
“Beres urus kasus Aisyah, langsung ke Jakarta buat kondangan ke Cinta, yah, Mas?” ucap pak Angga sambil memberi ikan-ikan di kolam kecilnya makan.
Mas Aidan yang tengah menemani Arimbi maupun ibu Warisem berjemur, membenarkan pertanyaan sekaligus pernyataan sang ayah.
“Besok Ayah ikut kalian, ya,” ucap pak Angga dan langsung disanggupi oleh mas Aidan.
“Akala apa kabar yah, Mas?” bisik Arimbi yang tahu kasus Akala dan Cinta.
“Akala baik-baik saja. Karena sebelum sama kamu saja, aku pernah enggak baik-baik saja. Buktinya sekarang, lepas dari mereka yang belum jodoh dengan kita, kita jauh lebih bahagia,” balas mas Aidan yang menyikapi dengan sangat tenang. Beda dengan Arimbi yang telanjur khawatir.
“S-sayang, kamu jangan mikir macam-macam ih. Kamu lagi hamil,” lirih mas Aidan sengaja menegur sang istri. Ia tak mau, pikiran Arimbi justru melukai Arimbi bahkan janin mereka.
“Kalau gitu nanti kita ke rumah yah, Mas. Aku mau lihat Akala. Pengin mastiin secara langsung,. Semoga Akala memang baik-baik saja. Kalaupun sampai enggak, semoga dia segera merasa lebih baik,” ucap Arimbi.
Mas Aidan mengangguk-angguk menyanggupi sekaligus mengaminkan harapan Arimbi. “Habis ini mau ikut ke kontrakan Sepri buat urus kasus Aish dan Ilham juga, kan?”
“Mau ... tapi aku belum jalan pagi selama dua puluh menit yang mbak Azzura saranin,” balas Arimbi yang langsung digandeng mas Aidan. Ditemani sang suami, ia menjalani rutinitas paginya dan dampaknya sangat penting bagi ibu hamil sekaligus sang janin. Jalan pagi sambil berjemur, menyerap manfaat dari matahari pagi yang memang sangat baik untuk kesehatan.
“Yang, dari sini ke kontrakan Sepri enggak ada dua puluh menit, harusnya sampai loh!” ucap mas Aidan bersemangat sambil terus menggandeng Arimbi menelusuri pinggir jalan.
Arimbi langsung tertawa. “Mereka belum siap buat diproses, Mas.”
Kali ini giliran mas Aidan yang menahan tawanya.
“Oh iya, Mas. Mas Ilham juga ikut di sana, apa pulang?” sergah Arimbi penasaran.
__ADS_1
“Walaupun Ilham belum menjatuhkan kata talak karena memang enggak mau, Aisyah juga udah enggak mau mempertahankan hubungan mereka. Aisyah tetap di kontrakan, paling kadang main ke kontrakannya Suci. Romo dan rombongan juga di kontrakan sebelah kontrakan Aish.”
“Kemarin Ilham sempat minta saran ke aku. Dia mengakui cinta ke si Ojin, dia sadar itu salah. Namun dia berat melepas Aisyah dan enggak bisa. Aku bilang ke dia buat bawa orang tuanya ke kontrakan Sepri dan segera mungkin minta maaf ke Aisyah sekeluarga.” mas Aidan mengakhiri ucapannya dengan senyum semringah lantaran ia melihat tukang bubur sumsum yang biasa keliling dan sudah menjadi tukang bubur langganannya.
“Wajib coba ini, Yang. Asli enak! Sekalian beli buat ayah sama ibu. Ini ada kacang hijau kamu pesan ini ya, nanti wajib dimakan karena kacang hijau bagus buat kamu!” ujar mas Aidan.
“Ih, kok sesenang ini yah, Mas. Jalan-jalan sama Mas, terus pulangnya bawa jajan juga. Asli ini mirip pas masih ada bapak. Jalan-jalan apa naik sepeda pagi-pagi. Kalau pakai sepeda, biasanya aku dibonceng di kerombong atau keranjang angkut dari bambu itu loh Mas. Kalau mas Agung ikut, jadi pakai kerombognya. Kanan kiri di boncengan. Mas tahu adegan upin ipin yang dibonceng Atuk? Nah itu, masa kecilku sama mas Agung gitu. Kalau ke pasar biasanya bapak jual ikan apa telur bebek. MasyaAlloh yang namanya jodoh, ada saja mirip-miripnya!” Arimbi bercerita penuh antusias meski karena ceritanya itu juga, air matanya mengalir. Hatinya terenyuh. Sedih memang ia rasa, tapi bersama mas Aidan yang perlakuannya kerap mengingatkannya kepada sang bapak, benar-benar membuatnya bahagia.
“Bangga loh aku disamakan dengan bapak. Berasa dapat penghargaan tingkat dunia!” ucap mas Aidan yang membiarkan Arimbi memeluknya. Istrinya sampai membenamkan wajahnya di punggungnya. Arimbi tampak sangat bahagia.
“Nanti, kalau anak-anak sudah lahir, kalau Mas sempat, tia pagi usahakan ada quality time gini yah, Mas!” pinta Arimbi kemudian.
