Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)

Talak Di Malam Pertama (Kesucian Yang Diragukan)
110 : Acara Besan


__ADS_3

“Cel, tanya dulu yang sopan!” seru Azzam dari mobil belakang. “Tanya gini, maaf, benar ini dengan Ibu Siti, mantan calon ibu mertuanya mbak Arimbi? Benar, dulu Ibu berbakat memfitnah Mbak Arimbi dengan keji? Tanya gitu, Cel!”


Azzam yang mengemudikan Pajero putih dan keberadaannya ada tepat di belakang mobil Excel, sengaja melongok dari kaca pintu sebelah kemudi. Gayanya kelewat santai layaknya Tuan Muda pada kebanyakan, meski jelas, apa yang ia lakukan memang kurang ajaar.


Mendengar suara lantang Azzam yang terdengar sangat nyinyir, ibu Siti sudah langsung panik. Kedua matanya yang di kedua sudut kelopak mata sudah dikuasai keriput, langsung terbelalak. Kendati demikian, kendati rasa takut sudah langsung menguasai sanubari, ibu Siti masih saja memastikan. Benar saja, wajah tampan tapi khas orang julid itu terpampang nyata. Bertepatan dengan ia yang memastikan, Azzam melepas kacamata hitam yang menyempurnakan penampilan seorang Azzam. Gaya Azzam sudah langsung mengobrak-abrik emosinya.


Dengan santai Azzam melambaikan tangan kanannya, menyapa ibu Siti. “Hai Ibu Siti, mantan calon mertuanya Mbak Arimbi? Masih juga enggak tahu diri? Akhirnya kita bertemu lagi, alhamdullilah Ibu masih hidup, belum mati. Berarti, masih ada kesempatan buat memperbaiki!”


“Salam buat menantumu si Wanita Suci. Dan tolong, mulai sekarang jangan melukainya lagi karena adanya dalam keluarga Ibu, murni kesalahan Ilham yang haus kedudukan.” Kemudian, Azzam yang masih berbicara lantang sengaja mengalihkan fokus perhatiannya kepada Aisyah. “Mbak Aisyah, semangat jadi orang lebih baik lagi. Jangan lupa buat jadi beban hidup mas Ilham dan ibu Siti. Saya dukung Mbak!”


Mendengar itu, kedua tangan ibu Siti yang ada di sisi tubuh sudah langsung mengepal sangat kencang. Bersamaan dengan itu, gigi-giginya bertautan. Saking kencangnya gigi-giginya bertautan, gigi depannya yang memang sudah keropos sampai patah satu. Ibu Siti yang awalnya menatap Azzam penuh kemurkaan, langsung terkejut, apalagi setelah langsung dipastikan dan ia meludahkan yang di dalam mulut, giginya sungguh patah.


“Hahahahaha! Chel, amit-amit, Chel! Amit-amit! Takut jabang bayi yang di perut niru!” Azzam sudah langsung heboh, tapi langsung kalem setelah yang di sebelah dan itu Sundari berdeham.


“Cel, ... namanya Cel? Ini saudaranya mas Aidan, ya? Ih, saudaranya mas Aidan emang bibit unggul semua!” batin Aisyah masih menikmati kebahagiaan akibat pertemuan tak terduganya dengan seorang Excel. Terlebih gara-gara ocehan nyinyir Azzam, Excel sampai tersenyum lepas dan itu membuat ketampanan seorang Excel membahana. Kekuatan dahsyat seolah menyimak kehidupan seorang Aisyah, membuat wanita itu makin terpesona kepada Excel.


“Ibu Siti, giginya?” tegur Umi Indah tetap peduli kepada ibu Siti.


Namun, kepedulian umi Indah malah membuat ibu Siti makin malu.

__ADS_1


“Mas, turun di sini saja. Tempatnya sempit. Lagian rombongan orang tua Mas sudah di depan, sementara Papah yang mau kasih sambutan ke pihaknya mbak Mbi, masih sama kita.” Sundari bertutur lembut kepada Azzam yang sudah langsung dipijat-pijat kedua pundaknya oleh ibu Septi.


“Ibu bangga ke kamu, Zam! Memang harus begitu, biar yang seperti ibu Siti enggak semena-mena,” ucap ibu Septi.


