
Alasan Arimbi mendadak ingin merangkul pak Haji Ojan agar pria itu bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri, tentu karena Arimbi merasa kasihan kepada Sepri. Tak tega rasanya melihat Sepri mondar-mandir mengamankan pak Haji Ojan. Lebih tak tega lagi setelah Arimbi tahu bahwa dari lahir, Sepri tidak memiliki kaki kanan karena kelainan yang dialami.
“Kelainan atau memang pas ibu Septi hamil mas Sepri, apa bapaknya mas Sepri, enggak bilang amit-amit pas lihat yang enggak seharusnya dibatin atau malah refleks diketawain? Kalau lata orang tua kan gitu ya Mas. Pantangan pokoknya!” ujar Arimbi.
Mas Aidan berpikir keras dan sampai refleks mengerling. “Sepertinya sih memang perpaduan. Makanya besok kalau kamu hamil, semuanya wajib serba dikontrol. Kesehatan kamu sama janin, sama wajib kontrol ucapan sama tingkah kita. Pokoknya wajib saling mengingatkan!”
Apa yang baru saja mas Aidan bahas dan itu mengenai kehamilan Arimbi, langsung membuat Arimbi kikuk. Deg-degan, itulah yang ia rasakan, selain ia yang menjadi tidak berani menatap mas Aidan terang-terangan.
Karena Arimbi langsung diam, wanita itu menjadi menunduk di tengah kedua pipinya yang bersemu, mas Aidan sengaja membahas suasana hati Arimbi sebelum mereka sepakat merangkul pak Haji Ojan dan juga Septi.
“Pas kontrol rumah, ada yang mengganggu pikiran, atau malah dengan sengaja melukai hati Mbak?” mas Aidan menatap lekat-lekat Arimbi yang memang duduk di sebelahnya. Mereka masih duduk di bangku yang ada di depan kontrakan sebelah Arimbi tinggal. Kontrakan yang sampai saat ini masih kosong, dan baru akan dihuni sekitar satu minggu lagi karena penyewanya masih ada urusan.
Arimbi menghela napas dalam, kemudian memberanikan diri untuk menatap mas Aidan. Ia menceritakan perlakuan tak mengenakan yang ia terima dari Ilham dan ibu Siti. Termasuk mengenai dugaan mereka terhadap keputusan mas Aidan menikahi Arimbi yang hanya orang m1skin penjual pecel.
“Giiiiiila, Mas! Mereka bilang, Mas sekeluarga sengaja menikahiku buat banten alias tuuuumbal p3sugihan!” cerita Arimbi benar-benar geregetan.
Mas Aidan yang masih menatap Arimbi penuh keseriusan, masih berusaha setenang mungkin. Meski ulah Ilham dan sang ibu sudah langsung membuat ubun-ubunnya terasa panas. “Mereka itu memang kurang kerjaan, makanya sibuk meruusak kebahagiaan orang lain. Ambil positifnya saja, Mbak. Karena dengan begitu, Mbak bisa bikin ibu Siti maskeran pakai air genangan di jalanan!” ucapnya masih tenang.
Arimbi mendengkus loyo, membiarkan malam yang tengah berlangsung menyelimuti kehidupan, membawa kekesalannya terhadap Ilham dan ibu Siti, secara perlahan. Memang tidak akan ada habisnya jika berurusan dengan orang-orang seperti mereka, tapi Arimbi tetap ingin membalas kedua.
__ADS_1
“Heran yah, Mas. Padahal dulu mereka enggak gitu,” ucap Arimbi yang tanpa sadar jadi terbiasa berkeluh kesah kepada mas Aidan.
Mas Aidan langsung menahan senyumnya. “Ya beda lagi, Mbak. Dulu kan mereka ada maunya ke Mbak. Jadi ya otomatis mereka lebih hati-hati.”
Kali ini giliran Arimbi yang menahan senyumnya. Dan itu gara-gara balasan mas Aidan barusan. “Bener juga yah Mas. Kadal emang mereka!”
“Dilihat saja, mau jadi apa mereka tanpa Mbak! Apalagi mereka juga enggak mungkin dapat dari si wanita suci!” balas mas Aidan.
“Enggak mungkin? Kayaknya enggak ada yang enggak mungkin buat mereka deh. Mereka kan sudah terbiasa menj1lat ludahnya sendiri, Mas!” balas Arimbi yakin seyakinnya. Di hadapan mereka, mas Aidan sudah langsung sibuk menahan tawa.
