
Di luar, langit sudah terang dan Arimbi baru saja melongoknya bersamaan dengan mas Aidan yang pamit ke ibu Warisem, di dapur sana.
“Berangkat,” ucap mas Aidan ketika akhirnya tatapannya bertemu dengan tatapan Arimbi. Di depan pintu, wanita itu menunggu setelah sebelumnya, ia pergoki melamun.
“Pagi ini, Mas enggak usah antar aku,” ucap Arimbi seiring ia yang menutup pintu kontrakannya.
“Loh, kenapa?” balas Mas Aidan yang mengernyit heran.
“Biar Mas ada waktu sama keluarga Mas, khususnya mamah Mas,” ucap Arimbi yang menatap kedua mata mas Aidan dengan penuh keseriusan. Ia sengaja menjeda ucapannya dengan diam. Perlahan, raut ketidakmengertian dari mas Aidan memudar. Mas Aidan menjadi menerka-nerka dalam menatapnya.
“Memangnya kemarin Mas enggak merhatiin, mamah Mas sampai diam-diam menangis saat dengar Mas akan tinggal di rumah ayah Mas?” lanjut Arimbi.
Mas Aidan seolah merasakan tamparan yang begitu panas seiring ia yang menunduk, menyudahi tatapannya kepada Arimbi. Ia mencoba mengingat kejadian yang Arimbi maksud.
“Wanita apa lagi seorang mamah yang hebat bukan berarti mereka bisa dengan mudah menerima luka, Mas. Siapa sih yang mau terluka cuma-cuma? Enggak ada. Termasuk Mas pasti juga enggak mau, kan?” lanjut Arimbi. “Sementara sejauh ini, alasan pasangan berpisah tentu karena memang ada masalah, termasuk juga mamah dan ayah Mas.”
“Mungkin Papah termasuk Mamah Mas, membebaskan Mas membagi waktu mas ke ayah Mas karena seperti kata papah Mas, semuanya sama-sama orang tua. Namun menurutku pribadi, Mas perlu menggali, apa yang terjadi sebelum ini.” Arimbi menatap kedua mata mas Aidan penuh kepedulian dan berlangsung sangat lama. “Enggak mudah jadi seorang janda yang memiliki seorang anak dan dapat diterima di pernikahan barunya. Aku pun salut ke papah Kalandra sekeluarga yang memperlakukan Mas tanpa dibeda-bedakan. Mungkin ini alasan mamah Mas terlihat sangat terluka, walau mamah Mas berusaha ikhlas, berusaha sebiasa mungkin biar Mas nggak merasa terbebani.”
“Sementara alasan utama kenapa seorang mamah enggak ikhlas membiarkan anaknya ke ayahnya sendiri, pasti ini memang ada luka khusus. Jadi, sebelum ke ayah, ... mamah, mamah, mamah, mamah, mamah, ... begitu dulu apalagi kalau ternyata, dulu Mas pernah enggak dinafkahi atau kata kasarnya, dibuang. Banyak kasus semacam ini, anak dijadikan korban, istri atau itu mamahnya harus berjuang sendiri memperjuangkan nasib anaknya. Kasus ini biasanya menghasilkan luka berat untuk si istri atau si mamah. Biasanya rasa sakitnya sampai ubun-ubun, ke tulang-tulang bahkan sendi! Karena meski waktu selalu bisa menyembuhkan luka bersama seabrek kisahnya, tetap saja enggak akan ada luka yang benar-benar tanpa bekas apalagi luka batin dan mental.”
__ADS_1
“Kelihatannya memang sepele, Mas. Apalagi kalau dilihat dari hubungan orang tua Mas. Namun sebagai anak yang pernah mamah perjuangkan, ... alangkah lebih baiknya, Mas berkali-lipat lebih memuliakan mamah Mas. Beruntung Mas masih dirawat sama Mas. Soalnya banyak kejadian anak dibuang oleh orang tuanya sendiri hanya karena konflik mereka dengan pasangan.”
Arimbi menangis, membiarkan air matanya berlinang mencurahkan isi hatinya yang ter-i-ris pedih teringat nasib mereka-mereka yang menjadi korban hubungan khususnya nasib istri dan anak yang ditelantarkan. Namun melihat mas Aidan sampai menangis, hatinya juga sampai menjerit.
Arimbi percaya, mas Aidan berbeda dari laki-laki kebanyakan. Mas Aidan tipikal yang sangat peka, dan mudah diarahkan. Walau kenyataan tersebut juga membuat Arimbi curiga, ada luka mental bahkan luka batin yang sebenarnya mas Aidan sembunyikan. Semacam, sifat peduli yang selama ini mas Aidan berikan kepada orang kecil karena memang begitu yang ingin mas Aidan dapatkan dari orang-orang.
Pada kenyataannya, tidak ada yang benar-benar mengetahui isi hati maupun isi pikiran seseorang, kan? Mereka yang selalu terlihat kuat bahkan ceria, bukan berarti mereka tidak memiliki beban, kan? Bukan berarti, mereka memang bahagia, kan? Orang-orang seperti mereka hanya terlalu pandai menyembunyikan luka. Malahan Arimbi berpikir, orang-orang seperti itu rawan depresi.
