Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
64 : Gara-Gara Sepanci Mi Rebus


__ADS_3

Terlalu tegang membayangkan acara empat bulan kehamilan Azzura, membuat Armbi tidak bisa tidur. Berulang kali Arimbi mengganti posisi tidurnya hingga sang ibu menjadi terbangun.


“Kamu kenapa? Sakit?” lirih ibu Warisem sembari berangsur duduk. Ia khawatir Arimbi sakit perut karena efek datang bulan, atau malah karena diare.


Arimbi menggeleng beberapa kali karena pada kenyataannya, ia memang tidak memiliki keluhan. Ia hanya terlalu tegang karena sore ini saja, orang-orang di rumah mas Aidan yang tengah rewang sudah langsung menjadikannya fokus perhatian. Bagaimana dengan besok?


Namun di tempat berbeda, alasan mas Aidan tidak bisa tidur karena pria itu harus bolak-balik ke kamar mandi. Sifat rakusnya karena tak mau berbagi masakan Arimbi kepada Azzam, membuatnya mendadak diare sekaligus sakit magh.


“Kayaknya magh Mas kambuh, terus sama diare juga.” Mas Aidan berbisik-bisik kepada Azzura yang terpaksa ia bangunkan.


“Memangnya Mas habis makan apa?” balas Azzura menatap penasaran mas Aidan.


Walau tidak berani cerita, yang langsung ada di ingatan mas Aidan adalah mi rebus kiriman Arimbi yang rasanya sangat enak. Ada telur, irisan cabai, bawang, kol, dan juga toge.


“Mas habis makan pedas dalam jumlah banyak, ya? Atau malah semalam hujan-hujan, makan mi rebus?” Azzura yang memakai daster panjang batik warna merah tanpa menutupi kepalanya menggunakan jilbab, berangsur menghela napas pelan. Ia melongok ke belakang mas Aidan. Karena di sana, Excel sudah melangkah cepat sambil membawa satu gelas teh.


“Mas Suami, ... itu Mas beneran taruh garam, atau malah micin? Mas tahu bedanya micin dan garam, kan?Soalnya dulu Mas pernah bikinin aku teh micin. Teh cinta made in Mas Suami yang tak terlupakan pokoknya,” ucap Azzura.


Mas Aidan yang kembali mules, tetap saja tertawa jika Azzura dan Excel sedang berinteraksi layaknya sekarang.


“Sudah aku cicipi rasanya asin. Semacam oralit dari teh begini sih, aku paham. Lebih gampang dipahami daripada memahami pikiran istri apalagi pikiran istri yang sedang hamil,” ucap Excel sengaja menyindir Azzura.


“Lagi mules gini, kalian malah melawak!” ucap mas Aidan sekalian pamit. Ia buru-buru lari ke belakang selaku keberadaan kamarnya.


Azzura dan Excel refleks saling menoleh, membuat mereka saling tatap sebelum akhirnya melepas kepergian mas Aidan.


“Kita ke kamar mas Aidan saja,” ucap Excel sambil menatap Azzura yang mendekatinya. Wanita berkulit putih bersih itu mencicipi teh oralit buatannya.

__ADS_1


“Sepet asin,” ucap Azzura sembari merem-merem menahan rasa sepet sedikit asin dari oralit yang ia cicipi.


“Bener, kan?” tanya Excel memastikan kepada sang istri.


“Aku ambil tas kerjaku dulu. Di rumah enggak ada orang lain, kan, soalnya aku pakai gini? Ini jam berapa, sih?” ucap Azzura.


Dengan santainya, Excel yang sudah langsung melangkah pergi menyusul mas Aidan, berkata, “Jam demit bebas keluyuran sih.”


“Heh, Mas Suami! Tega ih, aku kan lagi hamil!” rengek Azzura benar-benar manja.


Excel menghela napas sambil balik badan dan bahkan menghampiri Azzura. “Kan aku sudah beberapa kali bilang, andai janinnya bisa dipindahin ke aku, aku ikhlas lahir batin. Masalahnya aku enggak punya rahim, ya enggak bisa!” yakinnya.


Azzura susah payah menahan tawanya. Bahagia rasanya jika sang suami sedang berisik layaknya sekarang. “Temenin, ih. Sejak tahu aku hamil, aku jadi penakut.”


Excel menghela napas dalam. “Kalau dipikir-pikir, kebanyakan wanita menjadikan kehamilan sebagai senjata ampuh untuk mendapatkan semua obsesinya.”


“Manja ke suami sendiri apa salahnya? Mas Suami bilang, Mas bakalan makin sayang dan terus begitu kalau aku hamil!” rengek Azzura, walau pada akhirnya, ia malah tertawa.


