Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
123 : Misi Membongkar Kebohongan Divani


__ADS_3

Senja di pantai pasir hitam yang ada di Pangandaran Jawa Barat, terasa jauh lebih sempurna setelah kedatangan ibu Arum dan pak Kalandra. Pasangan yang tak lagi muda itu benar-benar menyusul.


Kerinduan yang mendalam terlukis di wajah ibu Arum. Wanita berjilbab kuning itu berkaca-kaca menatap Arimbi dan Arimbi, silih berganti.


Mas Aidan sengaja geser, membuat Arimbi dan ibu Arum duduk di tengah. Sembari mengobrol hangat, mereka juga larut dengan suasana senja di sana. Mas Aidan sengaja memesan dua kelapa muda lagi untuk ibu Arum dan pak Kalandra.


Tampak pengunjung yang kebanyakan pasangan, sibuk mengabadikan momen masing-masing menggunakan bidik kamera ponsel. Ibu Arum menjadi terinspirasi untuk melakukannya juga.


“Foto, yuk, foto!” sergah ibu Arum bersemangat. Ia sengaja meminjam ponsel sang suami untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka.


“Hati-hati, Mbak. Pelan-pelan saja kalau memang masih sakit,” ucap ibu Arum ketika mendapati Arimbi yang kesulitan berdiri. Menantunya terlihat menahan nyeri di pangkal selangka*ngan yang juga membuat tangan kanan Arum refleks memegangi bagian di sana.


Mendapat teguran dari ibu Arum barusan dan memang begitu peduli kepadanya, Arimbi langsung kikuk. Arimbi refleks melirik sang suami. Melalui lirikannya tersebut, Arimbi ingin mengabarkan, bahwa mamah mertuanya sangat paham. Ini mengenai apa yang tengah Arimbi rasakan. Rasa sakit akibat robeknya selaput dara di malam pertama dan memang harus Arimbi rasakan, sebelum Arimbi bisa menikmati hubungan inti*mnya dan mas Aidan. Hubungan yang juga akan membuat kebutuhan batin Arimbi terpenuhi, selaku salah satu tujuan utama adanya sebuah pernikahan.


“Jarang-jarang, bulan madu ditemenin orang tua. Maaf yah, kalau kamu jadi enggak nyaman.” Mas Aidan berbisik-bisik tepat di sebelah telinga kanan sang istri.


Mereka sedang bersiap foto bersama. Di sebelah, ibu Arum tengah meminta pedagang kelapa muda, untuk memfoto mereka menggunakan ponsel pak Kalandra.


“Ih, enggak apa-apa. Malah seru tahu, Mas. Habis ini kita salat dulu, baru seru-seruan lagi. Bakar-bakar di sini kayaknya juga seru kayak pas papah mamah Mas, bulan madu dulu. Dulu, pas papah mamah bulan madu, katanya juga jadi rasa liburan keluarga karena mbah kakung sama mbah uti, juga ikut!” ucap Arimbi berbisik-bisik juga tepat di depan wajah suaminya.


Mas Aidan hanya tersenyum pasrah dan bersikap setenang mungkin, meski sebenarnya, ia sudah sangat ingin bermanja-ria kepada Arimbi tanpa gangguan siapa pun bahkan itu orang tuanya. Namun, melihat kekompakan orang tuanya dengan Arimbi, mas Aidan juga menemukan kebahagiaan lain. Kebahagiaan yang benar-benar spesial. Karena belum tentu, kebahagiaan tersebut bisa dirasakan oleh sembarang menantu di luar sana. Dan Arimbi sungguh merasakannya. Istrinya itu bisa berbicara bahkan tertawa bebas dengan pak Kalandra maupun ibu Arum hanya karena pembahasan yang benar-benar sederhana, sepele.


Di tempat berbeda, Azzam dan Sundari sudah tiba di rumah orang tua Divani. Mereka tak hanya datang berdua karena sesuai tujuan Azzam, pak Haji Ojan juga menjadi bagian dari mereka.

__ADS_1


“Yang sopan, yah, Jan!” lirih Azzam seperti menasihati anaknya sendiri.


“Tapi ini kan bukan rumahnya Aisyah. Ini rumahnya Divani!” Pak Haji Ojan terheran-heran mengawasi sekitar, tapi sampai detik ini, ia belum menemukan tanda-tanda Aisyah ada di sana.


Di teras depan rumah kediaman Divani yang memang lebih megah dari rumah orang tua Azzam, Sundari dan Azzam bertatapan.


“Kamu beneran cinta hidup ke Aisyah!” ucap Azzam sambil berkecak pinggang.


