
“Ayolah ... dibeginikan saja, dihakimi oleh semua orang, aku benar-benar merasa sangat malu. Kenapa mereka masih saja memintaku merasakan hukuman lebih?” batin Divani.
Mas Aidan yang sudah paham dengan keadaan Divani, sengaja meminta berhenti menghakimi. Hati Divani sudah langsung tersentuh, walau kenyataan tersebut justru sudah langsung melukai Chole.
Chole yang diam-diam mengawasi melalui lirikan, sudah langsung berkaca-kaca. Hatinya teriris pedih karena cintanya akhirnya bertepuk sebelah tangan.
“Jangan terus memaksa Divani karena memang percuma. Sayang emosi sekaligus kewarasan kita,” lanjut mas Aidan dan malah membuat seorang Divani yang awalnya seperti diterbangkan, mendadak di jatuhkan ke lembah paling dalam bahkan tak layak dijadikan tempat kehidupan.
“Maaf yah, om Restu, tante Arnita. Saya tidak bermaksud menjatu*hkan putri Om dan Tante. Saya hanya bermaksud bicara apa adanya.” Mas Aidan menatap saksama kedua pasang mata orang tua Divani yang juga menatapnya lekat-lekat.
Mas Aidan merasa, dirinya wajib bicara karena apa yang terjadi antara Divani dan Chole, memang menyangkut dirinya. “Beralih dari apa yang Divani lakukan, aku juga ingin berbicara kepada Chole di hadapan semuanya.”
Jujur, bukan hanya Chole yang sudah langsung deg-degan karena keadaan sekarang. Sebab Arimbi yang walau sudah jadi istri sah mas Aidan juga sudah langsung tak karuan. Arimbi tidak mau dan memang tidak bisa berbagi mas Aidan dengan wanita manapun, tentu saja. Namun Arimbi sadar, keinginannya itu tak harus membuatnya bersikap renda*han seperti yang sudah Divani lakukan.
Arimbi sengaja diam sambil diam-diam melangitkan doa terbaiknya. Meski jujur saja, dirinya tidak membenarkan keputusan Chole.
Setelah menghela napas dalam kemudian berusaha sesantai mungkin, mas Aidan yang sudah memfokuskan diri kepada Chole, berkat, “Chole, ... jawabannya benar-benar sudah bisa kamu maupun semua yang melihat, simpulkan. Aku, ... aku benar-benar bahagia dengan kehidupanku yang sekarang. Aku merasa sangat beruntung. Dan aku yakin seyakin-yakinnya, keluargaku juga merasa sangat beruntung.”
__ADS_1
“Istriku bisa menjadi anak yang baik untuk orang tuaku. Selain istriku yang memang sudah langsung menjadi sahabat sekaligus kakak perempuan yang sangat baik untuk adik-adikku.”
“Sampai detik ini pun aku masih sering enggak percaya, Alloh sayang banget ke aku, sampai-sampai Alloh kasih Arimbi buat aku.”
“Mungkin ini balasan dari doa terbaik orang-orang yang menyayangiku ... orang tua, keluarga, semuanya ... pokoknya, luar biasa banget!” Mas Aidan sampai berkaca-kaca mengatakannya. Tangan kanannya merangkul punggung Arimbi, mengelusnya pelan sebagai wujud dari semua kebahagiaan yang baru saja ia sampaikan. Wujud dari dirinya yang merasa sangat beruntung telah memiliki Arimbi sebagai istri.
“Masya Alloh mas Aidan, aku langsung terharu!” batin Arimbi yang juga sudah langsung menunduk guna menyembunyikan kedua matanya yang basah.
Bukan hanya Arimbi yang merasa terharu dengan ucapan mas Aidan. Sebab semuanya pun merasakannya terlebih mereka tahu perjalanan cinta mas Aidan hingga menemukan seorang Arimbi. Yang mana setelah menikah pun, mas Aidan harus menghadapi fakta mencengangkan bahwa selama ini, cinta dan hubungan yang mas Aidan jalani sebelum melabuhkannya kepada Arimbi, palsu.
