
“Mbak, ....” Mas Aidan kembali duduk di hadapan Arimbi, tapi kali ini, ia menatap wanita itu penuh keseriusan. Yang ditatap ia pergoki langsung tegang dan perlahan menghindari tatapannya sambil sesekali mengerjap.
“Pengamen tadi, ... sebelumnya, Mbak Pernah lihat?” lanjut mas Aidan dan kali ini, ia memergoki Arimbi yang langsung berpikir keras.
“Jujur, kalau saya pribadi belum pernah lihat. Di sekitar alun-alun kota pun, sepertinya memang enggak ada karena kota kita bersih dari yang seperti mereka,” lanjut mas Aidan.
“Jadi, ... yang Mas maksud, apa?” balas Arimbi. “Mereka memang baru, sih. Maksudnya, sebelum tadi, saya memang belum pernah lihat!” yakinnya dan mas Aidan langsung mengangguk-angguk.
“Jangan-jangan, mereka memang temannya si Aisyah?” pikir mas Aidan, tapi wanita di hadapannya izin pergi karena ada yang beli.
Tiba-tiba saja, mas Aidan teringat seseorang. “Oh, iya. Mas Excel! Aku bisa meminta bantuannya. Dia sudah pulang belum? Apa aku harus memastikannya ke mbak Azzura?” pikirnya.
Mas Aidan : Mbak, suamimu sudah pulang?
Mbak Azzura : Belum, masih di Jakarta. Katanya, lusa baru sampai rumah.
Mbak Azzura : Kenapa, gitu, Mas? Tanya-tanya mas Excel?
Mas Aidan : Tadinya ada perlu.
Mbak Azzura : Sudah, suruh pulang saja. Kalau Mas Aidan yang minta, pasti langsung beres. Malahan daripada ke aku yang istrinya, mas Excel jauh lebih nurut ke Mas.
Mas Aidan mesem membacanya.
Mas Aidan : Bentar coba, aku kabari mas Excel.
Setelah sampai menghubungi Excel suami Azzura, fokus mas Aidan kembali pada Arimbi yang baru saja beres mengurus pembeli.
“Mbak Arimbi mau pulang jam berapa? Nanti aku antar,” tanya mas Aidan.
__ADS_1
Arimbi langsung kikuk mendengarnya. Namun walau mas Aidan sampai pergi untuk mengantar pak Angga pulang ke rumah lebih dulu, pria itu sungguh kembali datang kemudian mengantarnya pulang hingga rumah.
Di lain sisi, Ilham yang masih linglung, menjadi makin linglung lantaran menyaksikan dengan kepala dan matanya sendiri, kepulangan Arimbi yang sampai dikawal oleh mas Aidan. Mas Aidan terus mengawal di belakang tak jauh dari motor yang Arimbi kemudikan. Lebih menjengkelkannya lagi, mas Aidan sampai menekan klakson beberapa kali sambil tersenyum ramah kepadanya.
“Tuh orang niat banget pamer, ya?” batin Ilham masih berdiri di tengah halaman rumahnya. Ia memang sengaja berjemur demi membuat toksin dalam tubuhnya dan ia yakini menjadi salah satu alasannya linglung. Niat awalnya tentu ingin sekalian menggo*da Arimbi. Namun Ilham tak menyangka, Arimbi sampai dikawal mas Aidan.
“Loh, kok malah dikawal? Ya enggak bisa diapa-apain. Apa, mas Aidan juga lebih baik sekalian ‘dibereskan’? Tuh orang selalu bikin gara-gara, kan?” batin Aisyah yang mengintip dari jendela kaca sebelah pintu. Ia hanya sedikit membuka gorden biru di sana agar tetap bisa bersembunyi.
“Nanti sore, juga aku jemput. Biasanya jam berapa, sih?” ucap mas Aidan.
Arimbi makin tidak mengerti, kenapa mas Aidan menjadi sangat posesif kepadanya. “Memangnya Mas Aidan enggak sibuk?”
“Enggak apa-apa, nanti aku atur jadwalnya. Lagian hari ini aku enggak ada sidang, hanya jaga dua rumah makan,” yakin mas Aidan.
“Tapi kalau mas Aidan memang sibuk, enggak usah diantar jemput, enggak apa-apa,” yakin Arimbi.
“Gini, loh, Mbak. Sebenarnya, aku curiga yang anak punk tadi itu temannya Aisyah. Jadi, aku begini sengaja buat jaga-jaga,” jujur mas Aidan.
“Makanya, wajib tetap jaga-jaga!” yakin mas Aidan.
