
Bekerja mengecek setiap rumah makan, meluangkan waktu untuk kelurga sekaligus rutin menjalani quality time menjadi kesibukan mas Aidan dan Arimbi.
Empat tahun lebih dari pernikahan, akhirnya keduanya berhasil membangun rumah makan serba ada di sekitar pantai Pangandaran Jawa Barat. Semuanya benar-benar seperti rencana, dan orang tua mas Aidan masih berperan penting di dalamnya.
Potong pita untuk peresmian rumah makan, mereka jalani beramai-ramai. Bukan hanya dengan Arimbi dan juga kedua anak mereka maupun orang tua mereka, melainkan sesuatu yang baru saja membuat Arimbi meminta waktu khusus.
Semua mata di sana termasuk mata para undangan yang sebagian besar merupakan keluarga besar, langsung menjadikan Arimbi sebagai pusat perhatian. Mereka dapati, Arimbi yang mengeluarkan kotak panjang warna merah dari tas bahunya, kemudian memberikannya kepada sang suami yang berdiri di sebelahnya dan sudah menunggu.
“Gunting?” tanya mas Aidan lembut kemudian menunjukkan apa yang sudah ia kendalikan menggunakan tangan kanan. Menggunakan gunting di tangan kanannya, ia siap memotong pita di hadapan mereka.
“Buka ...!” ucap Arimbi semringah sambil tetap menyodorkan kotaknya kepada mas Aidan.
Mas Aidan mengangguk-angguk. “Oke ... oke, Ibu Negara ada perlu dulu.” Ia memindah guntingnya ke tangan kiri karena tangan kananya langsung menerima kotak yang Arimbi berikan. Betapa terkejutnya dirinya lantaran isi kotak ramping itu merupakan test pack berhias dua garis merah.
Sebagian dari mereka yang melihat khususnya para orang tua, sudah langsung heboh. Tak kalah heboh dari mas Aidan yang langsung memeluk Arimbi. Mas Aidan kegirangan bukan main dan sempat refleks loncat.
Semuanya kompak mengucapkan selamat. Mereka melakukannya sambil tepuk tangan. Yang mana hal serupa juga mereka lakukan kepada Azzura yang mengaku tengah berbadan dua juga.
“Ih, selamat yah, Mbak. Ini saja aku enggak ada rencana tapi jadi. Semalam baru bahas ini sama papahnya si kembar!” heboh Azzura yang langsung menghampiri Arimbi. Ia melakukannya dengan agak berlari kemudian mendekap Arimbi yang juga langsung mendekapnya.
“Panen cucu lagi!” ucap pak Kalandra dan ibu Arum nyaris bersamaan. Mereka melakukannya dengan semringah. Kenyataan yang juga membuat mereka dan orang-orang di sekitar mereka tertawa. Tak lupa, mereka juga mengajak pak Angga, ibu Warisem dan juga ibu Mira yang hadir di sana untuk merayakan kebahagian mereka atas anggota baru yang akan segera hadir dalam kehidupan mereka.
“Panen buyut lagi!” ucap kakek sana dan ibu Kalsum tak mau kalah.
__ADS_1
“Aku bahkan baru akan ijab kabul tapi sana sini sudah pamer test pack!” cibir Azzam yang kemudian menatap tak habis pikir Sundari. Namun tiba-tiba saja ia memiliki ide untuk memamerkan cincin di jari manis tangan kiri mereka.
“Itu kalau pitanya enggak digunting-gunting, kita saja yang gunting yuk, Pih!” bisik Sundari cekikikan dan benar-benar jail.
“MasyaAlloh, Mih! Sejak kapan kamu jadi jail begini? Ayok lah, kita yang gunting. Anggap saja rumah makan ini milik pribadi!” sergah Azzam sangat bersemangat dan langsung ditertawakan oleh Sundari.
“Semangat yah, Mbak!” ucap Akala sambil mengemban sang anak dan memboyong sang istri yang sudah langsung memeluk Arimbi.
“Dek, kamu enggak mau ngejar ikut kejar target?” tanya Azzam pada Akala.
“Aku nungguin Mas, Mas. Kita barengan biar anak kita seumuran!” ucap Akala sambil tersenyum semringah.