“Mas jangan nangis ....” Arimbi memberanikan diri untuk meraih sekaligus menggenggam kedua tangan mas Aidan.
Mas Aidan mengangguk-angguk sambil sesekali mengerjap, membuat butiran bening berjatuhan secara bersamaan dari kedua sudut matanya.
“Mas!” ucap Arimbi tegas sambil menyentak genggaman tangan mereka. Ia berdeham ketika akhirnya tatapan Mas Aidan tertuju kepadanya.
“Yang tadi, terserah Mas mau menganggap aku lancang apa bagaimana. Aku pun enggak bermaksud meminta Mas untuk membenci ayah Mas. Ya ... seperti kata papah Kala, sana-sini orang tua. Namun jika melihat pada posisi Mas, Mas harus berkali lipat memuliakan mamah. Lagian, mamah Mas bukan tipikal yang julid, apalagi macam ... mertua kejam, kok. Malahan kalau aku rasa-rasa, kayak sama teman, eh ... besti!” ucap Arimbi yang mengakhiri ucapannya dengan menahan tawa.
Tak beda dengan Arimbi, pernyataan terakhir Arimbi juga langsung membuat mas Aidan tertawa. “Boleh peluk?” tanya mas Aidan yang masih menatap kedua mata Arimbi. Kedua mata yang sama-sama basah layaknya kedua matanya itu menjadi dihiasi banyak kegugupan. Setelah sempat menunduk ragu, akhirnya Arimbi mengangguk dan itu berarti Arimbi memberinya izin.
“Yang sekarang beneran enggak salah pilih, sih!” ucap pak Kalandra sambil menyeka tuntas air matanya menggunakan sajadah yang masih menghiasi bahu kanannya. Di sebelah agak depannya, sang istri sudah sampai sesenggukan.
__ADS_1
Niat hati mengecek kontrakan kosong di sebelah kontrakan yang ditempati Arimbi, selepas mereka salat subuh berjamaah di masjid, mereka malah mendengar obrolan emas antara Arimbi dan mas Aidan.
“Sepertinya ini jawaban dari Alloh, agar aku lebih tenang bahkan ... ikhlas, Pah. Dan enggak tahu kenapa, ... mbak Arimbi sampai bisa mikir begitu!” lirih ibu Arum.
Pak Kalandra sengaja menuntun sang istri untuk sepenuhnya masuk ke kontrakan yang ada persis tepat di sebelah kontrak Arimbi. Pak Kalandra sengaja menutup kemudian menguncinya.
Pak Kalandra dan ibu Arum baru keluar dari persembunyiannya, setelah Arimbi dan mas Aidan pergi. Mas Aidan pergi menggunakan mobil pick up-nya, sementara Arimbi menggunakan motor dan siap langsung ke pasar.
Di tempat berbeda, ibu Septi tengah sibuk di dapur. Sepri yang berjalan layaknya manusia normal berkat kak palsunya, datang menghampiri. Sepri menyalami ibu Septi dengan takzim, walau setelahnya, ia menaruh peci hitamnya di kepala sang ibi yang terbungkus jilbab kuning. Termasuk juga dengan sajadah biru yang awalnya menghiasi bahu kanan Sepri dan sebelumnya digunakan pemuda itu untuk salat berjamaah di masjid.
“Lama-lama kelakuanmu mirip si Ojan, loh, Mas!” tegur ibu Septi yang kemudian buru-buru mematikan gasnya karena air di panci sudah mendidih.
Sepri yang meraih gelas dari rak yang menghiasi dapur mereka yang luas, berkata, “Mungkin efek tiap saat urus dia, aku jadi ketularan Mah.” segera ia mengisi gelas yang diambil dengan air kemudian meminumnya.
Ibu Septi menjadi sibuk menerka karena merasa tidak beres. Ini masih berkaitan dengan si Ojan. “Tapi tadi kayaknya yang adzan dia, ya, bukan Mas?” Di hadapannya, sang putra langsung mengangguk-angguk, sebelum pemuda yang si*a*lnya sangat mirip Supri, malah menye.burkan air minum yang harusnya ditelan, ke wajahnya.
Ibu Septi langsung terpejam pasrah. “Sekate-kate banget kamu, Mas!”
“Maaf, Mah. Maaf! Soalnya aku baru ingat, aku enggak kurung si Ojan lagi yang dengan kata lain, tuh orang pasti sudah sibuk gangguin janda muda yang cantik. Oalah, masalah baru kalau gini caranya!” Sepri benar-benar panik. “Tuh orang emang harusnya dipenjara di keranda, Mah. kerandanya yang pesek kayak hidungnya, biar dia kekunci enggak bisa ke mana-mana!”
__ADS_1
Setelah mengelap asal wajah sang mamah menggunakan sajadahnya yang awalnya melilit leher ibu Septi, Sepri juga buru-buru menyalami tangan kanan mamahnya itu dengan takzim.
“Kalau dipikir-pikir, nasib Sepri apes banget. Jadi pengasuh bayi tua amnesia pemuja janda. Ya Alloh, bayanginnya saja sudah pusing. Mana si Ojan berbakat minggat!” Keluh ibu Septi uring-uringan sendiri.