
Aisyah hanya bungkam ketika pertahanan alot yang ia lakukan, tetap membuat para polisi wanita melihat jejak masa lalu di tubuhnya. Semua tato di tubuh Aisyah membuat kedua polisi wanita yang seharian ini Aisyah kulabui mengandalkan dalil agama sekaligus HAM, geleng-geleng.
“Satu kata buat wanita seperti kamu,” ucap polisi wanita yang sedari malam kemarin melakukan wawancara super sabar kepada Aisyah. “MUNAFIK!” Tegasnya tapi langsung mengomel, menggebrak meja di hadapan mereka menggunakan kedua tangan lantaran Aisyah tak terima ia katai munafik.
“Lihat saja nanti. Sejauh ini belum ada yang menang kalau sudah berurusan dengan pengacara anak dan bapak itu!” timpal polisi wanita yang satunya lagi. Tentu saja yang ia maksud mas Aidan dan pak Kalandra.
“Kita lihat saja nanti! Saya yakin kebenaran akan selalu menang!” tegas Aisyah yang masih yakin bahwa dirinya memang benar.
Setelah kedua polisi wanita tadi refleks menelan ludah, keduanya juga kompak menoleh satu sama lain hingga tatapan keduanya bertemu. Tanpa membantu Aisyah memakai pakaiannya lagi, keduanya juga kompak pergi. Membuat Aisyah yang ditinggalkan, merasa diinja*k-inja*k harga dirinya.
“Ini kenapa pihak dari pesantren enggak datang-datang, ya? Jangan-jangan, mas Ilham beg*o, dan memang belum ngabarin?” pikir Aisyah makin emosi.
Tak lama setelah selesai memakai pakaiannya lengkap dengan kerudung berikut cadarnya, Aisyah dihadapkan dengan sang suami. Ilham berdalih baru boleh diizinkan menemui Aisyah yang baru saja ditetapkan sebagai tersangka sekaligus dalang kasus Arimbi.
“Jadi ini, alasan kamu buru-buru minta balik ke pesantren? Kamu yah Aish ... emang dasar luar dalam sama saja!” kesal Ilham yang telah duduk di hadapan Aisyah. Mereka duduk berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja kayu yang ada di hadapan mereka.
Kedua mata tajam Aisyah langsung melirik sinis Ilham. “Kamu yang salah, Mas. Karena alasanku begini juga gara-gara kamu. Lihat saja nanti, pasti pihak pesantren akan langsung menyalahkan kamu habis-habisan!”
Ilham yang duduk penuh ketenangan dan masih fokus menatap kedua mata Aisyah, berangsur menggeleng. “Aku enggak sebo*doh itu. Karena aku beneran hanya akan menghubungi mereka setelah kamu resmi mendekam di penjara. Ini pelajaran buat orang sok suci seperti kamu!”
Mendengar itu, Aisyah langsung syok. Kedua mata Aisyah nyaris loncat dari rongganya. Sementara kedua tangannya refleks menggebrak meja yang memisahkan kebersamaan mereka. Aisyah benar-benar emosi, tak percaya Ilham akan setega itu kepadanya.
__ADS_1
“Dikiranya kamu juga orang suci, Mas?” lirih Aisyah yang kemudian menggeleng tak habis pikir. “Kalau keadaannya sudah begini, ayo kita sama-sama menderita! Karena bisa aku pastikan, sampai kapan pun aku tetap menjadi satu-satunya istrimu!”
Ilham sengaja tersenyum menge*jek. Senyum penuh kemenangan. “Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku baru akan ke sini, satu minggu lagi untuk sidang kasus kamu!” yakinnya lirih sekaligus tenang.
Tak mau membuang-buang waktunya, Ilham memutuskan pulang. Ia sama sekali tidak memedulikan permohonan Aisyah yang perlahan berubah menjadi sumpah serapah.
***
“Arimbi mau lamaran. Dapat pengacara muda itu, siapa namanya? Kalau enggak salah, mas Aidan, ya? Anaknya pak Kalandra, anggota DPR itu. Kabarnya dia juga punya dua rumah makan besar!” ucap ibu Siti lemas dan memang tidak semangat. Ia tengah menemani putranya yang tengah makan malam.
Nasi yang sudah dingin dan memang jauh diri pulen, malah berakhir tersangkut di tenggorokannya.
