
Sederet bingkisan yang menjadi bawaan dari pihak mas Aidan, menghiasi lantai salah satu ruangan di rumah Arimbi. Ruangan yang juga sempat menjadi tempat Arimbi menjalani rias. Ada tiga parsel buah, satu parsel berisi gula, kopi, dan juga teh. Tiga buah bolu, dua lapis legit. Satu paket berisi pakaian lengkap untuk Arimbi. Satu paket berisi tas, sepatu, dan juga sandal. Tentunya, di sana juga ada tempat perhiasan berbentuk hati yang merupakan wadah dari cincin tunangan, dan isinya sudah menghiasi jari manis tangan kiri mas Aidan maupun Arimbi.
Arimbi yang tengah mengawasinya menatap sayang semuanya. Ia terlalu larut, hingga kedatangan mas Aidan yang sudah ada di sebelahnya, sudah langsung membuatnya terkejut.
“Kenapa?” tanya mas Aidan lirih.
Arimbi yang sudah langsung menguasai diri berkata, “Pengin simpan semuanya, ... tapi enggak mungkin. Pasti makanannya bakalan busuk.” Karena mas Aidan hanya diam, Arimbi sengaja berkata, “Biar setiap saat bisa lihat. Syukur-syukur, anak cucu kita juga bisa lihat, Mas. Tapi enggak mungkin, kan? Ya sudah, aku video sama foto saja. Sebagiannya aku bagikan ke yang rewang, enggak apa-apa, kan?” ia menatap mas Aidan memohon izin, dan pria itu sudah langsung tersenyum hangat sambil mengangguk.
“Kasih ke mas Agung juga, dibagi-bagi saja. Tapi kamu tetap simpan sebagian takutnya ibu atau kamu juga mau. Makanan yang dibawa pun, dibagikan saja. Buat mas Agung, buat tetangga.” Setelah terdiam sejenak, mas Aidan sudah langsung teringat Ilham sekeluarga. “Ilham wajib dikasih!” Ia tertawa dan langsung disambut tawa tak kalah geli dari Arimbi.
Beberapa saat kemudian, dibantu mas Aidan, Arimbi memboyong sebagian parcel buaj, bolu, maupun lapis legitnya ke belakang untuk dibagikan kepada yang rewang sekaligus Ilham sekeluarga. Mereka yang awalnya sedang membereskan piring, gerabah, maupun lantai, langsung kompak tertawa. Namun, semuanya langsung bersemangat ketika Arimbi mengabarkan sebagian besar makanan bawaan dari pihak mas Aidan, dibagi rata juga kepada mereka.
“Bentar, aku sisihkan dulu buat mas Agung sama buat ibu. Nanti mas Ilham juga kasih, tapi jangan sebanyak yang buat uwa sama bibi. Kan Uwa sama Bibi yang capek!” ucap Arimbi dan langsung membuat suasana di sana kembali heboh. Mas Aidan juga sampai jadi bagian dari bahan obrolan sekaligus candaan. Semuanya kompak memuji mas Aidan, merasa mas Aidan jauh lebih baik dan memang jauh lebih depan dari Ilham.
__ADS_1
Keputusan Arimbi dan mas Aidan yang mengirimi Ilham sekeluarga berkat atau itu “ulih-ulih” dari pihak mas Aidan, benar-benar ibarat mata tombak berac*un yang melesat tepat ke tengah-tengah jantung ibu Siti yang membukakan pintu.
Ibu Siti sudah langsung bengong, lupa dengan masker yang awalnya wanita itu tahan menggunakan tangan kanan. Hingga ketika masker yang dipegang itu lepas, ibu Rokhayah yang mengantar berkatnya langsung istighfar ketakutan.
“Astagfirullah, Bu Siti! Untung berkatnya enggak sampai jatuh dari tangan saya. Sayang banget kalau sampai terjadi soalnya enak banget. Ada bebek panggang, ayam gorengnya semok-semok, sambalnya jempolan, pokoknya lauknya banyak banget! Buahnya juga seger-seger. Tuh, Ibu juga dikasih! Ada bolu sama lapis legit juga! Lapis legitnya enggak kaleng-kaleng. Ini beneran enak banget dan bawanya juga kayak hajatan. Buuuuanyaaaak banget. Padahal pas Ilham yang lamar Arimbi, cuma bawa angin, ya? Eh kok angin, hahaha. Tapi pas wanita suci sama rombongan ke sini, juga cuma bawa parsel buah kecil dua. Itu saja kelihatan biasa saja. Oh, pokoknya mas Aidan emang debes! Apalagi tadi sampai bawa motor mabur alias jet yang ada baling-balingnya ....” Semakin ibu Rokhayah berbicara, semakin menyeramkan juga tampang ibu Siti. Ditambah lagi, wajah ibu Siti memang bengkak parah apalagi bibirnya yang besarnya sampai menutupi hidung.