Tentu saja, Chole sudah langsung sadar diri. Ia menunduk dalam kemudian mengangguk-angguk. Bersama rasa ikhlas yang seketika menuntunnya belajar agar tidak mengulangi kesalahan fatal di masa lalu, Chole berkata, “Aku benar-benar minta maaf, yah, Mas. Di sini aku juga sangat salah. Maksudku ingin Mas dan semuanya tahu pun, semata agar Didi bisa belajar dari caranya. Termasuk keputusan salahku yang juga tak sepantasnya dicontoh. Selebihnya, ... aku beneran ikhlas. Aku pun bahagia melihat Mas bahagia dengan Mbak Arimbi. Apalagi kalian kompak banget. Kalian serasi banget.”
Apa yang baru saja mas Aidan katakan dan itu sangat serius, sudah langsung menam*par pak Angga maupun ibu Arum. Keduanya langsung teringat masa lalu mereka. Karena dulu, saat menjadi istri pak Angga, ibu Arum malah dilakukan tak lebih dari donatur rasa bab*u.
Bukan bermaksud balas dendam karena hubungan mereka pun sejatinya sudah sangat baik-baik saja sejak lama. Hanya saja, ibu Arum ingin menegaskan kepada pak Angga bahwa sebagai wanita yang telah melahirkan mas Aidan, dirinya telah berhasil mendidik putranya. Ibu Arum berhasil mengarahkan mas Aidan untuk mengutamakan sekaligus memuliakan seorang istri. Karena sebaik-baiknya seorang istri, seberapa pun seorang istri mandiri, istri tetap membutuhkan suami. Istri hanya memiliki suami sebagai dunia utamanya semenjak sebuah pernikahan mengikat mereka.
Yang lebih membuat ibu Arum maupun pak Angga tidak percaya, tak lain karena mas Aidan menegaskannya tanpa diminta. Bagi ibu Arum, selain menjadi sebuah kemenangan tersendiri meski ia memang tidak terlibat dalam peperangan, apa yang mas Aidan lakukan tentu jauh lebih terasa menyakitkan bagi pak Angga, ketimbang jika dilakukan oleh orang lain.
__ADS_1
Pak Angga yang sadar mantan istrinya tengah mempertegas keberhasilannya mendidik mas Aidan, sudah langsung menunduk dalam di deretan sudut depan bersama pak Haji Ojan.
“Di, kamu kuat enggak? Pengin aku peluk, enggak? Kalau enggak kuat, nanti aku panggilin warga buat gotong royong, biar mereka kerja bakti meringankan beban kamu! Namun kalau kamu butuh pelukan, aku saja harusnya sudah cukup!” ucap pak Haji Ojan dan sudah langsung membuat keseriusan di sana agak belok.
Sebagian besar mereka yang di sana sudah langsung mesem. Kecuali Chole, Divani, dan juga mas Aidan yang masih diselimuti keseriusan. Hanya saja, mas Aidan sudah langsung menyeka sekitar mata sang istri menggunakan tisu kering.
“Jadi, ini sudah selesai, kan, ya? Sudah enggak ada yang merasa sakit hati apalagi menjadi korban?” tanya pak Kalandra sengaja mengakhiri pembahasan serius dalam kebersamaan mereka dan itu menyeret mas Aidan.
“Mas, ... ini aku enggak jadi buang orang?” tanya Sekretaris Lim dan langsung membuat pak Kalandra terkikik geli.
“Itu si ibu Septi mau dibuang enggak pakai jet pribadi?” ujar pak Kalandra yang masih tertawa sambil menatap ibu Septi yang duduk di hadapannya.
“Mohon maaf aku sudah enggak gendut lagi. Maafkan aku yang dulu, dan cukup lah cemburu karena sekarang aku sudah punya suami sekaligus keluarga idaman!” ucap ibu Septi sengaja menyombongkan diri.
Dokter Andri yang ada di sebelah sang istri, menjadi senyum-senyum sendiri.
“Dan Pak Kalandra juga jangan lupa, kita akan menjadi besan. Itu tolong lihat, anak Bapak nempel-nempel terus ke putri saya!” ucap ibu Septi dan membuat kebersamaan di sana menjadi meriah.
__ADS_1
Semuanya sudah langsung tertawa kecuali Chole dan Divani. Sebab Azzam, pak Kalandra, dan semuanya seolah menjadikan tawa dadakan di sana sebagai perlombaan untuk menciptakan tawa paling keras.