
Selain ada keluarga kecil dokter Andri dan Septi, ada juga keluarga kecil Angga lengkap dengan keluarga Dika. Keduanya menggunakan mobil berbeda. Angga bersama anak-anak almarhumah. Anggun, sedangkan Dika bersama sang istri dan juga dua anaknya yang masih kecil.
Dari mobil pak Kalandra yang baru diparkir, Akala keluar. Pria bertubuh gendut itu bergegas terjaga di depan pintu penumpang sebelah tengah mobil yang dikendalikan Excel. Di sana, kakek Sana dan nenek Kalsum duduk. Keduanya tak hanya berdua karena di tempat duduk belakang ada mamahnya Excel dan juga adik perempuan Excel dan tentunya bukan Rere.
Akala sudah langsung mengulurkan kedua tangannya kepada sang nenek. Tak tanggung-tanggung, ia sampai membopong nenek Kalsum yang detik itu juga langsung tertawa riang bersama Azzura yang duduk di sebelah Excel. Lain dengan Azzam yang merasa terbantiing karena ia yang membukakan pintu untuk sang kakek otomatis juga harus memberikan uluran tangan lebih.
“Sudah mas Azzam enggak usah heboh. Mbah Kakung kan enggak minta dibopong juga!” ucap kakek Sana di tengah tawanya. Lihat, wajah tampan yang suka nyinyir itu sudah langsung berkeringat padahal belum sampai membopongnya.
“Ya sudah, Mbah. Aku tuntun saja. Yang penting selamat sampai tujuan, kan?” ucap Azzam sembari menuntun kakek Sana dengan hati-hati, keluar sekaligus turun dari mobil.
Padahal di seberang, Akala yang menekuk sofa bekas nenek Kalsum duduk, sudah sampai membopong mamahnya mas Excel.
“Mantap ih Mas Akala! Tenaganya mirip gatot kaca!” ucap kakek Sana sengaja memuji cucu bontotnya.
Azzam yang masih ada di hadapan kakek Sana, sengaja menuntun kekeknya kembali masuk mobil.
“Lah, sudah keluar kok malah disuruh masuk lagi?” protes kakek Sana kembali terbahak-bahak.
Azzam menghela napas pelan sambil menatap sang kakek penuh keseriusan. “Kan biar dibopong gatot kaca Akala juga, Mbah!” yakinnya, tapi semua yang ada di sana termasuk Elena adik perempuan Excel, langsung menertawakannya.
__ADS_1
“Adem banget di sini. Tapi ini kayak bekas rumah, ya?” ucap Excel sambil membantu Azzura turun. Tak beda dengan Akala, ia juga sampai membopong Azzura.
Mereka memang memarkir mobil mereka di depan bekas rumah Arimbi yang roboh gara-gara Ojan. Yang mana kini, rumah tersebut sudah dirobohkan. Tak ada yang tersisa karena semacam puing-puing pun sudah disingkirkan demi menyambut kedatangan keluarga mas Aidan.
“Kayaknya ini memang rumah yang roboh gara-gara si Ojan,” ucap Azzura.
“Robohnya rumah mbak Arimbi berarti bawa hikmah, ya? Jadi pindah ke kontrakan, mas Aidan sama mbak Arimbi jadi LDR-nya hanya hitungan langkah!” ucap Azzam sambil tertawa ngenes, tapi lagi-lagi, ia malah jadi bahan tertawaan.
Mobil terakhir yang baru masuk ke tempat parkir, merupakan mobilnya Nissa dan ketiga anak perempuan pak Haji, bersama Sundari, putri ibu Septi dan dokter Andri. Sundari menjadi satu-satunya anak dari pernikahan dokter Andri dan Septi, dan kini berusia dua puluh tahun. Dan walau anak pak Haji ada empat, satunya lagi sedang fokus kuliah di Yogyakarta.
Semenjak pak Haji meninggal, yang mengurus anak-anak pak Haji memang tetap nenek Fatimah dan keluarga Septi. Anak-anak pak Haji tetap memiliki kehidupan layak walau pak Haji sudah tidak ada. Pendidikan tetap nomor satu dan terbukti, kedua anaknya yang dewasa sudah menjadi bidan semua layaknya Nissa dan Azzura. Lain dengan Sundari yang berniat mengikuti jejak ayahnya yaitu menjadi dokter umum.
