
“Mas ...?” panggil Sundari lembut dengan senyum lembut yang ditahan menemani tatapan penuh artinya. Ia sengaja menghampiri Azzam yang baru datang. Pria muda itu memang sengaja menjemputnya karena mereka akan membeli pakaian untuk teman pengantin.
“Si Ilham masih di klinik?” balas Azzam tak bisa untuk tidak tertawa. Ia menoleh ke depan selaku keberadaan klinik milik keluarga Sundari berada. Yang ia tahu, di sana menjadi tempat Ilham menjalani pengobatan. Sungguh bahagia rasanya mendengar Ilham kecelakaan dan sampai menjalani rawat inap.
Di pekarangan rumah milik keluarga Sundari yang luas, memang tak hanya berisi rumah sederhana tapi megah. Karena di sana juga ada klinik, selain empat baris kontrakan berisi dua puluh empat pintu karena setiap baris ada enam kontrakan. Yang Azzam tahu, sebagian besar modal kontrakan, rumah, dan juga pekarangan, merupakan hasil bersama. Gabungan dari hasil kerja keras dokter Andri, ibu Septi, dan juga Sepri. Namun khusus klinik, bangunan dan tanahnya khusus di buatkan oleh alm. Haji Abdul Kodir, kakeknya Ojan. Karena tak beda dengan keluarga Azzam, keluarga Sundari juga tipikal yang pekerja keras. Keluarga bisnis yang kerja tak kenal waktu. Sekelas Sundari yang masih kuliah saja, tak hanya diam dan fokus belajar walau keluarganya merupakan orang berada. Karena selain selalu bantu-bantu di klinik, Sundari juga ada usaha online, termasuk menciptakan produk perawatan tubuh.
“Masih, Mas. Tapi itu, mamahnya rame banget. Aku jadi kasihan ke yang sakit,” ucap Sundari tapi Azzam sudah langsung menatapnya tidak suka.
“Enggak usah kasihan sama orang seperti mereka. Kamu enggak tahu, yah, mereka jahat banget ke mbak Arimbi maupun orang kecil lainnya!” ucap Azzam langsung cerewet. “Meski setiap orang bisa berubah dan berhak memiliki masa depan lebih baik, dalam kasus mereka, ini belum berlaku.”
Sembari mengerutkan bibir, Sundari yang kali ini memakai jilbab oren, mengangguk-angguk. “Iya, sih, Mas. Semoga mereka cepat dapat hidayah.”
“Jangan gitu juga. Maksudnya, mereka jangan dapat hidayah dulu. Soalnya kalau mereka mendadak insaf, pasti jadi kurang lucu!” ucap Azzam berbisik-bisik, mirip ibu-ibu langganan bergosip.
Sundari tidak bisa untuk tidak tertawa. “Mas ih ....”
Azzam tertawa. Di tengah tatapannya yang cenderung fokus menatap wajah khususnya kedua mata Sundari, ia menjadi merasa aneh sendiri karena awalnya, ia pikir Sundari naksir Akala. Namun ternyata, ... hahahahaha. Lagi-lagi Azzam tertawa.
“Mas, ya. Tapi tadi lucu, ya aneh juga. Gimana yah, aku jelasinnya, Mas?” ucap Sundari.
“Memangnya kenapa?” tanya Azzam benar-benar manis, bertanya tepat di hadapan wajah Sundari.
__ADS_1
Sundari langsung gugup, dan untuk sejenak sempat terdiam mirip batu saking gugupnya. Perlahan demi keamanan jantungnya, Sundari mundur, sengaja menjaga jarak walau tidak sampai benar-benar jauh. Benar-benar hanya dua langkah kecil.
Sejail-jailnya Azzam, juga seberapa pun pria muda itu berisik, jika sedang terlihat mempesona dan dengan mudah membuat setiap mata lawan jenis terpincut, Azzam tetap berbahaya untuk kesehatan para wanita termasuk itu kesehatan Sundari, layaknya kini.
Sambil menunduk, menjaga pandangannya dari Azzam, Sundari berkata, “Tadi, masa mamahnya mas Ilham nawar, mas Ilham tidurnya di lantai saja, biar biaya rawat inapnya lebih murah. Atau kalau enggak, mas Ilham tidurnya di luar kamar saja biar bisa dapat diskon pembayaran.”
