas Aidan yang baru datang.

__ADS_1


“Nah itu orangnya,” batin Arimbi benar-benar panik. Ia sengaja meminta mas Aidan untuk segera sarapan sambil melirik sang ibu penuh arti agar wanita yang telah melahirkannya itu tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Arimbi terlalu malu jika mas Aidan sampai tahu bahwa akhir-akhir ini, ia jadi sering melamun gara-gara mas Aidan. Sebab Arimbi memang sudah benar-benar jatuh cinta kepada calon suaminya itu.


__ADS_2