“Mas Suami ... Mas Suami lihat tanganku bentol digigit nyamuk.” Azzura sengaja merengek-rengek berhubung sang suami sedang perhatian. Sambil terus melangkah masuk ke kamarnya, ia sengaja memamerkan tangan kirinya yang dihiasi bentol besar akibat digigit nyamuk dan sampai ia garuk.


“Kalau aku tahu nyamuk yang berani gigit kamu, aku penjarakan tuh nyamuk!” balas Excel geregetan dan sukses membuat Azzura tertawa puas saking girangnya.


***


Pagi sekitar pukul setengah tujuh, Arimbi sudah langsung curiga lantaran yang datang mengangkut pecel dan semuanya untuk keperluan empat bulan kehamilan Azzura, tidak disertai mas Aidan. Hanya Azzam dan Akala yang datang.


“Mas Aidan ke mana?” tanya Arimbi sembari membawa tambah yang nantinya akan menjadi wadah pecel, gorengan, lontong, maupun potongan buah untuk rujaknya.

__ADS_1


“Masih tepar dia, gara-gara mi rebus satu panci dimakan sendiri!” ujar Azzam sambil membawa satu kontainer plastik besar berisi sayur rebus untuk pecel.


Balasan sewot Azzam, langsung membuat Arimbi merasa berdosa karena biar bagaimanapun, mi rebus satu panci yang Azzam maksud, merupakan buatannya.


“Eh, Mbak. Aku enggak bermaksud menyalahkan atau sekadar menyindir Mbak, ya. Aku bilang kayak tadi, biar mas Aidan enggak rakus lagi. Tapi baru kali ini sih, mas Aidan begini,” ucap Azzam yang menjadi merasa bersalah sekaligus berdosa kepada Arimbi akibat ucapannya. “Beneran nih, mulutku, nerakaku!” batinnya jadi merasa tak enak hati kepada Arimbi.


“Iya, enggak apa-apa, Mas. Bentar coba saya telepon mas Aidannya. Tapi sudah minum obat, kan?” balas Arimbi meyakinkan. Walau langsung sangat mengkhawatirkan mas Aidan, ia tetap bersikap hangat kepada kedua adik calon suaminya. Ia tetap membagi senyumnya.


Azzam dan Akala kerap diam-diam mengawasi Arimbi yang sudah menelepon mas Aidan.


“Sekarang keluhannya apa? Yang Mas rasakan, gimana? Untuk sementara jangan makan yang pedas sama asam, termasuk jangan yang instan-instan dulu, ya,” ucap Arimbi sambil mondar-mandir di teras kontrakan.


Azzam dan Akala yang menyimak, menjadi penonton baik perhatian Arimbi kepada mas Aidan, berangsur saling menoleh hingga keduanya bertatapan.


“Sekarang keluhannya apa? Yang kamu rasakan,” ucap Azzam sengaja menirukan gaya perhatian Arimbi kepada Akala.


“Keluhan? Aku pengin kurus!” balas Akala setelah sebelumnya, sempat kebingungan kenapa Azzam sampai bertanya begitu.


“Mas tanya, kamu juga tanya balik!” sebal Azzam lirih.


“Sekarang keluhannya apa?” tanya Akala yang kemudian mesem.


“Takut tiap saat gumoh gara-gara calon pengantin kita, terlalu romantis! Yang laki-laki manja, yang perempuan terlalu perhatian!” balas Azzam sewot.


“Aku takut dosa tapi sudah ketawa, Mas!” ucap Akala di sela tawanya. Ia menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulut.


“Emang kebangetan kamu, Dek! Orang lagi kesel gini malah kamu ketawain!” ucap Azzam makin sebal.

__ADS_1


Akala melongok ke Arimbi yang masih mondar-mandir pelan di teras dan memang masih berbincang dengan mas Aidan melalui sambungan telepon. Ia pergoki, Azzam yang masih melirik sinis kepada wanita itu. Iya, Akala tahu kalau sebenarnya, alasan Azzam seperti itu karena Azzam cemburu kepada mas Aidan yang malah dipilih Arimbi, padahal Azzam lebih dulu berusaha mengejar Arimbi.


“Kalau diarenya belum sembuh, carikan pucuk daun jambu biji yang muda, terus dimakan pakai sedikit garam. Cukup sarinya yang ditelan, ampasnya enggak usah karena pasti seret.” Ibu Warisem yang mendengar mas Aidan sakit, turut berkomentar. Wanita itu sampai melangkah tertatih hanya untuk ikut serta mengobrol dengan mas Aidan melalui sambungan telepon.


__ADS_2