
Kedatangan Arimbi ke rumah langsung mencuri perhatian para tetangganya, tanpa terkecuali Ilham dan ibu Siti. Terlebih ketika Arimbi meminta bantuan ibu-ibu tetangganya untuk rewang acara lamarannya dan mas Aidan.
“Masak-masak buat pihak sana, Bu,” jelas Arimbi sopan.
“Memangnya pihak sana doyan masakan orang sini, Mbi? Takutnya enggak level,” balas tetangga Arimbi tersebut.
“Ya doyan, Bu ih. Malahan pihak sana penasaran dengan rasa makanan olahan orang kita. Jadi, besok ibu Darsih, ibu ....” Arimbi menjelaskan sedetail mungkin.
“Eh, Mbi. Omong-omong rewang, jadi ingat pas acaranya si Ilham. Yang rewang kompak bubar karena hajatan dipastikan gagal! Hahaha! Lucu ... lucu itu. Terus yang enggak kalah lucu, ya pas ibu Siti meneriaki menantunya sendiri ‘maling’! Ajaib banget kelanjutan hidup mereka setelah asal buang kamu, Mbi!” Wanita paruh baya bernama Darsih itu tidak bisa mengakhiri tawanya.
Tanpa bermaksud mengej3k Ilham sekeluarga, Arimbi yang duduk di risban ruang tamu rumah semi gedong itu juga tidak bisa untuk tidak tertawa. Baru Arimbi sadari, semua yang dibahas setiap ibu-ibu yang ia minta bantuan rewang, jika dipikir lagi memang lucu. Jarang-jarang sudah nyaris hajatan, tapi mendadak ditinggal tetangga yang rewang. Juga, nyaris belum ada mertua yang meneriaki menantunya ‘maling’ hanya untuk menghukum menantu itu sendiri. Jarang-jarang ada manusia sepic1k bin maruk alias serakah layaknya Ilham yang belum tahu rupa, tapi mau-maunya saja menikah.
Saking sulitnya mengakhiri tawanya, Arimbi juga masih sibuk menahan tawa ketika pada akhirnya, ia yang sudah siap pulang ke kontrakan mas Aidan, berpapasan dengan Ilham. Mereka berpapasan di gang yang juga ada di depan rumah Ilham.
Arimbi mengabarkan, kabar terbaru Aisyah kepada Ilham. Berbeda dengan pertemuan terakhir mereka yaitu lima hari lalu, kali ini Ilham terlihat kurang merawat diri. Kulit Ilham tampak jauh lebih gelap, selain pria itu yang membiarkan berewoknya memanjang. Kabar terbaru yang Arimbi dapatkan, Ilham yang sudah sibuk melamar pekerjaan ke sana kemari malah berakhir di sawah. Pantas jika kini kulit Ilham sampai gelap selain pria itu yang juga bau tanah khas orang sibuk bekerja di sawah.
“Ya sudah sih, cuman mau sampaikan itu saja. Sekarang istri Mas si wanita suci harus istirahat total karena tulang tangan dan kaki patah,” pamit Arimbi yang tentu tidak akan pernah lupa, bahwa dulu Ilham pernah sangat mengagungkan Aisyah. Sebutan wanita suci sempat Ilham berikan kepada wanita mantan anak punk dan sempat hidup di jalanan terbilang lama.
__ADS_1
Ilham menghela napas dalam. “Kamu yakin, masih mau tetap lanjut sama si Aidan?”
“Maksud Mas ngomong gitu, apa?” tanggap Arimbi serius. Ilham langsung memberikan ekspresi tidak nyaman kepadanya akibat balasan yang baru saja ia berikan.
“Ya ... belajar dari yang sudah terjadi lah, Mbi. Belajar dari yang aku alami, contohnya!” jelas Ilham.
“Oh, maaf ... jangan samakan aku dengan kamu, Mas!” sergah Arimbi buru-buru mengoreksi anggapan Ilham.
Ilham langsung melongo, menatap tak percaya Arimbi.
“Kurang jelas apa sih? Satu kampung bahkan hingga kota kita, kenal mas Aidan sekeluarga.” Arimbi masih menepis anggapan miring Ilham.