“Pasti! Pokoknya, anak-anak kita akan menjadi anak paling bahagia!” balas mas Aidan yakin.
“Aminnnnn!” sambut Arimbi masih mendekap mas Aidan dari belakang. Tak peduli walau mereka ada di tempat umum dan hampir semua yang di sana mengenali mas Aidan. Arimbi yang merasa memiliki mas Aidan dan mas Aidan pun selalu mengimbanginya, tak lagi canggung untuk tampil mesra di depan umum.
“Sudah?” tanya mas Aidan beberapa jam kemudian kepada Arimbi yang baru saja keluar dari dapur warung pecel.
Arimbi yang sudah rapi dan tampil dengan penampilan terbaiknya, sudah langsung tersenyum sembari melangkah menghampiri mas Aidan.
Suasana warung pecel terbilang sedang ramai. Pembeli dari pasar maupun pasien klinik Sepri sedang berdatangan. Pamor mas Aidan, pak Angga termasuk Arimbi sendiri yang membuat pembeli dengan sigap pergi ke sana untuk mendapatkan pecel favorit mereka. Jadi, kerja keras Arimbi dalam menjaga kualitas rasa pecelnya benar-benar menjadi kunci dari keberhasilannya kali ini.
Sudah punya pelanggan, ditambah dukungan modal maupun promosi dari sana sini—itulah gambaran dari usaha Arimbi yang langsung memiliki banyak penikmat. Walau akhir-akhir ini Arimbi berpikir, lancarnya usahanya itu juga bagian dari rezeki jabang bayi dalam rahimnya.
“Siang agak sore, kita ke rumah makan dulu, ya. Ke yang cabang dan inti juga. Habis itu baru pulang. Malam ini kita tidur di rumah mamah Arum dulu. Tadi aku sudah pamit ke ayah. Kamu bilang pengin lihat Akala,” ucap mas Aidan panjang lebar dan sudah langsung menggandeng Arimbi. Selain itu, ia juga mengingatkan Arimbi yang ia wajibkan tidak boleh kelelahan.
__ADS_1
Sampai di kontrakan Sepri dan pekarangannya sangat luas, Arimbi dibuat takjub dengan suasana di sana. Karena meski pernah ke sana, baru di kedatangan kali ini Arimbi bisa melihat keadaan di sana dengan sangat leluasa.
“Ada pohon jambu air, pohon jambu biji, pepaya, nangka, mangga, rambutan. Ini yang bikin suasana di sini sesejuk ini, Mas.”
“Ada kolam ikan lele, ada kambing, ada sapi, termasuk monye*t kesayangan mas Ojan yang dipakein serba pink juga kayak majikannya.”
“Hah, Mas? Yang bener ....?”
“Iya, ada bebek, ayam, entok juga di belakang. Mas Ojan beneran punya monye*t pink. Ayo, ayo kita lihat ke belakang. Ini si Sepri mana yah, apa sudah ke sawah? Kita cari ibu Septi saja buat lihat-lihat,” sergah mas Aidan makin bersemangat. Ia masih membiarkan lengan kanannya digandeng mesra oleh Arimbi menggunakan kedua tangan.
“Suasananya bagus buat yang berobat di sini. Tempat ternaknya sengaja dibuat jauh dari hunian. Itu di belakang di sawah. Sayang lihat kan?” ucap mas Aidan lagi mendadak menjadi pemandu wisata untuk sang istri.
“Iya, Mas. Bagus banget. Ini nanti di rumah ayah, depannya ditanami jambu apa mangga dong Mas. Biar pas anak-anak besar, mereka bisa panjat-panjat gitu. Soalnya buat aku, masa kecil belum benar-benar bahagia kalau belum manjat pohon sambil makan buahnya langsung di pohonnya!” Arimbi mengakhiri ucapannya dengan tertawa.
“Ini konsepnya mirip peternakan punya papah. Dulu kan alm. kakeknya mas Ojan memang sengaja menyontoh punya papah gitu,” cerita mas Aidan.
“Eh, Papah punya gini juga?” balas Arimbi terkejut karena memang baru tahu.
Mas Aidan menatap bingung sang istri. “Memangnya kamu belum tahu, yah, Yang?”
“Ya belum lah Mas.”
“Punya papah lebih luas. Kan buat stok rumah makan. Jadi itu, ikan, ayam, bebek, kambing, semuanya punya sendiri juga!”
“MasyaAlloh Mas, keren banget! Bangga aku kenal apalagi jadi bagian dari orang keren. Ayah, Mas, mamah, papah, mbah, terus keluarganya mas Sepri,” ucap Arimbi.
__ADS_1
“Kamu juga keren lih, Yang! Ini kamu pasti belum sadar kalau kamu keren!” balas mas Aidan menatap serius sang istri tapi yang ada, Arimbi justru tertawa.
“Nah itu mas Ojan ke kandang moye*t. Mau kasih makan kayaknya. Ayo kita ke sana! Ya ampun masih pakai sandal cit cit!” Mas Aidan tidak bisa untuk tidak tertawa walau Arimbi sudah menegurnya.