
Tak butuh waktu lama, Miss Messi sudah menyulap wajah cantik Arimbi menjadi makin cantik. Rias natural yang dipilih membuat wanita itu tak kalah cantik dari bidadari. Arimbi yang terus mendapat pujian dari Miss Messi mengakui, selain ia yang sampai tidak mengenali dirinya sendiri. Terlebih sejauh ini, rias yang Arimbi lakukan sendiri hanya memoles wajah menggunakan bedak bayi, kemudian memoles bibir dengan lipstik. Benar-benar tidak ada perawatan lain, meski kemajuan zaman membuat sederet perawatan hadir dengan banyak pilihan termasuk itu kemudahan.
“Ini pasti nanti pangling berjamaah. Apalagi mas Aidan, ya. Makin ingin cepat-cepat nikah pokoknya!” ucap Miss Messi yang sampai membantu Arimbi memakai jilbab.
Arimbi memakai kebaya muslim warna violet, sementara bawahannya berupa kain jarit masih berwarna senada. Warna yang sangat cocok dengan warna kulit Arimbi yang sejak tinggal di kontrakan mas Aidan, menjadi makin bersih mirip kulit para gadis yang baru pulang merantau dari kota.
Karena masih ada waktu dan mas Aidan juga belum datang, Miss Messi sengaja merias kuku Arimbi menggunakan warna senada dengan kebaya dan juga bawahannya. Kuku Arimbi menjadi makin cantik, tentu saja. Dan lagi-lagi Arimbi menyukainya. Tak salah pihak mas Aidan mengirim Miss Messi untuk mempercantik penampilan Arimbi. Miss Messi sangat cekatan dalam bekerjanya, benar-benar profesional.
“Ini mas Aidan berarti telat, ya, Mbak? Soalnya di depan, rombongan keluarga sudah datang dan lagi cari tempat parkir,” ucap Miss Messi.
Berbeda dari perias kebanyakan di desa Arimbi tinggal dan kebetulan sampai Arimbi kenal, Miss Messi bukan wariyem atau itu wanita kurang tulen yang kebanyakan orang kenal sebagai wari4. Miss Messi wanita cantik yang dari nada bicaranya saja tak sampai dibuat-buat. Malahan, dari gaya bicaranya, Miss Messi terbilang tegas mirip Azzura.
“Mas Aidan masih urus kasus di kabupaten, Miss. Kemarin termasuk pagi ini aku sudah wanti-wanti, sih. Enggak apa-apa telat. Aku bilang ke beliau, enggak usah buru-buru, yang penting sampai dengan selamat. Aku apalagi rumah ini enggak mungkin pergi kok. Jadi, lebih baik mengutamakan keselamatan daripada buru-buru tapi berisiko!” ucap Arimbi sambil memandangi kuku jemari tangan kanannya yang tengah dirias. Namun, periasnya malah tertawa lepas gara-gara ceritanya.
“Mbak Arimbi ternyata lucu banget! Jiwa lawaknya enggak kalah dari mas Azzam!” ucap Miss Messi di tengah tawanya.
“Daripada beliau buru-buru dan melupakan keselamatan, ya mending dibereskan dulu. Aku sama yang lain siap nunggu. Terlebih aku percaya, mas Aidan selalu melakukan yang terbaik,” balas Arimbi masih santai.
__ADS_1
“Adem banget pokoknya dengan kisah hubungan kalian. Dengar sama lihat cara pikir Mbak saja adem, apalagi mas Aidan. Pantas, satu minggu lagi kalian langsung nikah! Kita ketemu lagi dan aku enggak sabar rias Mbak Arimbi lagi! Besok riasnya langsung di hotel, ya?” ucap Miss Messi bersemangat. Tak sabar rasanya merias Arimbi yang otomatis akan menjadi pusat perhatian terlebih keluarga mas Aidan termasuk mas Aidan sendiri bukan orang sembarangan. Pasti banyak orang penting yang datang dan bisa jadi, selain kinerjanya sebagai perias juga akan menjadi bagian dari perhatian, acara tersebut juga akan menjadi pintu rezeki untuknya.
Arimbi langsung tersipu dan perlahan menjadi tertawa lantaran Miss Messi menyinggung video Arimbi yang viiral ketika menghaj4r anak-anak punk, menggunakan wajan.
“Itu wajan kayaknya berat yah, Mbak! Tebal besar gitu!” Miss Messi terbahak-bahak.