Arimbi mengangguk-angguk. Ia mengul*um bibirnya seiring ingatannya yang menjadi dihiasi sederet ancaman Aisyah. Ketika wanita itu begitu sibuk menakutinya dengan mengundang semua temannya untuk memberi Arimbi pelajaran. Juga, ini mengenai sumpah serapah Aisyah yang berdalih akan membuat semua orang termasuk itu Ilham, menganggap Arimbi jiji*k.
“Enggak usah takut berlebihan, cukup waspada saja,” ucap mas Aidan sambil memakai helmnya. Sebab ia memang tak hanya mengantar, tapi juga sengaja menemui ibu Warisem, selain ia yang juga sampai melihat-lihat jalannya pembangunan rumah Arimbi.
Arimbi mengangguk-angguk paham. “Iya, Mas. Mas hati-hati, ya?”
Kali ini mas Aidan yang mengangguk-angguk. “Jangan lupa buat istirahat.”
Arimbi mengangguk-angguk ceria layaknya anak kecil yang begitu patuh. “Oh iya ... mumpung di sini, bawa kelapa hijau juga, ya? Sekalian buat ayah!”
__ADS_1
“Tapi aku bayar, ya. Enggak enak dikasih terus, sebanyak itu,” tawar mas Aidan.
Arimbi langsung mendengkus sebal. “Nanti yang ada kalau Mas sampai bayar, kelapa hijaunya enggak mau buah lagi, Mas!”
“Ya enggak mungkin,” balas mas Aidan dengan santainya sambil turun lagi dari motor. Sembari kembali melepas helmnya, ia berkata, “Malahan kalau buat pengobatan, wajib beli, bayar. Enggak boleh dikasih. Kata orang dulu sih memang pamali!”
Arimbi mundur sengaja menjaga jarak dari mas Aidan sembari melirik sebal mas Aidan yang malah menertawakannya.
“Ekspresimu begitu beneran lucu, Mbak!” ucap mas Aidan di antara tawanya.
“Saya enggak sedang melucu. Saya sedang sebal ke Mas!” balas Arimbi sambil terus mundur sekaligus menatap sebal mas Aidan.
Mas Aidan yang berusaha menyudahi tawanya, berangsur menggeleng. Tangan kanannya berusaha meraih sebelah tangan Arimbi, tapi wanita itu buru-buru menyimpan kedua tangannya di balik punggung. Tampak jelas jika Arimbi memang marah kepadanya.
“Mesra-mesraan terus, enggak mikir! Padahal mereka belum menikah!” batin Ilham nekat mengintip dari belakang rumah tetangga Arimbi.
Terpikir oleh Ilham untuk menjebak pasangan baru itu agar keduanya digerebek pemuda setempat. Kenyataan yang akan membuat keduanya menanggung malu. Namun andai Ilham juga melakukannya, dengan kata lain, itu akan membuat Arimbi dan mas Aidan menikah lebih cepat.
“Sssttt! Kesel, ih!” batin Ilham kesal sendiri. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
Tanpa Ilham sadari, dari sebelah ada laki-laki muda sebaya dengannya. Laki-laki itu tampak langsung jengkel menatap Ilham apalagi Ilham berdiri persis di balik bilik sumur yang menempel ke rumah. Sementara dari dalam, suara sibuk mengguyur masih terdengar ditambah air busa yang keluar dari pembuangan sebelah kanan kaki Ilham.
“Heh, Ilham! Ngapain kamu di situ? Mau ngintip istri saya yang sedang mandi? Kurang a*jar kamu yah! Dasar ustad me*sum! Mentang-mentang ternyata istrinya enggak good looking, kamu alih profesi intip-intip wanita lain!” kesal laki-laki bernama Rifky itu.
“Eh, Rif, kalau ngomong hati-hati, ya!” balas Ilham yang memang langsung kesal asal dituduh.
“Hati-hati bagaimana? Jelas-jelas, kamu yang hobi fitnah orang!” balas Rifky masih sewot.
Mendengar keributan di luar, yang sedang mandi juga takut dan malah teriak minta tolong. Lebih kompaknya lagi, Rifky yang telanjur kesal kepada Ilham yang tak mau mengaku dan malah balas menuding, sengaja berteriak “maling”.
__ADS_1
Suasana mendadak heboh, benar-benar ramai karena warga di sana kompak berdatangan. Termasuk yang di rumah Arimbi, mereka yang sedang membangun rumah sambil menyetel musik dangdut juga sampai terusik. Hanya Arimbi dan mas Aidan yang tak terusik lantaran keduanya terlalu diberisikkan oleh musik dangdut dari sebelah.
Ilham digiring warga untuk disidang sesuai tuduhan yang dilayangkan kepadanya.