“Ini pengantinnya mana? Padahal aku saja sampai izin dengan alasan untuk urusan keluarga padahal aku saja belum berkeluarga!” ucap Azzam masih berisik. Sebab cemburu sekaligus patah hati memang membuat mulutnya makin tidak bisa diam.
“Aku mau jadi pengantin!” ucap pak Haji Ojan bersemangat. Ia sampai buru-buru lari menuju rumah baru Arimbi.
“Pri, Pri ... peliharaanmu beraksi, Pri. Lilinnya mohon disiapin!” heboh Azzam.
“Mau disiapin seribu obor yang bisa membakar satu kampung pun, beraksinya si Ojan enggak pernah menghasilkan hal lain selain beban sama dosa, Zaam!” ujar Sepri yang sudah langsung lari mengejar Ojan.
__ADS_1
Sedekat itu memang hubungan mereka, mengalahkan kedekatan sebuah keluarga kandung. Karenanya, adanya kasus Azzura dan Cikho, benar-benar melukai semuanya. Tidak ada yang tidak sedih, semuanya kompak mengutukk ulah Cikho dan bagi mereka begitu tega kepada Azzura.
Di luar dugaan, Sekretaris Lim yang memang baru pulang dari liburan keluarga sampai membawa helikopter pribadi. Helikopter tersebut baru akan mendarat di sawah sebelah. Semuanya yakin, alasan keluarga Widy sampai nekat datang dengan helikopter pribadi karena mereka tak mau tertinggal acara lamaran mas Aidan.
“Wuuuuuaaannnjirrrr, wajib tiarap ini. Sudah dandan cantik-cantik, ganteng begini malah ada yang bawa jet pribadi. Si Paman Lim emang sekate-kate banget. Itu para bumil mohon diamankan. Dimasukin dulu ke rumah biar aman!” ucap Azzam makin heboh.
Excel sudah langsung membawa Azzura yang masih pria itu bopong, masuk ke rumah baru Arimbi. Begitu juga dengan Nissa yang masih dituntun sang suami. Sementara Akala masih membopong mamahnya Excel. Mereka kompak meninggalkan kehebohan yang tercipta gara-gara helikopter pribadi sekretaris Lim dan Widy.
Tetangga yang awalnya hanya kagum pada kedatangan mobil dilengkapi pak Kalandra sekeluarga, langsung berbondong-bondong melihat helikopter pribadi. Termasuk itu Ilham dan ibu Siti yang ikut kepo karena hadirnya helikopter di sana memang menciptakan suara bising sekaligus angin sangat kencang akibat baling-balingnya. Ibu Siti yang sampai memakai masker untuk menutupi mulutnya, terkagum-kagum melihat pemandangan di depan sana.
“Sedrama ini mirip kedatangan artis!” ucap pak Kalandra yang tak lagi diiring warga. Karena warga yang mengiringi sudah langsung lari meninggalkannya. Semuanya berbondong-bondong melihat helikopter pribadi Sekretaris Lim.
Lebih mengejutkan lagi, mas Aidan yang mereka tunggu ternyata ada di sana, menjadi bagian dari penumpang helikopternya. Mas Aidan yang sudah berpakaian batik lengan panjang rapi selaras dengan kebaya Arimbi, mengaku diculik oleh sang bibi dan tak lain Widy, istri Sekretaris Lim.
“Kamu yah, Dy!” tegur ibu Arum, tapi adiknya itu dan masih di anak tangga jet untuk turun, hanya tersenyum.
“Berasa lihat Sahrukhan di Kabi kushi kabi gam,” ucap ibu Siti. “Asli, ini ngalahin kehebohan film India. Masa iya yang begini mau dijadikan tumb4l, ya?”
Ilham yang berdiri di sebelahnya langsung menunduk dalam.
__ADS_1
“Lah aku kesel banget ke mas Aidan, Mbak. Masa mau lamaran kok masih urus kasus di kabupaten. Ya sudah, aku dari Jakarta bawa jet, cul1k dia di kabupaten termasuk motornya pun aku kandangin!” cerita ibu Widy sambil memeluk erat ibu Arum.