Meninggalkan obrolan Miss Messi dan Arimbi, di luar dan itu di gang menuju rumah Arimbi, tetangga apalagi anak kecil sampai berdatangan untuk menyaksikan mobil-mobil dari rombongan keluarga mas Aidan yang memang baru saja datang. Mereka terpukau memandangi setiap mobil yang berdatangan dan sampai mereka hitung. Khusus pak Kalandra dan ibu Arum, keduanya sampai turun dari mobil, berbaur dengan warga yang berjejer dan jumlahnya ada tiga puluh orang lebih.
Warga dan itu tetangga Arum yang kebanyakan sudah tahu kecuali keluarga Ilham, langsung bersalaman bahkan memeluk wakil rakyat mereka itu. Tak jarang, sebagian dari mereka juga mengabadikan momen indah tersebut menggunakan bidik kamera ponsel.
“Berarti bakalan sering mampir ke sini, yah, Pak? Menantunya orang sini!” tanya pak Sukir yang sudah rapi dan memang ditunjuk oleh Arimbi untuk menyambut pihak mas Aidan. Ia mengakhiri pertanyaannya dengan tertawa diikuti juga oleh tetangga yang lain.
Ibu Siti yang mengintip dari balik gorden langsung melongo. Lebah kecil yang tersesat sampai masuk ke dalam mulutnya dan sampai menyengat bibir atas bagian dalam ibu Siti.
“A-su ... a-su! Lebah g0blok! Enggak mikir orang lagi anteng begini ya masih dirusuhi!” heboh ibu Siti jadi langsung tidak bisa mingkem karena efek sengatan lebah membuat bibir atasnya langsung membesar. Ia pihes lebahnya dan sampai membuat jarum sengatnya menempel di telunjuk kanannya dan otomatis di sana juga akan ikut bengkak.
Azzam yang datang lebih dulu langsung menjadi tukang parkir dadakan. Semua mobil yang jumlahnya ada lima berhasil masuk dengan kecepatan pelan sekaligus hati-hati lantaran keadaan jalan gang yang memang sempit.
__ADS_1
Jika kalian sudah membaca novel : Pembalasan Seorang Istri yang Dianggap Sebagai Parasit Rumah Tangga, tentu kalian mengenali setiap wajah yang datang ke sana.
“Tukang parkirnya ganteng banget!” ucap dokter Andri yang duduk di sebelah Sepri.
“Otomatis, Pak Gede! Dijamin halal khusus buat istri, tapi!” ucap Azzam dengan gaya santainya yang khas.
Sepri yang membawa mobil kijang putih rombongan dokter Andri, hanya mesem kemudian menekan-nekan klakson beberapa kali. Ia sengaja menggod4 Azzam.
Lain dengan dokter Andri yang langsung tertawa. “Dia ini, mirip Kalandra tapi mirip alm. Pak Gede juga yah, Bu!” ucapnya heboh kepada ibu Septi yang duduk di tempat duduk penumpang bersama eyang Fatimah. Sementara di belakang mereka, Pak Haji Ojan tampak begitu serius mengawasi suasana depan mobil.
“Efek tiap saat diganggu Pak Gede, jadi mas Azzam diam-diam menyerap sifat Pak Gede!” balas ibu Septi yang langsung terbahak.
“Ini yang mau lamaran, aku, kan?” tanya pak Haji Ojan tiba-tiba bersemangat.
Eyang Fatimah menghela napas pelan. “Makanya kamu kalau apa-apa, hati-hati. Jangan sampai bentar-bentar jatuh, kepala terbentur, terus yang ada kamu langganan amnesia!” Ia mengakhirinya dengan menghela napas pelan sekaligus dalam. “Baru agak normal, eh jatuh. Amnesia balik ke oleng lagi. Kalau kamu sehat kayak teman-teman kan, walau mungkin enggak banyak, pasti ada yang mau sama kamu. Mas Sepri juga, jangan kerja terus yang dipikirin. Mas Sepri juga harus nikah!”
Disinggung nikah, Sepri yang awalnya sempat cengengesan menggod4 Azzam, langsung mingkem. Begitu juga dengan ibu Septi.
__ADS_1
“Ya sudah, Pri. Kita juga nikah, kamu nikah sama aku. Aku jadi ibu rumah tangga, kamu yang kerja!” ucap pak Haji Ojan yang langsung membuat eyang Fatimah menatapnya sambil sibuk beristigfar.