
Hati Arimbi tak hentinya berdebar menahan takut karena dua anak punk yang sebelumnya sudah mas Aidan khawatirkan, malah datang tak lama setelah mas Aidan pergi.
Kali ini, keduanya sampai membawa lima teman yang penampilannya tidak berbeda dengan mereka. Tato di mana-mana, tindik tak kalah rame, sementara rambut juga kompak gimbal, selain penampilan mereka yang juga kompak kumal.
Berbeda dari saat pagi, walau kali ini keduanya masih gonjrang-ganjreng memainkan gitar kecil, bersama kelima teman yang dibawa, mereka langsung menjadikan Arimbi sebagai tujuan. Alasan yang juga membuat dada Arimbi berdebar-debar ketakutan.
“Mbak, pecelnya, Mbak. Jangan pedas-pedas, ya!” ucap salah satu dari mereka yang memainkan gitar.
“Coba lihat, Mbaknya jualan apa saja, Mbak?” lanjut satunya lagi, sementara sisanya dan itu kelima pria yang baru diajak datang, sudah langsung mengawasi dagangan Arimbi. Yang mana, kelimanya kompak mencomot gorengan dari kotak wadahnya.
“Innalilahi ...,” batin Arimbi sampai menahan napas. Ia berusaha setenang mungkin. Beruntung, tukang ojek dan tukang parkir di sana langsung sigap mengawal. Beberapa dari mereka sampai membantu Arimbi menyiapkan pesanan, setelah mereka juga kompak meminta anak-anak punk-nya untuk duduk di bangku yang sudah disediakan dan biasanya dipakai mas Aidan.
“Nanti kalau mereka sampai enggak bayar, kita kempesin kepala mereka! Lagian, ngapain sih mereka berkeliaran di sini?” bisik pak Santo sembari membantu Arimbi mengadoni bumbu pecelnya.
“Jujur, saya takut, Pak!” bisik Arimbi kepada pak Santo, selaku salah satu tukang parkir di sana.
Walau masih bisa meladeni ketujuhnya dengan semestinya, Arimbi tetap ingin menghubungi mas Aidan. Karenanya, setelah pesanan ketujuhnya selesai ia hidangkan, ia segera menghubungi mas Aidan. Ia mengirimkan pesan WA karena takut mengganggu.
__ADS_1
Baru akan menghela napas, Arimbi yang masih berdiri di balik meja dagangannya, dikejutkan oleh makian dari salah satu anak punk yang mengeluh pecel Arimbi tidak higienis. Ada lalat mati dan jumlahnya banyak. Bahkan anak punk itu sampai meluda*hi pecelnya sebelum akhirnya memban*ting dan menggi*lasnya.
“Yang benar saja!” kesal pak Santo langsung sigap bersama rekan-rekannya karena ketujuh anak punk yang datang, kompak berdiri sembari memba*nting sepiring pecel lengkap, dan awalnya sedang mereka lahap.
Anak punk tadi makin tidak terima lantaran mendapatkan perlawanan dari pak Santo dan kawan-kawan. Ketujuhnya menga*muk dan sengaja menghan*curkan dagangan Arimbi dengan bru*tal. Semuanya sungguh terserak tanpa ada yang bisa diselamatkan. Dagangan yang belum terjual ada seperempat itu raib. Arimbi yang awalnya sangat ketakutan sekaligus syok, tidak terima.
Diambilnya wajan penggorengan yang ia bawa, kemudian Arimbi hant*amkan pada mereka yang sudah langsung diamankan. Dua di antaranya sudah langsung dipiting, sisanya masih menjadi buron, tapi orang pasar termasuk pedagang pria sudah langsung membantu. Beberapa dari mereka yang melarikan diri ternyata ada yang membawa belati. Mereka terus mencoba melakukan perlawanan walau sudah dipojokkan.
Suasana sungguh ricuh sekaligus mencekam. Beberapa dari warga khususnya yang wanita dan tidak berani ikut membantu mengamankan, kompak minggir sekaligus bersembunyi masuk ke ruko maupun rumah masing-masing. Kendati demikian, sebagian dari mereka juga ada yang mengabadikan melalui bidik kamera ponsel menjadi video yang langsung disebarluaskan ke media sosial.
“Kalian pikir, kalian bisa menipu saya!” ucap Arimbi masih menghan*tam-hantam*kan wajan beratnya ke tubuh maupun kepala dan wajah anak punk yang sudah diamankan. Tangan dan kaki keduanya tengah diikat ke belakang menggunakan tali.
