
Beres ijab kabul, acara sungkem dan foto bersama, kebersamaan mereka diisi dengan makan-makan sekaligus untuk sarapan.
“Aku kaget pas dengar mas kawin dari mas Aidan,” ucap Sepri yang sedang makan dan memang duduk di sebelah Azzam.
“Jangankan kamu yang tadi duduknya di sebelah mas Aidan, aku saja yang duduknya jauh karena harus jaga Ojan, sampai tiarap berasa dengar meriam!” ucap Azzam yang juga tengah menikmati makannya. Ia tengah menikmati soto babat, sementara baru saja, Sundari datang membawa dua gelas es lemon tea dan itu untuknya maupun Sepri.
“Yang, kamu duduk deh. Dari tadi mondar-mandir mirip Ojan. Duduk, makan, biar gemukan. Yang enggak tahu pasti ngiranya kamu enggak pernah makan gara-gara kamu sekurus itu. Ayo sini makan, aku suapin.” Azzam sudah langsung menyuapi Sundari menggunakan makanan sekaligus sendoknya.
Sepri hanya geleng-geleng melihat tingkah Azzam. Namun ia bersyukur, walau Azzam tukang nyinyir sekaligus jail, kepada Sundari, Azzam sangat sayang.
“Enak, kan?” tanya Azzam berbisik-bisik.
Sundari yang menggunakan tangan kanannya untuk menutupi mulut, mengangguk-angguk sambil mengunyah.
“Prasmanannya enggak kaleng-kaleng sih. Dari tadi aku icip-icip semuanya enak,” ucap Azzam setelah menyuapi dirinya sendiri.
“Aku mau siomay di depan, kayaknya enak!” ucap Sundari sebelum menerima suapan dari Azzam lagi.
“Kamu mau siomay?” tanya Azzam dan Sundari langsung mengangguk-angguk. “Bentar aku ambilin. Makan ini dulu, biar gemuk kamu!” ucapnya merasa gemas sendiri lantaran Sundari tipikal tetap kurus meski gadis itu terbilang doyan makan.
“Eh, kalian. Manten aja belum suap-suapan, eh kalian malah ....” Walau tertawa, Sepri juga sengaja menegur Azzam dan Sundari. Kedua sejoli di sebelahnya sudah langsung celingusan.
__ADS_1
“Kan belum, nanti kalau sudah enggak ada kita, atau malah sebentar lagi, pasti lebih dari suap-suapan!” ucap Azzam yang walau melakukannya dengan berbisik-bisik, tetap saja tidak bisa untuk tidak tertawa.
Sepri yang ikut tertawa, memuku*l gemas sebelah paha Azzam. “Kamu kalau ngomong di depan Ndari, dijaga. Jangan ngeres!”
“Ih, ngeres dari segi apaan?” protes Azzam.
Eyang Fatimah yang duduk di depan mereka, sudah langsung berdeham kemudian mendelik kepada mereka. Ketiganya kompak kicep, fokus makan walau Azzam juga masih menyuapi Sundari.
Beres acara makan-makanan sekaligus sarapan, acara selanjutnya adalah tradisi begalan. Karena pihak mas Aidan memang masih memakai tradisi, sebagai pihak wanita yang tinggal mengikuti, Arimbi juga menjalaninya dengan sebaik mungkin.
Selain dilaksanakan setelah acara akad nikah atau pada saat resepsi, biasanya acara begalan diselenggarakan di tempat calon pengantin perempuan. Pernikahan yang sampai ada tradisi begal sendiri ialah jika pernikahan itu merupakan pernikahan anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak pertama yang perempuan. Namun bisa jadi, tradisi ini akan berbeda tergantung daerah masing-masing, bahkan walau masih sama-sam tinggal di pulau Jawa. Kini, walau bukan di kediaman Arimbi, acara yang akan diwarnai iringan musik gamelan maupun gending, benar-benar dimulai.
Bersamaan dengan iringan musik gamelan dan gending, datanglah dua orang penari laki-laki yang memakai kostum adat dengan warna dasar hitam, putih, dan keemasan. Satu orang penari memikul barang-barang dan disebut Gunareka. Satunya lagi disebut Rekaguna yang berperan sebagai Pembegal. Kemudian, keduanya melakukan dialog-dialog lucu yang tidak lepas dari tata krama sekaligus adat istiadat yang berlaku. Tutur kata yang dipilih dalam dialog mereka berisi wejangan atau nasehat bagi mempelai dalam menjalani rumah tangga.
Mas Aidan langsung mesem. “Tanpa diminta, bentar lagi mereka pasti jadi badut. Tuh lihat, mereka sampai ikut ibu-ibu rebutan gerabah!” balasnya berbisik-bisik juga, yang kemudian meraih tangan kiri Arimbi, dan menggenggamnya erat menggunakan kedua tangan. Wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu langsung tersipu malu.