“Pokoknya aku menantu idaman, Bu!” yakin Azzam sangat percaya diri, tapi ibu Septi telanjur menyayanginya, mendukung setiap ucapan bahkan keputusan Azzam. Memang cocok hingga keduanya langsung klop.


Lain dengan ibu Seti, dokter Andri yang duduk tepat di belakang Azzam hanya mesem. Ia cenderung tenang mirip sang putri yang tampang sangat santun mirip berlian.


Mobil Azzam dan Excel diparkir di pinggir jalan tak jauh dari depan rumah orang tua Ilham. Azzam membawa Sundari, dokter Andri dan juga ibu Septi. Sementara Excel membawa Azzura, sang mamah, dan juga Elena. Karena Excel sudah langsung membopong Azzura, Azzam dengan cekatan membopong ibu Mira.


“Kuat, enggak?” tegur Sepri sengaja datang membantu lantaran Azzam yang tak biasa bekerja keras main angkat sepertinya, jelas kewalahan.


Berbanding terbalik dengan Azzam yang sudah langsung tenang karena ulah sang pawang, Aisyah sudah langsung syok hanya karena melihat keromantisan Excel dengan wanita bercadar yang pria itu panggil “sayang” dan juga turut memanggil Excel “sayang”.


“Kok sayang-sayangan? Memangnya, mereka sudah menikah?” pikir Aisyah sudah langsung mumet.


“Janda?” panggil pak Haji Ojan yang sudah langsung menemukan Aisyah. Ia yang memakai lengan panjang pink lengkap dengan peci dan sepatunya, tersenyum manis kepada sang wanita suci.


“Ya Alloh, maunya yang sayang itu, bukan si pinky janda ini!” sedih Aisyah dalam hatinya.

__ADS_1


Acara besan antara Arimbi dan Mas Aidan benar-benar ramai. Jadi, semua yang dibawa dan jadi bagian seserahan nantinya akan menjadi bahan acara begalan besok. Semua itu sengaja dibawa untuk simbolis saja.


“Oh iya, baru besanan berarti belum ada acara rebutan perabotan yang di panggul. Acara begalan kan adanya pas resepsi, dan paling kalau baru beres ijab kabul,” jelas Romo Kyai. Ia sengaja tetap menjadi bagian dari penonton sembari membawa sang istri maupun Aisyah dilengkapi ibu Siti. Niatnya, setelah acara besan selesai, ia akan meminta maaf secara khusus kepada Arimbi sekeluarga. Karenanya, ia juga sudah mengutus ayahnya Ilham untuk membawa Ilham karena biar bagaimanapun, Ilham menjadi orang pertama yang wajib meminta maaf kepada Arimbi sekeluarga.


Sambutan acara besan dari pihak mas Aidan kembali dipimpin oleh dokter Andri. Sementara dari pihak Arimbi kembali diwakili oleh seorang tetangga yang juga dituakan di sana. Acaranya berlangsung hangat, penuh suka cita sekaligus canda tawa. Keluarga mas Aidan hadir dalam formasi lengkap. Baik dari pihak ibu Arum, pihak pak Angga, maupun pihak pak Kalandra. Acara yang berlangsung sekitar dua jam itu mirip pasar dadakan dan sudah langsung menyita perhatian warga satu desa.


Sepanjang kebersamaan itu juga, pak Haji Ojan terus mendekati Aisyah yang menonton bersama Romo Kyai dan juga warga lainnya.


Mas Aidan : Ini kita enggak ada waktu buat berdua?


Pesan tersebut Arimbi terima dari mas Aidan yang jelas duduk di hadapannya. Ia menatap bingung mas Aidan.


Arimbi : Gimana, sih?


Arimbi : Maksudnya, maksud Mas gimana? Acaranya sudah nyaris selesai, tapi keluarga kita masih asyik ngobrol.


Arimbi : Alhamdullilah mereka langsung akrab. (stiker hati merah)


Mas Aidan : Kangen

__ADS_1


Balasan pesan dari mas Aidan langsung membuat Arimbi memelotot dan perlahan tersipu. Padahal di hadapannya, mas Aidan yang memakai batik lengan panjang warna merah maroon layaknya gamis kebaya yang Arimbi kenakan, tengah serius menyimak setiap obrolan di sana, meski kedua tangan mas Aidan juga sibuk mengetik pesan balasan untuknya.


__ADS_2