Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
156 : Sepri, Sang Pelindung Janda


__ADS_3

“Sebenarnya Mas Ilham sudah tahu, atau memang baru tahu juga seperti aku, kalau ternyata warung pecel ini milik Arimbi?” pikir Aisyah yang refleks melirik tajam sang suami. “Namun andai Mas Ilham sudah tahu kalau ini warung pecel Arimbi, ngapain juga dia ajak aku ke sini? Mau pamer, tapi apa yang mau dipamerin? Bunu*h diri, iya. Macam-macam kok ke mereka, makan saja masih pakai uang dari Romo!” Dalam hatinya Aisyah terus bertanya-tanya, apa maksud Ilham membawanya ke sana. “Oh, ... Ojin! Mas Ilham dan ibu Siti kan lagi demam Ojin!” yakin Aisyah lagi dan detik ini masih berbicara dalam hati.


“Jadi, si Ojin beneran kembaran mas Ojan, ya?” tanya Aisyah lembut, sengaja memastikan. Ia menatap ramah wajah-wajahnya di sana walau hatinya sudah babak belur karena perlakuan tak manusiawi Ilham dan ibu Siti. “Mungkin ini karma yang sudah seharusnya aku terima. Dari semua ulahku di masa lalu, hingga terakhir kasusku dengan Arimbi. Karena demi membuat mas Ilham hanya menatap kepadaku, aku melakukan segala cara termasuk melukai bahkan menyingkir*kan Arimbi. Padahal meski sudah tidak ada Arimbi, nyatanya mas Ilham masih bisa jatuh cinta ke wanita seenaknya. Dia bahkan tak segan menyamakannya denganku,” lirih Aisyah sembari menunduk murung.


“Memangnya kenapa, Aish?” Azzam menanggapi dengan serius. Dirasanya, ada yang tidak beres. Mata Aisyah sampai basah bahkan merah.


“Sejak hari itu, Mas Ilham dan mamahnya selalu membanding-bandingkan aku dengan Ojin. Mas Ilham bilang, Ojin istri idaman. Sementara ibu Siti bilang, Ojin menantu idaman,” cerita Aisyah jujur tapi ia masih menceritakannya dengan tegar.


Detik itu juga Azzam sudah langsung menatap keji seorang Ilham. “Baru pertama kali bertemu dan pertemuan itu enggak lebih dari empat jam. Secepat itu kamu jatuh cinta, sampai kamu lupa siapa yang kasih kamu pengobatan? Kamu lupa siapa yang kasih kamu makan?” Azzam refleks tersenyum sarkas sambil menggeleng, membuat tampangnya makin keji saja.


“Kebangetan kamu, Mas!” timpal Arimbi. Tak beda dengan Azzam, ia juga langsung menatap marah Ilham.


“Enggak apa-apa sih kalau Mas Ilham mau menikah lagi. Itu jauh lebih baik daripada jatuhnya zin*a. Namun sebelum itu, dia wajib balikin uang Romo dulu. Lama-lama aku makin enggak enak ke Romo,” ucap Aisyah yang langsung dibentak oleh Ilham.


“Selesaikan ini di rumah, jangan di tempat umum. Malu banyak orang,” ucap mas Aidan menyikapi dengan tenang.

__ADS_1


Aisyah refleks menatap mas Aidan. “Kalau di rumah aku diker*oyok, Mas. Kepalaku dipuk*ul pakai panci, gelas, ... sudah enggak kehitung. Setiap aku melawan, aku yang dikeroyok. Masalahnya karena dari awal aku salah, bar-bar bahkan sempat dipenjara, tetangga sudah menganggap keributan di rumah mas Ilham sebagai hal biasa.”


“Terakhir didatangi pak Sukir, ibu Siti sama Mas Ilham bilang kalau aku yang bikin gara-gara terus ngamuk sendiri, mukul kepala sendiri.” Aisyah menunduk murung. “Tapi giliran aku dapat kiriman uang dari Romo, aku disayang. Terserah kalian mau percaya atau enggak, tapi jujur aku ingin keadilan. Masa iya, aku hanya disayang kalau aku dapat kiriman uang dari Romo? Padahal aku ya sudah mau beres-beres rumah. Aku juga masak, ya ke sawah bareng tetangga.”


“Aish, ayo kita pulang!” tegas Ilham yang masih melirik tajam Aisyah.