“Sueee kamu Dek. Bisa ae!” balas Azzam yang kemudian tertawa. “Dek, suamimu itu, sunat lagi saja nanti aku naikin kambing yang gagal buat idul adha!” usul Azzam pada istri Akala yang juga menertawakannya.
“Assalamualaikum ....?”
Seperti niat Aisyah, dirinya menjadi uang tua tunggal yang fokus mengurus anak. Anak Aisyah akan menjadi sarjana di bulan depan, dan Aisyah mengundang mereka untuk ikut serta di acaranya yang digelar di pesantren.
“Hah? Kamu mau mantu sekalian, Aish?” heboh Azzam kepo.
“Belum Mas, karena InsyaAlloh, mau lamaran dulu. Barulah satu bulan kemudian, insyaAlloh, aku mantu!” ucap Aisyah ceria dan sampai tertawa.
Aisyah yang sekarang benar-benar sudah jauh lebih baik. Benar-benar gambaran wanita suci yang memang bersahaja. Walau tato dan bekas tindak tak bisa wanita itu hapus total, setidaknya Aisyah sudah berhasil menghapus sebagian besar sifat tidak terpujinya.
__ADS_1
“Mas Ai, bagaimana? Besok mau datang ke rumah Aish sekalian lihat-lihat pondok pesantren di sana?” tanya Azzam penasaran. Ia akan menjadi maklum andai mas Aidan benar-benar pergi ke Jawa Timur, menghadiri undangan Aisyah.
Mas Aidan yang masih merangkul mesra pinggang sang istri berangsur menghela napas pelan. “Nanti Aish yang ke sini dulu. Kondangan ke kamu dulu, baru kita ke sana buat kondangan juga!”
Mendengar itu, Azzam tak hanya tertawa karena ia juga mendukung penuh rencana sang kakak. Namun ternyata bukan hanya Azzam dan mas Aidan yang akan berkunjung ke pesantren milik orang tua Aisyah. Karena semuanya juga penasaran dan ingin ikut serta.
Jika sekelas Aisyah sudah bisa berdamai dengan kenyataan, lalu bagaimana dengan kabar Ilham sekeluarga?
Kebetulan, hari ini menjadi hari Ilham dan ayahnya keluar dari penjara atas kasus KDRT mereka terhadap Aisyah dan membuat mereka harus mempertanggungjawabkannya dengan hukuman kurungan.
Ibu Siti tidak sampai dipenjara karena setelah sawahnya kembali harus dijual untuk menebus denda dari pihak Aisyah, wanita itu malah setr*es. Sampai sekarang pun, ibu Siti masih ditampung di tempat khusus lantaran tidak ada pihak keluarga yang mengurus.
“Gimana, Pah?” tanya Arimbi ketika di malamnya, akhirnya kesibukan mereka selesai. Si kembar pun sudah tidur di tengah-tengah mereka, hingga Arimbi yang ingin bermanja kepada sang suami langsung turun dari tempat tidur mereka.
Arimbi memutari tempat tidur mereka, sengaja menghampiri sang suami yang langsung menyambutnya dengan pelukan hangat.
“Makin semangat pokoknya,” ucap mas Aidan yang membalas tatapan Arimbi. Istrinya itu terus menatapnya penuh senyuman sekaligus cinta.
“Alhamdullilah, ... beneran enggak ada hasil yang mengkhianati usaha. Ini hasil kerja keras kita. Tiba-tiba berjodoh padahal awalnya kita asing banget. Dulu kan aku minder bahkan takut banget ke Mas!” ucap Arimbi dan mas Aidan langsung menertawakannya.
“Kalau sekarang enggak bisa jauh-jauh, ya?” ucap mas Aidan sengaja menggoda sang istri.
“Pastilah!” balas Arimbi yang membuat tawa sang suami sampai lepas.
__ADS_1
Arimbi refleks membekap mulut sang suami menggunakan tangan kanannya lantaran Khalisa merengek disusul kedua matanya yang buka. Baik Arimbi maupun mas Aidan kompak diam sembari memperhatikan putri mereka. Barulah ketika kedua mata Khalisa kembali terpejam, keduanya kompak mengembuskan napas lega kemudian bertatapan dan bertukar senyuman. Arimbi menarik tangan kananya kemudian menggantikannya menggunakan bibir. Ia membungkam bibir sang suami dengan cium*an mesra.
❤️TAMAT❤️