“Mohon maaf, yah, Mas. Ini beneran maaf banget. Sekarang aku ingin bicara mengenai kenyataan. Karena setelah apa yang terjadi, harusnya Mas enggak usah bahas status sosial lagi. Lihat saja Mas. Mas kan sarjana, paham agama dan sampai jadi gus muda. Coba sekarang mas kerja apa? Mas masih mau memandang r3ndah saya hanya karena saya penjual pecel?”
“Intinya, Mas boleh merasa lebih baik kalau memang sudah ada bukti. Bukti yang Mas lakukan dengan jeri payah sendiri bukan hanya nebeng alias numpang! Lagian walau aku hanya tukang pecel, kalau mau banyak-banyakan penghasilan tentu masih banyak aku. Namun maaf, aku bukan orang sombong seperti Mas! Jangan lupa, dulu Mas pernah numpang hidup ke tukang pecel yang Mas pandang s3belah mata.”
“Aku pikir, setelah apa yang terjadi Mas bakalan berubah jadi lebih baik. Eh ternyata sama saja, malah lebih p1cik!”
__ADS_1
“Jangan karena Mas pernah merasa tertipu setelah menikahi putri dari orang terpandang bahkan paham agama, Mas menganggap hal yang sama juga akan menimpa saya!” Arimbi berniat mengakhiri pertemuan mereka tanpa pamit, tadi dari pelataran depan rumah orang tua Ilham, ibu Siti yang berdiri nyaris di pinggir jalan malah berulah.
“Mbi ... Mbi. Belum apa-apa sudah pamer. Nanti malah ‘kewirangan’ alias malu sendiri. Buat apa sih orang kaya menikah sama orang pinggiran macam kamu. Kalau enggak bermanfaat ya paling buat ‘banten’ alias tumb4l pesugih4n!” ucap ibu Siti sambil menggandeng ke belakang kedua tangannya.
Arimbi menggeleng tak habis pikir, termasuk itu ketika ibu Siti juga sampai mengomentari cincin bermata batu delimanya.
“Itu pasti salah satu contohnya biar dagangan pecelnya laris,” ucap ibu Siti lagi.
“Ibu Siti dan Mas Ilham yang g1la hormat tinggal tunggu saja. Tiga hari lagi saya lamaran, sementara satu minggunya, ijab kabul sekaligus resepsi di hotel Paradise. Permisi, ya. Saya enggak bisa lama-lama dengan kalian soalnya saya enggak pintar kasih hormat pada kalian yang g1la hormat!” tegas Arimbi yang sengaja mendekati ibu Siti. Lebih tepatnya, ia sengaja melewati kobangan air berhias sisa air hujan yang ada persis di hadapan ibu Siti.
Ulah Arimbi yang mengendarai motor dengan kecepatan cepat, sukses membuat wajah dan juga sebagian tubuh ibu Siti terciprat air dari genangan yang airnya mirip susu cokelat.
“Oalah ... emang dasar enggak tahu sopan santun. Enggak pernah makan bangku sekolahan ya gitu! Heh, Arimbi! Balik sini tanggung jawab!” teriak ibu Siti sambil mengepalkan tangan kanannya ke arah kepergian Arimbi.
“Enggak bisa berkat-kata kalau gini ceritanya. Andai mas Ilham wanita, sudah aku jodohkan dia dengan pak Haji Ojan!” batinnya merasa sangat kesal kepada Ilham maupun ibu Siti.
Kemudian, tatapan Arimbi teralih ke cincin mahal pemberian mas Aidan. “P3sugihan gundulmu, Bu Siti! Bisa-bisanya mikir begitu padahal mikirin kewajiban Ibu saja, Ibu pura-pura amnesia!” batin Arimbi masih berkeluh kesah di dalam hati.
__ADS_1
Dalam hatinya Arimbi juga berujar. Semuanya tinggal menunggu waktu dan ia makin tidak sabar. Bukan tanpa alasan, tapi karena ia sungguh ingin membuktikan kepada manusia macam Ilham sekeluarga. Sudah tidak ada yang bisa dibanggakan apalagi kemampuan, masih saja merasa paling benar. Tengok ke sekitar kalian, yang kembar dengan Ilham dan mamahnya, pasti ada saja.