Aisyah langsung diam. “Ini aku jatuhnya membongkar ai*b suami, ya? Namun sampai kapan seorang istri harus diam? Apa batasannya? Beneran, digebukin terus juga harus diam?” Aisyah menangis, dan tak lagi mampu menahannya. “Kalau gini caranya, mending aku balik ke pesantren saja. Mending aku urus anak aku sambil jaga warung. Sepertinya itu jauh lebih berkah daripada aku menghabiskan waktuku untuk hal yang tidak pasti.”


Keputusan Aisyah sudah bulat, lepas dari siksaan Ilham sekeluarga. Ia sengaja izin tinggal di warung, menunggu jemputan pihak keluarganya yang juga sudah langsung ia hubungi.


Aisyah tidak menyangka, dirinya bukan satu-satunya yang menangis di sana. Karena Arimbi, Sundari, bahkan Azzam juga ikut menangis.


“Tinggal di kontrakan saya saja, Mbak. Di sebelah kontrakannya mbak Suci. Kebetulan di sana kosong. Enggak usah bayar. Jangan mikir ke situ! Kami tulus bantu!” ujar Sepri.


Azzam langsung tersenyum lepas sembari menatap Sepri. Ia memberikan kedua jempol tangannya kepada kakak dari kekasihnya itu. “Sepri memang sang pelindung janda!”

__ADS_1


Tanpa menatap Azzam, Sepri yang menghela napas segera mendekap erat kepala Azzam.


“Terima kasih banyak, Mas!” ucap Aisyah sambil menyeka air matanya menggunakan ujung jilbabnya sambil sesekali menatap Sepri. Ia menerima kotak tisu pemberian Sundari.


“Ini kalian kok baik banget ke aku, padahal kita enggak kenal? Padahal dulu aku pernah jahat banget ke Mbak Arimbi, ke Mas Aidan?” lirih Aisyah sambil menyeka air matanya menggunakan tisu pemberian Sundari.


“Berbuat baik jangan sampai pilih-pilih, Aish. Baik buruknya kita bakalan balik ke kita lagi. Sekarang, keputusanmu fokus urus anak memang paling benar. Karena Ayah juga pernah ada di titik seperti kamu. Titik terburuk setelah sederet kesalahan fatal yang Ayah lakukan,” ucap pak Angga lembut.


“Sekarang, menjadi orang tua tunggal, sengaja Ayah pilih sebagai hukuman untuk diri sendiri. Ayah fokus kerja, mengumpulkan modal untuk bekal anak dewasa. Walau Ayah tahu papah mamahnya sudah kasih yang terbaik, tapi memang sudah kewajiban Ayah buat tetap kasih anak Ayah nafkah terbaik versi Ayah.”


“Alhamdullilah, walau enggak mudah, melihat anak tumbuh besar dan sekarang anak sudah menikah, sudah punya pasangan yang tepat, melihat anak bahagia dengan pasangan, bahkan anak sedang hamil, rasa bahagianya beneran melebihi rasa bahagia ketika kita jatuh cinta.”


“Fokus urus anak, sambil menabung buat masa depan kalian memang jauh lebih baik daripada kamu mengorbankan diri kamu untuk orang-orang yang tidak menghargai kamu!” pak Angga sengaja memberikan dukungannya melakui pengalaman yang sudah ia lalui. “Anak kamu jauh lebih membutuhkan kamu. Anak kamu jauh lebih berhak mendapatkan kasih sayang kamu. Kasihan anak kamu, jangan sampai kamu mengorbankan anak kamu. Anak enggak salah, Aish. Karena kalau bisa memilih, mereka pasti maunya dilahirkan oleh orang tua yang jauh lebih sempurna. Mereka pasti enggak mau sama kita!”


Nasihat dari pak Angga membuat seorang Aisyah menangis tersedu-sedu. Tubuh Aisyah sampai terguncang pelan layaknya tengah menggigil akibat kedinginan.

__ADS_1


Keadaan Aisyah tersebut sudah langsung membuat semuanya kebingungan termasuk Ilham. Sundari segera memeluk Aisyah, termasuk Arimbi dan sebelumnya sengaja meminta Ilham untuk minggir. Sundari dan Arimbi memeluk Aisyah secara bersamaan sebagai wujud dari dukungan mereka.


“Bissmilah, aku juga akan sukses seperti Ayah bersama anak aku! Makasih banyak Ayah masukannya. Makasih banyak semuanya, pokoknya makasih!” ucap Aisyah masih tersedu-sedu.


__ADS_2