Di depan sana, di pinggir gerbang rumah warga, salah satu dari anak punk berusaha mengarahkan mata belatinya ke wajah pak Santo. Terjadi pertahanan sengit antara pak Santo dan si anak punk yang Arimbi tafsir lebih berumur dari mas Aidan. Tak mau tinggal diam karena memang telanjur geregetan, Arimbi segera lari kemudian menghan*tamkan wajannya ke wajah di anak punk yang hidungnya dihiasi banyak tindik itu.
Hanya dalam satu kali hanta*man, si anak punk langsung tumbang. Pak Santo segera mengin*jak punggungnya, kemudian menarik kuat-kuat kedua tangan anak punk itu ke belakang, sekuat tenaga. Tak peduli walau yang bersangkutan sibuk mengerang kesakitan bahkan meminta ampun.
“Belatinya, Om. Jangan lupa, diamankan juga!” ingat Arimbi sembari memungut wajannya. Saking tebalnya wajan penggorengan miliknya, wajannya baik-baik saja. Sama sekali tidak penyok.
__ADS_1
Padahal, semua yang terlibat mengamankan anak-anak punk termasuk juga Arimbi, sampai ngos-ngosan sekaligus kuyup keringat. Namun wajan Arimbi, tetap aman dan malah langsung membuat si anak punk menangis kesakitan, setelah Arimbi kembali menghan*tamkannya sekuat tenaga ke punggung.
Mas Aidan bilang, untuk jaga-jaga Arimbi boleh menggunakan semacam senja*ta. Asal bukan benda tajam maupun runcing yang bisa menimbulkan luka fatal, apalagi senj*ata api karena takutnya malah Arimbi yang terseret kasus hukum. Jadilah, Arimbi yang merasa wajan goreng anti lengket miliknya terbilang sangat berat, sengaja membawanya untuk sen*jata sekaligus jaga-jaga.
Sekitar lima belas menit kemudian, ketujuh anak punk sudah berhasil diamankan. Ketujuhnya dibiarkan tengkurap di pinggir jalan, depan bangku ketujuhnya kompak duduk. Ketujuhnya langsung menjadi tontonan termasuk juga dagangan Arimbi yang terserak sia-sia.
Lima menit berselang, mas Aidan datang. Pria itu tak datang sendiri karena Azzam yang memakai motor matic warna hitam juga ikut serta.
Sore menuju petang kali ini menjadi duka tersendiri bagi mas Aidan maupun Azzam. Karena dengan kepala dan mata mereka sendiri, mereka mendapati Arimbi menangisi dagangannya. Arimbi yang menggunakan kantong plastik sebagai pengganti sarung tangan, tengah memungut, memasukkan semua dagangannya yang ko*tor, ke dalam kantong besar.
“Sabar, yah, Mbak!” lirih wanita penjual gorengan yang dasarannya ada di sebelah dasaran Arimbi. Ia membantu Arimbi membersihkan sekaligus merapikan semuanya.
Suasana di sana makin ramai karena mereka yang awalnya ketakutan dan sampai bersembunyi, kompak menonton. Kebanyakan dari mereka yang mendadak menjadi lautan manusia juga kompak mengabadikan suasana di sana, khususnya wajah-wajah ketujuh anak punk tadi dan kini masih dibiarkan tengkurap mirip biawak kekenyangan.
“Dek, tolong bantu Mbak Armbi. Mas mau langsung urus ke kabupaten saja. Kalau di polsek sini kelamaan prosesnya. Biar langsung dipenjara saja mereka-mereka ini!” kesal mas Aidan. Tangan kanannya memang langsung mengeluarkan ponsel canggihnya dari saku sisi celana, tapi tangan kirinya mengelus-elus kepada Arimbi yang sore ini terbungkus jilbab warna abu-abu.
Di sebelah mas Aidan, Arimbi masih jongkok, menyelesaikan semua pembersihan yang tengah dilakukan. Satu kantong besar warna merah yang Arimbi keluarkan benar-benar penuh keluban atau itu sayur pecelnya. Sementara di sebelahnya, satu kantong tak kalah besar juga sudah hampir penuh gorengan. Padahal jika terjual semua, harusnya Arimbi bisa mengantongi keuntungan sekitar lima ratus ribu.
__ADS_1
Melihat Arimbi dalam keadaan seperti sekarang, Azzam langsung tidak tega. Namun jika melihat interaksi mas Aidan dengan Arimbi, keduanya sudah terlihat sangat dekat. Keduanya memiliki ikatan yang spesial, seolah keduanya sudah mengenal lama.