Arimbi menikmati sikap sekaligus setiap kebahagiaan mas Aidan, yang makin lama makin mudah hadir dalam kebersamaan mereka. Padahal saat pertama mengenal, Arimbi sangat sungkan bahkan takut. Terlebih yang Arimbi tahu, mas Aidan sangat pendiam. Belum lagi, sikap mas Aidan yang sangat tegas juga empat Arimbi curigai galak. Namun ternyata, semua ketakutan itu sama sekali tidak terbukti. Malahan, kenyamanan sekaligus ketenangan yang selalu Arimbi dapatkan dari mas Aidan.
***
Karena waktu pernikahan yang sudah tinggal hitungan hari, untuk urusan pakaian pengantin memang langsung beli jadi. Hanya akan disesuaikan jika memang masih ada yang kurang. Mereka mengunjungi tukang jahit langganan keluarga mas Aidan yang memang sampai memiliki banyak koleksi pakaian pengantin. Lokasinya sendiri masih berada di kecamatan sama dengan tempat mereka tinggal. Hingga walau agak buru-buru, Arimbi masih bisa tetap jualan di pagi maupun sorenya.
“Mbak Arimbi beneran mirip mamahnya anak-anak. Dulu waktu kami mau nikah pun, kalau enggak ditahan-tahan, Mamah Arum masih mau jualan, buka kantin!” pak Kalandra terbahak-bahak dan membuat yang di sana tertular tawa renyahnya.
Tentu pak Kalandra tidak akan pernah lupa kepolosan sang istri yang menjadi bahan dongeng untuk anak-anak dan juga menantunya sekarang.
__ADS_1
Pulang jualan, Arimbi memang diajak mas Aidan main ke rumah. Mereka akan membahas mengenai acara lamaran sekaligus pernikahan. Di ruang keluarga yang ada di lantai bawah, acara itu berlangsung dalam formasi lengkap. Semuanya berpasangan walau Azzam masih disandingkan dengan Akala yang otomatis menjadi k0rban langganan kejailannya.
“Mas, dari tadi aku perhatikan, Mas sibuk lafalin ayat kursi?” bisik Akala bingung sekaligus penasaran.
“Biar jin penyebar cemburu pada pergi atau setidaknya duduk di kursi. Ganggu banget soalnya. Jadi panas gini.” Azzam juga membalas dengan berbisik-bisik.
Namun, balasan Azzam sudah langsung membuat Akala percaya, bahwa di sekitar mereka memang banyak jin yang berkeliaran. Karenanya, Akala sengaja mengawasi sekitar, walau tentu saja, ia tidak melihat ada yang aneh atau setidaknya berbeda.
Untuk mencari tahu, Akala sengaja berbisik-bisik kepada Azzam. “Di mana Mas, jin-nya? Sebelah mana? Wujudnya kayak apa? Terus sejak kapan juga Mas jadi rasa anak indigo yang bisa melihat mereka yang enggak terlihat?”
Mendengar pertanyaan sang adik, Azzam sampai lupa bernapas. Tak ia sangka, sungguh tak ia duga, kecemburuannya yang ia luapkan dalam kiasan, malah dianggap serius oleh Akala. “Anak indigo bagaimana? Jauh bener ... kita kan sama-sama anaknya papah Kala sama mamah Arum!” bisiknya benar-benar geregetan kepada Akala.
“Tadi kata Mas jin penyebar cemburu enggak mau diam dan bikin suasana jadi panas, makanya Mas sampai lafalin ayat kursi biar mereka pergi atau setidaknya duduk,” balas Akala masih berbisik-bisik.
Pak Sana sampai menegur Akala dan Azzam karena keduanya malah sibuk mengobrol sendiri. Padahal pak Kalandra dan ibu Arum sedang mempertimbangkan usul Azzura, agar mas Aidan dan Arimbi, memakai salah satu pakaian pengantin pak Kalandra dan ibu Arum, saat keduanya menikah dulu.
“Masih baru dan cuma dipakai sekali. Ayo dilihat dulu, siapa tahu cocok!”
ibu Arum sudah langsung memboyong Arimbi maupun mas Aidan ke kamar. Azzura ikut bersama mereka karena akan memberi pendapat cocok tidaknya nanti pakaian yang akan dicoba.
__ADS_1