Yang membuat Ilham merasa makin tersiksa, bukan perkara menu makan malam yang ia dapatkan dari sang mamah. Sebab kenyataan ibu Siti hanya menegur dan malah pergi begitu saja tanpa memberinya minum terlebih dahulu, membuatnya tersedak dan berakhir batuk-batuk. Ilham merasa tengah mencicipi detik-detik menuju sakratulmaut.
“Ya ampun, Mah ... Mah. Kebangetan banget sih Mamah! Tega!” kesal Ilham dalam hatinya.
Tertatih, Ilham yang batuk-batuk menuju meja sebelah keberadaan air minum dan memang bersebelahan dengan rak gerabah. Ilham buru-buru mengambil gelas dari sana di tengah wajahnya yang sudah menjadi merah padam.
Namun, baru juga menuang air dan siap untuk minum, seekor cecak jatuh masuk ke dalam gelasnya, sebelum cecak tersebut malam loncat mendarat di wajah Ilham. Ilham hanya terpejam menahan amarah yang juga sampai membuat kedua tangannya gemetaran.
Di balik ruang tahanannya, Aisyah juga merasa apa yang Ilham lakukan kepadanya begitu kejam.
__ADS_1
“Tega, kamu Mas!” batin Aisyah. Ia masih duduk menekuk kedua lututnya yang sampai ia dekap. “Bukannya dapat cinta kamu, kamu malah sengaja jeblosin aku di sini!” batinnya lagi.
Aisyah menatap miris suasana sekitar. Selain dingin sekaligus banyak nyamuk, di sana juga hanya dihiasi tikar lusuh yang menghiasi sudut ruangan. Suara nyamuknya terdengar sangat ngeri, menguing-nguing di telinga Aisyah. Ditambah lagi, pakaian Aisyah serba hitam hingga nyamuk makin tidak mau menjauhinya.
“Ya ampun, ... berasa hidup di jalanan lagi!” batin Aisyah. “Kalau di jalanan sih ada teman, ... nah ini boro-boro,” lirih Aisyah.
Tak berselang lama, Aisyah pun masih duduk menghadap jeruji besi, dua orang polisi datang membawa ibu-ibu bertubuh gempal. Ibu-ibu tersebut berambut pendek keriting megar, dan wajahnya sangat seram. Ditambah, wajah bengis yang melirik Aisyah saja langsung setajam silet itu dipenuhi lebam dan sebagiannya masih disertai darah segar.
“Ih, aku enggak berharap punya teman kalau temannya macam dia ...,” batin Aisyah yang belum apa-apa sudah deg-degan ketakutan.
Aisyah terus melipir sekaligus menghindar. Meski saking takutnya, usaha menghindar yang Aisyah lakukan lebih mirip siput berjalan.
Si teman baru Aisyah tadi, menatap waspada kepergian kedua polisi wanita yang sempat mengantarnya. Setelah yakin keduanya benar-benar sudah pergi, ia tersenyum bengis pada Aisyah yang ia yakini takut. Sengaja ia mendekat sembari memperhatikan kedua kakinya yang terus dihindari Aisyah. Ia merasa sangat terhibur karena Aisyah terlihat jelas ketakutan kepadanya.
“Apa-apaan, ini? Hamba Alloh kok nginep di sini!” teriak si wanita tak segan menarik paksa jilbab Aisyah hingga lepas.
Kaget, tentu saja. Wanita tadi menatap tak percaya penampilan Aisyah yang sukses membuatnya tertawa puas. “Dasar wanita munafik! Kamu sengaja jadi hamba Alloh demi menutupi ai*b, kan?” tudingnya. Namun karena Aisyah terlihat tidak terima dan nyaris melawan, ia sengaja berkata, “Apa? Kamu berani ke aku? Sini maju!” Ia terus meminta Aisyah untuk maju sambil menendang wanita penuh tato dan tindik itu layaknya bola sepak.
“Tega, kamu Mas! Tega! Kenapa kamu menempatkanku di posisi ini!” batin Aisyah masih sibuk menghindar walau usahanya lebih mirip siput berjalan. Menahan ketakutan luar biasa, ia sampai ngompol. Awalnya, si wanita menertawakannya. Wanita itu merasa menang melebihi ketika Aisyah melihat penderitaan Arimbi. Namun lama-lama, wanita itu kesal karena tempat penginapan mereka jadi bau pesing.
Saking kesalnya, si wanita tak hanya menendang, tapi juga beberapa kali memban*ting tubuh Aisyah yang terbilang mungil sekaligus kurus.
__ADS_1