
“Mas Aidan benar-benar sayang ke mbak Arimbi. Dan mbak Arimbi juga kelihatan cinta banget ke mas Aidan. Wajar dan harusnya memang gitu sih. Didi saja yang enggak tahu diri. Sudah nyuri mas Aidan dari aku, tapi malah sengaja menyakiti. Ngapain juga dia ambil mas Aidan dari aku, kalau yang ada dia sibuk marah-marah, merepotkan sekaligus hanya jadi beban mas Aidan?” batin Chole.
Pertemuan tak sengaja mereka dengan mas Aidan, membuat mereka makan siang bersama. Mas Aidan dan Arimbi yang menjamu mereka di rumah makan khas Sunda.
“Setelah ini balik sibuk masing-masing, apa bagaimana, Mas?” tanya Tuan Maheza mencoba mencairkan suasana karena dari awal, keluarganya cenderung diam. Malahan, mas Aidan dan Arimbi yang terus rame. Pasutri baru itu membuat mereka mengobrolkan banyak obrolan, khususnya rencana pernikahan Cinta. Mas Aidan berjanji akan sampai menginap di Jakarta andai Cinta menikah.
“Dibilang masing-masing, sebenarnya enggak juga sih, Om. Karena kami bakalan terlibat di pekerjaan sama. Paling bagi-bagi pekerjaan. Mungkin nantinya kami akan jaga rumah makan bareng-bareng, atau malah masing-masing karena rencananya akan buka cabang lagi.” Sambil menjelaskan, mas Aidan membiarkan Arimbi membuang duri-duri di ikan pepes miliknya.
“Apalagi Mbak Arimbi kan sudah punya pasukan pecel lontong sendiri. Asli kalian wajib coba!” cerita mas Aidan mendadak promosi.
“Paman Lim dan bibi Widy sudah cerita. Kami juga dikasih bumbunya dan sudah hampir habis! Beneran enak banget, sih! Jempolan!” tanggap ibu Aleya hangat. Terlebih baginya, baik mas Aidan apalagi Arimbi tidak salah. Karena andai ia tahu dari awal, tentu ia sangat setuju Chole menikah dengan mas Aidan. Tentu ia tidak akan membiarkan Divani merus*ak cinta Chole, dan parahnya sampai membuat Chole mengalami trauma tersendiri.
“Nanti kami buka cabang di rumah ayah Angga, kan di sana juga sudah disiapkan warung luas. Biar pasukan penikmat pecel lontong Mbak Arimbi yang biasanya kumpul di pasar enggak cari jauh-jauh. Terus ini juga sepertinya mau buka cabang di sekitar sini,” cerita mas Aidan tak segan menyuapi Arimbi yang dari tadi sibuk mengurusnya, di hadapan semuanya.
“Mereka benar-benar cocok. Aku ikhlas, ya Alloh. Mbak Arimbi dengan kesederhanaan sekaligus ketulusannya benar-benar sudah menjadi warna bahkan pelangi dalam kehidupan seorang mas Aidan,” pikir Chole. “Namun aku tetap penasaran, kira-kira, bagaimana tanggapan mas Aidan andai dia tahu bahwa selama ini aku yang mencintainya, bukan Divani?” Chole yang masih berbicara dalam hati menjadi mengkhawatirkan Arimbi.
__ADS_1
“Jahat kah aku jika mbak Arimbi sampai tahu? Terluka kah mbak Arimbi andai cinta di masa lalu suaminya masih dibahas? Kok tiba-tiba saja, aku jadi merasa jahat banget, ya? Namun andai mas Aidan sekeluarga sampai enggak tahu, takutnya ....” Dalam hatinya, Chole mendadak perang batin. Ingin jujur, tapi takut kejujurannya melukai Arimbi. “Mbak Arimbi baik banget. Enggak tega rasanya kalau dia terluka apalagi terlukanya gara-gara aku,” batin Chole lagi.
“Berarti nanti malam kalian sudah pulang, ya?” sergah Tuan Maheza setelah membahas bisnis kuliner mas Aidan. Selain sibuk urus bisnis kuliner yaitu rumah makan, mas Aidan juga ia ketahu masih menjalani kesibukan sebagai pengacara.
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Iya, Om. Habis magrib kami baru dari sini, mau lihat sunset lagi mumpung masih ada waktu.”