Pak Haji Ojan sudah langsung mengangguk-angguk. “Iya, ... soalnya Aisyah cantik, pakai cadar. Ih, janda!” Ia sudah langsung kegirangan hanya karena mengingat Aisyah dan baginya sangat memesona.


“Ih, kamu enggak boleh gitu, Jan. Karena Aisyah ibarat azab buat Ilham dan ibu Siti!” protes Azzam yang juga meyakinkan pak Haji Ojan agar berhenti berharap kepada Aisyah.


Pak Haji Ojan sudah langsung menggeleng. “Enggak mau, aku cinta sama janda Aisyah!”


“Alah, ... sekarang saja kamu bilang cinta. Nanti kalau kamu sudah lihat wujud aslinya, pasti kamu langsung innalilahi!” sergah Azzam masih sewot.


Setelah menatap wajah Sundari, emosi Azzam menjadi jauh lebih manusiawi. Azzam tersenyum menatap Sundari kemudian membaginya kepada pak Haji Ojan.


“Mending kamu sama Didi, saja, ya? Yang pasti-pasti saja, soalnya dia bilangnya cinta mati ke kamu!” ucap Azzam serius, meski ia juga keceplosan berkata, “Paling kalau kamu mati, dia nikah lagi!”


“Eh, kok malah jujur,” ucap Azzam merasa kecolongan. Ia menggunakan tangan kanannya untuk menutup mulut.


Karena Azzam kembali menatapnya serius, dan pria itu tampak menagih keputusannya, Ojan pun menjelaskan sejelas-jelasnya. “Aku cinta ke janda Aisyah. Aku bakalan setia. Mau nunggu sampai Ilham mati. Apalagi kan Ilham sudah patah tulang gara-gara jatuh dari tangga. Itu pasti matinya sebentar lagi.”

__ADS_1


“Kok ribet, ya?” lirih Azzam sambil menatap Sundari yang ada di hadapannya.


“Mas ada foto mbak Aisyah, enggak? Mas Ojan kan, pemuja wanita cantik. Jadi, dia memang wajib tahu yang aslinya biar dia puas!” yakin Sundari.


“Ah, iya. Aku kan punya fotonya di portal berita!” Azzam langsung bersemangat dan mendadak menemukan ide berlian.


“Apaan itu, itu sih silumin. Eh, siluma-n! Mana mungkin itu Aish. Aish kan bercadar, pakai serba tertutup, cantik!” komentar pak Haji Ojan ketika Azzam menunjukkan foto wanita di tengah keramaian mirip keadaan penggerebekan. Azzam bilang itu wujud asli Aisyah, tapi pak Haji Ojan sudah langsung tidak percaya.


Diam. Sundari dan Azzam sudah langsung tidak bisa berkomentar. Keduanya juga langsung kehilangan akal.


“Divani lebih cantik loh! Dia mau pakai cadar kalau kamu juga mau insaf dari kejandaan!” Azzam mencubit gemas lengan pak Haji Ojan.


“Besok pagi dia mau ke Jakarta. Jadi, jadikan lah malam ini malam terakhir yang indah sebelum kalian bertemu di alam barzah!” ucap Azzam.


Sundari yang mendengarnya sudah langsung menyikut Azzam. “Kok alam barzah?” tegurnya ketika tatapan pria itu berhenti.


“Apa efek bukan niat baik, yah, Yang? Makanya Alloh enggak izinin?” lirih Azzam.


“Bisa jadi sih, Mas. Namun Mas tetap harus negur Divani, kalau bisa di hadapan orang tua dan keluarganya. Di depan mas Devano, dia kan tegas banget apalagi ke Divani!” balas Sundari.


Azzam sudah langsung mengangguk setuju. “Oke, ayo kita masuk.”


Bagi Azzam dan Sundari, meski mas Aidan sudah menikah dengan Arimbi, apa yang Divani lakukan wajib dibongkar. Terlebih hubungan Divani dan mas Aidan tidaklah sebentar. Hubungan keduanya walau diwarnai putus nyambung, nyaris bertahan empat tahun.

__ADS_1


Tanpa mengabarkannya kepada mas Aidan terlebih Arimbi demi menjaga hubungan keduanya, Azzam dan Sundari siap menjalani misi mereka membongkar rahasia tak terpuji seorang Divani. Mereka yang masih ditemani pak Haji Ojan, sudah ada di hadapan Divani sekeluarga.


Cukup tegang, tapi Azzam sudah langsung memulai. Membiarkan Divani kerap diam-diam ia pergoki melirik sinis kebersamaannya dan Sundari.


__ADS_2