“Kenapa enggak sekalian di rel kereta saja, biar pas ada kereta lewat, si Ilham langsung lunas?!” heboh Azzam di sela tawanya.
Sundari kembali menjadi korban Azzam. Ia sampai menangis gara-gara tertawa bersama Azzam yang ia yakini memang sedang pedekate kepadanya.
“Hih, kalian. Sudah magriban, belum?” tegur Sepri yang masih memakai peci hitam. “Kalau ke Azzam sih aku enggak akan tanya, soalnya dia langganan tamu bulanan. Makanya Ojan demen banget ke dia.” Kali ini, gilirannya yang menjadi tertawa.
“Hah? Berarti mas Azzam jarang salat?” refleks Sundari yang memang langsung memastikannya kepada Azzam.
“Gombalnyaaaaa!” ledek Sepri, tapi Azzam sudah langsung tertawa.
“Asli ih, Pri, aku serius ke adim kamu walau aku sadar, menjadi ipar kamu ibarat menyerahkan diri buat dibikin capcay sama kamu. Namun demi jadi keluarga sakinah mawaddah warahmah dengan Sundari, aku rela jadi perjaka tua karena otomatis, kami baru akan menikah minimal lima tahun ke depan!” ucap Azzam sungguh-sungguh.
“Loh, loh, kok gini? Mas Azzam saja belum pernah terang-terangan bilang, kalau Mas suka, ... apalagi cinta ke aku!” serius Sundari.
Azzam bingung, tapi Sepri langsung tertawa puas.
__ADS_1
“Makanya, Zam. Kalau orang sudah kebiasaan bercanda, pas dia serius kadang tetap dianggap beranda!” ucap Sepri di sela tawanya. “Sudah, sini. Aku jadi saksi, ngomongnya harus terang-terangan, di bawah lampu paling terang!” sergah Sepri, sampai menuntun Azzam maupun Sundari untuk berdiri di bawah lampu taman yang ada di depan teras, dan menyalanya memang sangat terang.
Setelah sempat bingung dan memang tegang di tatap serius oleh Sundari, pada akhirnya Azzam malah ngakak. Membuatnya diomeli Sepri dan kembali didorong kepalanya.
“Sumpah aku serius, sumpah ... sumpaaaah!” yakin Azzam lantaran Sepri rese, meyakinkan Sundari bahwa ia hanya sedang bercanda.
“Sumpah aku serius. Kalau enggak, ngapain aku capek-capek habis kerja tetap ke sini?” Azzam refleks menggenggam kedua tangan Sundari dan sampai mengelusnya, tapi Sepri yang merasa kecolongan segera menampool tangan Azzam.
“Aku serius,” ucap Azzam yang kali ini menatap Sundari penuh keseriusan.
“Satu, dua, tiga ....” Sundari menghitung, menunggu Azzam tertawa dan bertanda bahwa pria itu sedang bercanda. Namun, Azzam menggeleng tegas, tetap menatapnya penuh keseriusan.
“Ya sudah, Ndar ... Mas restuin. Sudah, sekarang kamu ke klinik, itu ada pasien, tapi mbak Suci mendadak demam, dan papah pun belum pulang,” ucap Sepri berusaha menyudahi kebersamaan.
“Bentar ... bentar, dua detik, dua detiiiik saja aku mau dengar jawaban kamu secara langsung!” sergah Azzam buru-buru menahan kedua lengan Sundari dan sengaja menghadapkannya kepadanya.
Sundari menjadi panik karena terlalu gugup. Tapi dengan sendirinya akibat tuntunan hati, ia mengangguk-angguk.
“Sudah, sudah, cek pasiennya dulu. Periksa tensi dan lain-lain, sambil nunggu papah sampai.” Sepri sengaja mengusir kedua sejoli yang tengah dimabuk cinta itu, meski tentu saja, kadar jatuh cinta Azzam dan Sundari masih sangat wajar.
“Memangnya papah Andri ke mana? Eh, ini aku panggilnya langsung papah saja lah yah, kan nantinya juga bakalan jadi menantu!” heboh Azzam.
__ADS_1
Sepri langsung geleng-geleng. Lain dengan Sundari, melangkah di apit oleh kedua pria yang begitu berharga dalam hidupnya, gadis cantik itu tak hentinya tersipu menanggapi setiap kehebohan Azzam dan Sepri yang sulit akur.