“Oke, berarti nanti kita bisa kumpul-kumpul bareng yang lain, sebelum yang dari Jakarta balik ke Jakarta. Bagaimana? Kumpul keluarga besar sekalian reuni. Jarang-jarang kita bisa begini selain kalau memang ada acara. Paling nanti acaranya di rumah makan inti keluarga kamu saja,” sergah Tuan Maheza bersemangat. Tentu ia memiliki maksud sekaligus tujuan penting.
“Si Papah mau mengumpulkan semua orang karena dia ingin menyelesaikan kisah Chole dan Didi, apa bagaimana?” pikir ibu Aleya.
“Kalaupun urusan Chole dan Didi akan dianggap sepele, paling tidak aku sudah memperjuangkan kebahagiaan putriku. Agar Divani juga kapok. Syukur-syukur Divani mau belajar dari kesalahannya. Dan syukur-syukur, ini bisa jadi pembelajaran bersama agar yang seperti Divani enggak ada lagi!” batin Tuan Maheza.
“Papah pasti punya rencana khusus,” yakin Chalvin dalam hatinya karena biar bagaimanapun, kasus Chole dan Divani belum selesai. Syarat khusus Chole agar Divani mengakui ulahnya di depan keluarga mereka khususnya mas Aidan sekeluarga, belum Divani penuhi.
“Kalau sampai beneran iya, kok aku jadi kasihan ke mbak Arimbi, ya?” batin Chole buru-buru tersenyum lantaran di hadapannya, Arimbi yang awalnya ia perhatikan diam-diam, langsung tersenyum hangat kepadanya.
__ADS_1
Acara kumpul-kumpul sekaligus reuni yang Tuan Maheza ajukan, sudah langsung mas Aidan setujui. Beres makan, mas Aidan juga langsung mengabari orang tuanya. Termasuk ibu Warisem, mas Aidan juga menugasi Akala untuk menjemputnya di kediaman kakak Arimbi.
“Seperhatian itu mas Aidan ke mamahnya Mbak Arimbi. Karena memang mas Aidan dan Mbak Arimbi saling mencinta, hingga keluarga mereka oun kecipratan, ikut merasakan dampak cinta keduanya,” pikir Chole kagum. Namun sebenarnya bukan hanya Chole yang kagum. Karena ulah mas Aidan yang langsung menelepon Akala untuk menjemput ibu Warisem memang langsung membuat Tuan Maheza sekeluarga terkagum-kagum.
***
Sementara itu, Divani yang menjadi mengurung diri di kamar, dan masih ada di kampung, sudah langsung tak karuan ketika sang mamah mengabarkan akan ada acara makan malam bersama, di rumah makan utama atau inti, milik keluarga mas Aidan.
“A-aku enggak ikut, yah, Mah. Aku merasa kurang enak badan, Mah,” ucap Divani berusaha menghindari acara yang ia yakini akan menjadi final dari urusannya dan Chole. Di acara nanti malam juga, ia harus mengakui kesalahan sekaligus kecurangannya di depan semuanya.
“Kamu harus ikut. Biar kamu bisa sekalian minta maaf ke mas Aidan maupun Chole di hadapan semuanya!” tegas ibu Arnita masih berdiri di sebelah ranjang tidur Divadi. Di ranjang tidur bernuansa pink tersebut, Divani memang tengah meringkuk, menutup rapat tubuhnya menggunakan selimut.
“Mah ... tolong pikirkan, kalian enggak kasihan ke istrinya mas Aidan?” ujar Divani masih mencari-cari alasan.
“Istrinya mas Aidan enggak seperti kamu yang sudah sangat keterlaluan. Istrinya mas Aidan orang sekaligus wanita yang manusiawi, hatinya masih berfungsi!” kesal ibu Arnita yang sadar, sang putri hanya sedang mencari-cari alasan.
__ADS_1
“Gunakan kesempatan nanti sebaik mungkin untuk memperbaiki diri kamu, Di. Jangan sampai, orang-orang apalagi orang kita sendiri, telanjur mengecap bur*uk kamu hanya karena keegoisan kamu!” tegas ibu Arnita yang kemudian berkata, “Harusnya kamu sudah belajar dari semua yang sudah terjadi. Maafmu jangan hanya di bibir, tapi harus ada bukti!”
Divani hanya menunduk dalam. Terlalu bingung dan pastinya karena ia malu jika harus meminta maaf sekaligus membongkar a*ibnya sendiri di hadapan semuanya khususnya di hadapan mas Aidan sekeluarga.