Namun sebenarnya, salah satu alasan ibu Siti sangat marah juga karena selama menjelaskan setiap makanan sambil menggebu-gebu, setiap makanan yang ibu Rokhayah jelaskan juga sambil ibu Rokhayah santap habis.
“LAMBEMU SEPANJANG NGOMONG KAMBI NGGRAGAS!” ucap ibu Siti benar-benar kesal. Ia mempermasalahkan mulut ibu Rokhayah yang sepanjang ngomong atau itu berbicara menjelaskan isi makanannya, sambil memakan habis berkat jatah untuknya. Namun bukannya merasa bersalah, setelah sempat terlihat bingung, si ibu Rokhayah malah dengan santainya pamit sambil melenggang pergi.
Gemetaran hebat ibu Siti menahan amarah, melepas kepergian punggung ibu Rokhayah dan juga isi kantong putih berukuran besar yang sudah sangat berkurang. Bebek panggang, ayam goreng, telur balado dan juga sambal yang tadi tampak begitu lezat, kini tinggal serpihan sekaligus tulangnya saja.
“Ya Gustiiiiiii, kirain ibu Siti enggak doyan atau setidaknya enggak mau menerima berkat dari mbak Arimbi makanya aku sengaja diutus buat antar karena yang lain enggak ada yang berani. Eh, malah ... hahahaha. Amnesia kayaknya tuh orang sampai dia lupa, seperti apa dia apalagi Ilham ke Arimbi sekeluarga!” ucap ibu Rokhayah sangat lantang sambil terus tertawa karena baginya, apa yang ibu Siti lakukan, sangat lucu.
__ADS_1
“KURANG SERUUUUU!” teriak ibu benar-benar kesal. Namun sekali lagi, ibu Rokhayah malah makin menaikkan amarahnya. Wanita itu sengaja menunggingkan bok0ngnya kemudian menirukan goyang itik ala penyanyi dangdut ternama.
Ibu Siti yang benar-benar kesal, sengaja melepas sandal jepit kanannya kemudian melemparnya dan tepat mengenai bok0ng ibu Rokhayah. Sayangnya, ibu Rokhayah bukan tipikal seperti dirinya yang gampang marah. Ibu Rokhayah tetap tertawa, melangkah sambil melanjutkan jogednya. Tetangga yang melihat sampai menyoraki.
“Ada apa sih, Mah, ribut-ribut, berisik banget? Mamah bahkan sampai lupa, itu ikan-ikan yang Mamah bakar sampai gosong parah, pahit enggak ada yang bisa dimakan. Niat hati makan enak, malah kucing saja enggak doyan. Tuh ikan bakar lebih parah dari Aisyah!” ujar Ilham yang keluar sambil membawa kayu bakar dan sebagiannya masih mengeluarkan asap bekas dibakar bersama ikan pancingannya, di dapur.
Karena ibu Siti tetap diam, wajah menyeramkan ibu Siti masih saja cemberut, Ilham sengaja memastikan apa yang terjadi. Ada ibu Rokhayah di depan sana, sementara di kedua tangan ibu Siti ada kantong putih menebarkan aroma lezat semacam nasi dan aroma aneka lauk. Ilham segera melongok isinya dengan agak menyibaknya menggunakan tangan kiri yang tidak memegang kayu. Detik itu juga ia langsung tidak bisa berkomentar. Dadanya seolah dihantam gada tak kasat mata seiring ia yang mundur karena kecewa.
“Itu dari Arimbi? Mamah ngapain diterima, sih? Kayak enggak punya harga diri. Mamah malu-maluin!” keluh Ilham antara marah sekaligus ingin menangis.
“Ngapain diterima? Malu-maluin? Memangnya kamu pikir kalau kita enggak begini, kita makan apa? Sekarang lagi paceklik. Sawah kita yang sudah ditanami gagal panen, kita masih harus nunggu yang baru tanam kemarin karena sawah yang hasilnya bagus malah sudah kita pakai buat ganti rugi ke Arimbi. Masih kamu merasa gengsi sementara dua hari ini saja, kita makan apa adanya? Biasanya semuanya diurus Arimbi. Kebutuhan dapur, bulanan Mamah, lah sekarang kan enggak mungkin. Bukan semata karena Arimbi harus urus ibu Siti yang sampai amputasi. Namun karena hubungan kit dengan Arimbi juga sudah diamputasi!”
“Enggak ada yang bisa diharapkan lagi karena kamu juga enggak kerja-kerja. Jadi, sebelum kamu didenda pihak Aisyah, sana balik ke pesantren. Urusan sini, biar bapak kamu saja yang ke Jakarta kerja jadi kenek bangunan!” Ibu Siti benar-benar emosi. Ia rela membuang rasa malu sekaligus gengsinya agar perutnya terisi. Ia menerobos masuk Ilham yang malah langsung mirip patung hidup. Diam, benar-benar tak berguna.
__ADS_1