“Sini, itu buat janda,” ucap pak Haji Ojan meminta tudung yang baru Sepri dapatkan.
Walau sempat bengong, Sepri dengan ikhlas memberikan tudungnya. Orang-orang di sana jadi tahu, Aisyah menjadi incaran Ojan.
“Mas Ilham, Mas enggak cemburu?” tanya Aisyah yang terpaksa menerima hadiah dari pak Ojan lagi. Karena jika tidak diterima, pak Haji Ojan terus memepetnya.
__ADS_1
“Buat apa aku cemburu sama orang enggak waras?” balas Ilham yang memang sudah babak belur menahan kecemburuan tak berkesudahan atas interaksi manis nan romantis raja dan ratu sehari, di sana. Apalagi kini, mas Aidan dan Arimbi terus berbincang lirih sambil menggenggam mesra tangan satu sama lain. Keduanya tak lagi jaim, seolah dunia memang milik berdua.
“Seenggaknya Mas juga mikir, ... yang lain saja sudah sampai menikah. Mereka pasti langsung menjalani malam pertama. Masa iya, kita yang sudah jadi pengantin lapuk, belum malam pertama juga?” lirih Aisyah tak bersemangat dan kali ini memang tengah berkeluh kesah.
Ilham mendengkus pasrah. “Rasanya tetap seram, Aish!” balasnya.
Jujur, sebenarnya Aisyah sudah ingin bercerai. Aisyah bahkan ingin mengajukan denda kepada Ilham. Namun selain ingin memberi Ilham sekeluarga pelajaran, Aisyah masih mengharapkan keajaiban, seorang Ilham mau berubah kemudian mencintainya dengan tulus.
Seharian menjadi raja dan ratu di resepsi pernikahan mereka, Arimbi dan mas Aidan sampai ganti pakaian sebanyak tiga kali. Ada tamu spesial yang pada akhirnya datang dan itu keluarga Tuan Maheza. Mantan calon besan dari keluarga mas Aidan itu memboyong anak-anaknya nyaris dalam formasi lengkap. Hanya Cikho yang absen karena pria yang awalnya sempat menikah dengan Azzura, sebelum pernikahan keduanya sengaja Azzura batalkan, memang sedang menjalani hukuman.
Mas Aidan dan Arimbi sudah langsung saling lirik, memperhatikan Akala maupun Cinta, silih berganti. Keduanya memang berada di tempat berbeda. Akala dan anggota keluarga ada di tempat duduk VIP dekat pelaminan, sementara rombongan Tuan Maheza yang juga disertai Cinta, masih di hadapan Arimbi maupun mas Aidan. Mereka yang disertai Chalvin dan Chole selaku anak dari Tuan Maheza dan ibu Aleya, tengah mengucapkan selamat kepada pengantin beserta orang tua pengantin.
“Kak, ayo ke yang lain!” sergah Chole, gadis periang yang usianya sebaya Akala. Ia sudah langsung pamit, kemudian memboyong kedua kakaknya untuk bergabung dengan teman pengantin. Teman pengantin berseragam merah nude yang kebanyakan masih keluarga dari pihak pengantin. Ada Akala juga di sana, dan Chole yang tahu kisah cinta tersembunyi antara Cinta dan Akala, sengaja membuat keduanya duduk bersebelahan.
Azzam yang masih ingat chating bernada dalam sekaligus nyesek antara Akala dan Cinta, sudah langsung berpikir yang tidak-tidak. Otak Azzam sudah langsung bertraveling.
Hampir seharian menggelar resepsi, akhirnya acara pun sampai pada akhir. Dan sebelum acara benar-benar berakhir, saat yang ditunggu-tunggu juga tiba. Pelemparan buket pengantin. Mas Aidan dan Arimbi yang tak lag memakai pakaian adat, keduanya memakai pakaian pengantin modern, siap melempar buket pengantin segar yang tentu saja bukan buket pengantin.
“Buat aku!” Pak Haji Ojan menjadi yang paling bersemangat, sampai tidak mau duduk, selain ia yang tak segan mendorong setiap tamu mas Aidan yang masih lajang dan siap merebut.
Masih bertatapan mesra, mas Aidan dan Arimbi siap melempar buketnya. Walau buket tersebut malah melambung tinggi, nyasar ke meja VIP keberadaan saudara mas Aidan. Buket tepat menghantam dada Akala yang sudah jauh tampak lebih bidang. Kenyataan yang sudah langsung membuat semuanya bengong termasuk Akala sendiri.
__ADS_1
Selanjutnya, benarkah Akala yang akan menikah? Dengan siapa?